VIRA (Viki Dan Nara)

VIRA (Viki Dan Nara)
ViRA 58


__ADS_3

Ting,,,, terdengar suara ponsel dari Giska. Dengan gaya yang anggun dan berkelas, Giska mengambil ponselnya dari dalam tas yang dia letakkan di samping tempat duduknya.


"Viki....!!" geram Giska. Melihat beberapa foto yang dikirim oleh anak buahnya.


Tidak ingin membuat semua sahabatnya menyadari raut wajahnya, segera Giska kembali ke raut wajah semula. Santai dan tenang. Seolah hanya hal biasa yang dilihatnya di layar ponsel miliknya.


"Ada apa?" tanya sahabatnya.


Giska hanya tersenyum, memasukkan ponselnya kembali ke dalam tasnya. "Tidak ada apa-apa. Biasa. Peringatan untuk tagihan perbulan." ucap Giska, meneguk segelas win di genggaman tangannya. Berusaha menutupi rada kesalnya pada Viki.


"Ya, memang menjengkelkan. Padahal kita membayar pasti setiap bulannya." keluhnya.


Yaps,,, setiap malam, inilah yang dilakukan Giska. Seolah menjadi rutinitas yang wajib mereka lakukan, bersantai dengan para sahabat yang sesama anak konglomerat. Menghabiskan uang milik orang tuanya. Benar-benar tidak berguna.


Seseorang membuka suara, menanyakan sesuatu pada Giska. "Gimana, apa lelaki itu sudah elo dapatkan?" tanyanya dengan nada ketus.


Karena biasanya, Giska akan memamerkan sesuatu yang baru pada mereka. Saat dirinya mendapatkan mainan baru. Atau pasangan baru. Tapi sampai sejauh ini, Giska masih bersikap tenang.


Karena sempat beredar kabar jika Giska tengah mendekati seorang pengusaha muda. Tapi mereka tidak tahu, siapa orang tersebut. Giska menyimpannya terlalu rapat. Tidak seperti biasanya.


Dirinya beralasan jika lelaki tersebut tidak seperti lelaki yang Giska dekati sebelumnya. Dia menginginkan privasi. Dan sangat spesial.


Giska memaksakan senyumnya. "Masih belum. Bukan berarti gue nggak beranjak. Tapi, yahhh.... Gue masih bersikap santai." ucap Giska berbohong.


Mereka menatap Giska dengan tatapan remeh. Dan Giska menyadarinya. "Gue akan main tarik ulur. Nggak mungkin kan gue langsung frontal ngedeketin dia. Nggak banget." ucap Giska dengan sombong.


"Siapa lelaki tersebut. Siapa tahu gue bisa bantu." ucapnya, seperti mengulurkan tangan untuk membantu. Padahal, kalimat tersebut bertujuan untuk menjatuhkan Giska.


Yang artinya, Giska harus meminta bantuan dari orang lain untuk mendapatkan Viki. "Tidak perlu, apa selama ini seorang Giska tidak bisa menaklukkan seorang lelaki." ucapnya sombong dengan senyum angkuhnya.


"Ya iyalah, Giska nggak perlu bantuan elo. Lagi pula, lelaki mana yang akan menolak kamu." timpal yang lain, memuji Giska.


Tapi entahlah. Pujian jujur, apa hanya pemanis bibir semata. Semuanya tertawa, termasuk Giska. "Sial, gue harus segera bergerak." ucap Giska dalam hati.


Malu. Dia tidak ingin dipermalukan. Karena selama ini, Giska selalu mendapatkan apa yang dia inginkan. Semuanya.


Mereka memang terlihat sangat akrab saat seperti ini. Tapi semua terjadi bukan murni karena rasa persahabatan. Seperti halnya Viki dengan kedua sahabatnya, Ella dan Denis.


Jauh berbeda dengan kelompok anak sosialita seperti Giska dengan yang lainnya. Mereka bersahabat hanya karena memandang status sosial.


Ingin menjatuhkan yang lainnya. Sangat terlihat. Mereka sangat ingin terlihat sebagai yang terbaik dalam kelompok tersebut.


Apapun akan mereka lakukan, supaya bisa menjadi nomor satu. Dan ya,,, sejak dulu. Sejak kelompok ini terbentuk, Giska adalah orang itu.


Maka tak heran, jika banyak dari mereka yang ingin membuat Giska malu dan terjatuh.


Dan sepertinya, ada seseorang dari mereka yang melihat setiap perubahan dari wajah Giska. "Gue yakin, ada yang elo sembunyikan. Dan gue, harus cari tahu." ucapnya dalam hati.


Berniat mencari kesalahan Giska. Dan pastinya dia dapat mempermalukan Giska lewat jalan tersebut. "Gue harus mencari tahu, siapa lelaki incaran Giska." imbuhnya dalam hati.


Giska segera pamit pada yang lain. Dirinya beralasan jika papanya menyuruhnya pulang cepat. Sampai di dalam mobil, segera Giska mengeluarkan ponselnya.


Karena di dalam, dirinya tidak leluasa melihat ke layar ponsel miliknya. Karena ada mereka, kelompok sosialitanya. "Kenapa kamu malah memilih perempuan seperti itu." geram Giska.


Merasa dirinya lebih baik dari perempuan di foto tersebut. "Bawa perempuan itu. Sekarang. Aku ingin menemuinya." ucap Giska di ujung telepon.


"Beraninya dia mendekati Viki. Cari mati." geram Giska, melajukan mobilnya ke tepat biasa. Di mana dia dan orang suruhannya bertemu.


Sementara untuk Melva, Giska tidak terlalu ambil pusing. Karena kebetulan akhir-akhir ini Melva sangat sibuk. Apalagi dari laporan orang suruhannya, jika Melva sedang menjalani syuting untuk film. Dan pastinya membutuhkan waktu ekstra.


"Lepaskan...!!!" teriak seorang perempuan memakai baju merah, dengan tangan terikat. Dan tubuh terikat menjadi satu dengan kursi.


Giska berjalan mendekat ke arah tersebut. "Dia." Giska menunjuk tepat ke arah wajah perempuan tersebut. Seakan dia tidak percaya. Saat melihat wajah sang perempuan.


Giska memandangnya dengan tatapan jijik. "Astaga, kenapa selera Viki sangat rendah." ucapnya, sambil duduk di kursi yang naru saja di ambilkan olah bawahannya.


Perempuan tersebut memandang ke arah Viska dengan tatapan sengit. "Lepas. Gue nggak pernah punya urusan sama elo!!" teriaknya dengan mata menyalang.


Giska bangun dari duduknya dan,,,, plak... plak... plak... plak... Tangan Giska terayun dengan ringan ke arah pipinya.

__ADS_1


Hingga dia mendapatkan dua tamparan di masing-masing pipi. Terlihat jelas, cap lima jari di pipi sang perempuan. Meski bibirnya tidak sampai mengeluarkan darah, namun pasti itu terasa sakit.


Segera bawahan Giska menyerahkan tisu basah pada Giska. "Siapa elo, berani menatap gue seperti itu!!" hardik Giska, dengan tangan sibuk membersihkan telapak tangan yang digunakan untuk menamparnya.


"Lepas..." ucapnya lirih, memandang ke arah Giska. "Gue nggak pernah punya masalah sama elo." imbuhnya.


Giska menggerakkan tangannya. Segera, bawahannya memperlihatkan wajah Viki di layar ponsel pada perempuan tersebut. "Ingat." kata Giska.


Giska melihat perubahan ekspresi wajah pada perempuan tersebut. Perempuan tersebut hanya mengangguk pelan. "Tapi saya tidak punya hubungan apa-apa dengan dia." jelasnya.


Giska memandangnya dengan tatapan sinis. "Tadi ada seorang pelayan yang memberikan sebuah minuman padaku. Dia bilang dari Tuan Viki Radika Mahendra. Hanya itu saja." jelasnya pada Giska.


Giska kembali mendekat ke arahnya. "Aaa,,,,!!!" serunya saat tangan Giska menjambak rambut miliknya dan menariknya ke atas.


"Gue ingetin sama elo. Jangan sekali-kali mendekati Viki." bisiknya di dekat telinganya.


Giska mengambil sesuatu di dalam sakunya. Dan mengarahkan tepat di samping pipi perempuan tersebut. "Jika elo berani, gue pastikan. Wajah mulus dan cantik elo akan menjadi sangat mengerikan." ancam Giska dengan mengerahkan ujung pisau lipat di pipinya.


Tampak badan sang perempuan bergetar ketakutan. Dirinya sama sekali tidak menyangka, jika akan menjadi seperti ini. Padahal dirinya sama sekali belum mendapatkan uang dari Viki.


Perempuan tersebut kembali membuka mulutnya. "Kita hanya berciuman. Sebentar. Setelah itu, dia mengusirku." cicitnya, mencoba berkata jujur. Mencoba peruntungan, terlepas dari genggaman tangan Giska.


"Berciuman." Amarah Giska mendidih, mendengar jika dia mengatakan jika dirinya dan Viki berciuman.


Padahal selama ini, Viki enggan menyentuh dirinya. Bahkan, memandangnya saja Viki seperti ogah-ogahan. Dan perempuan ini, bahkan berkata. Hanya berciuman. Hanya berciuman.


"Aaaa....!! Ampun...." teriaknya, saat satu sayat panjang dari pisau Giska dengan lamban menggores pipinya.


"Jauhi dia. Jika gue lihat elo berani mendekatinya. Gue pastikan, leher elo yang akan gue sayat." ancam Giska tidak main-main.


"Baik." ucapnya dengan mulut bergetar ketakutan.


Giska mengambil tisu. Membersihkan pisau lipatnya yang terkena darah. Dan kembali memasukkannya ke dalam saku bajunya.


Giska merapikan penampilannya. "Lepaskan dia." ucap Giska.


"Terimakasih." ucapnya segera bersujud di kaki Giska.


Giska bersedekap dada di depannya. "Cukup laporkan, jika Viki mendatangi tempat tersebut." ucap Giska, menggerakkan tangannya.


Dengan segera, bawahannya memberikan kartu nama Giska pada sang perempuan. "Tenang, akan ada bayaran. Dalam setiap informasi yang elo berikan." jelas Giska.


"Tapi ingat, Jika informasi tidak benar, elo juga akan mendapat bonus dari gue." ucap Giska tersenyum jahat.


"Ba-ba-baik." sahutnya dengan gagap.


"Bagus. Gue suka orang yang penurut." ucap Giska.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Di dalam kamar, kedua mata Nara tidak bisa terpejam. Apalagi, Nara tidak mendengar suara mobil, bahkan suara pintu. Menandakan jika Viki benar-benar tidak pulang malam ini.


Nara membolak-balikkan badannya. Mencoba mencari tempat ternyaman untuk tidur. Tapi tetap saja, dia tidak bisa memejamkan kedua matanya.


Pikirannya masih menuju kepada Viki. "Haahhh..." Nara menghembuskan nafas dengan kasar, hingga menimbulkan bunyi.


Nara melihat ke arah kedua adiknya, yang sudah terlelap sejak tadi. "Ternyata sudah tengah malam." gumam Nara, saat pandangan matanya menatap jam dinding yang menempel tepat di dinding sebelahnya.


Nara mengacak sendiri rambutnya dengan kasar sembari sedikit menjambaknya. Kemudian duduk dan memandang ke arah pintu, dengan ekspresi yang sulit di tebak.


Dengan pelan, Nara keluar dari dalam kamar. Dirinya hanya tidak ingin membangunkan kedua bocah yang sekarang sudah masuk ke dalam mimpi mereka.


Seperti sedang kehausan, Nara meminum segelas air putih hingga tandas. Berjalan ke ruang tengah. Mengangkat sedikit kepalanya, melihat ke arah lantai atas. Dimana terdapat kamar Viki.


Nara menghempaskan bokongnya di sofa. "Kenapa malam ini rasanya tidak mengantuk." gumam Nara.


Menyandarkan badannya ke sandaran sofa, dengan kepala menengadah ke atas. Mata Nara membulat sempurna, saat melihat wajah seseorang di atasnya sedang tersenyum.


Segera Nara memperbaiki duduknya dan menoleh ke belakang. "Bang Viki." ucap Nara lirih.

__ADS_1


Sama halnya seperti Nara. Selesai dari club malam, Viki kembali ke apartemen. Tapi sayangnya, kedua matanya tidak bisa di ajak berkompromi.


Padahal Viki sangat mengantuk, tapi kedua matanya tida bisa terpejam. Di pikirannya hanya berputar-putar wajah Nara.


Oleh karenanya, Viki memutuskan untuk pulang ke rumah. Tapi siapa sangka, dia malah melihat Nara duduk sendiri di kursi tengah. Dengan semua lampu sudah di matikan. Dan hanya menyisakan beberapa lampu saja saat malam.


"Kenapa belum tidur?" tanya Viki di belakang kursi.


Dengan Nara masih setengah berdiri di kursi, menghadap ke arah Viki. Menjadikan lututnya sebagai tumpuan tubuhnya. "Belum mengantuk." ucap Nara berbinar.


Viki merapikan rambut Nara. "Ini hampir pukul dua malam. Cepat tidur." ucap Viki.


Nara memandang ke arah Viki dengan intens. "Ada apa?" tanya Viki.


"Kenapa bang Viki baru pulang?" tanya Nara.


Viki menangkup kedua pipi Nara. "Pekerjaan abang banyak." jawab Viki bohong, mendekatkan wajahnya ke wajah Nara.


Nara menutup hidungnya, saat mencium sesuatu yang menyengat hidung Viki. "Bau apa ini bang." Nara menarik wajahnya ke belakang.


Viki tersenyum. "Tadi sebelum pulang, Abang mampir ke rumah teman. Diajak minum. Tapi Abang cuma minum dikit. Nggak sampai mabuk." sahut Viki.


Nara menatap marah ke arah Viki. "Kenapa?" tanya Viki. "Yang terpenting Abang nggak mabuk." imbuh Viki.


"Tapi Nara nggak suka, abang minum-minum." cicit Nara dengan cemberut.


Viki terkekeh pelan. Mencubit bibir Nara. "Iya, ini yang terakhir. Setelah ini abang nggak akan minum lagi." janji Viki.


"Janji." ucap Nara.


"Janji, nggak akan minum lagi." ujar Viki. "Tapi Abang nggak janji, jika abang nggak kumpul-kumpul lagi dengan teman-teman abang." imbuh Viki.


"Kak Ella dan Kak Denis?" tanya Nara, memastikan.


Viki menggeleng. "Bukan, teman abang yang lain. Cerewet banget sih." ucap Viki.


"Maaf." ujar Nara.


"Ya sudah, abang mau ke kamar. Capek banget." ucap Viki sambil memijat tengkuknya.


"Mau Nara pijat?" tawar Nara.


Viki memandang ke arah Nara dan tersenyum. "Sebenarnya mau, tapi ini sudah larut malam. Kamu juga harus istirahat." tukas Viki.


"Sudah, sana gih. Masuk ke kamar." suruh Viki. Dan Nara mengangguk pelan.


Viki mencium kening Nara dengan lembut. "Selamat malam. Selamat tidur." ucap Viki, mengelus pipi Nara.


"Abang juga." Nara beranjak dari duduknya, dan segera masuk ke dalam kamar.


Dengan senyum di wajahnya, Nara menarik selimut sampai menutupi seluruh tubuhnya, kecuali kepala. Jika tadi Nara mengeluh tak bisa tidur. Dan sekarang, dengan memejamkan kedua matanya. Nara sudah berada di dunia mimpi.


Viki segera menghubungi Rey, begitu tiba di kamar. Dirinya menceritakan semua pada Rey mengenai kejadian di club.


"Cari tahu, perempuan dan juga pria tersebut." perintah Viki pada Rey di ujung ponselnya.


Karena Viki sendiri belum tahu mengenai orang yang mengikuti dirinya. Dan untuk apa dia mengambil fotonya.


"Jika dia suruhan rival, pasti akan menggunakan foto tersebut untuk menjatuhkan gue. Dan jika benar, maka perempuan itu juga pasti terlibat." ucap Viki, mencoba menebak.


"Atau,, dia hanya sekedar di suruh oleh seseorang. Mengikuti semua kegiatan gue. Tapi untuk apa?" ucap Viki dalam hati.


Viki melemparkan ponselnya di atas kasur empuk. Segera dia melepas pakaiannya. Dirinya tersenyum saat melihat ke arah pakaiannya. "Apa Nara tidak melihat pakaian yang gue gunakan." gumam Viki. Menaruhnya di dalam keranjang pakaian kotor.


Karena pakaian tersebut sangat berbeda dengan pakaian yang digunakan Viki untuk berangkat kerja. "Nara,, Nara." ucap Viki, segera membersihkan badannya untuk yang kedua kali dalam semalam.


Ponsel Viki menyala dan berbunyi sekali. Menandakan ada pesan yang masuk ke dalam ponselnya.


Tapi sayang, si empunya sedang membersihkan badannya di kamar mandi. Sehingga tidak mengerti jika ada pesan tertulis yang masuk ke dalam ponselnya.

__ADS_1


Seandainya dia mengetahuinya, pasti Viki akan bersorak gembira. Saat mengetahui siapa yang sudah mengirim pesan tertulis padanya.


__ADS_2