
Seperti yang di inginkan oleh Viki, malam harinya dia bersama dengan Rey menemui Sara dan Erlangga di sebuah restoran.
"Selamat pak Viki, atas pernikahannya. Maaf, kami tidak bisa hadir kemarin. Ada pekerjaan di luar kota." ujar Sara saat berjabat tangan dengan Viki. Begitu juga Erlangga.
Erlangga dan Sara. Memang keduanya sangat sering memainkan peran di sinetron atau film yang sama. "Bapak sendirian?" tanya Sara sembari mendaratkan pantatnya di kursi depan Viki.
"Bersama Rey." jawab Viki tanpa ekspresi.
Sara menampilkan wajah cengo. Bukan seperti itu maksud pertanyaan yang Sara ajukan. Sebagai pengantin baru, pasti Viki sedang lengket-lengketnya dengan sang istri.
Sara menduga jika Nara juga ikut serta dalam pertemuan ini. Apalagi Sara juga melihat wajah Nara di berbagai pemberitaan sewaktu keduanya menikah.
Cantik dan anggun. Jadi tidak ada alasan jika Viki menyembunyikan istrinya, yang menurut Sara tipikal perempuan sempurna. Dan satu lagi, umur Nara yang masih muda. Menjadi perbincangan tersendiri.
"Nyonya sedang kecapekan. Beliau membutuhkan istirahat di rumah." jelas Rey, tanpa di minta oleh Viki. Erlangga dan Sara tersenyum canggung. Terlebih Sara. Sebab tampak jelas jika Viki sama sekali tidak menanggapi pertanyaan darinya.
"Apa kalian sudah membaca kontrak kerjanya?" tanya Viki datar, mengalihkan perhatian, memandang Erlangga dan Sara bergantian.
"Sudah pak, dan saya setuju dengan syarat-syarat yang tertera. Bagaimana Sara?" jawab Erlangga sopan, sekaligus bertanya pada rekannya, Sara.
Sara masih membaca lembar kertas di tangannya. Dia tampak serius, dan mengangguk kecil. "Baik, saya juga. Saya setuju." ungkap Sara, langsung membubuhkan tanda tangan di lembar kertas yang sudah bermaterai tersebut. Begitu pula dengan Erlangga.
Mereka melanjutkan obrolan ringan tersebut dengan makan malam. Sesekali Sara mencuri pandang ke arah Viki. "Pantas banyak yang suka. Sumpah idaman banget. Ada lelaki setampan dia." ucap Sara dalam hati, memuji kesempurnaan yang Viki miliki.
Erlangga segera menyenggol bahu rekannya tersebut. Membuat Sara mengalihkan pandangan pada dirinya. Erlangga hanya melotot.
Dan Sara meringis, sepertinya Sara cukup mengerti kenapa Erlangga melakukan semua itu. Rey tersenyum samar melihat tingkah kedua artis tersebut.
Sementara Viki tampak tak bisa di ganggu dengan makanannya. Viki meletakkan sendok dan garpu di atas piring yang sudah tidak ada lagi makanannya. "Kalian nikmati makanan kalian. Saya pergi duluan." pamit Viki, mengelap pinggir bibirnya dengan lap yang memang sudah di sediakan oleh restoran.
"Baik pak, terimakasih." sahut Erlangga dan Sara bersamaan.
"Rey, temani mereka." perintah Viki, yang segera di angguki oleh Rey.
Viki berdiri, berjalan beberapa langkah dan.....
Byurr,,,,, "Aaaa....!! seru Viki, lantaran tubuhnya bagian depan tersiram kuah sayur.
__ADS_1
"Tuan...!!" pekik Rey panik, segera menghampiri Viki. Begitu juga Erlangga dan Sara yang segera menyusul Rey.
"Maaf Tuan." ucap pelayan restoran dengan nada gugup dan tubuh bergetar. Dia benar-benar tidak sengaja menabrak Viki.
Kejadian tersebut membuat semua orang langsung memperhatikan ke arah kejadian. Mereka bahkan menyalahkan pelayan restoran yang terkesan tidak hati-hati saat bekerja.
Apalagi kuah sayur yang tersiram di tubuh Viki lumayan masih panas. "Ada apa ini?" tanya manajer restoran. "Suruh karyawan anda bekerja dengan benar!!" bentak Rey dengan mata menyalang.
Dengan gerakan reflek, Viki segera membuka jas dan juga kemeja yang melekat di tubuhnya. "Astaga...!!" seru Sara, sebab terlihat kulit tubuh Viki bagian dada sampai perut berwarna merah, kontras dengan warna kulit Viki yang bwrwarna putih.
"Sebaiknya kita segera membawa pak Viki ke rumah sakit." saran Erlangga.
Tanpa banyak bicara, Viki bergegas meninggalkan restoran. Sungguh, Viki tidak tahan dengan rasa panas di kulitnya. Seperti terasa terbakar.
Viki duduk di kursi belakang dengan Sara. Sementara Rey duduk di belakang kemudi, dan Erlangga duduk di kursi samping Rey.
"Sara, elo kipasin itu..!!" suruh Erlangga dengan ekspresi tidak tega melihat ke arah Viki.
"Pakai apa?!" tanya Sara ikut heboh sendiri.
"Terserah." sahut Erlangga ketus. "Tambah kecepatannya.." perintah Erlangga pada Rey yang sedang menyetir.
Sara malah hilang fokus. Kedua matanya sibuk meneliti wajah Viki hingga tubuh Viki yang telanjang tak memakai pakaian tepat berada di depannya.
Hingga suara Erlangga membuyarkan pikiran Sara. "Sara....!!!" tegur Erlangga dengan geram.
"Aahh,,, iya,,, iya." Sara menggelung rambutnya asal, sedikit mencondongkan wajahnya ke tubuh Viki. Meniup-niup bagian tubuh Viki yang terkena siraman kuah sayur.
Tiupan dari Sara membuat Viki terlihat lebih tenang. Dapat dilihat dari ekspresi wajah Viki yang awalnya menahan sakit, kini tidak terlalu lagi.
"Sepertinya berhasil." gumam Sara melirik ke arah wajah Viki.
"Apakah masih lama?" tanya Sara.
"Satu belokan lagi." jawab Rey yang sedang fokus menyetir.
Segera Viki di masukkan ke ruang perawatan. Namun sebelumnya, Viki memberitahukan pada Rey, untuk tidak menghubungi orang rumah.
__ADS_1
"Terimakasih sudah menemani." tutur Rey pada Erlangga dan Sara yang berada di dekatnya.
"Sama-sama. Emm,,, apa keluarga pak Viki sudah di beritahu?" tanya Erlangga, sekedar mengingatkan.
Sebab baik Erlangga maupun Sara tidak ada yang mengetahui dan mendengar saat Viki memberitahu Rey. Karena Viki berbisik tepat di telinga milik Rey, menjadikan tidak ada yang mengetahuinya.
Rey tersenyum. "Sudah, sebentar lagi mereka akan ke sini." ucap Rey berbohong.
"Jika begitu, kami permisi pulang terlebih dahulu." pamit Erlangga.
"Terimakasih banyak." ucap Rey sekali lagi.
"Ayo Sara." ajak Erlangga, tapi Sara tidak bergeming dari tempat duduknya.
"Sara,,!! ayo kita pulang." geram Erlangga di acuhkan oleh rekan sekaligus sahabatnya tersebut.
Sara menunjuk ke arah hidupnya sendiri. "Gue?" tanyanya lucu, bahkan Rey sampai tersenyum melihatnya.
"Siapa di sini yang bernama Sara, selain kamu." tegas Erlangga memegang pergelangan tangan Sara dan membawanya pergi.
"Nggak usah manyun." tegur Erlangga saat keduanya sudah berada di dalam taksi yang mereka pesan. Karena saat berangkat ke rumah sakit mereka naik mobil milik Rey.
"Padahal gue masih mau di sana. Gue tu khawatir, sama pak Viki. Kelihatannya parah." cicit Sara.
"Jaga batasan. Jangan sampai cerita yang sama terulang lagi." ucap Erlangga, seraya mengingatkan sebuah kejadian di masa lalu Sara.
Lantaran memang keduanya bersahabat sejak kecil. "Gue juga bukan pelakor. Astaga,,,, gue tahu, jika pak Viki sudah menikah. Baru saja." ucap Sara penuh penekanan.
Erlangga hanya cuek, tetap memainkan ponselnya. Sara menyandarkan kepalanya di bahu Erlangga. "Kan dulu beda ceritanya. Gue nggak tahu, jika dia punya istri. Lah,,, lagian juga bukan salah gue. Dia bilang dia belum mempunyai kekasih." cicit Sara mengingat kebodohannya di masa lalu.
Sementara di rumah sakit, luka Viki sudah di tangani dan di perban. "Tuan yakin?" tanya Rey. Pasalnya sang atasan tidak mau di rawat inap.
"Kami tahu sendiri, aku tidak suka bau seperti ini." ucap Viki yang memang tidak menyukai bau khas rumah sakit. Bau obat.
Itulah kenapa Viki meminta Rey untuk tidak mengatakan pada orang rumah. Karena Viki dapat memastikan, jika mereka akan membuat Viki di rawat inap di tempat yang sangat Viki benci.
"Tapi, pasti Nyonya Nara akan tahu." ucap Rey mengingatkan.
__ADS_1
"Dia tidak akan tahu, aku sentuh saja tidak mau. Lagian, aku juga tidak mungkin tidur bersamanya. Takut tidak bisa mengendalikan nafsu. Nanti malah Nara akan membenciku." ucap Viki, namun Viki hanya berani mengucapkannya di dalam hati.
"Biarkan saja. Nara bisa di ajak kerja sama. Dia istriku." ujar Viki.