VIRA (Viki Dan Nara)

VIRA (Viki Dan Nara)
ViRA 151


__ADS_3

"Kamu mau sarapan di sini apa di luar?" tanya Viki sambil mengancingkan pakaiannya.


Viki menghentikan gerakannya, saat tidak mendengar suara sahutan dari Nara. "Kenapa, hmmm..." Viki mendekat ke arah Nara, yang ternyata sedang memandangi dirinya.


"Abang tidak marah?" tanya Nara dengan suara lirih.


Viki sedikit membungkukkan badan, sebab Nara sedang duduk di tepi ranjang. Menangkup kedua pipi Nara. "Marah kenapa? Jika kamu memang belum siap, abang juga tidak akan memaksa." ucap Viki, mempertemukan hidung mereka.


Perlahan, Nara tersenyum. "Terimakasih." kata Nara langsung memeluk Viki.


"Sekarang kamu mandi, abang akan pesankan makan. Kita makan di dalam kamar saja." ujar Viki.


Tidak ingin membuang-buang waktu dengan segera Nara melangkahkan kaki untuk masuk ke dalam kamar mandi.


Viki menyelesaikan kegiatannya. Setelahnya, Viki memesan makanan lewat ponsel miliknya. Sambil menunggu makanan datang dan juga Nara yang masih mandi, Viki menyibukkan diri dengan pekerjaan kantor.


Sebenarnya Viki ingin mengajak Nara langsung berbulan madu. Viki sudah mengatakan pada Rey jika dirinya tidak ingin di ganggu satu minggu ke depan.


Namun semuanya ternyata tidak berjalan sesuai dengan yang di rencanakan. "Sebaiknya gue menyibukkan diri dengan bekerja saja. Lagi pula Nara juga belum siap. Dari pada gue dekat-dekat dengan Nara, yang ada gue malah pusing sendiri." ujar Viki memandang juniornya yang terbungkus dalam sangkar.


Ceklek... pintu kamar mandi terbuka. Nara keluar dengan pakaian yang sudah melekat di tubuhnya. Viki hanya memandang sekilas, dan kembali mengalihkan pandangannya pada layar laptop.


Nara yang keluar dari kamar mandi mencuri pandang pada sang suami. "Kelihatannya abang sedang sibuk." gumam Nara, segera merapikan penampilannya di depan cermin.


Viki menghela nafas panjang. Baru mencium wangi sabun yang di pakai Nara saja sudah membuat Viki merasa frustasi. Apalagi Nara tampak anggun dan cantik dengan dress bermotif bunga selutut yang dia gunakan.


Viki berdiri, berjalan ke arah balkon dan menghubungi Rey. "Satu minggu ke depan. Saya sendiri yang akan menemui klien." ujar Viki pada Rey lewat ponselnya.


Pasti di tempatnya, Rey sedang termangu mendengar perkataan atasannya. Terlebih Viki baru kemarin menikah. Pikiran Rey pasti sedang menebak-nebak. Atau sedang kebingungan.


Mustahil bagi Rey untuk bertanya langsung pada Viki tentang alasan Viki tidak jadi libur kerja selama seminggu ke depan. Bisa-bisa dirinya langsung terkena masalah.


"Bang, makanannya sudah datang." panggil Nara dari dalam kamar. Tanpa menyahut, Viki segera masuk dan melakukan sarapan bersama Nara.


"Setelah ini kamu mau kemana?" tanya Viki, di sela-sela sarapannya.


"Nggak tahu. Bagaimana kalau pulang saja." saran Nara.


Viki menghentikan tangannya yang sedang memegang sendok di udara. Lalu mengangguk, dan melanjutkan sarapannya. "Sabar Viki, inilah resiko menikahi bocil." ucap Viki dalam hati.

__ADS_1


Ingin Viki, meski tidak melakukan hubungan intim. Setidaknya ada waktu berdua, menghabiskan seharian penuh dengan kemesraan ala-ala pengantin baru.


Namun apalah daya. Viki juga tak mungkin memaksa Nara. Dari awal, Viki sadar dan paham betul resiko menikahi Nara.


Seorang gadis lugu, yang memang belum pernah bersentuhan dengan lawan jenis. Katakanlah semacam perpecahan.


"Loh,,,, kalian sudah pulang?" tanya Nyonya Rahma terkejut, melihat kedatangan Nara dan Viki di kediaman mereka.


"Viki ada pekerjaan penting ma. Kasihan Nara, jika ditinggal sendirian di hotel." ucap Viki beralasan. Berkata jujur. Mana mungkin. Viki bukan pria gila. Dia masih waras.


Nara langsung menoleh ke arah sang suami. Sungguh, Nara tidak menyangka. Jika Viki berbohong pada sang mama.


"Kamu itu, baru kemarin jadi pengantin. Masa sudah sibuk sendiri. Pikirkan perasaan istri kamu juga dong." omel Nyonya Rahma, merangkul Nara.


Viki acuh dengan omelan sang mama. Lebih memilih melangkahkan kaki untuk masuk ke dalam kamar.


"Maafkan Viki ya sayang. Maklum, dari dulu setiap hari yang dipikirkan Viki hanya kerja dan kerja. Tapi mama yakin, Viki akan merubah kebiasaannya tersebut. Yang sabar ya." ucap Nyonya Rahma mencoba menangkan Nara.


Nara tersenyum kaku. Dirinya merasa bersalah. Gara-gara keinginannya, sang mama menjadi salah paham dan memarahi suaminya.


"Sayang, pakaian kamu semuanya sudah di pindahkan ke kamar kalian." jelas Nyonya Rahma dengan senyum.


"Rini dan Bima." cicit Nara.


"Tenang saja, kami akan bergantian menemani mereka tidur. Sekarang kamu fokus pada suami kamu saja. Oke." ucap Nyonya Rahma.


Nara tersenyum dan mengangguk. "Sana gih, susul suami kamu." ujar Nyonya Rahma.


Nyonya Rahma memandang Nara dengan intens, saat Nara menaiki anak tangga. "Hehh,,,, kelihatannya belum ada malam pertama." gumam Nyonya Rahma menaruh jarinya di dagu.


"Kenapa? Karena Viki, apa karena Nara." lanjutnya merasa penasaran.


Sebagai perempuan yang sudah berpuluh-puluh tahun berumah tangga, tentu saja Nyonya Rahma hafal betul dengan hal seperti itu.


"Ini tidak boleh di biarkan. Aku harus mencari tahu." ucap Nyonya Rahma dalam hati.


Masuk...!!" teriak Viki dari dalam, saat pintu kamarnya diketuk dari luar.


Ceklek,,, Viki menoleh ke arah pintu, sebab saat ini Viki sedang memakai dasi di lehernya. "Nara." ujar Viki.

__ADS_1


"Maaf, mama bilang jika semua baju milik Nara sudah di pindahkan ke sini." jelas Nara dengan menggigit bibir bawahnya.


Entah kenapa, semua terasa berbeda bagi Nara. Sangat berbeda. Jika sebelum menikah dengan Viki, Nara bahkan bisa bersikap dengan biasa. Tanpa merasa malu atau canggung.


Tapi nyatanya, setelah menyandang status sebagai Nyonya Viki, Nara malah menjadi canggung dan menjaga jarak dengan Viki.


"Ooo,,, ya kan kita memang suami istri. Layaknya suami istri pada umumnya, mereka pasti akan tidur seranjang dalam satu kamar." jelas Viki.


Nara tetap diam berdiri. Bukannya segera membantu Viki bersiap. Nara malah berdiri anteng. "Satu ranjang." cicit Nara.


Sontak Viki menghentikan pergerakannya. Menatap ke arah Nara. "Huffttt,, jika kamu belum siap satu ranjang denganku, aku bisa tidur di atas sofa. Asal kita tidak pisah kamar." jelas Viki.


"Nara belum terbiasa tidur tanpa Rini dan Bima." lanjut Nara.


Viki menaikkan sebelah alisnya. Bukankah semalam Nara tidur tanpa mereka berdua. Bahkan Nara bangun dalam pelukan Viki.


"Oke, terserah kamu. Kamu pikirkan dulu. Senyaman kamu saja." ucap Viki. Dirinya yang lebih dewasa harus mengerti akan kemauan Nara yang masih plin plan.


"Benar bang?" tanya Nara tersenyum, layaknya anak kecil.


"Konsekuensi elo Vik." ucap Viki dalam hati, tetap berusaha untuk sabar.


"Padahal masih kemarin gue sesenang itu. Dan sekarang, astaga... Semua tak seperti yang gue bayangkan." ucap Viki dalam hati.


"Abang berangkat dulu." pamit Viki.


"Biar Nara antar." ucap Nara.


"Tidak perlu, kamu pasti juga capek. Beristirahatlah." Viki mencium dahi Nara dan segera berangkat bekerja.


"Loh,,, kamu mau ke mana?" tegur Nyonya Rahma seraya bertanya.


"Perusahaan." jawab Viki singkat, melangkahkan kaki keluar rumah.


Viki sedang malas meladeni omelan dan ocehan dari sang mama. Pasti ujung-ujungnya masalah pengantin baru.


Saat mengendarai mobil, Viki memikirkan sesuatu. "Kalau gue ke perusahaan sekarang. Pasti semua akan semakin runyam. Apalagi gue pernah masuk ke berita masalah penyimpangan ****." pikir Viki.


Viki merubah haluan dan tidak jadi pergi ke perusahaan. Melainkan ke apartemen. Namun Viki terlebih dahulu mengatakan pada Rey, untuk membawa semua pekerjaannya ke apartemen miliknya.

__ADS_1


__ADS_2