
"Gue sebenarnya punya ide, supaya elo bisa sembuh." ucap Ella memandang ke arah Viki penuh keyakinan, jika idenya pasti akan berjalan sesuai rencana.
Tapi semuanya akan terwujud jika Viki mau melakukannya. Tapi jika tidak. Ya pasti tidak akan terjadi. Dan Viki, tidak akan sembuh.
"Tapi jangan aneh-aneh." ucap Viki. Lantaran, biasanya kedua sahabatnya, Denis dan Ella selalu menggunakan ide yang aneh menurut Viki.
Makanya, Viki enggan menuruti dan melakukan rencana dari keduanya.
Viki dan Ella dengan santai berbicara penyakit yang di derita Viki di depan Vano. Lantaran Vano juga sudah mengetahuinya. Membuat Viki dan Ella tidak canggung berbicara perihal tersebut.
"Begini........" bisik Ella mengutarakan semua yang ada di kepalanya. Sehingga Viki bisa sembuh.
"Elo gila...!!!!" teriak Viki dengan kencang. Menjauh dari Ella dan memandang tajam ke arah Ella.
Hingga keluarga Viki yang ada di teras mendengarnya, dan memandang ke arah mereka. Bahkan Vano pun di buat penasaran akan ide dari sang istri.
Malam hari Viki tidak bisa tidur. Dirinya terus mengingat perkataan atau ide dari Ella. "Tapi siapa perempuan yang mau." ucap Viki lirih.
Ya,,, Ella memberi saran. Hal pertama, Viki harus menutup mata. Saat berciuman dengan seorang perempuan. Supaya Viki terbiasa menikmati bibir perempuan. "Tidak." batin Viki menggeleng, membungkam mulutnya sendiri. Seolah jijik.
Yang kedua, masih dengan mata tertutup, Viki harus membiasakan tangannya untuk memegang bongkahan besar di dada perempuan. "Astaga..." ucap Viki lirih, beralih menurut matanya menggunakan kedua telapak tangannya.
Yang kedua, masih dengan mata tertutup. Tangan Viki harus bermain di daerah sensitif milik perempuan. "Uwekkk...." segera Viki berlari ke kamar mandi.
Memuntahkan segala isi di perutnya. Entah kenapa, hanya dengan membayangkan saja. Perut Viki merasa mual. Dan kepalanya terasa pusing.
Viki keluar dari kamar mandi dengan wajah sedikit pucat. Berjalan kembali ke ranjang tempat tidurnya dengan perlahan.
Segera Viki mengambil air minum yang tersedia di dalam kamarnya. Menghabiskan segelas air putih hingga tandas.
"Atau elo lihat video mesum yang elo suka. Tapi, di samping elo harus ada perempuan yang sudah bersiap. Di saat pusaka elo berdiri, elo langsung masukin lubangnya." Viki terus terngiang-ngiang semua kalimat yang keluar dari bibir sahabatnya.
Viki menghembuskan nafasnya dengan kasar. Mengacak dan menjambak rambutnya sendiri. Viki kembali mengingat kalimat Ella yang terakhir.
"Atau elo lakukan saat pagi. Karena pagi hari, pusaka seorang lelaki pasti akan berdiri otomatis. Di saat itulah, elo masukin pusaka elo ke dalam lubang surga dunia."
Viki memukul-mukul bantal dan guling di depannya. "Tapi siapa perempuan tersebut." geram Viki.
"Jika saja Ella belum menikah. Aishh... berpikir apa gue. Meski Ella belum menikah, mana bisa gue lakuin ke dia." ucap Viki.
"Sebelum gue sentuh dia, tangan gue udah patah. Apalagi ada Vano. Bisa musnah seluruh klan keluarga gue." batin Viki, bergidik ngeri.
Jika Viki melakukan apa yang di katakan oleh Ella. Itu berarti Viki harus mempunyai seorang perempuan. Dan perempuan tersebut harus tahu penyakit yang di derita oleh Viki.
"Tapi siapa. Gue nggak mungkin memilih perempuan secara sembarang. Yang ada dia malah akan menyebarkan penyakit yang gue derita." ucap Viki lirih.
Viki merebahkan badannya. "Kepala gue,,, rasanya mau pecah." ucap Viki dengan posisi tengkurap. Membenamkan wajahnya di bantal.
Semalam, Viki tidak bisa tidur dengan lelap. Alhasil, pagi hari saat sarapan, wajah Viki masih terlihat kusut dan malas.
"Kamu kenapa Vik?" tanya Nyonya Rahma.
"Kamu belum mandi?" tanya Tuan Hendra.
Bukannya menjawab, Viki malah sarapan hanya dengan sepotong roti dan minum segelas air. Tanpa pamit, Viki nylonong pergi meninggalkan meja makan.
"Pa, Nara. Kenapa Viki?" tanya Nyonya Rahma, merasa heran dengan sikap sang putra.
Tuan Hendra hanya menggeleng. Melanjutkan sarapan. "Tidak tahu tante." jawab Nara.
Hari ini, Nyonya Rahma mulai mencari guru untuk home schooling Nara. "Semoga kamu jadi perempuan yang hebat." gumam Nyonya Rahma, setelah menutup telepon.
"Nara,,,!!" teriak Nyonya Rahma, memanggil Nara. Lantaran beliau sama sekali tidak melihat Nara. Hanya ada Rini dan Bima.
"Ke mana sih Nara." gumam Nyonya Rahma.
"Tante, tante cari kakak?" tanya Rini.
"Iya, kakak kamu di mana?" tanya Nyonya Rahma.
"Sepertinya tadi di belakang tante." jawab Rini.
Segera Nyonya Rahma bergegas pergi mencari Nara ke belakang rumah. Di mana ada sebuah pekarangan yang lahannya masih kosong.
"Nara lagi ngapain?" gumam Nyonya Rahma, melihat Nara sedang sibuk, bersama dengan mbak Mira.
__ADS_1
"Kalian sedang apa?" tanya Nyonya Rahma setelah berada di dekat keduanya.
"Tante."
"Nyonya."
Segera Nara menghampiri Nyonya Rahma. "Kami sedang menanam sayur tante. Tadi Nara sudah izin sama Om Hendra. Saat tante sedang mengambil sesuatu di kamar." jelas Nara.
"Baiklah. Mira, kamu lanjutkan sediri dulu ya. Saya ada perlu dengan Nara." ucap Nyonya Rahma.
"Silahkan Nyonya." ujar Mbak Mira dengan sopan.
Nara segera bergegas membersihkan kaki serta tangannya yang kotor karena terkena tanah. "Ada apa Tante?" tanya Nara.
"Duduk dulu." pinta Nyonya Rahma.
"Besok kamu sudah mulai belajar. Akan ada guru perempuan yang akan datang ke sini setiap hari." jelas Nyonya Rahma.
"Baik tante."
"Untuk jadwalnya, besok beliau sendiri yang akan berbicara dengan kita. Dan menjelaskan pada kita." ucap Nyonya Rahma.
"Tante sudah menjelaskan pada guru kamu. Jika kamu belum pernah bersekolah." jelas Nyonya Rahma.
"Jadi kemungkinan, kamu akan kejar paket A terlebih dahulu." imbuh Nyonya Rahma.
Nara hanya diam dan menatap ke arah Nyonya Rahma. Seketika terlintas sebuah kejadian di benak Nara. Seorang gadis kecil menggunakan seragam.
"Ada apa Nara?" tanya Nyonya Rahma, karena Nara hanya diam. Tanpa menimpali perkataan Nyonya Rahma.
"Emmm,,, tidak apa-apa Tante. Nara tidak tahu. Nara nurut saja." ucap Nara.
Nyonya Rahma tersenyum. "Setelah ini tante mau keluar. Mau cari sekolah untuk Rini. Kamu mau ikut?" tanya Nyonya Rahma.
"Tidak tante. Nara mau membantu Mbak Mira. Kasihan mbak Mira." jelas Nara.
"Bukankah katanya bang Viki yang mau memberikan sekolah untuk Rini." imbuh Nara.
"Viki pasti sibuk. Mana sempat dia." ujar Nyonya Rahma.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Apa ada pekerjaan penting hari ini?" tanya Viki.
"Ada Tuan. Pertemuan dengan beberapa artis yang berada di bawah naungan perusahaan kita." jawab Rey, asisten Viki
"Kapan?"
"Siang Tuan. Setelah makan siang." kelas Rey.
"Selain itu?"
"Tidak ada lagi. Hanya ada beberapa dokumen yang perlu tanda tangan dari anda."
"Pas sekali." gumam Viki.
"Jangan ganggu saya, hingga makan siang." ucap Viki pada Rey, asistennya.
"Baik Tuan." ucap Rey.
"Untuk beberapa pekerjaan saya, kamu ambil alih." jelas Viki.
"Iya Tuan."
"Sebenarnya, apa yang akan dilakukan oleh Tuan Viki di dalam ruangan." gumam Rey, sehingga Tuannya tersebut tidak ingin di ganggu. Oleh siapapun.
Apalagi Rey melihat wajah dari atasannya tampak lesu. Seperti seseorang yang kelelahan. Atau seseorang yang kekurangan tidur dan kurang istirahat.
Sepeninggal Rey, segera Viki masuk ke dalam ruang pribadinya yang berada di ruang kerjanya. Viki melepas jas dan dasi yang ia kenakan. Tak lupa dia buka dua kancing kemeja bagian atas. Tanpa melepas sepatunya.
Sebelumnya, Viki sudah mengunci dari dalam pintu kamar pribadinya. Dirinya benar-benar tidak ingin di ganggu. "Akhirnya." ucap Viki merebahkan badannya di kasur empuk dan besar.
Viki mulai memejamkan matanya. Memulai perjalanan ke dalam dunia mimpi.
Sekitar dua jam setelah Viki terlelap dalam tidurnya, terdengar suara berisik dari luar. "Ckk,,, Rey,,," geram Viki, merasa Rey tidak melakukan perintahnya dengan benar untuk kali ini.
__ADS_1
Brakk.... "Berisik!!" teriak Viki, membuka dengan kasar pintu kamar pribadinya.
Wooowww....
Seorang perempuan menatap Viki dengan tatapan lapar. Apalagi dengan penampilan Viki saat ini. Rambut acak-acakan, dengan kancing baju terbuka dua di atas. Di tambah lagi dengan wajah bantalnya.
Sungguh menggoda sang perempuan untuk kembali membawa Viki masuk ke dalam kamar. Dan mengurungnya di dalam. Hanya bersama dengan dia. Bermain di atas ranjang. Pastinya dengan Viki.
"Tuan Viki." sapanya dengan lembut, dengan menampilkan wajah manis.
"Kamu" kata Viki memicingkan sebelah matanya.
"Rubah betina." umpat Rey dalam hati. Melihat tingkah sok manis dari sang perempuan. Padahal sebelum Viki datang, Melva bersikap angkuh dan juga bar-bar.
Viki memandang ke arah Rey. "Maaf Tuan. Nona Melva yang menerobos masuk ke dalam ruangan anda." jelas Rey.
"Orang rendahan brengsek." ucap Melva dalam hati.
"Dia Nona Melva, salah satu artis di bawah naungan perusahaan kita." jelas Rey.
Belum sempat Viki membuka mulutnya, seseorang sudah membuka pintu ruang kerja Viki dari luar. Sontak semua mata mengarah ke pintu tersebut.
"Giska." ucap Viki lirih.
"Mati aku." gumam Rey, menepuk dahinya sendiri. Membiarkan dua perempuan masuk ke dalam ruang kerja atasannya. Tanpa izin dari pemilik ruangan.
Giska menatap tajam ke arah Melva. Giska menatap dari ujung rambut hingga ujung kaki. Seolah sedang menilai setiap barang yang menempel di badan Melva.
Begitu juga Melva. Dia menatap tak kalah sengit ke arah Giska. Apalagi Melva sempat beberapa kali melihat Giska menginjakkan kakinya di perusahaan Viki.
Viki tersenyum sinis. Seolah tahu apa yang sedang terjadi. "Gue bisa menggunakan dia untuk membuat Giska tidak lagi merecoki kehidupan gue. Kelihatannya, dia bukan tipe perempuan yang mudah di tindas. Bisalah menghadapi Giska." batin Viki licik.
"Melva." panggil Viki dengan nada lembut. Seketika Melva menoleh ke arah Viki dengan senyum manis.
Seolah menunjukkan pada Viki, jika dirinya adalah perempuan yang anggun. "Silahkan duduk." ucap Viki mempersilahkan Melva duduk di kursi empuk dan panjang, di dalam ruangan Viki.
"Kalian keluar." ucap Viki, mendaratkan pantatnya di kursi, samping Melva duduk.
Giska mengeraskan rahangnya. Menatap ke arah Viki dan Melva dengan tatapan menyalang. Sementara Rey hanya diam, menatap ke arah Viki yang nampak tersenyum dengan ekspresi tenang.
Rey sepertinya dapat menebak apa yang sedang ada dalam pikiran atasannya. "Baiklah Tuan, saya akan menemani anda menjadi aktor dadakan." batin Rey dalam hati.
"Nona, silahkan keluar. Tuan Viki dan Nona Melva ingin membicarakan hal penting." ucap Rey, mempersilahkan Giska keluar ruangan.
Giska segera keluar dari ruangan Viki. Dengan Rey mengekor di belakangnya. "Nona Melva memang cantik dan anggun. Semoga mereka cocok satu sama lain." ucap Rey lirih.
Namun masih bisa di dengar oleh Giska. Rey sengaja melakukannya, untuk memprovokasi Giska.
"Tuan, saya harap anda akan memberikan saya bonus." gumam Rey tersenyum samar, melihat Giska meninggalkan perusahaan dengan ekspresi kesal dan menahan amarah.
"Katakan. Ada apa. Aku tidak punya banyak waktu." ucap Viki, berdiri dan duduk di kursi single miliknya di balik meja kerjanya.
"Hah." Melva sedikit terkejut dengan sikap dan ekspresi Viki.
Tapi Melva tidak mau ambil pusing. "Mungkin Viki sedang pusing karena memikirkan pekerjaan." batin Melva, menduga perubahan sikap Viki pada dirinya.
"Sebenarnya, emmm... Ini mengenai kontak ku dengan perusahaan." ucap Melva, berdiri di depan meja kerja Viki.
"Kita bertemu nanti siang. Setelah jam makan siang." ucap Viki dingin.
Melva merasa senang. Dirinya mengira jika Viki mengajaknya secara pribadi. "Baiklah. Nanti..."
"Rey yang akan menghubungimu." ucap Viki memotong perkataan dari Melva.
"Baiklah." ucap Melva, masih berdiri di depan meja Viki. Menatap Viki dengan tatapan mendamba.
"Silahkan keluar. Masih ada banyak kerjaan yang harus saya lakukan." usir Viki dengan halus.
"Baik." ujar Melva. Tersenyum semanis mungkin ke arah Viki, dan segera meninggalkan ruangan Viki.
Viki menatap ke arah pintu ruangannya. Menggelengkan kepala mengingat dua perempuan yang baru saja meninggalkan ruangannya.
"Semoga setelah ini, Giska tidak terlalu merecoki kehidupan gue." ujar Viki.
"Maaf Melva." imbuh Viki. Tapi Viki yakin, jika Melva tidak ada bedanya dengan Giska. Sama-sama perempuan dengan ambisi yang besar.
__ADS_1
Giska, kamu akan memiliki rival yang setara. Sementara kedua perempuan tersebut terlibat masalah yang di buat Viki, Viki dapat konsentrasi ke masalah lain.