
"Ma-ma-mau apa kamu!!?" teriak Melva menatap takut ke arah Rey.
Rey menyeringai. Dengan kedua tangan berada di pintu ruangan Viki, mengungkung badan Melva. Membuat Melva tidak bisa bergerak dengan leluasa.
Beruntung Viki sudah mengunci pintunya dari dalam. Sehingga baik Melva ataupun Rey tidak terjengkang ke belakang. "Mau memberi pelajaran pada anak nakal." ucap Rey tersenyum penuh arti.
"Viki.....!!!" teriak Melva memanggil Viki sembari menggedor pintu ruangan Viki dengan sikap waspada pada Rey yang sekarang berada di depannya.
"Cantik juga kalau di lihat-lihat. Tapi tetap saja, lampir tetap lampir." ucap Rey dalam hati tersenyum remeh.
"Apa elo senyum-senyum!!" hardik Melva.
"Viki..!!!" teriak Melva lagi.
"Ckk,,, Berisik. Sampai pita suaramu putuspun, pintu ini akan tetap tertutup." ejek Rey.
"Minggir." Melva mengepalkan telapak tangannya ke wajah Rey, seperti ingin memukul wajah Rey.
Rey melangkah dua langkah ke belakang. Memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana. "Memang dasar tuli." ejek Rey.
"Kamu.." geram Melva tertahan.
"Bukankah sudah aku bilang. Tuan Viki sedang tidak berada di ruangannya. Dia sedang keluar. Budeg." ejek Rey lagi.
Melva menggenggam erat paper bag di tangannya. Dengan rahang terkatup rapat. Membuat gigi-giginya saling beradu. Memandang Rey dengan tatapan tajam.
Rey bersikap waspada. Melihat sikap dan ekspresi Melva. Kali ini, Rey tidak ingin di kelabuhi oleh Melva untuk ke dua kalinya. "Akan aku pastikan, kamu keluar dari perusahaan. Dasar hama." ucap Rey dalam hati.
"Aaa....!!!" jerit Melva, saat kakinya di cekal oleh Rey. Melva berniat menendang selakangan milik Rey. Namun gerakan Rey lebih gesit dari perkiraan Melva.
Paper bag di tangan Melva jatuh ke bawah. Kedua tangannya berpegangan pada daun pintu di belakangnya. "Lepas,,,, brengsek. Rey lepas!!" sungut Melva mempertahankan posisinya berdiri dengan satu kaki.
Rey menyeringai. "Kenapa. Dasar lampir." ejek Rey.
Kedua mata Melva melotot dengan mulut menganga mendengar Rey memanggilnya lampir. "Kurang ajar kamu Rey, awas..!! Aku adukan sama Viki!!" teriak Melva tidak terima.
__ADS_1
"Kamu pikir Tuan Viki peduli. Cih,,, dasar perempuan jadi-jadian. Mana mau atasan saya yang super sempurna mau dengan kamu." ejek Rey, tetap memegang kaki Melva dengan erat.
Melva berusaha melepaskan kakinya di genggaman tangan Rey. "Kenapa, kamu suka sama kaki saya." bentak Melva, sebab tidak berhasil melepaskan diri.
Rey tersenyum miring. "Sangat suka. Bahkan, saya saaaaaa-ngat ingin mengoleksi po-to-ngan kaki anda Nona Melva." ucap Rey penuh penekanan dengan tatapan yang membuat rambut lembut di seluruh tubun Melva meremang.
"Jangan asal bicara. Lepaaas...!!" teriak Melva. Menggoyangkan kakinya, guna berharap cekalan tangan Rey di kakinya terlepas.
"Aaaa..." teriak Melva saat tubuhnya tidak seimbang. Kedua tangan Melva segera meraih lengan Rey. Membuat Rey melepaskan cekalan tangannya di kaki Melva. Dan...
Brunghhh..... Keduanya terjatuh bersama. Dengan posisi yang sangat awkwk.
Rey berbaring, dengan Melva berada di atas tubuhnya. Tubuh keduanya sama-sama membeku. Dan hidung mancung milik Rey menyentuh hidung mancung dan mungil milik Melva.
"****..." umpat Rey dalam hati. Dia merasakan benda kenyal menempel sempurna di dadanya.
"Apa tubuhku sangat nyaman, Nona Melva?" Rey tersenyum miring.
"Ehhh..." Melva menghirup aroma mint dari mulut Rey. Bahkan, Melva dapat merasakan hembusan nafas Rey mengenai kulit wajahnya.
"Astaga.....!!" teriak Melva, bangun dari tempatnya.
"Aduh,, aduh,,, maaf." seperti orang bodoh, Melva malah ingin memegang pusaka Rey.
"Hey, apa yang mau kamu lakukan??!" geram Rey, menepis tangan Melva.
Melva segera berdiri. Menoleh ke kanan dan kiri seperti orang kebingungan. "Apa yang aku lakukan??" gumamnya.
"Oke Melva, tenang. Tenang,,, tenang." Melva menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskan secara perlahan. Melva kembali menetralkan nafasnya yang sempat memburu.
Dan Rey, bangun dari posisinya dengan tangan masih memegang pusakanya.
Melva sepertinya sudah mendapatkan kesadarannya kembali. Menatap Rey dengan tajam. Dan....
"Aaa..." teriak Rey. Saat Melva menginjak kakinya dan segera berlari menjauh dari Rey.
__ADS_1
"Melva...!!" geram Rey, hanya bisa berdiri di tempat. Lantaran keadaannya tidak memungkinkan untuk mengejar Melva.
Melva berhenti, membalikkan badan. Menatap Rey dengan tatapan remeh. Mengangkat tangannya dengan mengacungkan jari jempolnya. Secara perlahan, Melva membalikkan jari jempolnya untuk mengarah ke bawah.
"Kamu kalah. Pecundang." Melva menggerakkan mulutnya tanpa mengeluarkan suara. Dan Rey tahu apa yang di katakan oleh Melva.
Rey hanya bisa mengeram kesal melihat Melva berjalan bak model meninggalkan perusahaan. "Bukan seperti ini caranya." gumam Rey sebal.
Rey memang sempat mempunyai pemikiran akan membuat Melva meninggalkan perusahaan, tapi tidak dengan dirinya yang saat ini kesakitan.
Di kediaman Tuan Marko, Giska hanya menangis dan berbaring di dalam kamar. Nyonya Gina tidak henti-hentinya membujuk sang putri.
"Sayang, makan dulu. Nanti kamu sakit. Ingat, saat ini di dalam perut kamu ada makhluk lain. Kamu juga harus memikirkannya." bujuk Nyonya Gina.
"Giska tidak menginginkannya ma. Tidak sama sekali. Giska tidak mau mengandung anak ini ma." ucap Giska lirih tidak bertenaga.
"Nanti kita bicarakan lagi ya. Sekarang kamu makan. Sedikit saja. Ayo sayang." bujuk sang mama.
Nyonya Gina selalu menjaga Giska dua puluh empat jam. Jika dirinya atau sang suami sedang melakukan kegiatan lain, beliau menyuruh pembantu di rumahnya untuk berada di sisi Giska.
"Tuhan, bari kami cara untuk membuat putri kami mau menerima kehadiran anaknya." ucap Nyonya Gina dalan hati.
Dengan perlahan, Nyonya Gina menyuapi Giska. "Sudah ma, mual." rengek Giska, padahal baru beberapa suap.
Nyonya Gina mengelus dengan lembut perut rata Giska. "Sayang, ini oma. Kamu jangan nakal ya. Kasihan mama." ucap Nyonya Gina tersenyum memandang perut Giska. Membuat Giska membuang muka ke arah lain.
Nyonya Gina tersenyum samar melihat tingkah putrinya. "Mama akan membuat kamu menerima dia. Meski membutuhkan waktu." ucap Nyonya Gina dalam hati.
Tuan Marko hanya berdiri di depan kamar sang putri. Bingung. Itulah yang di rasakan oleh beliau. Bisa saja Tuan Marko menemui Renggo dan meminta pertanggung jawaban darinya.
Namun semua itu tidak berguna. Sampai detik ini, Giska kekeh ingin menggugurkan kandungannya. Dan sebagai orang tua, Tuan Marko dan Nyonya Gina tentu tidak menyetujuinya.
Sekarang, keduanya tengah membujuk Giska. Supaya sang putri tidak membuat kesalahan untuk kedua kalinya.
Tuan Marko dan Nyonya Gina fokus pada Giska. Memberi pengertian sedikit demi sedikit dan juga memberi perhatian pada sang putri. Supaya Giska dapat menerima janin di dalam rahimnya.
__ADS_1
Setelah Giska dapat menerima kehadiran calon anaknya. Barulah Tuan Marko akan menemui Renggo dan berbicara padanya.
Tuan Marko menghela nafas panjang, meninggalkan tempatnya berdiri. "Jangan sampai Giska menjadi seorang pembunuh." gumam Tuan Marko.