VIRA (Viki Dan Nara)

VIRA (Viki Dan Nara)
ViRA 28


__ADS_3

"Main di lual kak." rengek Bima pada Rini dengan kalimat yang masih cedal. Karena sejak pagi, Rini dan Bima tidak keluar rumah. Dirinya hanya bermain di dalam rumah.


Sebagai anak kecil, Bima tidak tahan untuk berada di dalam rumah sejak pagi. Karena biasanya, dia akan bermain diluar bersama anak-anak yang lain.


"Bima, di luar sangat panas. Nanti ya setelah tidak terlalu panas, kita bermain di luar rumah." bujuk Rini, supaya Bima tidak rewel.


"Kakak janji." ucap Rini saat Bima menatapnya dengan air mata sudah terkumpul di pelupuk mata.


Akhirnya Bima tidak rewel lagi. Dan mau bermain bersama sang kakak di dalam rumah yang sempit tersebut. Mungkin karena kelelahan, Bima tertidur dengan memegang mainan yang di belikan oleh Viki.


Rini memandang ke arah Bima. Air matanya luruh ke pipi. "Maafkan kakak, tidak bisa menjaga kamu. Maafkan Rini kak, sudah berbohong." ucap Rini berbicara dengan dirinya sendiri.


Rini teringat kejadian kemarin. Dimana dirinya dan sang adik, Bima terjatuh karena dorongan dari seorang anak.


Semua terjadi karena Bima membawa mainan mobil-mobilan keluar rumah. Dan anak tersebut hendak meminjam.


Tapi karena Bima juga masih anak-anak, dia tidak mengizinkannya. Hingga anak kecil tersebut bertengkar memperebutkan mainan dengan Bima.


Sebagai kakaknya Bima, Rini berusaha melerai. Tapi ibu dari anak tersebut malah berkata sesuatu yang menyakitkan perasaan Rini.


SEBAIKNYA KAMU BAWA PULANG ADIK KAMU. BIKIN ANAK SAYA NANGIS SAJA. LAGIPULA SAYA YAKIN, JIKA MAINAN INI DI DAPAT DENGAN CARA TIDAK BAIK. PASTI KAKAK KAMU MENDAPAT UANG DARI CARA YANG TIDAK HALAL.


Tapi karena Rini masih anak-anak, dia tidak berani berkata apapun untuk melawan ibu tersebut. Malahan beberapa ibu-ibu yang juga berada di sekitar mereka hanya diam, sambil berbisik. Menatap Rini dengan tatapan jijik.


Rini hendak menggendong Bima, dan membawanya pulang. Belum sempat melangkah, Rini serta Bima jatuh tersungkur ke tanah. Membuat keduanya terluka.


Dan yang mendorong adalah anak kecil yang berebut mainan dengan Bima. Rini hanya meringis saat terjatuh, manahan rasa sakit di kakinya. Berbeda dengan Bima. Dia menangis kencang.


Bukannya menolong, mereka malah tertawa. Seolah kejadian yang mereka lihat adalah kejadian yang lucu, yang layak mendapatkan tawa mereka. Malahan ada ibu-ibu yang tega berkata kasar pada Rini.


BAWA ADIKMU PULANG KE RUMAH. BERISIK.


TANYAKAN PADA KAKAKMU. BERAPA DIA DIBAYAR UNTUK SATU MALAM.


MENTANG-MENTANG CANTIK. CARI UANG DENGAN CARA TIDAK BENAR.

__ADS_1


Hingga Bu Anis datang, mereka semua terdiam. "Ya ampun Bima, kenapa nak?" tanya Bu Anis setengah berlari menghampiri kami


Bu Anis segera menggendong Bima yang masih terisak dalam tangisan untuk di bawa pulang ke rumah kontrakan. Dengan Rini berjalan pincang di belakang Bu Anis.


"Apa yang terjadi Rin?" tanya Bu Anis masih menggendong Bima. Beliau memang tidak tahu apa yang terjadi, karena baru saja datang. Dan tidak menyaksikan kejadiannya.


"Rini dan Bima terjatuh Bu. Rini terpeleset." ucap Rini berbohong.


"Mereka juga, sudah tua kok tidak punya otak. Malah tertawa lihat kamu terjatuh sama Bima. Bukannya menolong." cicit Bu Anis meras jengkel dengan beberapa penghuni kontrakan miliknya.


Semua kejadian tersebut Rini sembunyikan dari Nara. Dia tidak ingin kakaknya menjadi sedih dan merasa bersalah. Apalagi Nara harus bekerja tanpa mengenal waktu untuk mendapatkan rupiah demi mereka.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Nyonya Rahma menunggu kedatangan Giska dirumahnya. Sebenarnya, setelah pulang dari perusahaan Viki, Nyonya Rahma ingin berkunjung ke kantor suaminya.


Tapi niatnya diurungkan karena hatinya merasa terbebani dengan masalah Viki dan Giska. "Nyonya, di ruang tamu ada Nona Giska." ucap pembantu memberitahu Nyonya Rahma.


"Buatkan minum mbok." pinta Nyonya Rahma.


"Maaf, tante menyuruh kamu ke sini." ujar Nyonya Rahma merasa tidak enak hati.


"Tidak apa-apa tante." ucap Giska dengan senyum terukir di bibirnya.


"Kalau boleh tahu, ada apa tante?" tanya Giska menanyakan alasan Nyonya Rahma menyuruh dirinya datang ke rumah beliau.


Giska merasa senang saat Nyonya Rahma menyuruhnya datang ke rumah. Dia mengira jika papanya telah melakukan sesuatu. Sehingga Viki menerima Giska.


"Maafkan tante." ucap Nyonya Rahma dengan lembut, memegang kedua telapak tangan Giska.


Giska menyatukan kedua alisnya, mendengar mama dari Viki malah meminta maaf pada dirinya. "Maksud tante?" tanya Giska merasa janggal.


"Bukannya seharusnya dia senang dan bilang, akhirnya kamu jadi mantuku. Tapi kenapa malah minta maaf." batin Giska.


"Tante minta maaf. Kerena telah berusaha mendekatkan kamu dengan Viki." ucap Nyonya Rahma. Giska menarik telapak tangannya yang di pegang oleh Nyonya Rahma.

__ADS_1


"Tante yang salah. Tante tidak bertanya dulu sama Viki. Tante tidak ingin Viki dan kamu merasa terbebani."


Giska tersenyum hambar. Sepertinya Giska tahu kemana arah pembicaraan Nyonya Rahma. "Tante tidak usah khawatir. Giska akan meluluhkan hatinya Viki. Tante percayakan sama Giska." rayu Giska.


"Tante, hanya restu Tante yang Giska harapkan. Dengan begitu, Giska akan melakukan cara, membuat Viki jatuh cinta dengan Giska."


"Putra tante bukan lelaki seperti itu. Jika dia sudah menolak, maka dia akan tetap menolak. Dan tante tidak bisa memaksakan kehendak tante."


"Nggak, nggak bisa tante." Giska berdiri dan menatap penuh benci ke arah Nyonya Rahma.


"Giska terlanjur menyukai Viki. Kenapa dulu tante datang pada Giska, menyuruh Giska mendekati putra tante. Dan sekarang, setelah Giska mempunyai perasaan pada Viki, seenaknya tante menyuruh Giska pergi menjauh." ucap Giska menggebu-gebu dengan nada tinggi.


Dulu, Giskalah yang membuat keadaan, seolah-olah Nyonya Rahma yang berniat menjodohkan Giska dengan Viki. Padahal semua sudah Giska atur, sehingga Nyonya Rahma menjodohkan Giska dan Viki.


"Sayang, kamu cantik. Pasti banyak lelaki yang akan dengan senang hati menerima kamu." bujuk Nyonya Rahma.


"Memang. Siapa lelaki yang akan menolak Giska." ucap Giska dnegan sombong.


"Tapi Giska hanya menginginkan Viki. Tidak ada yang lain!!" seru Giska. Hingga Nyonya Rahma terkejut dan memegang dadanya, karena kaget. Giska yang dilihat lemah lembut, bisa bersikap kasar.


Dengan dikuasai amarah, Giska meninggalkan rumah Nyonya Rahma tanpa berpamitan. "Astaga. Kenapa dia jadi berubah." ucap Nyonya Rahma lirih.


"Tidak ada yang berubah Nyonya." ucap pembantu yang sudah berdiri di belakang Nyonya Rahma.


Nyonya Rahma memandang ke arah mbok. "Maaf, mbok segera kesini saat mendengar suara Non Giska yang keras." jelas mbok.


Nyonya Rahma hanya mengangguk, dan duduk kembali. "Maksud mbok apa. Tidak ada yang berubah." tanya Nyonya Rahma, mengulang perkataan mbok.


"Pertama datang kemari, Non Giska sudah bersikap kasar dengan pembantu di dapur. Saat Nyonya tidak ada di dekatnya."


"Benarkah mbok?" tanya Nyonya Rahma tidak percaya.


"Benar Nyonya. Tapi kami tidak berani berkata apapun pada Nyonya. Karena yang kami tahu, beliau adalah calon istri Den Viki."


"Non Giska sangat berbeda dengan Non Ella. Maafkan mbok Nyonya, berbicara lancang." ucap mbok sedikit menundukkan badan.

__ADS_1


"Tidak mbok. Saya saja yang mudah tertipu." ucap Nyonya Rahma.


__ADS_2