
Sore hari menjelang petang, Nara pulang dengan perasaan senang. Karena sebentar lagi akan bertemu dengan kedua adiknya.
Satu tangan Nara membawa kresek kecil nerisi makanan untuk Rini dan Bima. Dan tas selempang yang sudah lusuh berada di pundaknya.
"Hay Ra." ucap seorang lelaki pada Nara dipinggir jalan menuju gang kontrakannya. Dimana ada beberapa temannya juga. Terlihat mereka tersenyum dan memperhatikan Nara.
"Mari." sapa Nara pada mereka dengan ramah.
"Maaf, saya mau lewat?" ucap Nara sopan, saat salah satu dari mereka tiba-tiba berdiri di gang tersebut. Menghalangi jalan Nara. Karena memang jalannya hanya bisa dilalui satu orang saja.
"Santai saja. Masih sore. Bagaimana kalau kita jalan-jalan dulu." ucapnya dengan pandangan menelisik ke arah tubuh Nara. Membuat Nara merasa risih.
"Nara harus pulang. Ditunggu adik Nara di rumah." tolak Nara dengan sopan.
"Ya sudah, tapi nanti malam kamu kesini lagi. Kami menunggu kamu di sini." ucap yang lainnya dengan mengedipkan matanya, menggoda Nara.
"Maaf, Nara tidak bisa. Nara capek." tolak Nara. Karena Nara memang tidak mengerti maksud perkataan mereka.
"Memang kamu habis dipakai berapa orang, sampai capek." celetuk salah satu dari mereka. Yang sontak mengundang tawa yang lainnya.
"Dipakai. Maksudnya?" tanya Nara dengan polos.
"Astaga Nara. Kamu menggemaskan." seseorang lelaki berniat memegang dagu Nara, tapi Nara langsung mundur beberapa langkah sebelum tangannya mengenai dagu Nara.
"Cih,,, nggak usah sok polos. Kami tahu jika kamu menjual tubuhmu. Munafik." cibirnya, saat Nara memundurkan langkahnya.
"Tenang saja. Meski kami tidak sekaya mereka, kami akan membayar dengan pantas." ucapnya semakin membuat telinga Nara panas.
"Asal kamu bisa puaskan kami." sahut yang lain.
"Kita mainnya terserah elo saja. Bergilir, atau keroyokan. Kita mah, santuy." ucapnya memegang dagunya sendiri.
Nara tercengang mendengar perkataan mereka. "Menjual tubuh. Nara tidak pernah melakukannya. Jangan asal bicara kalian." sanggah Nara, karena memang dirinya tidak pernah melakukan apa yang dikatakan oleh mereka.
"Alaaahhh,, kami tahu. Kami beberapa kali melihat elo turun dan naik mobil mewah. Meski kami hanya melihat sekitar dua, tiga kali. Tapi siapa tahu, lebih dari itu." ucap lelaki tersebut dengan senyum mengejek.
Nara menggelengkan kepala. "Percuma berdebat dan menyanggah perkataan mereka. Meski Nara jelaskan, pasti mereka tidak akan percaya." batin Nara.
Nara segera berlari masuk ke dalam gang saat lelaki yang berdiri di depan gang tersebut beralih duduk di kursi bersama teman-temannya.
"Lain kali kita tunggu Ra..!!!!" teriak salah satu dari mereka, masih terdengar di telinga Nara.
__ADS_1
Tangan Nara yang bebas memegang erat selempang tasnya. "Habis mangkal Ra." tanya seorang perempuan di depan kontrakannya bersama dengan perempuan lain. Pertanyaan yang lebih menjurus kepada sindiran.
Nara tidak menanggapi perkataan perempuan paruh baya tersebut. Nara segera mempercepat jalannya, menuju kontrakan miliknya.
Di setiap jalan, Nara merasa semua orang melihat ke arahnya. Dengan pandangan mencemooh.
"Kenapa dengan mereka? Kenapa mereka berpikiran seperti itu? Padahal mereka hanya melihat aku naik mobil bang Viki. Itupun hanya beberapa kali." batin Nara.
"Tidak biasanya mereka memperhatikan aku seperti ini? Ada apa sebenarnya?" tanya Nara dalam hati.
"Rini!!" Nara memanggil Rini sambil mengetuk pintu.
"Kakak." sambut Rini tersenyum setelah membukakan pintu untuk kakaknya. Nara.
"Kalian baik-baik sajakan?" tanya Nara setelah mengunci pintu dari dalam.
"Baik kak." ucap Rini. Nara merasa lega mendengar perkataan Rini, Nara takut jika kedua adiknya juga mengalami hal yang sama dengan dirinya.
Nara mendekati Bima yang sibuk bermain. "Masih sakit lukanya?" tanya Nara pada Bima. Bocah polos berusia dua tahun itu hanya tersenyum dan menghambur memeluk Nara.
"Lucunya. Bagaimana luka kamu Rin, masih sakit?"
"Lain kali, kalau jalan hati-hati." ucap Nara.
"Iya." ucap Rini membuka kantong kresek yang di bawa kakaknya.
"Harum." ucap Rini membuka makanan di dalam kresek. Dua bakpao berukuran sedang, dan juga tempe dan tahu goreng.
"Ini buat besok kak." tanya Rini melihat ada dua butir telur di dalam kresek.
"Iya, itu masih mentah Rin. Didadar, buat lauk besok." jelas Nara. Biasanya Nara akan membuat telor dadar dua butir di campur tepung terigu. Supaya hasil telur dadarnya lebih banyak.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Pa, Mama sudah berbicara dengan Giska. Kelihatannya dia tidak terima. Dia marah." ucap Nyonya Rahma mengadu pada suaminya.
"Tidak usah terlalu dipikirkan. Yang terpenting mama sudah jujur. Akan lebih kasihan, jika Giska terus berharap." jelas Tuan Hendra.
"Iya juga sih." ucap sang istri.
Terdengar suara langkah kaki menuju ke ruang tengah. "Viki." gumam Nyonya Rahma melihat anaknya pulang larut malam.
__ADS_1
"Mama kira tidur di apartemen." ucap sang mama.
"Nggak. Banyak pekerjaan." ucap Viki menghempaskan badannya di kursi sebelah kedua orang tuanya.
"Bersihkan badan dulu Vik. Sana." usir Nyonya Rahma pada putranya.
"Sebentar ma." ucap Viki dengan malas.
"Vik." panggil sang mama pelan.
"Hemm." sahut Viki dengan mata terpejam.
"Tadi Giska datang ke sini."
"Biarkan saja. Jadikan istri kedua papa saja. Madu mama." celetuk Viki asal.
Nyonya Rahma melempar bantal kursi tepat di wajah Viki. "Maaaa!!!" seru Viki.
"Kalau bicara jangan asal nyeplos." kesal Nyonya Rahma.
"Ckk,,, tanya papa saja. Mungkin papa setuju." ucap Viki semakin senang menggoda mamanya.
"Jangan bawa-bawa nama papa." tegur Tuan Hendra.
"Tuhkan, papa nggak nolak." ucap Viki membuat Nyonya Rahma menatap tajam ke arah Tuan Hendra.
"Mama, ngapain dengerin Viki." ucap Tuan Hendra.
Viki membuka mata. Berjalan meninggalkan kedua orang tuanya. Tapi sampai anak tangga Viki berhenti.
"Ma, Giska daun muda. Lebih cantik, seksi, dan kencang dari mama. Pasti durasinya juga lebih dari mama. Hati-hati ma!!!" teriak Viki bergegas lari ke dalam kamar.
Tertawa puas. Seolah rasa capeknya langsung hilang karena menggoda mamanya.
"Vikkk!!!" seru Tuan Hendra akhirnya ikut merasa kesal dengan putranya.
"Ma,,," panggil Tuan Hendra saat istrinya pergi tanpa berkata apapun. Dengan wajah garang dan mulut cemberut.
"Awas kamu Vik. Nanti papa kerjain balik." ucap Tuan Hendra dendam.
Viki masuk ke dalam kamar. Menghembuskan nafasnya dengan kasar. "Kenapa hidup gue gini-gini saja. Lama-lama bosan juga." keluh Viki.
__ADS_1