VIRA (Viki Dan Nara)

VIRA (Viki Dan Nara)
ViRA 85


__ADS_3

Viki bersama dengan ketiga pimpinan perusahaan besar melakukan pertemuan penting terkait proyek yang sekarang sudah rampung.


Semuanya memuji Viki. Lantaran awalnya mereka memang sanksi pada proyek yang sempat terbengkalai tersebut.


Tapi ternyata, Viki mampu menyelesaikannya dengan baik. Dalam pembahasan, Viki juga mengemukakan pendapatannya. "Saya akan membeli saham kalian. Jika seandainya kalian berniat menjualnya." ucap Viki langsung.


Membuat ketiga pengusaha tersebut merubah raut wajahnya. Dari senang menjadi muram. "Apa maksudnya?" tanya salah satu dari mereka dengan tak sabar. Tidak mengira dan tidak menyangka jika perkataan tersebut terlontar dari mulut Viki. Terlebih, proyek barus saja selesai.


Saat mereka semua sedang dalam hati yang berbunga. "Saya tidak ingin berbagi. Jika saya tidak bisa memiliki seratus persen bangunan tersebut. Saya akan menjual bagian dari kepemilikan saya pada orang lain. Mungkin saja di antara kalian ada yang berminat." jelas Viki.


"Jangan bercanda." ucapnya dengan nada tidak suka.


Viki terkekeh pelan. "Sayangnya saya tidak pernah bercanda Tuan." Viki sudah memeras otak untuk menuntaskan proyek tersebut.


Tanpa mereka tahu apa yang sudah Viki lakukan. Dan uang yang Viki gelontorkan di luar proyek, guna untuk proyek tersebut bisa berjalan dengan lancar.


Dan pastinya terkait tentang keamanan dari berbagai pihak. Yang menginginkan proyek tersebut kembali gagal.


"Bukankah waktu itu kamu sudah sepakat untuk menjalankan secara bersama." imbuh yang lain.


Viki tersenyum kecut. "Apa kalian pikir, aku hanya diam berpangku tangan seperti kalian bertiga. Pura-pura menutup mata dan telinga. Kurasa tidak perlu saya menjelaskan. Bagaimana proyek bisa selesai tepat waktu." sinis Viki.


Viki memang pebisnis pemula. Tapi dia bukan pebisnis bodoh dan bukan pebisnis yang haus akan pujian. Viki sudah merencanakan semuanya sejak awal.


Tentu saja, sebagai seorang yang berkecimpung di dunia bisnis. Viki tidak ingin mengalami kerugian. Dia juga, Viki bukan orang bodoh. Yanga akan terus diam, saat rekannya memanfaatkan kemampuan dan keahliannya.


Raut wajah ketiganya berubah pias mendengar perkataan dari Viki. Ketiganya sebenarnya tahu, jika Viki mengalami kesulitan menangani masalah keamanan saat proyek berlangsung.


Tapi mereka hanya diam. Seolah tidak melihat dan mengerti. Terlebih, di awal perjanjian. Viki menjanjikan pengembalian uang jika proyek gagal lagi.


Dari perjanjian itulah, ketiganya merasa tidak perlu membantu Viki. Lantaran sukses atau tidak, mereka tetap akan mendapatkan uang jaminan.

__ADS_1


Viki menatap mereka dengan tatapan menghunus. "Jika kalian tidak menjualnya pada saya. Silahkan. Itu pilihan dan hak kalian. Tapi, itu berarti saya yang akan menjual bagian saya pada orang lain." lanjut Viki.


Viki sudah berpikir matang-matang. Meski bagaimanapun, Viki tidak akan mengalami kerugian finansial. Dia malah akan mendapat keuntungan.


"Saya berikan waktu dua hari untuk kalian berpikir. Hubungi asisten saya jika kalian sudah memutuskan." ucap Viki. Meninggalkan tempat mereka mengadakan pertemuan.


"Pasti mereka akan menjual bagian mereka pada anda Tuan." ucap Rey percaya. Sembari pandangannya fokus menatap ke depan. Karena sekarang, Rey dan Viki tengah berada di dalam mobil. Dengan Rey berada di balik kemudi.


Viki tersenyum licik. "Pasti. Toh mereka tidak bisa melakukan apapun untuk kelanjutan bangunan tersebut." ucap Viki.


Hambatan utama bangunan tersebut adalah keamanan. Hanya itu. Dan jika bangunan megah tersebut sudah berada di tangan Viki, pastinya Viki sudah mempunyai cara untuk mengatasinya.


"Pasti Tuan. Mereka tidak punya pilihan." ucap Rey tersenyum.


"Apa perintahku sudah kamu lakukan?" tanya Viki.


"Sudah Tuan. Saat ini, sudah ada beberapa media yang meliput bangunan tersebut. Dan pastinya, nama anda yanga kan di sebut untuk pertama kalinya. Saat mengeluarkan berita tersebut."


Rey tidak berkata langsung pada para pencari berita. Namun Rey sudah memancing mereka untuk menyiarkan berita tersebut. Sehingga dapat di pastikan jika dalan hitungan beberapa jam ke depan, nama Viki akan beredar di media.


"Baik Tuan. Akan saya pastikan, kekhawatiran anda tidak akan terjadi." ucap Rey.


Dokter Andrew masih berada di kamar rawat Tuan Hendra. Sementara Mbak Mira bergegas memanggil majikannya. Nyonya Rahma.


"Bekerjalah dengan baik. Tugas kamu hanya memastikan kondisi Tuan Hendra. Jika sampai kamu melakukan kesalahan, saya akan segera mencari pengganti kamu." ucap Andrew pada Puspa dengan tegas.


"Baik dok." ucap Puspa sedikit menundukkan kepala.


Masih dengan tangan memeriksa kondisi Tuan Hendra. Dokter Andrew kembali membuka mulutnya. "Viki, dia lelaki yang tanpa ampun. Pada siapa saja yang mengusiknya. Jadi, jangan menganggap peringatan ku ini hanya angin lalu. Jika kamu tidak ingin mendapat masalah." lanjut Andrew.


"Baik dok." ucap Puspa lagi. "Apa Nara sudah mengadu pada Dokter Andrew. Dasar anak kecil." batin Puspa merasa kesal.

__ADS_1


Puspa mengira jika Nara berbicara pada dokter Andrew dan memanipulasi ceritanya. "Lagi pula, apa hebatnya anak kecil seperti dia." ucap Puspa dalam hati karena merasa jika dirinya lebih baik dari Nara.


Nara segera membereskan dan merapikan bukunya. Begitu dia selesai belajar. "Nara, tunggu." ucap Alif, saat Nara berdiri dari duduknya.


Nara hanya diam dan memandang ke arah Alif. "Apa ucapan kamu tadi benar?" tanya Alif memastikan.


Nara menyatukan kedua alisnya. "Iya. Nara dan bang Viki akan segera menikah." ucap Nara dengan sungguh-sungguh.


"Ada apa?" tanya Nara, melihat Alif menatapnya dengan tatapan aneh.


"Apa mereka memaksa kamu?" tanya Alif.


"Memaksa. Mereka. Siapa?" tanya Nara bingung.


Alif melihat ke sekeliling. Memastikan keadaan sebelum dia kembali membuka mulutnya. "Keluarga Tuan Hendra. Apa mereka memaksa kamu untuk menikah dengan putranya?" tanya Alif.


Belum sempat Nara menjawab, Alif kembali mengeluarkan suara. "Jika memang benar kamu dipaksa. Kamu bisa menolaknya. Aku bisa membantu kamu. Bahkan, jika kamu bersedia. Kamu dan kedua adikmu bisa keluar dari rumah ini dengan tenang." ucap Alif berentet.


Alif mengira jika Nara bisa tinggal di rumah Tuan Hendra, dengan perjanjian pernikahan tersebut. Alif mengira jika Nara terpaksa menyetujuinya lantaran tempat tinggal.


Nara menghembuskan nafas panjang. Memandang dengan tatapan jengah pada Alif. "Tidak ada paksaan dari pihak manapun. Nara memang mencintai abang Viki." jelas Nara.


Nara merasa Alif terlalu mencampuri urusan pribadinya. Dan Nara tidak menyukainya. "Dan lagi. Anda adalah seorang guru. Dan tentunya pendidikan anda sangat bagus. Jadi tolong, jangan suka berspekulasi sendiri. Tentang apa yang belum anda ketahui." tegas Nara.


"Ingat. Anda di sini, di bayar sebagai guru untuk saya. Sebagai pengajar untuk saya. Jadi tolong, tetaplah di ranah anda. Jangan keluar dari lingkaran yang seharusnya anda tempati." kesal Nara.


"Nara, tunggu." Alif memegang lengan Nara yang hendak pergi.


Dengan segera Nara melepaskannya dengan kasar. "Apa lagi!!" seru Nara dengan kedua mata membulat dan nada tertahan.


"Aku,,,," ucap Alif terhenti.

__ADS_1


"Aku apa....?" potong Nara. "Jika memang sudah tidak menginginkan menjadi guru untuk saya. Tenang saja, saya akan segera bilang pada calon mertua saya. Untuk mencari guru mengganti." ucap Nara.


Nara meninggalkan Alif dengan perasan kesal. "Kenapa akhir-akhir ini banyak sekali orang menyebalkan di sekitarku. Tadi Puspa. Sekarang Alif. Sumpah, menyebalkan." geram Nara.


__ADS_2