
"Sedang apa kamu di sini. Hemmm." tanya Viki dengan lembut. Menatap penuh kasih sayang terhadap gadis pujaannya.
Tubuh Melva mendadak kaku, dengan senyum menghilang seketika. Saat Viki berjalan melewati dirinya tanpa berhenti. Bahkan, meliriknya saja tidak. "Kenapa? Ada apa ini?" ucap Melva dalam hati.
Deg,,
"Suara itu." lanjut Melva dalam hati, mendengar suara lembut Viki tepat di belakangnya. Dengan perasaan tubuh mematung, Melva mengedipkan matanya dengan lucu.
Perlahan, Melva membalikkan badannya. Penasaran, dengan siapa Viki berbicara dengan nada selembut itu. Mencaritahu, apa yang terjadi di belakang tubuhnya. "Dia, Nara, sedang apa di sini?" batin Melva, memanas melihat apa yang ada di depannya.
Dengan senyum lembut, Nara membalas pandangan mata dari calon suaminya. "Mau ketemu abang." cicit Nara dengan suara manja.
Viki menghembuskan nafas panjang, tangannya terulur menaruh helaian rambut Nara di wajah cantik gadis tersebut ke belakang telinga Nara. "Bukankah abang sudah bilang, untuk tetap di rumah. Bersama mama." ujar Viki dengan nada lembut.
Sontak, perilaku Viki saat berinteraksi dengan Nara membuat semua orang memandang penuh bingung. Namun momen tersebut tak di sia-siakan oleh pencari berita.
Mereka langsung mengarahkan kamera ke tempat Viki dan Nara. Yaps,, mereka menyiarkan adegan tersebut secara langsung.
"Bagaimana Nara bisa duduk dengan tenang di dalam rumah. Sementara calon suami Nara sedang dalam masalah." ucap Nara terdengar di semua telinga orang.
Benar, Nara sengaja berbicara dengan keras. Dia ingin semuanya mendengar apa yang dia ucapkan.
Tak pelak, perkataan Nara seperti cambuk bagi Melva. Dada Melva bergemuruh. Rencana-rencana yang sudah di tata rapi dan di rancang oleh sang papa lenyap seketika dari benaknya.
Dan Nara, memang sengaja melakukannya. Seakan Nara mengklaim Viki sebagai miliknya di depan Melva, dan semua orang.
"Mungkin ini waktu yang tepat, untuk membuktikan jika abang tidak seperti yang di beritakan. Apalagi, kebetulan di sini ada lampir. Waktu yang sangat pas." Nara menyeringai, memandang Melva dengan tatapan cemooh dan merendahkan Melva.
"Sekali bertindak, aku akan membuat dua hasil yang memuaskan." ujar Nara dalam hati.
Cup,,,, Nara mencium singkat bibir Viki. Membuat Viki terkejut dengan keberanian yang di miliki gadis kecilnya tersebut.
Nara memandang sekitar mereka. Nara yakin, jika saat ini mereka merekam semua yang dilakukannya. Tapi, Nara tidak peduli bukankah ini yang dia inginkan.
Nara mengalunkan tangannya ke leher Viki. Menatap Viki dengan tatapan mendamba. Sementara Viki, dirinya seperti kehilangan akal. Saat Nara dengan berani menciumnya di hadapan banyak orang.
Viki seperti boneka hidup saat ini. Boneka hidup yang sedang dipegang kendalinya oleh gadis manis bernama Nara.
__ADS_1
Nara tersenyum aneh, dan.... hup.... Nara menempelkan bibirnya di bibir Viki. Membuat semuanya melongo atas aksi nekat dari Nara.
Namun, tak ada satupun dari mereka yang bersuara. Seolah mereka memberikan tempat bagi keduanya untuk melakukan apa yang Viki dan Nara inginkan.
Viki malah merengkuh pinggang kecil milik Nara. Dan ******* bibir mungil yang selalu menggodanya tersebut. Nara memejamkan kedua matanya.
Malu. Nara sudah menyingkirkan kata tersebut dari benaknya. Dia tidak ambil pusing dan memikirkan apa yang ada di benak semua orang mengenai dirinya.
Toh, selama ini yang Nara inginkan hanya bisa menjalani hidup dengan bahagia bersama Viki. Masuk ke dalam keluarga Viki.
"Maaf ma, maaf pa. Semoga mama dan papa tidak marah dan kecewa atas tindakan Nara ini." ucap Nara dalam hati, ditujukan pada kedua orang tua Viki.
Nafas Melva berderu kencang. Kedua telapak tangannya mengepal sempurna. Kedua rahangnya mengeras dengan bibir bergetar.
"Hentikan..!!!!" teriak Melva, menutup telinga dan memejamkan kedua matanya. Air mata mengalir dari kedua mata Melva yang terpejam.
Viki dan Nara melepas pangutan mereka. Menoleh ke arah Melva. Sekilas. "Good girl, you very hot." bisik Viki, dengan jari membersihkan sisa saliva di sekitar bibir mungil Nara.
Blusshhh,,,, kedua pipi Nara memerah. Nara menggelembungkan kedua pipinya untuk menahan rasa grogi dan debaran jantung yang menggila di tubuhnya.
Keduanya seolah mengacuhkan kehadiran Melva. "Aku akan bertemu klien. Kamu tunggu di ruanganku saja. Dan ingat, jangan kemana-mana. Mengerti baby." ujar Viki.
Viki mencium kening, turun ke kedua mata Nara, kedua pipi Nara, hidung, dagu, dan terakhir, bibir.
Nara hanya memejamkan mata dan membiarkan sang kekasih melakukannya. "Antar calon Nyonya kalian ke dalam ruangan. Jangan ada yang berani menyentuhnya. Atau aku sendiri yang akan turun tangan." perintah Viki pada bawahannya.
Perkataan Viki seperti peringatan pada para pencari berita. Seakan Viki sedang mengancam mereka. Dan itu memang benar adanya.
"Tunggu aku baby. Aku janji, tidak akan lama." Viki kembali mencium pipi Nara. Dan Nara tersenyum manis sambil mengangguk pelan.
Dengan reflek, para pencari berita yang berkumpul spontan memberikan jalan pada Nara. Tanpa berniat menyentuh, atau bahkan bertanya apapun pada Nara.
Rey tersenyum miring melihat semuanya. "Permainan papamu terlalu kekanak-kanakan." ucap Rey lirih, di samping Melva.
"Tuan, apakah gadis tadi adalah kekasih anda? Atau dia adalah calon istri anda? Bagaimana dengan Nona Melva?" tanya seorang pencari berita menghentikan langkah Viki yang hendak menuju ke mobilnya.
Viki menoleh, melihat dengan tatapan tajam ke arah orang yang bertanya padanya. "Dimana kamu bekerja? Kenapa perusahaan mempekerjakan manusia sampah seperti dirimu?" ucap Viki dingin.
__ADS_1
Semua hanya bisa menelan ludah dengan kasar, sembari melirik ke arah rekannya yang berani bertanya seperti itu.
Padahal, tanpa bertanyapun, mereka sudah mendapat jawaban dari semua berita yang beredar. Setelah adegan Viki dan Nara barusan.
"Rey, aku tidak ingin ada manusia sampah seperti dia di acara apapun." tegas Viki.
"Baik Tuan." Rey memandang orang tersebut dan menggeleng pelan. "Cari mati." batin Rey.
Sepeninggal Viki dan Rey, Melva juga berjalan meninggalkan perusahaan Viki dengan membawa malu yang luar biasa.
Sementara pencari berita juga membubarkan diri. Hanya ada beberapa yang masih berada di sana. Yakni rekan seseorang yang berani mengajukan pertanyaan bodoh pada Viki.
"Heh,,, sebaiknya kita segera kembali ke kantor. Dan kau, segeralah berkemas." ucap rekannya.
Dia sepertinya tidak mengerti arti dari perkataan yang dilontarkan Viki. "Berkemas, memang aku mau disuruh kemana?" tanyanya polos.
"Ckkk,,, dasar bodoh. Lebih baik kita kembali. Biarkan dia mengerti sendiri, jika sudah sampai kantor." sahut yang lain.
Di tempat lain, Nyonya Rahma bersorak gembira melihat siaran langsung, yang menayangkan putra kesayangannya dan calon menantunya.
"Sayang, kamu memang calon menantu idaman. Mama semakin sayang kamu Nara." ucap Nyonya Rahma.
Berbeda dengan Nyonya Rahma yang merasa bahagia dengan apa yang dilakukan Nara dan Viki, Tuan Smith dan Nyonya Binta tampak syok melihat adegan tersebut.
"Pa, Nara dewasa sebelum waktunya." papar Nyonya Binta. Sementara Tuan Smith merasa kecewa dengan apa yang dilakukan keduanya.
Meski, dirinya juga mempunyai perasaan lega. Sebab Viki ternyata lelaki normal.
Tapi sayangnya, baik Nara dan Viki, tentu saja tidak akan peduli dengan apa yanga dirasakan pasangan suami istri tersebut.
Dan di kantor Tuan Hendra, terjadi sedikit kehebohan karena aksi keduanya. Tapi hal tersebut tak membuat Tuan Hendra marah.
Beliau hanya berkata pada rekan kerja dan staffnya, jika memang mereka akan segera menikah, dan itu satu-satunya cara meredam gosip tanpa harus banyak berkata-kata.
Padahal, Tuan Hendra juga sama sekali tidak mengetahui hal tersebut. Namun, dirinya mengatakan pada rekan kerjanya, jika baik Nara maupun Viki sudah meminta izin atas apa yang mereka lakukan. Dan Tuan Hendra mengizinkannya.
Tuan Hendra tidak ingin menambah rumit persoalan tersebut. Baginya, kebahagiaan sang putra adalah yang utama. Lagi pula, Tuan Hendra tahu betul bagaimana perilaku Nara.
__ADS_1
Dan hal tersebut tidak lantas menjadi masalah besar baginya.