VIRA (Viki Dan Nara)

VIRA (Viki Dan Nara)
ViRA 185


__ADS_3

Pernikahan Nara dan Viki sudah berjalan satu tahun. Keduanya terlihat semakin menyayangi dan semakin romantis. Meski belum ada suara bayi di rumah mereka, tidak ada perdebatan mengenai hal tersebut.


Viki berperan sebagai kepala rumah tangga yang bertanggung jawab dan penuh perhatian pada sang istri. Dan juga bertambah romantis. Tidak seperti dulu, yang selalu mementingkan pekerjaan.


Sekarang, dalam dua hari dalam seminggu. Sabtu dan Minggu, Viki gunakan hari tersebut hanya berdua dengan sang istri. Menuruti kemauan Nara. Dirinya tidak ingin ada urusan pekerjaan yang mengganggu kebersamaan mereka.


Begitu juga dengan Nara, dia sekarang lebih pandai dalam hal memasak. Bukan hanya masakan dalam negeri. Tapi juga luar negeri.


Nara sekarang juga merubah penampilan, sangat anggun dan cantik. Tentu saja dia tidak ingin sang suami malu.


Terlebih, dirinya sering diajak Viki untuk menghadiri acara penting di perusahaan atau hanya sekedar bertemu klien.


Nara, si gadis kecil yang berasal dari pemukiman kumuh. Kini menjelma menjadi perempuan dengan berjuta pesona. Tak hanya cantik, namun Nara juga sangat sopan dan bisa menempatkan dirinya dimanapun dia berada.


Kedua orang tuan Nara maupun Viki, mereka tak lantas memaksakan kehendak mereka dan menuntut Nara untuk segera hamil.


Terlebih mereka tahu, jika memang umur Nara masih berusia belasan tahun. Mereka malah membebaskan anak-anak mereka untuk mejalani hidup dan menikmatinya.


Setiap hari, seperti biasa. Nara selalu menyempatkan diri untuk mengantar makan siang ke perusahaan sang suami.


Setelah itu, dia akan pergi ke rumah sang mertua atau Nyonya Binta, bermain bersama Al atau Bima.


"Bik,,, Nara berangkat." pamit Nara pada pembantu di rumah.


Nara memakai dress berwarna maroon, berlengan pendek dengan panjang sampai mata kaki. Dengan tali pinggang berada di samping. Membuat Nara bertambah semakin manis. "Iya Nyonya, hati-hati." sahutnya.


Dengan perasaan senang, Nara menenteng rantang di tangannya. "Silahkan Nyonya." sang sopir membukakan pintu mobil bagian belakang.


Nara masuk dan duduk. "Terimakasih pak."


Namun sayang, di tengah perjalanan mobil tiba-tiba berhenti. "Kenapa pak?" tanya Nara.


"Tidak tahu Nyonya Sebentar, saya lihat dulu."


Sang sopir turun dan melihat, kenapa mobil tiba-tiba berhenti. "Ampun,,, pake bocor segala." ucapnya, sambil menendang ban mobil bagian belakang.


Nara membuka kaca jendela, melongokan kepalanya keluar. "Kenapa pak?"


"Ini Nyonya, bannya kempes."


Nara manggut-manggut. Lalu turun dari mobil. "Sebaiknya Nyonya pesan taksi saja, biar bapak menelpon bengkel. Bapak akan menunggu mobilnya, sampai pihak bengkel datang." saran pak sopir.


"Baik pak." jawab Nara.


Nara segera mengeluarkan ponsel, dan memesan taxi secara online. Menunggu beberapa saat, hingga taksi datang.


Di perusahaan, Viki dan Rey sedang berada di ruang pertemuan. Bertemu dengan rekan kerja yang akan bekerja sama dalam pembangunan proyek bersama.


Sementara sang sekertaris yang biasanya duduk tenang di depan ruangan Viki, sekarang berada di toilet karena panggilan alam.


Seorang perempuan dengan tubuh seksi dan pakaian super ketat, melangkahkan kakinya untuk masuk ke ruangan Viki.


Dia melenggang dengan bebas, seperti burung yang terbang di langit. Masuk tanpa ada penghalang.


"Kemana semuanya. Di depan nggak ada orang. Di dalam juga. Sepi banget, kayak kuburan." oceh Giska. Dan Giskalah penghuni kuburan tersebut.


Mata Giska meneliti setiap sudut ruangan Viki. Kapan lagi jika bukan sekarang, saat si empunya tidak berada di tempat.


Giska tersenyum miring, melihat sebuah pigura poto yang berisikan poto pernikahan Nara dan Viki di atas meja kerja Viki. "Sampah."


Giska menelungkupkan foto tersebut di atas meja. Dengan gaya seksinya, dia mengitari separuh meja. Berakhir dengan mendaratkan pantatnya di kursi single kebesaran milik Viki.


Menggoyang-goyangkan kursi tersebut dengan pikiran mengkhayal dan memimpikan sesuatu yang pasti tidak akan pernah terjadi. Mustahil.


"Pasti gue akan jadi perempuan yang sangat beruntung dan terhormat. Jika Viki benar-benar berada dalam pelukan gue."


Seringai licik terbit dari kedua sudut bibir Giska, saat melihat sebuah pintu yang sedikit terbuka. Dengan langkah pasti, Giska membuka dan masuk ke dalam ruang pribadi Viki.


"Harumnya..." cicit Giska, menghirup wangi ruang pribadi Viki, yang pastinya harum khas parfum mahal milik sang empunya.


Dengan tidak tahu malu, Giska duduk di tepi ranjang milik Viki. Meraba kasur dengan gaya sensualnya. Membayangkan dirinya dan Viki bergelut, bertukar saliva dan keringat di atas ranjang tersebut.

__ADS_1


Klekk,,, Tak selang berapa lama, Giska mendengar suara pintu dibuka dari luar. Membuat dirinya menajamkan indera pendengarnya.


Cukup jelas, terdengar suara percakapan Viki dan Rey. Menandakan jika pertemuan mereka sudah berakhir. Dan keduanya saat ini membicarakan permasalahan bisnis di rungan Viki.


Untuk kedua kalinya, Giska mendengar suara pintu terbuka. "Asisten brengsek itu sudah keluar." gumam Giska.


Dengan gerakan lambat dan perlahan, Giska menuju ke kamar mandi yang ada di dalam ruang pribadi Viki. Dirinya tidak ingin jika sampai Viki menyadari keberadaannya. Entah apa yang sedang direncanakan otak liciknya.


Dan Viki, dirinya merasa janggal. Beberapa kali Viki mengedarkan pandangan ke setiap sudut ruangannya. "Foto ini." Viki mengembalikan posisi awal foto tersebut.


Menatap foto pernikahannya dengan Nara. "Apa ada orang yang masuk ke dalam."


Viki merasa jika ada wangi parfum lain yang sebelum dia meninggalkan ruangan, wangi parfum tersebut tidak tercium di hidungnya.


Wangi parfum yang pernah dia hirup baunya. Namun hanya beberapa kali. Dan itu sangat familiar. "Penciuman gue nggak salah."


Viki menatap ke pintu penghubung ke ruang pribadinya. "Siapa yang berani masuk ke dalam. Ini bukan wangi milik Nara."


Vik ingin melihat kamera CCTV ruangannya yang terhubung dengan ponselnya. "Terlalu lama." ujar Viki mengurungkan niatnya.


Segera Viki masuk ke dalam ruang pribadinya. Melihat siapa yang berada di dalam kamar, dari pada hanya menebak-nebak saja, tidak bisa menghilangkan rasa penasarannya.


Dan di lantai bawah, Nara tersenyum memasuki area perusahaan sang suami. Tentunya dengan perasaan bahagia. "Pagi." sapa Nara pada resepsionis yang sedang menunduk, entah apa yang sedang mereka lakukan.


Semuanya lantas segera melihat ke sumber suara.


Sebab suara tersebut memang tak asing di telinga mereka. Karena setiap hari mereka mendengarnya.


"Pagi Nyonya." sahut mereka bersamaan.


Nara merasa ada yang janggal, dua resepsionis saling menyiku, sepertinya mereka ingin mengatakan sesuatu pada Nara, namun merasa canggung atau lebih tepatnya takut.


Nara tersenyum simpul. "Ada apa?" tanya Nara seperti biasa, ramah.


Keduanya lantas saling pandang, sejurus kemudian, mengalihkan pandangan pada istri pemilik perusahaan.


"Anu nyonya, eemmm,,,, anu,,, itu." ucapnya sedikit gagap.


Nara mengernyitkan keningnya, melihat jika ada yang tidak beres. "Katakan saja. Jangan takut." papar Nara dengan senyum.


"Kami sudah menghentikan, namun beliau malah mengancam dan membuat masalah." lanjutnya merasa bersalah.


"Benar Nyonya, apalagi sewaktu beliau datang, petugas keamanan sedang berkeliling. Kami mencoba menghubungi, namun tidak di jawab. Dan yang biasanya berada di sini, kebetulan dia sedang di beri tugas keluar perusahaan oleh Tuan Rey." jelasnya.


Nara mengangguk mengerti. "Sudah lama?"


"Sekitar lima belas menit."


Nara menaikkan alisnya. Lima belas menit. Cukup lama untuk seorang Giska mampu bertahan di dalam ruangan sang suami.


"Tapi Tuan Viki tidak berada di tempat, Nyonya. Saya melihat jika tadi ada tamu dari perusahaan lain yang datang. Dan biasanya mereka akan membicarakan mengenai kerjasama di ruang pertemuan." jelasnya dengan gamblang.


Tentu saja mereka tidak ingin jika sampai terjadi kesalahpahaman di antara atasan mereka. "Pantas." gumam Nara.


"Apa dia masih di sana?" tanya Nara.


Keduanya saling berpandangan, lalu mengangguk bersama. "Kami tidak melihat Nona Giska keluar dari perusahaan, Nyonya."


Nara mendengus sebal. "Dasar,,, lampir. Dikasih hati, minta jantung." kesal Giska, yang memang selama ini dirinya tidak terlalu menganggap Giska.


Padahal beberapa kali dalam pertemuan di rumah Tuan Smith, Giska selalu berusaha menggoda Viki. H


Dan hasilnya dapat ditebak. Gagal.


Sebab, dengan sikap arogan dan sifat dingin Viki, membuat Giska tentu saja kesulitan untuk mendekatinya.


Nara tersenyum smirk. "Lihat saja, jika berani menyentuh kulit atau rambut suami saya. Meski hanya sedikit, aku akan bejek-bejek dia." geram Nara menampilkan ekspresi kesal.


Kedua resepsionis hanya bisa menatap takut. Tentu saja, sebab sebentar lagi pasti akan ada perang dunia di perusahaan mereka.


"Pak,,,!!!" panggil resepsionis pada petugas keamanan.

__ADS_1


Dengan berlari, dia menghampiri resepsionis, apalagi di depannya ada istri dari boss mereka. "Nyonya." sapanya, begitu berada di dekat Nara.


Tidak seperti biasa, Nara menampilkan wajah jutek dan garang. Tanpa menyahuti sapaannya. "Dari mana saja sih pak, ditelpon nggak diangkat?!" kesal sang resepsionis.


"Maaf, waktu saya keliling, ini ketinggalan di pos keamanan." ucapnya sambil menunjukkan sebuah alta komunikasi berbentuk balok.


Tanpa bicara, Nara meninggalkan mereka. Masuk ke dalam lift pribadi. "Ada apa?" tanyanya, melihat Nara tidak seperti biasa.


"Bapak sih, teman bapak yang lain kemana?"


"Ada yang cuti, yang satu sedang di toliet. Memang kenapa?"


"Nona Giska datang. Dan sekarang berada di dalam ruangan Tuan Viki."


Pak satpam memukul keningnya pelan. "Mampus." segera dia berlari menyusul Nara, tapi melewati lift karyawan.


Viki membuka pintunya, dengan tersenyum aneh. "Pintu ini tadi nggak gue tutup rapat." gumamnya masih mengingat dengan detai.


Viki masuk, dan lagi. Wangi familiar tercium di kamar tersebut. Persis seperti harum wangi di luar. "Parfum mahal. Tapi gue nggak suka. Lebih wangi keringat milik Nara." ucap Viki, membayangkan saat sang istri berada di bawah kungkungannya.


Viki melihat ada tas perempuan berwarna silver dengan brand ternama tercetak di bagian depan. Tergeletak di tepi ranjang. Krekk,,,, pintu kamar mandi terbuka dari dalam.


Viki menatap tajam perempuan yang keluar dari dalamnya. "Hay,,,,, bagaimana, kamu senang dengan kejutannya?" tanya Giska, dengan berdiri di ambang pintu. Dengan gaya menggoda.


Gila. Giska memakai handuk, tanpa dalaman. Dengan rambut digelung asal ke atas. Sungguh menjijikkan, di mata Viki. "Pasti sekarang Viki terangsang. Ya iyalah, istrinya kecil. Nggak ada yang montok. Lebih oke semua yang ada di tubuh gue." ucapnya dalam hati dengan percaya diri.


"Keluar dari ruanganku." usir Viki.


Giska malah tersenyum dan menggigit bibir bawahnya. "Jangan munafik sayang, kamu pasti menginginkan aku kan...??!" Giska berjalan mendekat ke arah Viki.


Tangan Giska terulur meraba di dada Viki. Giska menelan ludahnya dengan kasar. "Baru menyentuh kamu saja, libidoku sudah naik." ucap Giska dengan suara yang sudah bernafsu.


"Aaa...!!" jerit Giska, saat tangan Viki mencekal erat lengan Giska.


"Keluar,,,!! *****...!!!" geram Viki tertahan.


"Sakit..." rengek Giska.


"Aaiiisss..." Viki melepaskan cekalannya saat Giska menggigit tangannya. Segera Giska berlari ke sebelah ranjang. Mengelus lengannya yang terasa sakit.


"Suka main kasar. Tidak masalah. Aku bisa kok mengimbangi." ucap Giska dengan ekspresi menjijikkan di mata Viki.


"Giska...!! Keluar...!!!!" bentak Viki menggema di seluruh ruangan. Dan mungkin suaranya sampai di luar ruangan.


Giska menggeleng. "Tidak, sebelum kita bercinta." dengan tidak tahu malu, Giska malah duduk di tepi ranjang. Memamerkan gundukan dadanya yang terlihat separuh dan paha mulusnya, yang hampir memperlihatkan barang di antara selakangannya.


Viki berjalan menghampiri Giska. Memegang lengan Giska, dan menyeret ke luar ruangan. "Jika saja aku tidak mengingat perkataan Nara, sudah aku kirim ****** sepertimu ke alam neraka." seru Viki dengan emosi di ubun-ubun.


Bukannya berdiri, Giska malah menarik tubuh Viki. Alhasil, Viki yang tidak berdiri dengan seimbang terjerembab jatuh menimpa tubuh Giska.


Kini keduanya berada di atas ranjang. Dengan posisi sangat ambigu dan membuat salah paham. Giska berada di bawah tubuh Viki.


Tak mau kehilangan kesempatan, Giska mengalungkan tangannya ke leher Viki. "Baiklah, jika ini keinginan kamu." geram Viki, dengan mata yang sudah gelap karena emosi.


Tangan Viki terulur ke leher Giska, berniat mencekik Giska hingga dia tak akan pernah bernafas lagi. Tapi mau dikata apa, Nara terlebih dahulu berada di ambang pintu. Menyaksikan semuanya.


"Abang...!!!!" teriak Nara.


Sontak Viki dan Giska langsung menoleh ke arah suara. Viki segera berdiri. "Sayang..." Viki melihat raut wajah Nara yang kesal bercampur marah.


Dan Giska, jangan ditanya. Dia malah duduk dengan tangan mengeratkan kembali handuknya yang sempat copot. Seolah mengatakan pada Nara, jika telah terjadi sesuatu antara dirinya dan suami Nara.


Viki gelagapan. "Sayang,,,, ini tidak seperti yang kamu pikirkan. Sumpah." Viki hanya takut jika sang istri salah paham dan akan berimbas pada hubungan mereka.


Viki menatap tajam ke arah Giska. "Jika sampai Nara tidak percaya, aku akan menguburmu hidup-hidup." ancam Viki tak main-main.


Viki mendekat ke arah Nara, memegang tangan sang istri. Berharap Nara percaya pada dirinya.


Nara masih diam, dan malah membaut Viki ketakutan. Takut sang istri meninggalkannya hanya karena salah paham.


Nara menatap Giska yang tengah berjalan mendekat ke arah mereka dengan tajam. "Lihat, di lihat dari manapun, gue lebih baik dibanding elo." ejek Giska.

__ADS_1


"Kamu,,,, sebaiknya kamu tutup mulutmu, atau aku robek." geram Viki.


Dan,,,, Plak.......


__ADS_2