
"Sekarang hapus air mata kamu. Kita harus segera turun. Nanti malah di cari sama Tuan dan Nyonya. Ayo." ajak Mbok Nah.
Tanpa mereka sadari, seseorang mendengar semua pembicaraan mereka di balik tembok. Terdiam, dan menyandarkan badan di belakang tembok. Mendengar pembicaraan Nara dan Mbok Nah sampai selesai.
Dirasa cukup, segera dia meninggalkan tempat tersebut. Dan turun ke bawah. Dirinya tidak ingin jika Nara maupun mbok Nah mengetahui jika dirinya tengah mencuri dengar pembicaraan mereka.
"Mau ke mana ma?" tanya Tuan Hendra, saat keduanya berpapasan di ujung tangga.
"Nara sama Viki belum turun pa. Tadi mbok Nah bilang Nara bangunin Viki. Terus belum balik-balik. Lalu mama suruh mbok Nah, buat melihat mereka. Tapi mbok Nah malah ikut-ikutan Nara nggak turun." jelas Nyonya Rahma.
"Nara." gumam Nyonya Rahma, melihat Nara dan mbok Nah berjalan beriringan turun dari tangga. Tidak lama, terlihat Viki juga berjalan di belakang mereka.
"Loh, Nara. Kamu kenapa?" tanya Nyonya Rahma, melihat wajah sembab dari Nara.
Begitu juga Viki, dia menghentikan langkahnya tepat di samping Nara. Dan melihat ke arah wajah Nara. "Nara,,,," ucap Nara, bingung mencari alasan.
Karena tidak mungkin Nara mengatakan yang sebenarnya. "Nara teringan kedua orang tuanya Nyonya." timpal mbok Nah.
"Astaga, sayang." segera Nyonya Rahma memeluk Nara.
Dan Viki, menatap ke arah Nara dengan tatapan rumit. "Sebaiknya kita segera sarapan. Rini dan Bima sudah menunggu." ucap Tuan Hendra.
"Ya ampun, mama sampai lupa." ujar Nyonya Rahma. Merangkul Nara untuk segera bergabung bersama kedua adiknya di ruang makan.
Rini memandang ke arah sang kakak. "Rini tidak perlu khawatir. Kakak tidak apa-apa." ucap Nara, menenangkan Rini yang melihatnya dengan khawatir.
"Mbok, katakan pada sopir untuk mengantar Rini. Ada yang ingin saya bicarakan dengan papa dan mama." ucap Viki, saat mereka sudah selesai makan.
"Vik, mau bicara apa. Nanti saja, kasihan papa kamu. Nanti terlambat." ucap Nyonya Rahma.
"Tidak apa-apa. Papa sudah memberitahu orang kantor jika akan datang terlambat." jelas Tuan Hendra.
Nara memandang ke arah Viki dengan tatapan tidak percaya. "Apa sekarang. Tidak mungkin." ucap Nara dalam hati, tidak menyangka jika Viki akan bicara dengan kedua orang tuanya secepat ini. Padahal Viki baru saja mengatakannya pada Nara.
Rini turun dari tempat duduknya. Bersalaman dengan semua orang yang berada di dalam rumah. "Rini berangkat dulu." pamit Rini.
"Hati-hati sayang." ucap Nyonya Rahma, mencium dahi Rini.
"Belajar yang rajin." ujar Tuan Hendra mengelus lembut rambut Rini.
"Jangan nakal." ucap Nara.
"Maaf, Abang belum bisa antar." ucap Viki.
"Iya kak, tidak apa-apa." sahut Rini tersenyum.
Rini menghampiri Bima mencium kedua pipi gembul sang adik. "Bima jangan menyusahkan mbok Nah. Tunggu kakak pulang. Nanti kita akan bermain bersama." ucap Rini tersenyum.
Semua orang yang mendengarnya tersenyum. Gadis kecil berusia tujuh tahun yang sudah berpikiran dewasa, karena keadaan.
"Mbok, jaga Bima sebentar." ucap Viki.
"Baik Den." segera mbok Nah menggendong Bima, membawanya untuk bermain di belakang.
"Ma, pa, ada yang ingin Viki sampaikan. Dan juga Nara." ucap Viki.
Tuan Hendra berjalan, menuju ke ruang tengah. Begitu juga dengan yang lain. "Ada apa?" tanya Nyonya Rahma setelah mendaratkan pantatnya di kursi empuk.
Nara duduk di samping Viki dengan gelisah. Bahkan, jarinya meremas ujung baju yang sedang dia pakai. "Viki ingin menikahi Nara." ucap Viki langsung.
Membuat Nyonya Rahma berkedip tak percaya. Dan untuk Tuan Hendra, ternyata dirinyalah yang sudah mencuri dengar pembicaraan Nara dengan mbok Nah. Sehingga beliau lebih tenang dan tidka terkejut sama sekali.
Nafas Nara tercekat. Tubuhnya dingin, seperti baru saja dikeluarkan dari almari pendingin. Nara tidak berani mengangkat kepalanya, meski hanya sekedar menatap kedua orang tua Viki.
"Maksud kamu apa?" tanya Nyonya Rahma terkejut dengan perkataan sang putra.
"Viki akan menikah dengan Nara." ucap Viki, mengulang kembali perkataannya.
Nyonya Rahma tertawa mendengar perkataan Viki untuk kedua kalinya. "Jangan bercanda kamu nak." ucap Nyonya Rahma tersenyum.
Sementara Tuan Hendra hanya diam. Memandang Viki dan Nara bergantian. "Apa kamu serius?" tanya Tuan Hendra.
"Iya, Viki serius." ucap Viki dengan mantap. Membuat tawa Nyonya Rahma berhenti seketika, dan menggelengkan kepala.
Putranya tidak pernah dekat dengan perempuan. Dan sekarang, dia langsung meminta restu untuk menikah. "Dengan Nara?" tanya Nyonya Rahma, memastikan.
Nara memejamkan mata sebentar, saat Nyonya Rahma memastikan lagi perkataan Viki. Nara menyimpulkan jika Nyonya Rahma tidak begitu menyukai niat dari sang anak, untuk menjadikan dirinya sebagai menantunya.
__ADS_1
"Iya." jawab Viki.
"Bagaimana, apa mama dan papa setuju?" tanya Viki.
Nyonya Rahma memandang ke arah Nara, yang sedari tadi hanya duduk diam dan menundukkan kepala. "Apa Nara mau, menikah dengan Viki?" tanya Tuan Hendra.
"Ckk,,, mau lah pa." seru Viki.
"Diam. Papa bertanya pada Nara. Bukan kamu." ucap Tuan Hendra menaikkan intonasi suaranya.
"Jawab." ucap Viki.
Nara mengangguk pelan. "Mau." ucap Nara lirih. Nyonya Rahma mengernyitkan dahinya. Beliau berdiri dan duduk di samping Nara.
Membuat Nara tersentak, menelan ludahnya dengan kasar. "Apa Viki berbuat sesuatu sama kamu?" tanya Nyonya Rahma, memegang telapak tangan Nara yang sedingin es.
Masih dengan kepala menunduk, Nara menggeleng. Viki menaikkan sebelah alisnya, mendengar perkataan sang mama.
"Ma,,,!!" seru Viki, sontak saja mendapat pelototan dari sang mama.
Nyonya Rahma begitu senang, saat Viki berkata ingin menikahi Nara. Tapi, Nyonya Rahma tidak ingin egois. Mengingat Nara masih gadis remaja yang polos.
"Viki memaksa kamu?" tanya Nyonya Rahma, dengan tangan memegang dagu Nara. Membuat wajah Nara terangkat untuk bersitatap dengan Nyonya Rahma.
"Dia masih kecil Vik. Umurnya saja belum genap tujuh belas tahun." ujar Tuan Hendra.
"Itu maksud mama." ucap Nyonya Rahma merangkul pundak Nara.
"Apa maksud mama?" tanya Viki dengan jengkel.
"Nara masih kecil. Dia tidak pantas untuk menjadi istri kamu. Di lebih pantas menjadi adik kamu." ucap Nyonya Rahma.
"Ma, mama bilang ingin melihat Viki segera menikah." kekeh Viki.
"Mama heran sama kamu. Dikenalin sama banyak perempuan yang sudah siap berumah tangga, kamunya nggak mau. Selalu nolak. Giliran sekarang, ngebet mau nikah. Sama anak-anak lagi." ucap Nyonya Rahma.
"Kami bukan pedofilkan?" tanya Nyonya Rahma nyleneh.
"Bukanlah ma. Mama ada-ada saja." seru Viki tidak terima dengan perkataan sang mama.
Nyonya Rahma memegang kedua pundak Nara. Di arahkan Nara untuk menatap pada kedua mata Nyonya Rahma. "Nara, kamu tidak perlu takut. Meskipun Viki anak kandung kami, kami tidak akan membela dia. Jika dia menyakiti dirimu." jelas Nyonya Rahma.
"Semenjak kamu tinggal di rumah kita, tante dan om sudah menganggap kamu dan kedua adik kamu seperti anak-anak kami." tutur Nyonya Rahma.
Senyum di bibir Nara merekah. Ternyata dirinya salah menduga. Nyonya Rahma ternyata begitu menyayangi dirinya, juga kedua adiknya.
"Sekarang kamu jujur sama tante." ucap Nyonya Rahma.
"Ma,,,!! Mama menyuruh Nara jujur untuk apa? Viki tidak berbohong!!" seru Viki.
"Diam." bentak Nyonya Rahma dengan kedua mata membulat sempurna ke arah sang putra yang duduk di belakang Nara. Karena Nara sekarang duduk menghadap ke arah Nyonya Rahma.
"Viki pernah ngapain kamu?" tanya Nyonya Rahma dengan wajah serius.
Seketika Viki menampilkan wajah tegang. Viki sangat tahu, jika Nara masih sangat polos. Apalagi Viki tidak mewanti-wanti Nara untuk tutup mulut, apapun yang terjadi.
Dan Viki yakin, di bawah tekanan sang mama, tidak mungkin Nara tidak akan membuka mulutnya. "Nara...." panggil Viki dengan lembut.
"Diam. Mama bilang diam. Viki!!" geram sang mama.
Nyonya Rahma menatap Nara dengan lembut. "Katakan sayang jangan takut." ucap Nyonya Rahma.
"Kamu dipaksa Viki?" tanya Nyonya Rahma lagi, dan Nara menggeleng kembali. "Tidak tante." jawab Nara.
"Mama dengarkan." ucap Viki tersenyum sinis.
"Apa Viki pernah mencium kamu?" tanya Nyonya Rahma terbuka.
Seketika Nara menatap Nyonya Rahma dengan perasaan takut. "Pernah?" tanya Nyonya Rahma lagi.
Viki mengusap kasar wajahnya. Dan Nara hanya membuka menutup mulutnya, tanpa mengeluarkan suara. Dari raut wajah Nara, Nyonya Rahma dapat menebak apa yang terjadi.
Nyonya Rahma menatap tajam ke arah sang anak. "Ma, sudah cukup." segera Viki memegang lengan Nara. Menariknya untuk duduk mendekat ke arah Viki.
"Viki cuma mau bilang, jika Viki mau menikahi Nara. Mama tidak perlu mengintrogasi Nara seperti itu." ujar Viki kesal bercampur gusar.
"Mama kan cuma bertanya." ucap Nyonya Rahma. Padahal Nyonya Rahma setuju-setuju saja, seandainya Nara menjadi menantunya.
__ADS_1
Dia tidak membutuhkan menantu dari keluarga kaya. Yang di perlukan hanyalah menantu yang bisa membuat sang putra bahagia.
"Sudah-sudah. Kenapa jadi berdebat." tegur Tuan Hendra.
"Viki, sekarang papa mau tanya. Bukan hanya pada Viki. Tapi juga pada Nara." jelas Tuan Hendra.
"Apa kamu yakin, mau menikah dengan Nara."
"Iya pa." jawab Viki.
"Kamu Nara, apa kamu juga yakin?" tanya Tuan Hendra, mengingat usia Nara masih cukup muda.
"Iya om." jawab Nara lirih.
"Baiklah. Jika Viki, om percaya. Karena dia memang sudah dewasa. Namun kamu. Bahkan usia kamu belum genap tujuh belas tahu." ucap Tuan Hendra.
"Sebaiknya kamu berpikir lagi. Apa kamu ikhlas dan yakin. Jika di usia kamu yang sekarang, kamu lebih memilih untuk menikah. Melepas kebebasan kamu. Padahal perjalanan hidup kamu masih panjang." imbuh Tuan Hendra, memandang Nara dan Viki bergantian.
"Apalagi, kamu baru saja melakukan home schooling." tutur Tuan Hendra.
Nyonya Rahma mengelus bahu Nara. "Om dan tante mengatakan hal seperti ini, bukan karena tidak ingin menerima kamu sebagai menantu kami. Bahkan, tante sangat senang mendengar jika Viki mau menikah dengan kamu." ucap Nyonya Rahma.
"Tapi seperti yang di katakan suami tante. Kamu masih terlalu muda. Bahkan, kamu cocoknya menjadi adiknya Viki. Dari pada istrinya Viki." imbuh Nyonya Rahma.
Viki seketika terdiam. Semua yang dikatakan sang papa dan juga sang mama adalah benar. Perkataan kedua orang tua Viki, seakan menyadarkan Viki. Jika Nara masih terlalu kecil untuk di jadikan seorang istri.
Apalagi usia Nara masih sangat muda. Dia bisa belajar dan mengerjakan banyak kegiatan di usianya. Bukan malah terbelenggu, dalam ikatan suami istri. Dimana pastinya waktu Nara akan lebih banyak tersedot untuknya.
"Maaf, Viki tidak berpikir sejauh itu." ucap Viki. Nara menoleh, memandang ke arah Viki.
Viki menghembuskan nafas panjang. "Maaf Ra, abang terlalu memaksakan kehendak." ucap Viki.
Viki melihat ke arah pergelangan tangannya. Dimana ada jam tangan mahal yang melingkar di sana.
"Sebaiknya kita anggap perbincangan ini tidak pernah terjadi. Viki berangkat kerja dulu." segera Viki melangkahkan kakinya meninggalkan kedua orang taunya dan juga Nara.
"Viki...!" panggil Nyonya Rahma.
"Bang,, bang Viki!!" teriak Nara.
"Anak itu." geram Tuan Hendra.
Tapi Viki sepertinya acuh dengan panggilan mereka. Dia bahkan tidak menghentikan langkah kakinya. Malah semakin mempercepat langkahnya.
"Pa...!" ucap Nyonya Rahma dengan nada tinggi.
"Biarkan dulu, nanti malam kita bicarakan lagi dengan Viki." ucap Tuan Hendra.
Tuan Hendra paham betul dengan tabiat dari sang putra. Viki akan sulit di ajak bicara jika sedang emosi. Jadi Tuan Hendra membiarkan lebih dulu putranya untuk tenang.
"Tante." ucap Nara dalam pelukan Nyonya Rahma. Menenangkan Nara yang sedang menangis.
"Sudah, nanti kita bicara lagi dengan Viki." ucap Nyonya Rahma.
Setelah sang suami berangkat bekerja, Nyonya Rahma kembali bertanya pada Nara. "Nara, apa benar jika kamu bersedia menikah dengan putra kami. Tanpa paksaan dari Viki?"
"Iya tante. Dari awal bertemu dengan bang Viki, Nara sudah menyukai bang Viki." jelas Nara sambil menghapus air matanya.
"Syukurlah." ucap Nyonya Rahma dengan perasan lega.
"Tante tidak marah?" tanya Nara dengan polos.
"Marah? Marah kenapa sayang." ucap Nyonya Rahma gemas.
"Tante malah senang. Apalagi jika kamu jadi menantunya tante. Tante akan bawa kamu kemana-mana. Tante pamerkan menantu tante yang cantik ini."
"Tante, tante tidak malu? Narakan.." ucap Nara menggantung.
"Malu kenapa. Kamu cantik. Hanya, kamu harus belajar yang rajin. Kamu mengertikan, maksud tante. Bukan tante merendahkan kamu loww." jelas Nyonya Rahma dengan lembut.
"Iya tante. Nara akan belajar dengan rajin. Nara tidak akan membuat malu keluarga tante." ucap Nara dengan sungguh-sungguh.
Dan Viki, dirinya sama sekali tidak berkosentrasi saat bekerja. Bahkan beberapa kali Rey mendapat amukan dari atasannya tersebut tanpa sebab.
Alhasil, Rey harus menjadwal ulang beberapa jadwal pertemuan dengan beberapa klien, tanpa harus bertanya pada Viki terlebih dahulu.
Karena Rey melihat emosi sang atasan yang sedang meledak-ledak. Pasti pertemuannya juga akan berakhir dengan tidak menyenangkan. Dan Rey takut, malah akan mengecewakan klien.
__ADS_1
"Ada apa dengan Tuan." ucap Rey, kembali masuk ke dalam ruangannya. Membawa map berisi berkas-berkas yang seharusnya di tanda tangani oleh Viki.
Namun Viki malah mengomel. Dan berkata jika Rey harus mengecek ulang berkas tersebut. "Ckk,,, perasan semuanya aku kerjakan seperti biasa." gumam Rey, memandang map di tangannya.