VIRA (Viki Dan Nara)

VIRA (Viki Dan Nara)
ViRA 40


__ADS_3

Viki bergegas pulang ke rumah. "Dimana anak-anak?" tanya Viki saat dirinya sampai di dalam rumah, berpapasan dengan salah satu pembantu di rumahnya.


"Bang Viki." sapa Nara, menghentikan pekerjaannya membersihkan ruang tengah saat terdengar suara Viki.


Viki melihat ke arah Nara yang sedang membawa kemoceng. "Mama sudah melarangnya. Tapi Nara tetap ngeyel." ucap Nyonya Rahma dari arah berbeda.


Segera menjelaskan pada sang anak, jika Nara sendiri yang berinisiatif untuk membersihkan rumah. Padahal Nyonya Rahma sudah melarangnya.


"Tidak apa-apa. Nara pasti jenuh, jika tidak ada kegiatan." ujar Viki.


"Anak-anak ada di belakang. Sedang bermain di halaman belakang." jelas Nyonya Rahma.


"Bersama papa?" tanya Viki memastikan.


"Tidak. Papa sedang mengunjungi mebel miliknya." ucap sang mama. "Katanya ada pesanan meja kursi, lumayan banyak." imbuh Nyonya Rahma.


Viki tersenyum, melangkahkan kakinya untuk naik ke atas. Masuk ke dalam kamarnya. Membersihkan diri dan beristirahat.


Tilit tilit tilit,,,,, ponsel Viki berbunyi. Segera Viki melihat ke layar ponselnya, sebelum masuk ke dalam kamar mandi.


"Halo." sapa Viki pada si penelpon, setelah menggeser layar hijau di tombol tersebut.


"Elo bisa hubungi gue kapanpun. Di saat elo membutuhkan gue." ucap seseorang di seberang ponsel.


"Baik. Terimakasih." ucap Viki, mematikan sambungan teleponnya dan tersenyum.


Ternyata dia adalah salah satu pemilik nomor ponsel yang di berikan oleh Tuan Haris pada Viki. "Marko, semakin kamu bertindak jauh. Aku tidak akan segan." gumam Viki tersenyum miring.


Mulut Viki menguap. Bukannya masuk ke dalam kamar mandi, dia malah menjatuhkan badannya yang kekar dan berotot ke atas ranjang empuk dan besar miliknya.


Tertidur dengan keadaan setengah telanjang. Hanya memakai celana pendek menutupi tubuhnya bagian bawah. Viki tidur dengan posisi tengkurap.


Dibawah, Nara segera mengajak Rini dan Bima membersihkan badan secara bergantian. "Nara, kamu bisa gunakan kamar mandi di kamar tamu. Jika kamar mandi di belakang masih digunakan." ucap Nyonya Rahma.


"Iya tante." sahut Nara. "Rini, kamu tunggu di sini sebentar. Kakak akan mengambil pakaian ganti untuk kamu dan Bima." jelas Nara.


"Baik kak." ucap Rini.


Segera ketiganya masuk ke dalam kamar tamu, setelah Nara kembali dengan membawa baju ganti untuk mereka.


"Waahhh,,,, besar sekali kak." ucap Rini merasa takjub dengan kamar yang mereka masuki, yang berukuran luas.

__ADS_1


Karena memang Nara melarang Rini masuk ke dalam ruangan di rumah ini, karena sikap tersebut terkesan lancang.


Segera Rini berlari mendekati kasur empuk yang berukuran besar di kamar tamu. "Widihhh,,, empuknya." ucap Rini, dengan tangan mengelus tepi kasur serta menekan kasur tersebut.


"Kak, kenapa kita tidak tidur di sini?" tanya Rini berlari menuju ke arah kakaknya, yang berada di depan pintu kamar mandi.


"Mana boleh." jawab Nara sambil melepas pakaian Bima.


"Kita tidak boleh seenaknya jika tinggal di rumah orang. Apalagi keluarga Bang Viki sudah baik dengan kita. Kita juga harus membalas kebaikan mereka. Jangan malah mengecewakan mereka." jelas Nara.


"Iya kak. Rini juga sudah sangat senang. Tidur di kamar belakang. Kamarnya bersih, harum. Dan juga lebih luas dari tempat tinggal kita sebelumnya." cicit Rini.


"Betul, pintarnya adik kakak. Pokoknya, jika kakak sedang membantu yang lain membersihkan rumah, Rini harus menjaga Bima. Jangan sampai Bima merusak barang di rumah ini."


"Iya kak. Rini mengerti. Bimakan masih kecil. Jadi Rini harus menjaganya. Supaya tidak nakal." ucap Rini dengan gemas meguyel-uyel pipi Bima.


"Kita masuk ke kamar mandi. Kamu mandi sendiri. Biar Bima kakak yang memandikannya." ucap Nara membawa Bima ke dalam kamar mandi. Karena memang ukuran kamar mandi di ruangan ini lebih besar daripada kamar mandi di belakang.


Tanpa Nara sadari, ada seseorang yang menguping pembicaraan mereka di balik pintu yang memang tidak tertutup rapat.


Nyonya Rahma tersenyum mendengar percakapan mereka. "Anak-anak baik. Hanya nasib kalian saja yang kurang beruntung." batin Nyonya Rahma.


Tapi beliau harus berbicara dulu dengan Tuan Hendra dan juga anaknya, Viki.


Nyonya Rahma mendengar suara sang suami. Segera dia bergegas ke depan, menyambut kepulangan suami tercinta dengan senyum di bibirnya.


"Bagaimana pa?" tanya Nyonya Rahma, mengambil alih tas kerja yang di pegang suaminya.


"Anak-anak mana ma?" bukannya menjawab pertanyaan sang istri, Tuan Hendra malah menanyakan penghuni baru di rumah mereka.


Nyonya Rahma cemberut. "Papa, masa pulang yang ditanyakan anak-anak. Biasanya kan mama." ucap Nyonya Rahma , pura-pura merajuk.


"Masa mama cemburu sama mereka." goda Tuan Hendra, mencowel dagu sang istri.


"Lagi pada mandi. Rini sama Bima habis main di halaman belakang. Nara, membantu yang lain bersih-bersih rumah."


"Viki?"


"Di kamar. Baru saja pulang. Mungkin sedang mandi." tebak Nyonya Rahma yang mengira jika putranya sedang mandi. Padahal, Viki sedang berjalan-jalan di alam mimpi.


Tuan Hendra dan Nyonya Rahma berjalan menuju ke dalam kamar. "Pa, mama kok kepikiran mau memasukkan Nara sama Rini ke sekolah ya." ucap Nyonya Rahma, dengan tangan sibuk membantu sanga suami melepas jas yang melekat di badan Tuan Hendra.

__ADS_1


"Bagaimana pa?" tanya Nyonya Rahma, meminta persetujuan dan pendapat dari sang suami.


"Tidak masalah. Tapi kita harus tanya dulu sama anaknya. Mereka mau apa tidak. Dan juga Viki. Tanya sama dia juga." ucap Tuan Hendra.


"Iya pa, nanti malam kita coba berbicara sama mereka." jelas Nyonya Rahma.


"Papa bersihkan badan dulu. Mama mau turun lagi. Membantu yang lain menyiapkan makan malam." ucap Nyonya Rahma.


Tuan Hendra masuk ke dalam kamar mandi. Sementara Nyonya Rahma segera mengambil pakaian ganti untuk sang suami. Dan meletakkannya di tepi ranjang tempat tidur.


Setelahnya, Nyonya Rahma turun ke bawah. Dilihatnya Rini dan Bima sedang bermain di ruang tengah dengan duduk di karpet.


"Tante, bang Viki belum pulang?" tanya Rini, karena dirinya belum melihat Viki.


"Sudah, mungkin masih mandi." jawab Nyonya Rahma.


"Mandi. Aduh Nyonya, pasti sekarang den Viki sedang tidur." ucap Mbok Nah.


"Astaga, kenapa saya sampai lupa. Kebiasaan." ucap Nyonya Rahma menggerutu.


"Nara...!" panggil Nyonya Rahma sedikit mengeraskan suara.


"Iya tante." sahut Nara yang tengah membantu menyiapkan makan malam.


"Mbak, saya ke sana dulu." pamit Nara pada Mbak Mira, di jawab anggukan oleh Mbak Mira.


Segera Nara berjalan dengan cepat menghampiri Nyonya Rahma. "Ada apa Tante?" tanya Nara begitu sudah berdiri di dekat Nyonya Rahma.


"Kamu lihat Viki di dalam kamar. Jika masih tidur, kamu bangunkan dia." pinta Nyonya Rahma.


"Saya tante?" tanya Nara. Dengan jari telunjuk mengarah pada wajahnya sendiri, membuat Mbok Nah tersenyum.


"Iya. Kamu." ucap Nyonya Rahma.


"Baik tante." ucap Nara.


Dengan langkah ragu-ragu, Nara berjalan menuju ke arah kamar Viki. Bahkan saat di tangga, Nara berhenti dan melihat ke arah Nyonya Rahma.


"Cepat kamu lihat sana." ucap Nyonya Rahma.


"Lucu sekali anak itu." gumam Nyonya Rahma melihat Nara dengan ragu-ragu melangkahkan kaki.

__ADS_1


__ADS_2