
Giska tengah menikmati harinya di salon. Memanjakan seluruh tubuhnya dengan perawatan mahal dan berkelas.
"Ckk,,, gara-gara kamu." keluh Giska, memandang ke arah perutnya yang semakin membuncit. Menyalahkan kehadiran janin di dalam perutnya.
Giska teringat akan sesuatu. Tiba-tiba ekspresi wajah Giska berubah. Seperti sedang memikirkan sesuatu. "Ya, pasti ini anak Renggo. Pasti." ucap Giska dengan yakin.
Sebab, Giska pernah tidur dengan seseorang lelaki asing saat dirinya mabuk berat. Bahkan Giska sendiri tidak tahu siapa lelaki tersebut. Karena saat Giska tersadar, dia sudah dalam keadaan telanjang di sebuah kamar hotel.
"Sudahlah, lebih baik aku nggak usah mikir macem-macem. Hanya dia aset berharga yang aku punya saat ini." ucap Giska dalam hati, menganggap bayi yang sekarang ada di dalam perutnya adalah aset berharganya.
Bagaimana tidak, Giska dimanjakan uang oleh Renggo dan juga kedua orang tuanya. Meski kebebasannya terkekang, namun Giska bisa melakukan sesuatu dengan uang tersebut.
Saat sedang asyik menikmati pijat di badannya, ponsel milik Giska berbunyi. Membuat si empunya merogoh tasnya. "Bawel banget sih." ucap Giska dengan kesal.
Giska mendapat pesan dari sang mama. Untuk melakukan pijat serta perawatan salon yang tidak berbahaya untuk bayinya.
Dengan kesal, dimasukkan kembali ponsel ke dalam tas. "Gue kayak di penjara saja. Ckk,,, kenapa sih lama banget." keluh Giska mengenai waktu yang akan dia dan Renggo gunakan untuk pulang ke negaranya.
Tentu saja, Giska segera ingin pergi ke negaranya. Meskipun hanya sekedar berkunjung. "Hheehhhh,,,," Giska menghembuskan nafas berat.
Selalu menyesali apa yang terjadi pada hidupnya. Hamil, menikah dengan Renggo. Dan tidak menikah dengan Viki. Apalagi penyesalannya, selain itu.
"Minggir." bentak Giska pada sang pegawai, secara tiba-tiba. Moodnya langsung berubah saat dia kepikiran dengan Nara.
Sang pegawai reflek segera menjauh. "Nyonya, hati-hati. Kandungan Nyonya." ingatnya pada Giska, sebab Giska dengan grasa grusu turun dari atas ranjang pijat.
Giska memandang tajam ke arahnya. "Cerewet. Ini bayi aku. Tidak perlu kamu berlagak peduli." ucap Giska dengan sengit, tak menyukai sang pegawai.
Giska masuk ke ruangan, dimana dia akan memakai kembali pakaiannya. "Nara. Upik abu, yang kini jadi cinderella. Mujur sekali hidupmu." gumam Giska menatap dirinya dari pantulan cermin.
"Tapi tenang saja, aku pasti akan mengembalikan kamu ke tempat seharusnya kamu berada. Tunggu tanggal mainnya." ujar Giska, melihat ke arah perutnya yang mulai terlihat besar.
Sesuai perkiraan Viki. Kakek, nenek, serta ibu kandung Nara mendatangi rumah Tuan Smith. Seperti keinginan Viki, mereka di sambut dengan baik. Layaknya tamu pada umumnya oleh tuan rumah.
__ADS_1
Pandangan Nyonya Vanya meneliti keadaan rumah sang mantan suami, yang begitu mewah dan bagus. Banyak barang-barang mahal terpajang dan terpasang di rumah sang mantan suami.
Membuat mata Nyonya Vanya seketika silau dan menginginkannya. "Kenapa aku jadi kangen dengan rumahku." ucapnya dalam hati.
Nyonya Binta tersenyum samar melihat tingkah Vanya. "Pasti dia menyesal. Membuang berlian." ucap Nyonya Binta dalam hati.
Pandangan mata Nyonya Vanya bertabrakan dengan Nyonya Binta. Membuat keduanya saling bersitatap. Sikap tenang dari Nyonya Binta tidak perlu diragukan. Beliau bahkan tidak mengalihkan pandangannya. Dan hal tersebut membuat Nyonya Vanya segera memutus pandangan mereka.
"Maaf sebelumnya, jika kedatangan kami menggangu. Namun, ada hal yang ingin kami katakan." ujar Tuan Beno dengan ramah dan tetap berwibawa.
"Katakan saja Tuan." ujar Tuan Smith, berpura-pura tidak tahu.
"Begini." Tuan Beno membenarkan caranya duduk. Beliau lebih menegakkan tubuhnya, tetap dengan tongkat di tangannya.
"Saya ingin kamu melakukan tes DNA, dengan putri kamu dan Vanya. Kayla." pinta Tuan Beno.
"Kayla. Siapa Kayla?" tanya Tuan Smith tersenyum.
"Putri kami dan Vanya. Tidak mungkin kamu melupakannyakan?" ujar Tuan Beno, dengan nada sedikit naik.
Pertanyaan yang membuat Tuan Beno sedikit meradang. Namun beliau menekan emosinya agar tidak meledak. "Nara. Bukankah dia adalah Kayla." tegas Tuan Beno.
"Bagaimana anda yakin, jika dia adalah putri saya. Terlebih saya dan putri anda tidak pernah menikah." ucap Tuan Smith menohok.
"Apa maksud kamu, jika kalian tidak pernah menikah?" tanya Nyonya Rianti tidak terima.
Tuan Smith tersenyum. "Bukankah anda sendiri, Nyonya, yang mengatakan pada saya. Jika putri anda tidak mempunyai suami seperti saya." papar Tuan Smith dengan santai.
"Kamu..!!" geram Tuan Beno, yang akhirnya terpancing emosinya.
"Smith, apa kamu lupa. Bagaimana dulu kamu mengejar-ngejar saya. Berlutut di kaki saya, agar saya mau menerima cinta kamu. Apa kamu lupa, bagaimana perjuangan kamu, untuk bisa bertemu dengan saya." cecar Nyonya Vanya tidak terima dengan perkataan Smith.
Nyonya Vanya menatap ke arah Nyonya Binta, tapi tampaknya Nyonya Binta masih tenang. Sama sekali tidak terpancing perkataan yang baru saja di katakan oleh Nyonya Vanya.
__ADS_1
Sebab, Nyonya Binta tahu. Tujuan Nyonya Vanya berkata seperti itu, tentu saja untuk sebuah penegasan. Yang bisa membuat dirinya dan sang suami bertengkar. Namun sayangnya, pikiran Nyonya Binta tidak secupet itu.
"Lalu, apa kamu lupa. Siapa yang merengek, meminta untuk dinikahi." ujar Tuan Smith, tersenyum miring.
"Dulu aku begitu bodoh. Hingga demi seorang perempuan yang sama sekali tidak pantas untuk menjadi istriku, aku rela berlutut." geram Tuan Smith.
"Kamu..." Nyonya Vanya menunjuk ke arah Tuan Smith.
"Vanya..!! Diam..!!" bentak Tuan Beno. "Bagaimana, apa kamu setuju melakukannya." tanya Tuan Beno lagi, dengan tidak sabar.
"Disini, bukannya saya tidak setuju Tuan. Tapi, mana bukti yang mengatakan jika Nara adalah putri saya. Jika memang benar Nara adalah putri saya, pasti saya pernah menikah dengan ibu Nara. Lalu di mana ibu dari Nara." ujar Tuan Smith, membuat ketiga tamunya bingung.
"Jangan berbelit-belit Smith. Kamu juga yang menjadi wali nikah, saat Nara dan Viki menikah." ujar Tuan Beno.
"Itu karena saya sebagai pamannya. Apakah salah, saya menikahkan keponakan saya." seperti yang dikatakan oleh Rey, Tuan Smith dan Nyonya Binta akan melakukan bagian mereka dengan baik.
Tuan Beno berdiri. Tentu saja dia meradang. Mendengar jika Tuan Smith mengatakan jika dirinya adalah paman dari Nara. "Paman. Kamu papa kandungnya. Bagaimana mungkin kamu bisa menjadi pamannya. Permainan apa yang sedang kalian mainkan..!!" seru Tuan Beno.
Tuan Beno bukan orang bodoh. Sampai di sini, dia dapat menebak, jika dirinya sedang berada dalam lingkaran permainan seseorang.
"Iya, suami saya adalah paman dari gadis bernama Nara. Sebab, kedua orang tua Nara meninggal dalam kecelakaan. Membuat suami sayalah yang harus menjadi walinya." ucap Nyonya Binta menjelaskan. Dan tentu saja, itu adalah kebohongan.
Takk,,, Tuan Beno memukulkan kaki tongkatnya ke lantai dengan keras. "Jangan pernah bermain-main dengan saya." gerak Tuan Beno. Dengan sang istri dan Vanya yang juga sudah berdiri.
Tuan Smith berdiri, memandang ke arah ketiga tamunya. "Baiklah, begini saja. Bawakan bukti. Jika saya pernah menikah dengan putri anda. Dan satu lagi, bawakan saya bukti. Jika putri anda pernah melahirkan seorang bayi." ujar Tuan Smith.
"Bukannya kami tidak percaya. Tapi, selama ini saya mendengar isu di kalangan para ibu-ibu sosialita. Jika putri anda, Nyonya Vanya. Mandul. Makanya dia menikah dengan seorang duda." jelas Nyonya Binta, semakin membuat suasana menjadi panas.
"Vanya...!!" Nyonya Rianti mengingatkan sang putri untuk menahan emosinya, saat Vanya hendak menyerang Nyonya Binta.
"Maaf, bukan saya suka menghibah. Tapi, saya hanya mendengar dari mereka-mereka. Apalagi, sudah bertahun-tahun menikah dengan Tuan Diego, anda juga tidak memiliki momongan." lanjut Nyonya Binta.
"Bagaimana saya bisa menjamin, dan mempercayai perkataan anda. Jika anda pernah melahirkan." ejek Nyonya Binta, memandang remeh pada mantan istri dari sang suami.
__ADS_1
"Lihat saja. Saya akan membuktikan. Akan aku bungkam mulut kalian." tunjuk Nyonya Vanya pada Tuan Smith dan Nyonya Binta bergantian.
"Silahkan. Kami tunggu." Tuan Smith menggerakkan telapak tangannya dengan tenang tanpa beban.