
Nyonya Rahma menggeleng dan tersenyum melihat kelakuan Viki. "Viki,,, jangan ganggu mereka." seru Nyonya Rahma. Tapi Viki malah memangku Bima dan menggelitiki perut Bima.
Sementara Rini, memukul tubuh Viki. Seolah menolong Bima, supaya terlepas dari cengkeraman Viki. Tapi badan Viki yang besar dan kekar, sama sekali tidak terpengaruh sedikitpun.
Viki malah tertawa melihat Rini sesekali mengusap-usap telapak tangannya dan meniupnya. Sepertinya Rini merasakan sakit di telapak tangannya. Sambil berkata. "Badan bang Viki keras."
Nyonya Rahma merasa senang. Dengan kehadiran Nara dan kedua adiknya, kini rumahnya tidak pernah sepi. Terutama Viki, sekarang sang anak lebih sering berada di rumah, jika sudah tidak ada pekerjaan di perusahaannya.
Karena biasanya, Viki jarang pulang ke rumah. Dan dia lebih memilih tinggal di apartemen. Dan berkumpul dengan para sahabatnya.
Dirinya juga tidak lagi kesepian jika sang suami sedang melakukan perjalanan dinas. Karena sekarang sudah ada yang menemani dirinya di rumah.
Keputusannya untuk membawa mereka ke rumah, sangatlah tepat. Kekhawatiran sang suami saat pertama mereka datang ke rumah lenyap sudah.
Karena ternyata mereka bertiga adalah anak-anak manis dan baik. Bahkan Rini, untuk anak seusianya, bisa menjaga sang adik Bima. Saat Nara sedang melakukan kegiatan lain.
Dan Rini, dia selalu membereskan dan membersihkan sendiri mainan yang baru saja di mainkan sang adik serta dirinya. Agar tidak berserakan. Dan menaruhnya kembali ke tempat semula.
Karena Nara selalu mengajari Rini untuk mandiri. Dan membereskan mainannya sendiri setelah selesai digunakan. Supaya tidak merepotkan orang lain.
Mereka sama sekali tidak merepotkan penghuni rumah lain. Malah dengan kehadiran Nara, pekerjaan rumah jadi semakin cepat. Semua penghuni rumah menyukai sifat ketiga anak tersebut.
Dari meja makan, Nara dapat melihat interaksi mereka. Nara menatap mereka dengan ekspresi datar. Entah apa yang ada dalam benak Nara saat ini. Mungkin, hati Nara masih merasa sakit karena perkataan Viki.
Hingga saat makan malam pun, Nara tidak duduk di samping Viki. Nara malah menyuruh Rini untuk duduk di samping Viki. Sementara dirinya dan Bima duduk di depan Viki. Di samping Nyonya Rahma. Membuat keduanya terpisah oleh meja.
Tidak seperti sebelumnya, Nara mengambilkan nasi serta sayur dan lauk untuk di makan Viki. Malam ini Nara tidak melakukannya.
Dan Viki sepertinya tidak begitu peka. Dirinya mengambil sendiri makanan dan di taruh ke atas piringnya. Serta mengambilkan makanan untuk Rini.
"Terimakasih abang" ucap Rini. Dan Viki hanya tersenyum melihat ke arah Rini. Sementara Nara hanya melirik ke arah Viki.
Tuan Hendra dan Nyonya Rahma hanya diam. Mereka tidak ingin ikut campur. Apalagi mereka tidak tahu apa sebenarnya yang tengah terjadi di antara mereka.
Karena jika dilihat, Viki tampak seperti biasa. Tidak ada yang berubah. Malah Nara yang tampak merubah sikapnya. Dan juga raut wajahnya. Biasanya Nara akan memasang wajah dengan bibir tersenyum tulus. Dan kali ini, Nara malah memasang wajah datar. Tanpa ekspresi.
"Kak, kenapa kakak tidak duduk di samping bang Viki?" tanya Rini dengan polosnya.
Membuat Tuan Hendra dan Nyonya Rahma terdiam dan tersenyum samar. Seolah menantikan jawaban yang akan di berikan oleh Nara pada Rini.
Belum sempat Nara membuka mulutnya, Viki sudah berbicara terlebih dahulu dengan Rini. "Memang Rini tidak suka ya, jika duduk di dekat abang." tanya Viki dengan ekspresi wajah melas.
"Sukalah,,, kan abang ganteng. Wangi lagi." ceplos Rini. Membuat tangan Viki terangkat ke atas kepala Rini, mengacaknya dengan pelan. Dasar Viki tidak peka.
"Nara, biarkan yang lain yang membereskannya." ucap Nyonya Rahma setelah mereka selesai makan.
"Kita bicara di teras belakang. Ada yang ingin kita sampaikan." ucap Nyonya Rahma.
"Baik tante." ucap Nara, menaruh kembali piring yang akan di angkatnya menuju dapur.
"Sudah sana." ucap Mbak Mira, menyuruh Nara segera mengikuti Nyonya Rahma.
"Iya mbak." ucap Nara.
Di teras belakang rumah sudah ada Tuan Hendra dan Viki. Serta Rini dan juga Bima yang sedang bermain. Mereka semua duduk di bawah, lesehan. Menggelar karpet.
Nara duduk di samping kedua adiknya. "Nara, ada yang ingin tante sama om sampaikan. Dan juga kamu, Viki. Kami meminta pendapat kamu." ucap Nyonya Rahma terdengar serius.
Viki menyimpan ponselnya dan menatap ke arah sang mama. "Begini." ucap Tuan Hendra, memandang ke arah Nara.
"Nara, ini hanya saran dari kami. Jika, seandainya kamu menolak. Tidak apa-apa. Kami tidak akan memaksa. Atau merasa kecewa. Dan sebelum nanti kamu akan menjawabnya, kamu harus memikirkannya dengan matang-matang." jelas Tuan Hendra.
"Ckk,,, apa sih pa. To the point saja." decak Viki, merasa sang papa membuang-buang waktu.
__ADS_1
"Aw....." seru Viki lirih sambil mengusap lengannya, saat cubitan dari sang mama bersarang di lengannya.
Tuan Hendra memandang ke arah Viki dan mendengus karena ketidak sabaran sang anak. "Nara, kami ingin kamu mengikuti home schooling. Untuk mengejar ketertinggalan kamu dalam pendidikan. Bagaimana?" tanya Tuan Hendra.
"Home schooling itu, elo sekolah atau belajar di rumah. Nanti gurunya yang akan datang." jelas Viki, karena pasti Nara tidak tahu apa itu home schooling.
"Tapi...." ucap Nara.
"Nara, bukankah tadi Om Hendra sudah bilang. Jangan menjawab dan memutuskan dengan buru-buru. Kamu berpikir lebih dulu." ucap Nyonya Rahma memotong perkataan Nara.
"Tenang saja, elo akan bayar menggunakan uang elo sendiri." celetuk Viki, mendapat tatapan tajam dari sang mama. Viki seakan mengerti jalan pikiran Nara.
"Elo kan kerja di rumah ini. Jadi bisa potong gaji." imbuh Viki, membuat Nyonya Rahma bernafas lega.
Nyonya Rahma hanya takut jika sampai Nara menolak. Padahal Nara sangat membutuhkan pendidikan untuk kehidupannya kelak.
"Apa perlu?" tanya Nara dengan ragu.
"Perlu." jawab Viki singkat, dengan memandang tajam ke arah Nara. Membuat Nyonya Rahma dan Tuan Hendra terdiam.
Sepertinya mereka membiarkan Viki yang akan berbicara dengan Nara. Karena jika mereka yang berbicara, pasti Nara akan menolak.
"Dengan elo sekolah, elo bisa menghadapi banyak orang. Karena pemikiran elo dan wawasan elo lebih banyak. Elo nggak akan di remehkan lagi. Dan yang terpenting, elo nggak akan di bodohi oleh orang lain." ucap Viki.
"Ya sudah ma, mama atur saja. Kapan Nara mulai melakukan home schooling." ucap Viki memutuskan.
"Tapi bang..." ujar Nara.
"Apa lagi?" tanya Viki.
"Bagaimana dengan pekerjaan Nara di sini?" tanya Nara dengan ekspresi bingung. Dirinya takut tidak bisa membagi waktu.
"Ngapain elo tanya gue. Tanya mama." ucap Viki.
"Aaw..." seru Viki, lagi-lagi Nyonya Rahma mencubit lengan sang putra.
"Baik tante. Tapi,, apa gaji Nara cukup untuk membayar?" tanya Nara dengan polos, karena memang dirinya tidak mengerti, berapa gaji yang dia terima saat bekerja di rumah Tuan Hendra. Dan berapa biaya yang harus di keluarkan untuk dia melakukan home schooling.
"Cukup. Malah masih sisa. Iyakan ma?" ucap Tuan Hendra, mencoba menyakinkan Nara. Supaya melakukan kegiatan tersebut.
"Syukurlah." ucap Nara dengan lega. Jika seperti ini, Nara merasa jika dirinya tidak akan menjadi beban keluarga dari orang yang sudah menolongnya. Viki dan yang lain hanya tersenyum samar mendengar perkataan Nara.
Viki sadar, jika sedari tadi Rini diam-diam mendengarkan percakapan mereka. "Rini..." panggil Viki. "Sini." Viki melambaikan tangannya, meminta Rini mendekat dengan Viki.
Tanpa banyak berkata, Rini tersenyum dan mendekat ke arah Viki. Bahkan duduk di pangkuan Viki. "Rini mau sekolah?" tanya Viki.
Tapi Rini malah terdiam dan melihat ke arah Nara. Seolah meminta izin pada kakaknya. "Astaga." ucap Nara dengan tatapan mata sedih. Membuat semua orang memandang ke arah Nara.
Nara baru sadar, jika Nara masih punya Rini. Bahkan, menurut Nara. Rini lah yang lebih utama untuk merasakan pendidikan. Bukanlah dirinya.
"Maafkan kakak." ucap Nara dengan tatapan sedih pada Rini. Dan Rini, seolah tahu apa yang ada dipikiran sang kakak. Dia hanya tersenyum dan menggeleng.
"Om, tante. Bagaimana kalau Nara membatalkan home schooling yang sempat kita bicarakan." pinta Nara.
"Kenapa?" tanya Nyonya Rahma dengan raut wajah penasaran.
"Biar Rini saja yang bersekolah. Nara tidak perlu. Jadi biaya untuk Nara, bisa digunakan untuk biaya sekolah Rini." jelas Nara.
Seketika Tuan Hendra dan Nyonya Rahma merasa terharu, mendengar perkataan Nara. Bahkan Nyonya Rahma sampai menitikkan air mata dan memeluk Nara. Sementara Tuan Hendra membawa Bima ke pangkuannya.
"Tidak perlu." ucap Nyonya Rahma.
"Tapi tante.." ucap Nara melepaskan pelukan Nyonya Rahma.
__ADS_1
"Rini, akan menjadi tanggung jawabku." ucap Viki.
"Kamu dengarkan." ujar Nyonya Rahma.
"Tapi bang..." ucap Nara dengan ragu.
"Kami bisa mengganti uang sekolah Rini. Jika suatu saat kamu sudah memiliki uang." ucap Viki.
Nara hanya terdiam. "Pasti membutuhkan uang banyak. Dari mana Nara bisa menggantinya." batin Nara.
"Makanya kamu sekolah yang benar. Biar bisa mendapatkan pekerjaan dengan layak dan gaji besar." ucap Viki, seolah mengetahui apa yang ada dalam benak Nara.
Nara hanya diam menatap ke arah Rini dan Viki. "Benar juga." batin Nara.
"Bagaimana, kamu mau sekolah?" tanya Viki. Rini langsung menolah ke arah Viki dan mengangguk dengan cepat.
"Tapi,,," ucap Rini. Dengan pandangan mata mengarah pada Bima. "Siapa yang akan menjaga adek Bima jika Rini sekolah?" tanya Rini.
Lagi-lagi Tuan Hendra dan Nyonya Rahma merasa terharu. Meski mereka hidup dengan kekurangan. Tapi mereka selalu memikirkan saudara mereka.
"Kak Nara kan ada. Kak Nara hanya akan sekolah sebentar. Dan kak Nara akan sekolah di rumah." jelas Nyonya Rahma.
"Nanti, saat kak Nara sekolah. Biar Bima sama tante." imbuh Nyonya Rahma.
"Oo,,," ucap Rini. "Bang, Rini sekolahnya di mana?" tanya Rini dengan antusias.
"Nanti Abang carikan yang dekat dengan rumah saja. Biar mudah." jelas Viki.
Rini langsung memeluk badan Viki. "Terimakasih bang Viki. Rini sayang bang Viki." ucap Rini.
"Emmm,,,, jadi Rini cuma sayang dengan bang Viki saja." goda Tuan Hendra.
Segera Rini melepaskan pelukannya pada Viki. Dan menatap ke semua orang. "Ehh,,,, tidak. Rini juga sayang semuanya." ucap Rini dengan merentangkan kedua tangannya. Membuat semuanya tertawa lepas.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Di tempat lain, Tuan Marko sedang murka. Semua rencananya untuk membuat perusahaan Viki perlahan mengalami kemerosotan dana tidak berhasil.
Padahal Tuan Marko menginginkan Viki dalam keterpurukan. Dan hanya Giska yang bisa membantunya. Dengan begitu, mau tidak mau. Viki akan menerima Giska.
Apalagi siang tadi para investor di perusahaan Viki menemuinya. Dan menceritakan semuanya pada Tuan Marko. Bagaimana Viki mengancam mereka. Mengharuskan mereka kembali menjadi investor untuk perusahaan milik Viki.
Bahkan, Tuan Marko juga mendengar dari bawahannya. Jika perusahaan yang sempat menarik dan memutuskan kerja sama dengan perusahaan Viki. Kini malah kembali menjalin kerja sama.
"Ternyata kamu tidak bisa di remehkan." ucap Tuan Marko, dengan tatapan mata menyalang.
"Baiklah, kita akan lihat. Sampai dimana kemampuanmu." ucap Tuan Marko, tersenyum sinis..
Tiba-tiba ruang kerja Tuan Marko terbuka dari luar. "Berhenti membuat hidup seseorang dalam kesulitan." ucap Nyonya Gina.
Nyonya Gina mendapat laporan dari seseorang, mengenai apa yang telah dilakukan oleh sang suami pada perusahaan milik Viki. "Jangan pernah mencampuri urusanku." ucap Tuan Marko.
"Ini juga urusanku. Apa kamu pikir Viki akan menerima Giska, jika kamu menghancurkannya. Jangan pernah bermimpi."
"Yang seharusnya kamu urus itu Giska. Anak kita. Dia yang bersalah. Bukan malah menghancurkan hidup seseorang yang tidak bersalah." seru Nyonya Gina.
"Cukup. Jangan pernah menyuruhku atau memerintahku." seru Tuan Marko tak kalah sengit.
"Baiklah. Dengarkan perkataan ku baik-baik. Sekarang kamu masih hidup dengan banyak harta. Bisa melakukan dan memenuhi semua keinginan Giska."
"Tapi, apakah kamu sama sekali tidak berpikir ke depannya. Saat kamu sudah tiada. Mau jadi apa Giska. Siapa yang akan menuruti kemauannya." seru Nyonya Gina.
"Sekarang terserah kalian. Terserah. Mulai detik ini, aku tidak akan lagi mau mengurusi urusan kalian. Terserah." seru Nyonya Gina.
__ADS_1
Brakkk.... dengan keras, Nyonya Gina menutup pintu ruang kerja sang suami dari luar. Tuan Marko duduk dan bersandar di kursi. Memejamkan mata.
Baru kali ini sang istri berani membentak dirinya dan berkata dengan nada tinggi.