
Tak ingin menyia-nyiakan momen, segera Melva ikut bergabung. "Akan lebih seru, kalau gue ikut. Sekalian, biar lebih deket sama calon mertua." batin Melva.
"Khem.." dehem Giska, berdiri di samping Melva. Tersenyum manis ke arah Nyonya Rahma.
Baru saja Nyonya Rahma ingin membuka mulutnya, Rini dari belakang sudah memanggilnya. "Tante." panggil Rini, menggunakan setelan seragam beserta perlengkapannya.
Sama seperti Giska, Melva juga terkejut melihat gadis kecil berseragam SD. Memanggil Nyonya Rahma dengan sebutan tante.
"Siapa. Apa saudaranya Viki." batin Melva.
Sepanjang mereka berbelanja keperluan sekolah untuk Rini, Melva membantu dengan sangat baik. Dan Giska. Hanya bisa memendam rasa kesalnya.
"Terimakasih. Kalian berdua sudah membantu." ucap Nyonya Rahma. Sebelum beliau dan Rini meninggalkan pusat perbelanjaan tersebut.
"Dasar. Namanya juga artis. Pasti pandai berakting." ucap Giska.
Melva hanya menatap dengan tatapan tidak suka ke arah Melva. "Kelihatannya Nyonya Rahma menyukaiku. Baguslah." oceh Melva. Mencoba membuat Giska emosi.
"Dia." geram Giska, saat Melva tanpa berbicara apapun meninggalkannya sendiri.
Giska mengeluarkan ponsel miliknya. Dan menghubungi seseorang. "Kalian buntuti Melva. Artis dari perusahaan Viki. Laporkan semua kegiatannya padaku." perintah Giska, lewat percakapannya dengan seseorang di ponsel.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Tuan, beberapa artis menginginkan kenaikan honor." ucap Rey.
Viki menatap ke arah Rey. "Mereka akan hengkang, jika keinginannya tidak terpenuhi." imbuh Rey.
Viki masih terdiam. Semuanya begitu tiba-tiba. Dan sebelum ini, mereka bahkan tidak pernah melakukan protes. Karena perusahaan akan menaikkan honor mereka sesuai pekerjaan mereka.
"Berapa?" tanya Viki.
"Hufftt,,, lebih dari seratus persen." ucap Rey menghela nafas.
"Seratus persen." gumam Viki memainkan pena yang dia pegang di atas meja.
"Berapa orang?"
"Lebih dari separuh artis, di bawah naungan perusahaan kita." jawab Rey.
"Apa perlu saya selidiki?" tanya Rey.
"Tidak perlu." ucap Viki. "Buat surat pemutusan kontrak dengan mereka. Segera." imbuh Viki tersenyum sinis.
"Ba-baik" ucap Rey. "Saya akan memberi mereka sedikit syok terapi." imbuh Rey. Dan Viki hanya mengangguk.
Segera Viki menghubungi Denis. Dirinya ingin meminta bantuan pada sahabatnya tersebut. Karena perusahaan Denis pemegang beberapa saham besar di beberapa stasiun televisi.
"Ada apa?" tanya Denis. "Gue lagi sibuk." keluh Denis.
"Elo punya asisten. Santai sedikit bisa lah." goda Viki.
"Apa ini?" tanya Denis, saat Viki menyerahkan selembar kertas pada dirinya. Denis membacanya. Dan semua yang tertulis di kertas tersebut adalah nama aktris, aktor, MC, penyanyi, dan beberapa profesi yang bergerak di bidang entertaimen.
Denis mengalihkan tatapannya pada Viki. "Ada yang sedang bermain-main denganku." ucap Viki.
"Lantas."
"Sepertinya elo bisa menebak apa yang akan gue lakukan. Tanpa harus berbicara. Bagaimana?" tanya Viki.
Bukannya menjawab, Denis malah menyuruh asistennya masuk ke dalam ruangannya. "Aku tidak ingin melihat wajah mereka berada di layar televisi. Baik off air, maupun on air." ucap Denis, menyerahkan selembar kertas pada asistennya.
"Mereka akan kehilangan pekerjaan mereka." ucap Denis.
"Pekerjaan masih banyak. Berjualan makanan, contohnya." sahut Viki seenaknya.
"Lagi pula, bukan salah gue. Mereka yang memulai permainan ini. Dan gue, hanya mengikutinya." imbuh Viki.
"Lalu dengan penggeraknya?" tanya Denis, bertanya tentang apa yang akan di lakukan Viki pada orang yang sudah menyuruh mereka melakukan ini.
"Sama. Aku akan merebut beberapa klien penting perusahaan Tuan Marko." ucap Viki tersenyum jahat.
"Marko. Ternyata dia. Ckk,, orang tua keras kepala. Kenapa tidak minta bantuan om Haris?" tanya Denis.
"Kalau gue minta bantuan sama Om Haris secara frontal, pasti gue akan semakin di injak-injak dan di hina. Lagi pula, gue hanya mengimbangi permainan dia." jelas Denis.
"Dan elo akan tetap meminta bantuan dari Om Haris." tebak Denis.
"Sedikit. Hanya beberapa informasi yang gue inginkan. Gue nggak mau menyia-nyiakan waktu. Gue harus bergerak cepat." ucap Viki.
__ADS_1
Segera Viki dan Rey bergerak cepat, setelah mereka mendapatkan informasi dari Tuan Haris. Mengenai klien penting bagi perusahaan Tuan Marko.
Karena untuk masalah artis, Viki yakin jika sahabatnya, Denis akan menanganinya dengan mudah. "Coba Ella ada di sini. Pasti permainan akan semakin seru." gumam Viki, mengingat sosok sahabatnya, yang sekarang entah di mana keberadaannya.
Sebelum menemui tiga klien milik Tuan Marko, Viki membaca lembaran kertas di depannya. Mempelajari setiap celah yang membuat dirinya bisa masuk.
"Ini dia." ucap Viki segera memanggil Rey.
"Ketiga klien Tuan Marko mempunyai proyek bersama. Proyek besar yang terbengkalai. Dan proyek tersebut sudah setengah jalan. Yang artinya sudah memakan banyak rupiah." ucap Viki.
"Apa anda yakin, ingin menggunakan proyek tersebut?" tanya Rey.
Karena setahu Rey, proyek tersebut berhenti bukan karena dana. Sebab tidak mungkin, ketiga perusahaan besar kehabisan dana. Melainkan ada kendala lain yang menjadi permasalahannya.
"Kamu selidiki. Jika berhasil, perusahaan kita akan melejit. Dan Marko." ucap Viki menyeringai.
"Baik." segera Rey menjalankan perintah atasannya tersebut. Setelah Rey meninggalkan ruangannya. Viki segera menyelesaikan pekerjaannya yang tertunda.
Belum genap satu jam, Rey sudah kembali. Membawa laporan penyelidikannya. "Bagaimana? Apa yang terjadi?" tanya Viki, saat melihat ekspresi Rey sedikit aneh.
"Ternyata memang ada seseorang yang menghalangi berjalannya proyek tersebut. Hingga ditinggalkan dan terbengkalai." ucap Rey.
"Apa saingan bisnis mereka?" tanya Viki, memastikan.
Rey mengangguk. "Tapi, dia bekerja dengan seseorang di bawah tanah. Hingga ketiga klien Tuan Marko memutuskan untuk meninggalkan proyek di tengah jalan. Meski mengalami kerugian yang sangat besar."
Viki memberikan kartu nama pada Rey. "Segera selesaikan. Aku menginginkan proyek tersebut." perintah Viki.
"Katakan padanya, jika aku mendapatkan kartu namanya dari Tuan Haris." ungkap Viki.
Rey mengerutkan kening melihat kartu nama di tangannya. "Tuan, maaf sebelumnya. Setahu saya, dia akan menginginkan imbalan yang mustahil. Jika kita menginginkan kerjasama dengan dia." ucap Rey. Karena sedikit banyak, Rey mulai mencaritahu orang-orang seperti mereka.
"Aku sudah tahu. Dan dia akan menyetujui kerja sama dengan kita." ucap Viki tersenyum licik.
Melihat ekspresi yang di tampilkan oleh Viki, Rey merasa yakin jika atasannya tersebut sudah mempunyai sesuatu. Sehingga Viki berkata dengan yakin. "Baik." kata Rey.
Viki kembali berkutat dengan lembaran berkas di depannya. Hingga suara interphone di mejanya berdering. "Ada apa?" tanya Viki setelah menekan tombol di interphone tersebut.
"Ckk,,, menganggu saja." kesal Viki. Apalagi Rey tidak ada di perusahaan.
Viki tersenyum licik. "Tuan Marko, maaf aku membuat putrimu patah hati." desisnya.
………………
"Maaf, bisa minta tolong."
………………
"Aku malas keluar. Tapi aku merasa lapar. Entah kenapa, aku malah kepikiran kamu."
………………
"Baiklah, terimakasih. Aku tunggu."
Viki merasa ingin muntah, saat dirinya berkata dengan lembut pada Melva. "Ckkk. Jika bukan karena Giska. Aku tidak mungkin melakukannya." sungut Viki.
Tiba-tiba Viki tersenyum. "Nara." gumam Viki, mengelus bibirnya. Teringat perbuatan mereka tadi malam.
"Kelihatannya aku harus melakukan dengan rutin." gumam Viki.
"Ini demi kesembuhanku. Bukan demi hal lain. Iya." batin Viki.
Pintu ruangan Viki terbuka secara pelan dari luar. Menampakkan sosok Giska yang tersenyum lebar. "Kali ini harus berhasil." ucap Giska, membawa satu botol jus buah di tangannya.
Viki hanya memandang sekilas pada Giska, dan kembali mengalihkan pandangannya pada lembaran kertas di atas mejanya.
Giska menaruh boto berisi jus di atas meja kerja Viki. "Hari ini begitu terik. Pasti segar jika minum jus buah. Makanya tadi aki bikin ini sendiri. Khusus buat kamu." ujar Giska dengan lembut.
"Diminum." Giska sedikit mendorong botol tersebut, supaya lebih dekat dengan tangan Viki.
"Aku masih sibuk." tolak Viki. "Jangan ditaruh di situ. Nanti tumpah." imbuh Viki.
Giska terkejap, Viki berkata dengan nada pelan pada dirinya. Dan tidak mengusirnya seperti sebelum?sebelumnya. "Baik." segera Giska mengambil botol tersebut. Memindahkannya ke meja tak jauh dari meja kerja Viki.
"Siang." seru Melva. Dengan senyum lebar, Melva melangkah mendekat ke arah Viki.
"Kenapa kamu ke sini?" tanya Giska dengan sinis.
Melva menatap ke arah Giska. "Sebentar lagi jam makan siang. Aku membawa makanan untuk Viki. Kenapa? Mau ikut makan? Aku tidak keberatan kok. Beruntung aku beli sedikit banyak." oceh Melva, seakan memperlihatkan kebaikan hatinya pada Viki.
__ADS_1
Giska hanya diam dan memandang ke arah Melva seakan ingin memakan Melva mentah-mentah. "Kemana mereka. Mengurus satu perempuan saja tidak becus." ucap Giska dalam hati, merasa kesal.
Giska sudah menyuruh seseorang untuk mengawasi setiap gerak-gerik dari Melva. Dan memberitahukan pada dirinya. Tapi sekarang dirinya berada dalam satu ruangan bersama perempuan yang sangat di bencinya.
"Vik, ini. Sudah aku bawakan makanan. Pasti kamu belum makan." Melva berjalan ke arah meja. Di mana Giska juga meletakkan botol berisi jus buah di sana.
Dan Giska malah berjalan ke arah Melva..Duduk di kursi dekat Melva. "Pasti kamu sangat sibuk." ucap Melva sembari mengeluarkan makanan dari dalam kantong plastik.
"Aku juga bingung. Kenapa mereka meminta kenaikan honor yang begitu tidak masuk akal. Padahal hanya artis biasa." oceh Melva.
"Tapi kamu luar biasa. Mengeluarkan mereka dari dari perusahaan." imbuh Melva.
Giska hanya diam. Mencoba menerka sendiri, apa yang sedang di katakan oleh Melva. "Artis. Kenaikan gaji. Dikeluarkan." batin Giska.
"Vik..." ucap Giska. Tapi belum sempat Giska melanjutkan perkataannya, ponsel Melva berdering dengan sangat nyaring.
"Sebentar." ucap Melva. Menjauh dari Giska maupun Viki, dan mengangkat panggilan teleponnya.
"Maaf, sepertinya saya harus pergi dulu." pamit Melva, setelah menerima panggilan telepon dari seseorang.
"Pilihan bagus." ujar Giska. Dan Viki hanya memandang ke arah Melva dan tersenyum samar.
"Sebaiknya aku pesankan makanan buat kamu. Kelihatannya makanan itu tidak enak." cibir Giska pada makanan yang di bawa oleh Melva.
"Vik..!!" teriak Giska, saat Viki malah bergegas keluar dari ruangannya.
Viki berlalu meninggalkan Giska tanpa mengucapkan sepatah kata dari mulutnya. "Lagi-lagi gue di tinggalkan." kesal Giska.
Giska mengambil tas di kursi. "Ini semua gara-gara Melva." geramnya, teringat perempuan tersebut saat melihat makanan di atas meja Viki.
Gluk,,, gluk,, gluk,,,
Karena menahan amarah sejak tadi, Giska menjadi haus. Mengambil botol berisi kus buah yang di bawanya dan meminumnya hingga beberapa teguk.
"Hahhh,,,," terdengar suara desah lega dari Giska, dengan tangan menutup botol minumnya kembali.
"Tunggu." Giska memandang botol yang masih tersisa tiga berempat jus buah.
"Gue,,, gue,,, gue minum jus ini." Giska melepaskan botol tersebut ke bawah. Dengan langkah kaki mundur satu langkah.
Karena Giska menutup botol dengan kurang rapat. Jus buah tersebut keluar dari dalam botol. "Tidak. Aku meminumnya." ucap Giska tidak percaya, dengan tangan memegang leher. Dan mata memandang jus buah yang mengalir keluar dari dalam botol.
"Gawat. Kamu ceroboh Giska." geram Giska. Bergegas meninggalkan perusahaan Viki. Dan tentunya mencari bantuan.
Bantuan untuk melampiaskan nafsu hasratnya yang pasti sebentar lagi akan keluar. "Jangan sampai reaksi obat itu muncul sekarang. Nggak lucu." omel Giska sambil menyetir. Menuju ke suatu tempat.
Dan sepertinya Giska memang sering berkunjung ke tempat tersebut. Segera Giska keluar dari dalam mobil. Masuk ke dalam sebuah rumah besar dan mewah.
Langkah kakinya langsung menuju ke sebuah kamar. Dan,,, terjadilah yang seharusnya terjadi. Pergumulan panas antara Giska dengan seorang lelaki di saat matahari sedang berada di atas pucuk kepala.
"Sudah aku katakan. Hanya aku yang bisa memuaskanmu." bisik lelaki tersebut, saat Giska sudah terlelap dalam tidurnya. Karena rasa lelah, akibat pertempuran ranjang mereka.
Viko dan Rey berada di sebuah gedung tua. Mereka sedang bernegosiasi. "Bagaimana?" tanya Viki, setelah menyerahkan beberapa informasi penting pada seorang lelaki.
Lelaki tersebut mengeluarkan asap rokok dari sela bibirnya. "Kalian memang hebat." pujinya.
"Baiklah, kita bekerjasama. Gue akan membantu elo." ucapnya, mencapai kesepakatan.
"Ckk,, Jika elo memberitahu gue keberadaan anak Haris, pasti gue akan memberi hadiah besar buat elo." ucapnya.
"Ella tidak akan pernah tunduk sama elo." ucap Viki menohok.
"Bukan seperti itu. Gue yang akan tunduk sama dia." ucapnya terkekeh.
"Dan gue yakin. Ella tidak akan menerima elo." ucap Viki berdiri. "Lakukan tugas elo dengan baik. Setelah semua berjalan sesuai keinginan gue, elo akan mendapat sesuatu yang lebih dari gue. Sebagai bonus." ucap Viki dingin.
Lelaki tersebut tertawa terbahak-bahak setelah Viki pergi. "Bos." ucap anak buahnya.
"Tidak perlu khawatir. Dia bisa di percaya." ucapnya dengan sorot mata tegas.
"Jangan mengintai atau membuntutinya. Dia orangnya Haris dan Danto. Dan juga orangnya Ella." ucapnya memperingatkan anak buahnya.
"Baik." ucap mereka.
Viki pulang ke rumah saat makan malam sudah tiba. "Aki makan nanti saja ma. Capek." ucap Viki, terus berjalan ke atas.
"Biar nanti Nara yang memastikan. Supaya bang Viki makan." ucap Nara, saat melihat Nyonya Rahma memandang ke arah Viki yang sedang berjalan menaiki tangga.
"Terimakasih."
__ADS_1
"Itu sudah tugas Nara, tante." ucap Nara dengan tulus. Perkataan Nara membuat Nyonya Rahma dan Tuan Hendra saling pandang. Tapi mereka memilih untuk tidak terlalu memikirkannya.