
Sepeninggal Nara, Viki membersihkan badannya. Karena Viki langsung memejamkan kedua matanya begitu masuk kamar. Tanpa mandi terlebih dahulu.
"Sudah sampai tahap ini." ucap Viki saat dirinya berendam di dalam zaquci. Dengan mata memandang ke arah telapak tangannya dan tersenyum.
"Bagaimana?" tanya Viki, yang saat ini masih menggunakan handuk melilit di pinggangnya. Berkomunikasi dengan Rey dari sambungan telepon.
"Mereka ingin bertemu kembali dengan anda Tuan." ucap Rey, memberitahu.
Viki terkekeh mendengar permintaan para artis yang sudah di putuskan kontrak kerja dengan perusahaannya, karena ulah mereka sendiri.
"Sebenarnya saya juga ingin bertemu dengan mereka. Tapi saya tidak bisa. Ada hal yang lebih penting, yang harus kita kerjakan." ucap Viki.
"Baik Tuan, saya akan segera menyelesaikan hal ini. Maaf, ketiga klien Tuan Marko ingin bertemu. dengan anda." ujar Rey.
"Atur waktu secepatnya." ucap Viki.
"Baik Tuan, segera." jawab Rey.
Segera Viki menghubungi seseorang yang bekerjasama dengannya, setelah selesai berbincang dengan Rey melalui ponselnya.
"Seperti janjiku, aku akan mengirimkan beberapa informasi yang kamu perlukan. Dan jika kamu bersedia tetap di belakangku sampai proyek ini selesai, aku akan memberikan informasi yang lebih mengejutkan." ucap Viki dengan seseorang di ujung ponselnya.
………………
"Dengan senang hati." ucap Viki, mematikan sambungan teleponnya.
"Marko. Jangan salahkan aku, semua terjadi karena kamu dan putrimu yang keras kepala." ucap Viki menyeringai.
Setelah selesai berbicara lewat sambungan telepon, Viki naik ke atas ranjang tempat tidurnya. Memainkan ponsel miliknya.
Dan melihat beberapa video, yang mungkin akan dia lakukan pada Nara besok pagi. Sepanjang melihat video tersebut, Viki menghembuskan nafas berkali-kali. "Aku haris mencobanya. Besok pagi." gumam Viki.
Seperti keinginan Viki, pagi hari kesibukan Nara bertambah. "Maaf mbok, Nara tidak bisa membantu sampai selesai." ucap Nara dengan sungkan.
Lantaran dirinya sibuk dengan Bima. Dan setelahnya, dia harus membantu Rini mempersiapkan diri. Karena hari ini, Rini sudah mulai bersekolah.
"Iya, tidak apa-apa." ucap Mbok Nah.
"Belajar yang baik." ucap Mbak Mira, melihat Rini memakai seragam lengkap SD.
"Iya mbak." ucap Rini.
"Kamu jaga Bima sebentar, kakak mau bangunin bang Viki." pinta Nara pada Bima.
"Bima, jangan nakal. Kasihan kak Rini, nanti capek. Kakakkan sekarang sudah mau bersekolah." ujar Nara.
"Kak Lini cekolah." ucap Bima dengan cedal.
"Iya, nanti Bima sama kakak di rumah." jelas Nara.
"Iya, kak Nala." jawab Bima. Nara mencium kedua pipi timbul milik Bima dengan gemas. Mbok Nah, Mbak Siti, dan Mbak Mira tersenyum melihat Bima memegang pipinya yang sedikit sakit.
Segera Nara bergegas pergi ke kamar Viki. Tanpa mengetuk pintu, Nara masuk ke dalam kamar Viki. "Bang, bangun." ucap Nara, membuka tirai di jendela kamar Viki.
Terdengar lenguhan dari Viki, tapi segera Viki menutup wajahnya dengan bantal. Membuat Nara menggelengkan kepala. "Bang, bangun." Nara menggoyang pelan badan Viki.
Nara memindahkan bantal di wajah Viki. Menepuk pelan pipi Viki. "Bang, bangun." ucap Nara dengan nada kesal.
"Ya sudah kalau nggak bangun-bangun. Nara tinggal."
Nara hendak berdiri, namun tangannya segera di pegang oleh Viki. Membuat tubuh Nara tetap dalam posisi duduk.
Dengan mata masih terpejam, Viki bangun dan memeluk Nara dari belakang. "Kamu wangi banget sih Ra." ucap Viki dengan suara khas orang bangun tidur. Mengendus wangi leher Nara.
Viki menggesek-gesekkan hidungnya di leher Nara. Sementara tangannya sudah mulai mengelus lembut perut Nara. "Kamu mandi jam berapa sih." gumam Viki.
Merinding, sekujur tubuh Nara meremang mendapat sentuhan dari Viki. Ada gelenyar rasa aneh di dalam tubuh Nara.
__ADS_1
Viki akan melakukan seperti yang dilihatnya semalam di video. Tangan Nara mencengkeram seprei dengan erat. Saat tangan kiri Viki menyusup di balik celana yang di gunakan oleh Nara.
"Bagaimana rasanya?" bisik Viki, sembari menggigit kuping Nara dengan pelan.
"Bang,,,sud--sudah." ucap Nara terbata.
Viki membuka matanya. Tersenyum. Membaringkan badan Nara di kasur empuk miliknya. "Tetap di sini." perintah Viki.
Segera Viki mengunci pintu kamar. Nara hanya memandang Viki yang berjalan ke sana dan kemari. Apalagi mata Nara melihat ada sesuatu yang menonjol di bagian bawah tubuh Viki. Terlihat jelas, meski Viki menggunakan kolor.
Nara membuang muka. "Nara, kenapa otakmu bisa berpikir sejauh itu." ucap Nara dalam hati.
"Ini saja aku benar-benar tidak menyangka." imbuh Nara dalam hati, saat dirinya membiarkan tangan Viki bermain di daerah intimnya.
"Maaf, aku kelepasan." ucap Viki berbaring di samping Nara.
"Pasti sangat tidak nyaman. Biar aku bersihkan." ucap Viki hendak bangun, dam membersihkan daerah lembab milik Nara yang basah karena ulahnya.
Segera Nara memegang tangan Viki. "Biar nanti Nara sendiri saja yang membersihkan" ucap Nara lirih, dengan wajah malu, dan mata terpejam.
Viki menciumi seluruh wajah Nara. Membuat Nara membuka mata. "Bibir kamu manis." Viki mengecup singkat bibir Nara.
"Nara, aku akan menikahi mu." ucap Viki dengan tiba-tiba. Masih memeluk Nara dan menaruh wajahnya di samping pipi Nara.
Hingga Nara dapat merasakan hembusan nafas dari Viki. "Aku ingin melakukan lebih, dan aku tidak mungkin melakukannya tanpa ikatan." ucap Viki.
Nara hanya diam. Pikirannya masih tidak bisa berpikir, setelah apa yang baru saja terjadi padanya.
Apalagi dengan tiba-tiba, Viki berkata akan menikahi dirinya. Membuat pikiran Nara seketika berhenti. Bahkan nafas Nara seakan tercekat di tenggorokan.
"Abang menginginkan tubuh Nara?" tanya Nara datar, memandang ke langit-langit kamar Viki.
"Iya. Abang menginginkan tubuhmu. Sangat." bisik Viki, kembali mencium pipi Nara.
Nara tersenyum kecut. Dirinya tidak boleh sakit hati, atas apa yang dikatakan Viki. Siapa dirinya. Perempuan yang sama sekali tidak pantas bersanding dengan Viki.
Padahal Viki pernah meminta Nara untuk tidak melanjutkannya. Tapi Nara tetap kekeh.
Apalagi jika Viki sembuh, pasti Viki akan mencari perempuan yang setara dengannya. Perempuan yang cantik. Dan pastinya juga dari keluarga terpandang seperti keluarga Viki.
"Aku sangat menginginkanmu Nara. Jangan pernah mencoba berdekatan dengan lelaki lain, selain diriku. Jika sampai kamu melakukannya, aku tidak segan-segan menghukum dirimu." ancam Viki.
"Aku menginginkan semua yang ada pada tubuhmu. Termasuk hatimu." Viki kembali mencium wajah Nara. Seolah Nara sekarang adalah candu untuk Viki.
"Jika tahu rasanya seperti ini, pasti abang sudah melakukannya sejak dulu." cicit Viki.
"Tapi Abang tidak menyesal. Meski sempat tersesat. Setidaknya Abang hanya akan melakukannya dengan kamu." ucap Viki memeluk Nara dengan erat.
"Bang,,,." panggil Nara lirih. "Abang serius mau menikahi Nara." imbuh Nara.
"Iya, abang menginginkan kamu mengandung anak abang." sahut Viki.
"Kamu perempuan pertama yang abang sentuh. Dan akan jadi perempuan terakhir." ucap Viki, mengecup singkat bibir Nara.
Deggg,,,,, jantung Nara berdetak hebat. "Anak. Perempuan terakhir." gumam Nara. Yang berarti Viki bukan hanya menginginkan tubuhnya saja.
"Kenapa?" Viki melepas pelukannya, melihat mata Nara berkaca-kaca.
"Dan kamu tidak bisa menolak." tegas Viki.
"Apa kamu tidak melihat, aku sudah sembuh." ucap Viki.
"Abang....!!" teriak Nara, saat Viki membawa tangan Nara masuk ke dalam celananya. Hingga tangan Nara menyentuh benda besar dan panjang di dalamnya.
Segera Nara mendorong badan Viki dan bergegas keluar dari kamar Viki. Membuat Viki tertawa lepas. "Hanya kamu, aku tidak akan melepaskan kamu." segera Viki berjalan ke kamar mandi.
Sementara Nara pergi ke balkon atas. Menenangkan diri, setelah kejadian tadi. Rasa sedih bercampur senang menjadi satu.
__ADS_1
Tangan Nara menyentuh bagian intim miliknya sendiri daei luar celana. "Bang Viki." gumam Nara, sambil menangis. Menatap kosong ke depan.
Tanpa Nara sadari, Mbok Nah sudah berada di belakangnya. Sebenarnya, Mbok Nah lah yang mengetuk pintu kamar Viki. Tapi karena tidak dibuka-buka, Mbok Nah memutuskan untuk pergi ke bawah.
Saat kakinya ingin melangkah menuruni tangga, telinga mbok Nah mendengar pintu kamar Viki terbuka. Membuat Mbok Nah kembali membalikkan badan.
Ternyata Nara yang keluar dari kamar Viki, dan berlari menuju balkon. Mbok Nah melihat Nara diam dan menangis, tanpa berbicara.
Awalnya mbok Nah berniat pergi, meninggalkan Nara sendiri. Mbok Nah berpikir, mungkin Nara dan Viki punya masalah. Dan Nara membutuhkan waktu untuk menyendiri.
Tapi saat Mbok Nah hendak melangkah meninggalkan Nara, mbok Nah tidak tega. Apalagi Nara sudah tidak mempunyai orang tua, maupun saudara. Selain Rini dan Bima.
Mana mungkin Nara menceritakan masalahnya pada kedua adiknya yang masih belum mengerti apapun. "Nara." panggil Mbok Nah lirih, berdiri di samping Nara.
"Mbok, Nara...." ucap Nara kaget. Dirinya sungguh tidak menyangka jika mbok Nah sekarang berada di sampingnya. Di saat Nara sedang menangis.
"Husssttt. Tidak usah malu." ucap Mbok Nah, menghentikan kalimat dari Nara.
"Ada apa? Mungkin Mbok bisa bantu. Jangan di pendam sendiri, jika merasa tidak kuat. Kamu bisa bercerita dengan Mbok." saran Mbok Nah, membelai lembut rambut Nara.
"Nara,,, Mbok, apa yang harus Nara lakukan?" tanya Nara dengan pelan, ada raut ketakutan di wajah Nara.
"Ada apa Nara, katakan sama mbok." ucap Mbok, merasa Nara sedang menyimpan masalah berat seorang diri.
"Bang Viki." Nara memandang ke arah mbok Nah. Nara mengambil nafas dalam-dalam dan menghembuskannya dengan panjang.
"Ada apa dengan den Viki, kamu di bentak?" tebak Mbok Nah, dan Nara segera menggeleng.
"Lantas?" tanya Mbok Nah semakin tegang dan penasaran.
"Bang Viki bilang mau menikahi Nara." cicit Nara dan langsung menangis.
Mbok Nah terdiam sesaat. Perkataan dari Nara seperti sebuah kejutan besar untuk mbok Nah. Apalagi selama yang mbok Nah tahu, Viki sangat enggan berhubungan dengan kaum hawa.
Dan sekarang, dengan tiba-tiba mengatakan jika ingin menikahi Nara. "Nara, lalu kamu kenapa menangis. Apa kamu tidak menginginkannya?" tanya Mbok Nah.
"Nara takut." ucap Nara dalam tangisnya.
"Bagaimana dengan om dan tante. Bagaimana dengan mereka. Nara dan Bang Viki, kita sangat berbeda. Jauh." jelas Nara.
Segera mbok Nah membawa Nara dalam pelukannya. Bahkan Mbok Nah dapat merasakan ketakutan yang Nara rasakan.
"Nara hanya gadis miskin. Tidak punya tempat tinggal. Dan bang Viki, dia dari keluarga terpandang. Apa tante dan om akan menerima Nara?" ucap Nara.
Mbok Nah juga tak kuasa menahan air matanya. "Kamu tenang saja. Setahu mbok, Tuan dan Nyonya bukan orang seperti itu. Mereka orang yang baik." ucap Mbok Nah mencoba menenangkan Nara.
"Mbok, seandainya memang Nara di terima baik menjadi istri bang Viki." ucap Nara, melepas pelukannya dengan Mbok Nah.
"Apa mereka tidak akan malu. Mereka orang terpandang. Bang Viki, seorang pengusaha. Dan Nara, bahkan tidka pernah bersekolah. Nara takut mereka akan diejek oleh masyarakat." ucap Nara sambil menangis.
Mbok Nah segera menghapus air mata Nara di wajahnya. Mbok benar-benar tidak menyangka, Nara berpikir sampai sana.
"Apa Nara tolak saja permintaan bang Viki." ucap Nara.
"Kami bisa menolaknya? Memang kamu tidak menyukai den Viki?" tanya Mbok Nah.
"Nara sangat mencintai bang Viki. Sejak pertama bertemu, Nara sudah menyukai abang." cicit Nara.
"Sekarang, dengar. Kamu harus percaya dengan den Viki. Yang harus kamu lakukan, berdiri di samping den Viki. Dan berpegangan tangan dengannya."
"Mbok yakin, jika Den Viki akan melakukan yang terbaik."
"Dan untuk Tuan dan Nyonya, mbok juga yakin. Jika beliau berdua akan menerima kamu. Orang tua mana yang tidka menginginkan menantu seperti kamu. Cantik dan baik."
"Sekarang hapus air mata kamu. Kita harus segera turun. Nanti malah di cari sama Tuan dan Nyonya. Ayo." ajak Mbok Nah.
Tanpa mereka sadari, seseorang mendengar semua pembicaraan mereka di balik tembok. Terdiam, dan menyandarkan badan di belakang tembok. Mendengar pembicaraan Nara dan Mbok Nah sampai selesai.
__ADS_1
Dirasa cukup, segera dia meninggalkan tempat tersebut. Dan turun ke bawah. Dirinya tidak ingin jika Nara maupun mbok Nah mengetahui jika dirinya tengah mencuri dengar pembicaraan mereka.