VIRA (Viki Dan Nara)

VIRA (Viki Dan Nara)
Part 05. ReSa


__ADS_3

"Kenapa Sara tidak memberitahuku?" tanya Erlangga pada managernya. Terkait pemutusan kontrak kerja antara Sara dengan perusahaan milik Viki.


Padahal, saat Erlangga memutuskan untuk tidak memperpanjang kontrak. Dan mengajak Sara untuk kembali ke negara asal Erlangga, Sara menolaknya.


Sara kekeh ingin tetap memperpanjang kontrak tersebut. Dengan alasan ingin dekat dengan Renggo. Dan sebagai sahabat, Erlangga hanya bisa mendoakan.


Semoga apa yang diinginkan sahabatnya tersebut dapat terwujud. Sebab, Erlangga juga tahu bagaimana perasaan Sara pada Renggo.


"Apa terjadi sesuatu dengan Sara." ucap Erlangga dalam hati. Cemas jika saat ini, sahabat yang sudah dianggap seperti saudaranya sendiri tersebut dalam kesulitan.


Sang manager mencoba menenangkan Erlangga. Dia juga tahu, bagaimana hubungan keduanya. Sudah seperti seorang adik dan kakak. "Mungkin Sara sedang sibuk."


Erlangga terdiam. Bahkan kalimat yang baru saja diucapkan sang manager sama sekali tidak sampai di telinganya.


"Giska, sekarang berada di sana. Dan Sara menjalin hubungan dengan Renggo. Sementara putra Giska dan Renggo, diasuh oleh Renggo." Erlangga mencoba memikirkan sesuatu.


"Pesankan aku tiket ke sana. Tolak semua pekerjaan yang masuk." perintah Erlangga dengan tiba-tiba.


Manager Erlangga melongo. Tidak mengerti dengan apa yang terjadi, dan apa yang sedang dipikirkan Erlangga, terlebih apa yang diinginkan Erlangga sangat mendadak. "Kenapa? Apa ada sesuatu?"


"Aku hanya tidak ingin diganggu." jelas Erlangga.


"Tapi..." Alasan Erlangga terlalu sulit diterima akal sehatnya. Jika tidak ingin diganggu. Cukup berada di dalam rumah. Bukannya selesai.


"Lakukan saja sesuai keinginanku. Dan tenang, gajimu masih sama." potong Erlangga dengan nada jutek.


Menurut pada sang artis. Hanya itulah yang bisa dia lakukan. Apalagi ada bau-bau uang. "Baiklah." ucapnya pasrah. Yang paling penting, gaji tetap aman.


"Satu tiket saja. Kamu tidak perlu ikut."


"Kenapa?" Lagi-lagi ucapan Erlangga sangat tidak masuk akal. Membiarkan Erlangga pergi sendiri. Tanpa dirinya.


Apa yang akan dia katakan pada kedua orang tua Erlangga. Saat mereka bertanya pada dirinya. Sebagai manager sekaligus asisten Erlangga. Kemanapun Erlangga pergi, dia sudah seperti ekor yang menempel di pantat Erlangga.


Dan sekarang, Erlangga ingin memotong ekor tersebut. Setelah bertahun-tahun ekor tersebut menempel sempurna. Tidak mungkin. Sulit diterima akal sehat.


"Jangan banyak tanya. Gunakan kesempatan ini untuk istirahat. Kamu bisa liburan. Dan pastinya ini tidak akan terjadi ke depannya. Tenang saja, bayaran tetap sama. Bukankah akan menyenangkan."


Erlangga mencoba membuat sang manager tidak bisa menolak tawaran yang dia berikan. "Ingat, kesempatan tidak datang untuk kedua kalinya."


Erlangga mencoba membuat sang manager berpikir lebih keras, dan mengatakan iya. Setuju dengan keinginannya.


Sang manager menatap ke arah Erlangga. Berpikir, apa yang akan diputuskannya. Menerima. Atau menolak. "Baiklah. Apapun keinginan kamu." ucapnya membuat Erlangga tersenyum puas.


Erlangga tahu, jika managernya sedikit mata duitan. Jadi dengan uang, Erlangga bisa mengendalikan dirinya dan berbuat sesuatu seperti yang dia inginkan.


Membawa orang lain dalam masalah ini, bukan pilihan yang tepat. Terlebih mulut managernya yang terkadang suka keceplosan saat berbicara dengan kedua orang tuanya.


Mengatakan apa daja pada mereka. Tidak menutup kemungkinan, jika dia mengetahui hal ini, kedua orang tuanya juga akan tahu.


Erlangga hanya takut, jika apa yang ada di benaknya benar adanya. Pasti kedua orang tuanya akan syok. Jika benar, dirinya telah mempunyai seorang putra.


Amazing. Memiliki anak, hanya dengan semalam menyemburkan benih. Tapi memang, malam itu Erlangga tidak hanya sekali menyemburkan benihnya ke rahim Giska.


"Semoga keputusanku benar." ucap Erlangga dalam hati.


Apalagi kepergian Erlangga kali ini bukan untuk liburan ataupun masalah pekerjaan. Melainkan ingin mencari tahu, tentang instingnya. Mengenai putra dari Renggo dan Giska.

__ADS_1


"Ingat. Jika mama atau papa bertanya. Katakan saja jika aku sedang berlibur. Jangan berbicara hal lain. Jika itu sampai terjadi, kamu akan mendapat hadiah yang menarik dariku. Paham." seringai Erlangga, menatap sang manager.


Dan itu terdengar seperti sebuah ancaman. Sang manager bergidik ngeri. "I-iya. Baiklah. Tenang saja. Liburanmu kali ini tidak akan terganggu." ucapnya, dengan susah menelan ludah.


Dirinya tahu, jika Erlangga tidak pernah main-main dengan apa yang dikatakannya. "Semoga mulut ini tidak keceplosan seperti biasanya." ucapnya dalam hati, mengelus bibirnya sendiri.


Erlangga tersenyum samar, melihat apa yang dilakukan sang manager. Dan Erlangga bisa menebak apa yang ada dalam benaknya.


"Kenapa masih diam. Pesankan tiket. Aku ingin segera pergi ke negara itu." perintah Erlangga.


"Iya." dengusnya kesal. Segera melakukan apa yang diperintahkan Erlangga pada dirinya.


Di restoran, Renggo dan sekertarisnya telah selesai melakukan pertemuan dengan rekan kerja mereka. Rekan bisnis Renggo pulang terlebih dahulu. Sementara Renggo dan sang sekertaris menghabiskan makanan mereka terlebih dahulu.


"Setelah ini tidak perlu kembali ke kantor. Saya juga akan langsung pulang. Naiklah taksi." perintah Renggo.


Sebab, Renggo bersama sang sekertaris pergi ke restoran dengan menaiki mobil. Dan tentu saja sang sekertarislah yang menjadi sopir.


"Baik Tuan."


Renggo mengelap mulutnya dengan tisu, berdiri dari tempatnya duduk. Sialnya, baru melangkah beberapa langkah, tubuh Renggo bertabrakan dengan seseorang.


"Tuan tidak apa-apa?" sang sekertaris merasa khawatir pada atasannya tersebut. Sebab kaki Renggo melangkah selangkah ke belakang.


Renggo mengangguk. Seorang perempuan yang bertabrakan dengan Renggo masih menundukkan kepalanya dengan pandangan terpusat ke kakinya.


Karena tabrakan yang entah disengaja atau tidak yang baru saja terjadi, membuat kakinya sedikit keluar dari alas high hell yang terpasang di kakinya.


Renggo baru saja ingin menanyakan keadaan perempuan di depannya. Tapi seketika mulut Renggo terkunci rapat, melihat siapa yang sekarang berdiri di depannya.


Giska. Perempuan tersebut mengangkat wajahnya, dan memandang ke arah Renggo.


Giska tersenyum manis, namun terlihat memuakkan bagi Renggo. "Maaf, aku benar-benar tidak sengaja. Kamu tidak apa-apakan?"


Giska ingin menyentuh tubuh Renggo. Tepatnya dada Renggo, dan Renggo ingin menepisnya. Namun ternyata, gerakan sang sekertaris lebih cepat dari keduanya.


Sang sekertaris berdiri tepat di depan tubuh Renggo. "Tuan Renggo tidak apa-apa. Anda tidak perlu khawatir Nyonya." ujarnya dengan senyum ramah.


Sang sekertaris sedikit memutar tubuhnya. "Ini Tuan." ucapnya, memberikan sapu tangannya pada Renggo.


Renggo tersenyum samar. Melihat apa yang dilakukan oleh sekertarisnya. Tangan Renggo terukur mengambil sapu tangan tersebut.


Mengelap di tubuhnya bagian depan. Seolah ada kotoran yang baru saja menempel di jas mahalnya. "Khemm,,, bisa kamu minggir." usir Giska, memandang tajam ke arah sang sekertaris.


"Tenang Nyonya Sara. Aku akan melindungi calon suamimu dari ulat bulu ini." ucapnya dalam hati. Tidak akan membiarkan Giska mendekati atasannya. Selama dirinya berada di samping Renggo.


"Maaf, tapi Tuan Renggo harus segera pergi. Masih ada pertemuan yang sangat penting setelah ini." bukannya minggir, sekertaris Renggo malah tetap berdiri di depan Renggo.


Berdiri bagai perisai. Seperti sedang menantang Giska. "Renggo." panggil Giska, berharap Renggo menegur sekertaris tersebut.


"Aku hanya ingin berbicara sebentar. Bukankah sudah lama kita tidak bertemu. Setahun. Iya setahun." pinta Giska dengan nada lembut.


Giska yakin, jika Renggo akan mau berbicara dengannya. Mengingat bagaimana dulu Renggo mengejar-ngejar dirinya. Bahkan rela menjadi objek pelampiasan nafsunya.


Sang sekertaris memandang malas ke arah Giska. "Perempuan aneh. Gue pikir bakal tanya kabar baby Al. Ehh,,, malah kegatelan. Pantas banget, keturunan ulat bulu."


Awalnya, sang sekertaris mengira Giska akan langsung bertanya tentang baby Al begitu bertemu dengan Renggo. Ternyata dugaannya meleset jauh.

__ADS_1


Sekertaris Renggo menatap kesal pada Giska. "Dia yang mengandung. Melahirkan. Astaga, apa sedikitpun tidak merasa kangen. Perempuan setengah setan." cibirnya.


"Bukankah sekertarisku sudah mengatakan dengan jelas." papar Renggo. Berjalan meninggalkan tempatnya. Membuat sang sekertaris tersenyum puas.


Sang sekertaris mencekal lengan Giska, saat dia ingin mengejar Renggo. "Lepas..!!" hardik Giska.


"Nyangkut." ucapnya tersenyum miring, meremehkan Giska.


Giska berontak. Dan cekalan sekertaris Renggo semakin kencang. "Sekertaris brengsek." umpat Giska.


"Elo aja yang lemah." ejeknya, sebab Giska gagal melepaskan dirinya.


Melihat Tuannya sudah masuk mobil, barulah dia melepaskan lengan Giska. "Iissshhh,,,," Giska mengelus lengannya yang memerah karena ulahnya.


"Lancang sekali. Ingat kamu hanya sekertaris rendahan!!" teriak Giska.


Sekertaris Renggo memutar kedua matanya dengan malas. "Masih rendah situ. Ditolak kok tetap ngejar-ngejar. Nggak malu." ejeknya.


Giska semakin geram dengan kelakuannya yang berani. "Cari muka. Asal elo tahu, Renggo nggak akan suka sama elo. Apapun yang elo lakukan."


Sekertaris Renggo tersenyum aneh. "Kelihatannya kuyang ini salah paham. Dikira gue nggak waras. Suka sama Tuan Renggo." ucapnya dalam hati.


"Masa. Buktinya Tuan Renggo nggak marahin aku. Padahal aku sudah bersikap kelewat batas." ledeknya, semakin membuat emosi Giska membeludak.


Giska menggeram kesal. "Elo lihat, jika gue dan Renggo kembali bersama. Elo orang pertama yang akan gue singkirkan." ancam Giska, menatap sengit pada sekertaris Renggo.


Sang sekertaris bersedekap dada. "Uu,, takut. Lakukan semau anda, mantan Nyonya." ucapnya sembari melenggang pergi sambil menjulurkan lidah. Puas mengerjai Giska.


Giska menghentakkan kakinya dengan perasaan kesal. Padahal ini waktu yang tepat menurut Giska untuk mendekati Renggo.


Giska yang tak sengaja melihat Renggo sedang makan di restoran bersama sekertarisnya, mempunyai niat untuk berpura-pura tak sengaja bertemu dengannya.


Tapi siapa yang akan menduga, jika sekertaris yang dulu selalu menaruh hormat padanya, dan selalu menuruti setiap ucapannya, sekarang malah melawan dirinya.


Dan tidak tanggung-tanggung. Sekertaris tersebut mampu membuat emosinya meluap. "Apa mereka punya hubungan. Atau, sekertaris sialan itu menyukai Renggo." gumam Giska menebak sendiri.


Giska memang tidak tahu, jika Renggo dan Sara berhubungan. Sebab, selama ini baik Renggo maupun Sara tidak pernah menunjukkan ke publik.


Hanya orang-orang terdekat di sekitar mereka yang mengetahui mengenai hubungan keduanya. Pasti Giska akan bertambah syok, jika mengetahui ada perempuan yang bisa membuat seorang Renggo bertekuk lutut.


Dan itu, bukan dirinya.


Renggo memukul kencang stir mobilnya. "Perempuan binal. Kenapa dulu gue bisa tergila-gila dengan perempuan seperti dia. Astaga,,, Tuhan." sesal Renggo.


"Apa Sara dan baby Al sudah pulang?" gumam Renggo.


Renggo memperlambat laju mobilnya. Dengan tangan kiri merogoh saku, dan mengambil ponsel. "Sara." gumamnya.


Segera Renggo membaca pesan yang dikirimkan oleh perempuan yang saat ini mengisi seluruh ruang hatinya, bersama dengan baby Al.


Renggo tersenyum. Ternyata Sara dan baby Al sudah berada di rumah. Seperti pesannya, mereka pulang dengan di antarkan oleh sopir keluarga Viki.


Dengan perasaan senang, Renggo melajukan kencang mobilnya. Rasanya sudah tidak sabar ingin sampai rumah.


Disambut oleh dua orang yang sangat berarti dalam kehidupannya. Sara dan baby Al. "Jika saja bisa kulakukan, besok aku akan menikahi kamu sayang."


Renggo menggelengkan kepalanya dsn tersenyum. Jika dirinya benar-benar melaksanakan niatnya menikahi Sara besok, pasti kedua orang tuanya akan murka.

__ADS_1


"Sayangnya, ada perasaan orang lain yang harus kita jaga." gumam Renggo. Yakni sang mama dan papa yang saat ini, pesawat yang mereka tumpangi baru saja mendarat di bandara.


__ADS_2