VIRA (Viki Dan Nara)

VIRA (Viki Dan Nara)
ViRA 34


__ADS_3

"Sebaiknya gue istirahat saja." gumam Viki membuka pintu rumahnya. Berjalan masuk ke dalam.


Hingga langkah Viki terhenti, melihat beberapa orang di depannya. Orang-orang yang tidak asing lagi di mata Viki.


"Bang Viki!!" teriak Rini, turun dari kursi tempatnya duduk, dan berlari ke arah Viki. Diikuti oleh Bima di belakang Rini.


"Bang Viki." gumam Nara. "Kenapa ada Bang Viki disini?" tanya Nara lirih.


Viki segera berjongkok. Memeluk Rini dan menggendong Bima.


Nyonya Rahma dan Tuan Hendra terdiam melihat kedua bocah tersebut ternyata sudah mengenal sosok putranya. Bahkan terlihat sangat akrab.


Viki duduk di kursi. Dengan Rini menempel di samping Viki. Juga Bima, duduk di pangkuan Viki. Seolah melepaskan rasa kangennya, keduanya tetap menempel pada Viki.


Nara berdiri menghampiri mereka. "Bima sini, sama kakak. Kasihan, Bang Viki pasti capek." Nara mengulurkan kedua tangannya.


Karena Viki masih memakai pakaian kantornya. Maka dari itu, Nara menyimpulkan jika Viki baru saj pulang dai perusahaan.


Alih-alih mengikuti perkataan sang kakak, Bima malah semakin mengeratkan tangannya di leher Viki. Begitu juga dengan Rini.


Rini malah mengeratkan tangannya pada lengan Viki. Seolah dirinya takut akan di bawa sang kakak pergi menjauh dari Viki.


Nara menggelengkan kepala melihat kedua adiknya. "Kak Nara kakak kalian. Bukan Bang Viki." goda Nara pada kedua adiknya dengan tersenyum.


"Kami kangen bang Viki. Apa kakak tidak kangen?" tanya Rini membuat Viki mengacak kasar rambut Rini. "Tangen bang piki." ucap Bima yang masih cadel.


"Kakak bisa duduk di sana jika kakak juga kangen." ucap Rini menunjuk ke samping Viki yang masih kosong.


Blussshhh,,, pipi Nara langsung memerah mendengarkan perkataan dari adiknya. Sebaliknya dengan Viki, dia acuh dan terus menghujami wajah Bima dengan ciuman. Membuat Bima terkekeh geli.


"Tunggu." ucap Nyonya Rahma mengeluarkan suara. Setelah sedari tadi, dirinya dan sang suami merasa bingung dengan pandangan di depan matanya.


"Kalian. Viki." ucap Nyonya Rahma memandang ke arah Nara dan Viki bergantian. Apalagi Viki nampak nyaman berada di dekat anak kecil tersebut. Bima.


Padahal, sebelumnya Viki tidak pernah menyukai anak kecil. Viki beralasan anak kecil terlalu ribet dan rewel. Membuat suasana menjadi tidak tenang.


Tapi Nyonya Rahma malah menangkap hal yang berbeda dari Viki. Tampak Viki merasa nyaman dengan Bima yang melekat di badannya.

__ADS_1


"Bagaimana kalian bisa ada disini?" tanya Viki, mengabaikan pertanyaan sang mama.


"Kami..." ucap Nara terhenti saat Nyonya Rahma berbicara.


"Jawab pertanyaan mama dulu." ucap Nyonya Rahma tidak sabar. "Bagaimana kalian saling mengenal?" cecar Nyonya Rahma kembali.


"Bima sini. Sama kakak." ucap Nara, merasa kasihan pada Viki.


"Biarkan saja, kamu duduk sana." ucap Viki.


"Baik bang." ucap Nara dengan patuh duduk di samping Rini.


"Viki tidak sengaja bertemu Nara beberapa kali. Terakhir, kami bertemu saat malam. Bima sedang sakit. Viki membawa mereka tinggal di apartemen untuk sementara. Hingga sembuh." jelas Viki.


Nyonya Rahma dan Tuan Hendra mengangguk pelan. "Kenapa kamu bisa ada di sini. Hemmm." Viki mencubit gemas pipi Bima. Membuat Bima tertawa lucu.


Nyonya Rahma tersenyum melihat interaksi Viki dan Bima. "Seperti kamu, mama sebelumnya pernah bertemu dengan Nara. Tapi hari ini kami di pertemukan kembali. Mama melihat mereka duduk di bawah pohon dengan membawa tas besar."


"Nara bilang jika kontrakan mereka sudah habis, dia mau mencari kontrakan lagi. Makanya mama membawa mereka ke sini."


Viki memandang ke arah Nara. Membuat Nara langsung menundukkan kepala. Viki tahu jika Nara berbohong. Karena Nara pernah bilang, jika kontrakan mereka masih beberapa bulan lagi.


Sementara, Tuan Hendra kurang setuju untuk membawa Nara beserta adiknya tinggal di rumah mereka. Beliau ingin membawa Nara dan adiknya ke panti asuhan.


Bukan tanpa alasan, Tuan Hendra belum mengenal baik dengan Nara dan kedua adiknya. Pasti ada rasa curiga dan berhati-hati dari Tuan Hendra. Meski hanya sedikit. Apalagi Tuan Hendra tidak tahu kehidupan Nara sebelumnya.


Tapi setelah melihat interaksi Viki dengan mereka, Tuan Hendra terlihat senang. Dan pastinya beliau akan setuju dengan usulan istrinya. Membiarkan mereka tinggal di rumah ini.


"Bang Viki. Kenapa ada disini?" tanya Rini.


"Ini rumah Bang Viki. Mereka berdua, orang tua bang Viki." jelas Viki.


"Rumah bang Viki banyak ya." oceh Rini, membuat semuanya tertawa. Karena waktu itu mereka tinggal di apartemen Viki. Dan sekarang, tinggal di rumah orang tua Viki.


"Nara, kamu dan adikmu akan tidur di sebelah kamar Viki. Bagaimana Vik?" tanya Nyonya Rahma meminta pendapat Viki.


Viki menoleh ke arah Nara. Terlihat Nara diam. "Biarkan mereka tidur di lantai bawah saja ma. Akan berbahaya untuk Bima, jika naik turun tangga."

__ADS_1


"Dan kamarnya, biarkan Nara tidur di kamar belakang. Dekat dapur." imbuh Viki.


Tuan Hendra dan Nyonya Rahma saling pandang. Tidak mengerti jalan pikiran Viki. Padahal mereka sudah saling kenal.


Kenapa Viki malah menyuruh mereka tidur di kamar dekat dapur. Yang artinya kamar pembantu. "Mbok,,,!!" panggil Viki pada mbok.


"Iya den." ucap mbok datang tergopoh-gopoh.


"Siapkan kamar untuk mereka. Bukankah di dekat dapur ada kamar kosong."


"Iya den."


"Taruh kasur di bawah saja. Dengan ukuran besar. Mereka bertiga akan tidur bersama."


"Baik den." ucap Mbok tersenyum.


Mbok segera bergegas pergi ke belakang. Memberitahu pembantu lain untuk membantu dirinya menyiapkan kamar untuk Nara dan adik-adiknya.


"Kamu yakin?" tanya Nyonya Rahma pada Viki.


Viki hanya tersenyum memandang mamanya. "Turun dulu, bang Viki mau mandi dulu. Setelah itu kita makan."


"Kamar bang Viki dimana?" tanya Rini.


"Rini!" tegur Nara. Nara merasa tidak enak dengan kedua orang tua Viki. Karena Rini terlihat lancang dengan pertanyaannya. "Maaf bang." imbuh Nara. Rini seketika menundukkan kepala.


"Kamar bang Viki di atas. Kalau kamu mau ke sana, kamu bilang dulu. Dan jangan sampai mengajak Bima naik. Berbahaya." ucap Viki. Rini tersenyum dan mengangguk.


Viki berjalan menuju kamarnya. "Nara, sepertinya kamu harus merapikan pakaian kalian. Tante antar ke kamar kamu." ajak Nyonya Rahma.


"Biarkan Rini dan Bima di sini." ucap Tuan Hendra saat Nara hendak membawa Bima mengikuti dirinya.


"Nara khawatir mereka akan menggangu Tuan." ucap Nara dengan sopan.


"Panggil om. Biarkan mereka bermain dnegan om. Kamu bisa kebelakang bersama istri om." ucap Tuan Hendra.


"Rini, jaga Bima dengan baik. Jangan sampai kejadian di apartemen bang Viki terulang lagi." ingat Nara pada Rini.

__ADS_1


"Baik kak."


Perkataan Nara pada Rini membuat dahi Tuan Hendra berkerut. Terulang lagi. Memangnya apa yang mereka lakukan.


__ADS_2