
"Karena gue masih punya rasa kemanusiaan." ucap Viki memutuskan untuk menolong Giska. Viki menghentikan mobilnya tepat di belakang mobil Giska.
"Siapa?" batin Giska memandang mobil yang berhenti di belakangnya.
Senyum Giska merekah, mengetahui sosok yang keluar dari dalam mobil. "Oh,, no. Viki." batin Giska merasa terbang ke angkasa.
"Vik." sapa Giska dengan senyum terbaiknya.
"Ban mobilku tiba-tiba kempes." ucap Giska dengan lembut.
"Sudah panggil orang bengkel?" tanya Viki dingin.
Giska menggeleng. "Apa tidak punya bengkel pribadi." tanya Viki memastikan.
"Nggak tahu. Aku cuma naik saja. Soal perbaikan mobil, papa sudah mempercayakan pada sopir." jelas Giska jujur.
"Manja. Ella saja yang lebih dari elo bisa segalanya." batin Viki.
Viki tidak bermaksud membandingkan Giska dengan Ella. Tapi memang hanya Ella perempuan yang dekat dengan Viki. Bukan berarti Viki mempunyai perasaan lain pada Ella selain persahabatan.
Tahu sendirikan, jika Viki tidak mungkin tertarik dengan sahabatnya. Ella.
"Vik, bisa minta tolong?" tanya Giska. Merasa ada kesempatan, Giska tidak menyia-nyiakannya.
"Anterin aku pulang ya." pinta Giska dengan wajah dibuat memelas.
"Mobil aku biar di ambil orang suruhanku." imbuh Giska, tidak membiarkan Viki berkata.
Segera Giska masuk ke dalam mobil Viki tanpa Viki minta. Benar-benar tidak punya tata krama. Viki hanya mendengus dan masuk ke dalam mobil.
Segera Viki melajukan mobilnya. "Alamat." ucap Viki singkat.
"Kamu belum tahu alamat rumahku?" bukannya memberikan alamat rumahnya, Giska malah bertanya pada Viki.
"Jika sudah tahu, kenapa aku mesti bertanya." ucap Viki menatap lurus ke depan, fokus menyetir.
"Kamu pikir aku penguntit." imbuh Viki. Segera Giska menyebutkan alamat rumahnya.
"Tadi aku ke kantor kamu. Tapi katanya kamu sibuk. Asisten kamu tidak mengizinkan aku masuk ke ruangan kamu." ucap Giska mengadu.
"Asistenku hanya melakukan tugasnya." ucap Viki seperti menegaskan sesuatu.
__ADS_1
"Tugas. Mengusir gue maksud elo." batin Giska.
Bukan Giska namanya jika tidak bisa menyembunyikan perasaan kesalnya pada Viki.
Selama berada di dalam mobil, Giska selalu bertanya pada Viki. Dengan singkat Viki menjawabnya. Bahkan terkadang Viki tidak menjawab.
Namun Giska berusaha untuk membuat Viki selalu memperhatikannya. Dan sampai detik ini, usaha Giska belum membuahkan hasil.
Lihat saja. Begitu sampai di depan rumah Giska. Viki langsung melajukan mobilnya begitu Giska keluar dari dalam mobil.
"Vikiiii.....!!" geram Giska dengan menghentakkan kaki berulang kali, menyalurkan rasa kesalnya.
Giska masuk ke dalam rumah dengan wajah marahnya. Bahkan pintu depan dia tutup dengan keras. Hingga sang mama terkejut.
"Giska." seru sang mama. Bukannya merasa bersalah, Giska malah memandang tajam penuh amarah pada sang mama.
"Tidak berguna." desis Giska berjalan ke arah kamarnya. Meninggalkan sang mama.
"Giska...!!!!" teriak sang mama, hatinya bergemuruh melihat sang anak semakin tidak terkendali dan semakin bersikap kurang ajar padanya.
Lagi-lagi Giska menutup pintu kamar dengan keras. Hingga terdengar dari bawah. "Astaga." ucap sang mama, memegang dadanya.
"Apa dia lupa. Siapa yang mengandung dan melahirkannya." ucap sang mama dengan nada parau.
Padahal, Nyonya Gina. Mamanya Giska selalu bersabar menghadapi sang putri.
Viki pulang ke rumah dengan langkah malas. Di ruang tengah sedang berbincang mama dan papanya.
"Vik,, kok baru pulang?" tanya Nyonya Rahma pada sang anak.
"Lembur." jawab Viki singkat. Segera Viki menaiki tangga dan masuk ke dalam kamarnya.
"Kenapa sih Viki?" tanya Nyonya Rahma pada suaminya.
"Kenapa mama tanya papa. Mama pikir papa cenayang." celetuk Tuan Hendra mendapat lirikan tajam dari istrinya.
"Besok papa ada kunjungan kerja di luar kota. Mama ikut?" tanya Tuan Hendra.
"Bagaimana ya pa. Sekarangkan di rumah sudah ada Viki." ucap sang istri tampak bimbang. Karena biasanya Nyonya Rahma akan menjadi ekor sang suami, saat Tuan Hendra ada pekerjaan di luar kota.
"Ya sudah. Jika mama nggak ikut, papa pergi sendiri. Lagi pula teman papa banyak." jelas Tuan Hendra.
__ADS_1
"Pa, besok mama pergi sama Giska ya." pamit sang istri.
"Iya, asal mama bisa menjaga sikap. Jangan terlalu memberi harapan pada Giska. Ingat, Viki belum membuka hati untuk Giska." ucap Tuan Hendra.
"Takutnya, malah nanti Giska akan merasa di permainan. Jika perasaannya pada Viki tidak terbalas." jelas sang suami.
"Iya pa. Lagi pula mama pergi sama Giska hanya akan berbelanja beberapa kebutuhan dapur kok. Giska yang mau nemenin mama. Mama nggak minta sama Giska." ucap Nyonya Rahma.
Di dalam kamar, Viki memandang langit-langit kamar dengan tatapan menerawang jauh. Jika kemarin-kemarin Viki masih bisa bercanda dengan Rini dan Bima.
Sekarang semuanya terasa semu. Hilang tanpa jejak. Tidak mungkin Viki menyuruh mereka untuk tinggal di apartemennya kembali. Nara pasti menolak mentah-mentah.
Mendo'akan mereka terkena musibah, dan kembali tinggal di apartemen Viki. Jahat banget. Tidak mungkin Viki melakukannya.
Viki mengusap wajahnya kasar. Bangun dari tempat tidurnya dan segera pergi ke kamar mandi. Berendam ke dalam bak mandi yang sudah tercampur air sabun dengan aroma terapi di dalam kamar mandi. Menjadikan pikiran Viki sedikit lebih tenang.
Merasa pikirannya lebih tenang, Viki segera meninggalkan kamar mandi dan memakai pakaian. Matanya melihat ada pesan yang masuk pada ponselnya.
Viki mengernyitkan keningnya, membaca pesan yang dikirimkan seseorang pada ponselnya. Tampak nomor tersebut tidak terdaftar di ponsel Viki.
SIKSA NERAKA AKAN DATANG. Begitulah pesan yang diterima Viki. Membuat Viki penasaran.
"Apa maksudnya?" batin Viki.
Tidak jauh berbeda dengan Viki. Biasanya jam segini, Nara sudah memejamkan mata. Entah kenapa malam ini Nara seperti tidak bisa memejamkan mata.
"Bang Viki sedang apa ya." gumam Nara melihat ke arah Rini dan Bima yang sudah terlelap dari tadi.
"Jika kemarin, jam segini Nara pasti sedang membuatkan bang Viki kopi." batin Nara dengan tangan memegang ujung selimut di dadanya.
Mengingat kembali aktifitasnya di rumah Viki, bibir Nara tersenyum.
"Ckk,, ada apa denganku. Lebih baik aku segera tidur. Besok aku harus mulai bekerja." ucap Nara lirih, dengan perlahan memejamkan mata.
Di tempat lain, ada seseorang yang sedang memandang foto Viki dam Ella di papan target. Dilemparkannya sebuah panah kecil ke poto yang tertempel di papan target.
"Kalian berdua akan merasakan hidup bagai di neraka. Lihat saja." ucapnya dengan pandangan mata di penuhi amarah dan dendam.
"Akan aku balas semua perbuatan kalian. Hingga kalian akan merangkak memohon, dan mencium kakiku." ucapnya dengan percaya diri.
Dendam pada Viki dan Ella, lantaran mereka berdua sudah membuatnya kehilangan orang yang di cintanya.
__ADS_1
"Aku harus menunggu waktu yang tepat. Sebelum bom itu aku nyalakan. Hingga membuat kalian tak ada pilihan lain. Selain melakukan apa yang aku katakan." ucapnya dengan senyum iblis di bibirnya.