VIRA (Viki Dan Nara)

VIRA (Viki Dan Nara)
ViRA 182


__ADS_3

Pernikahan Nara dan Viki sudah berjalan beberapa bulan. Sebagai seorang istri, secara perlahan Nara menjelma sebagai sosok istri mandiri yang selalu bisa membuat Viki nyaman jika berada di sampingnya.


Tentunya dengan peran Nyonya Rahma dan Nyonya Binta yang selalu tak kenal bosan mengajari dan memberitahu Nara berbagai hal.


"Nara merasa bersyukur, dipertemukan dengan tiga sosok ibu yang begitu hebat." gumam Nara.


Salah satunya ibu angkat Nara, yang dengan ikhlas mengambilnya dari tepi jalan. Merawatnya dan memberi Nara kasih sayang sebagai seorang ibu. Memperlakukan Nara seperti putrinya sendiri.


"Nyonya, apakah Nyonya akan pergi ke perusahaan Tuan?" tanya seorang pembantu, sembari mengingatkan Nara.


Nara mengangguk. "Biar saya sendiri yang menyiapkan makannya. Kamu bisa kerjakan yang lain." papar Nara.


"Baik Nyonya."


Ting,,,, ponsel Nara berbunyi. Nyonya Binta mengiriminya sebuah foto bayi mungil, berjenis kelamin laki-laki. "Sangat tampan." gumam Nara.


Beberapa hari yang lalu, Nyonya Binta dan Nyonya Gina terbang ke negara tempat tinggal Giska. Dengan alasan, perkiraan tanggal kelahiran cucu mereka sudah dekat.


Dan untuk Tuan Smith dan Tuan Marko, baru pagi ini mereka menyusul. Sehingga mereka semua menyaksikan kelahiran cucu pertama mereka.


Nara tersenyum bahagia, melihat foto bayi tampan tersebut. "Jadi pengen punya bayi." gumam Nara tersenyum sendiri, membayangkan seperti apa wajah bayinya kelak.


Selesai Nara memasukkan semua makan siang sang suami ke dalam rantang. Nara segera kembali ke kamar untuk bersiap.


Tentu saja, setelah menikah dengan Viki, penampilan Nara juga berubah. Jika dulu dia sering menggunakan kaos kedodoran dengan celana panjang atau treneng.


Sekarang Nara selalu menggunakan dress sederhana. Entah itu di rumah, atau saat keluar..Yang membedakan hanya Nara akan sedikit memoles wajahnya saat bersama sang suami.


Meski sebenarnya, tanpa polesan make-up pun, Nara akan tetap terlihat cantik. "Bik,,, Nara berangkat." teriak Nara pamit pada pembantu di rumah.


"Iya, Nyonya,,, hati-hati." sahut sang bibik yang berada di dapur.


Meski Nara adalah pemilik rumah sekaligus majikan mereka, namun Nara selalu pamit jika hendak keluar rumah. Paling tidak mengatakan kemana tujuannya pergi.


Seperti biasa, Nara melangkah dengan anggun dengan bibir tersenyum, memasuki perusahaan sang suami. Semua karyawan sudah tahu, jika gadis kecil yang cantik tersebut adalah istri pemilik perusahaan.


Mereka selalu menyambut kedatangan Nara dengan ramah. Para karyawan yang berpapasan dengan Nara juga selalu menyapa Nara.


Tidak seperti sang suami yang terkenal dengan sifat dingin dan angkuhnya. Nara malah berbanding terbalik. Seluruh karyawan memuji Nara, sebab sifat ramah, sopan, dan murah senyum yang Nara tunjukkan pada mereka.


Bahkan, Nara tak segan untuk menyapa mereka terlebih dahulu.


Langkah kaki Nara terhenti, melihat seorang perempuan memakai pakaian dan topi yang sepertinya benda tersebut tidak asing di mata Nara.


Nara menatap punggung perempuan yang berjalan menjauh darinya. "Pakaian itu, dan topinya. Bukankah sama dengan oleh-oleh yang aku berikan pada kak Renggo." ucap Nara dalam hati.


Nara merasa dirinya tidak mungkin salah menduga. Sebab, Nara hapal betul apa yang dia berikan pada Renggo. Kemeja couple berwarna putih, dengan beberapa motif di bagian punggungnya.


Nara juga ingat ada aksen kotak di bagian depan kemeja putih tersebut. Meski tidak secara keseluruhan. Namun Nara tidak dapat melihat bagian depannya, karena posisi perempuan tersebut membelakangi Nara.


Untuk topinya. Nara juga ingat. Warna topi tersebut senada dengan kemejanya. Bahkan juga ada sedikit motif di bagian sampingnya.


"Apa mungkin cuma mirip. Tapi kok miripnya kebangetan." Nara merasa aneh.


"Sudahlah. Kelamaan mikir, malah suamiku bisa-bisa kelaparan." ujar Nara melangkahkan kaki masuk ke dalam lift khusus pemilik perusahaan.


"Nyonya." seorang pegawai perusahaan berdiri menyambut kedatangan Nara. Dia adalah sekertaris di perusahan Viki. Bertempat tepat di depan ruangan Viki.


"Tuan Viki sedang bersama Tuan Rey. Beliau sedang berada di luar perusahaan. Tapi beliau berpesan untuk Nyonya menunggu Tuan di dalam."


"Apakah lama?"


"Saya rasa tidak Nyonya. Sebab Tuan Viki sudah tahu, jika Nyonya akan datang." ucapnya dengan ramah.


Nara mengangguk. "Terimakasih. Saya masuk dulu."


"Silahkan. Jika Nyonya membutuhkan sesuatu, jangan sungkan untuk mengatakan pada saya."


"Terimakasih."


Nara masuk dan duduk dengan tenang. Memainkan ponselnya sembari menunggu sang suami. "Maaf, membuat kamu menunggu."


Seorang lelaki tampan masuk melewati pintu tanpa permisi. Siapa lagi kalau bukan pemilik hati Nara. "Tidak sayang, aku juga baru sampai."


Nara mulai membuka rantang. Dan menyiapkan makanan untuk sang suami. "Sayang, keponakan kita sudah lahir." ucap Nara sembari menyiapkan makanan.

__ADS_1


"Hemmm..." Viki duduk di sebelah Nara. Memperhatikan setiap gerakan dari sang istri.


"Laki-laki. Sangat tampan. Seperti kak Renggo." lanjut Nara terlihat senang.


"Kamu kenapa sih. Nggak suka apa dengar berita itu. Bukannya senang ponakan lahir dengan selamat. Malah diam dan cuek." papar Nara kesal dengan sang suami yang terkesan acuh.


"Tidak perlu terlalu senang. Karena dia memang bukan keponakan kita."


Perkataan Viki membuat gerakan Nara terhenti. Nara menoleh ke arah sang suami. "Apa maksud kamu?" Nara bertanya dengan ekspresi serius.


Sejak dulu, Viki selalu mengatakan jika bayi itu bukan bagian dari keluarga Renggo. Dulu, Nara mengira jika sang suami mengatakannya hanya karena bercanda dan tidak menyukai Giska.


Namun itu terlalu sering. Dan Nara mulai menaruh rasa curiga. "Anak yang ada di dalam kandungan Giska, bukan darah daging Renggo. Bukan anak dari Renggo." dengan santai, Viki mengambil tahu goreng di atas piring dan memakannya.


"Emm,,, enak. Asin dan gurih." Viki menilai rasa masakan Nara. Memasukkannya ke dalam mulutnya.


"Dari mana kamu tahu sayang?"


"Ini, saya lagi merasakannya. Gurih." Viki menyodorkan sisa gigitan tahu di tangannya.


Nara mendelik kesal. Viki malah membicarakan soal tahu yang dimakannya. "Bukan soal lauk tahu. Tapi bayi yang di kandung Giska." geram Nara.


"Oo,,, kirain." ujar Viki santai.


"Suapi." pinta Viki dengan manja.


"Tapi sebagai bayarannya, kamu harus cerita. Kok bisa begitu?" Nara menyuapi sang suami dengan telaten.


Viki mengangguk, sambil mengunyah makanan. "Sayang, besok aku ingin nasi goreng. Tapi dikasih sayuran. Kelihatannya enak." pinta Viki.


"Sarapan apa waktu makan siang?"


"Sarapan saja. Siangnya, aku pengen yang seger-seger." pinta Viki.


Meski porsi makan Viki bertambah karena masakan sang istri yang semakin enak. Tak lantas membuat badan Viki berubah menjadi berisi atau gendut.


Sebab, Viki tetap selalu rajin berolah raga. Dia ingin tetap tampil sempurna di hadapan istri kecilnya.


Tentu saja. Viki takut jika sampai Nara berpaling darinya demi lelaki lain. Umur Nara yang masih belia, dan juga wajah Nara yang masih muda, membuat Viki terkadang merasakan ketakutan.


"Ayo, katanya mau kasih tahu Nara." ucap Nara tidak sabaran.


Viki menyelesaikan mengunyah makanan dan menelannya. "Iya, sabar sayang. Setelah makan. Kamu mau, suamimu ini tersedak. Lalu meninggal." celetuk Viki.


"Ya nggak maulah. Tapi janji ya, setelah makan." pinta Nara sungguh-sungguh.


"Iya." Viki membuka mulutnya, saat Nara kembali menyodorkan sendok berisi makanan padanya.


Seorang perempuan cantik dengan tubuh seksi memandang penampilannya dari kaca besar full body.


Tersenyum melihat apa yang melekat di tubuhnya. "Couple." gumamnya dengan senyum di bibir.


Dia adalah Sara. Teringat tengah malam Renggo datang ke apartemennya. Hanya untuk mengantar apa yang dia pakai sekarang.


"Astaga, kamu datang cuma mau nganter ini. Kan bisa besok Renggo." ucap Sara, kasihan pada Renggo.


Renggo memeluk tubuh Sara. "Besok pagi aku sudah berangkat." ucapnya.


"Renggo, jangan begini. Lepas." sungguh, Sara hanya tidak ingin mereka kelepasan. Biar bagaimanapun, Renggo adalah suami perempuan lain.


"Ckk,,, lagian sudah aku katakan. Jangan menemui aku. Sebelum statusmu berubah." decak Sara kesal. Meski pada kenyataannya, hatinya berkata lain. Sara sangat senang, saat Renggo datang ke apartemennya.


Renggo malah acuh, berpura-pura tidak mendengar. "Baguskan?" dia mengeluarkan barang dari dalam paper bag.


"Kok dua?"


"Namanya juga couple, Sara." jelas Renggo.


Sara merasa senang, meski hanya sebuah kemeja dan topi. Tapi menurut Sara, itu sudah cukup membuat dia bahagia.


Namun Sara dengan pandai menyembunyikan rasa tersebut. "Kamu yang beli?"


"Bukan. Ini hadiah." Renggo meneliti dengan detail kemeja di tangannya.


Sara yang merasa melayang, seketika terjatuh mendengar bukan Renggo yang membelinya, melainkan hadiah dari orang. "Dari siapa?" tanya Sara jutek.

__ADS_1


Renggo tersenyum menatap dua buah topi di tangannya. "Dari Nara."


Sara semakin kesal. Dia melihat jika Renggo tampak bahagia, hanya mendapatkan hadiah sederhana dengan harga bisa tersebut. "Pasti Nara itu orang yang istimewa." dumal Sara dalam hati.


Ada perasaan iri fan tidak rela saat melihat Renggo bahagia dengan pemberian barang dari Nara. "Kamu cemburu?"


Renggo menyadari perubahan sikap Sara, saat dia menyebut nama Nara. "Cemburu... untuk apa? pada siapa?" kekeh Sara terlihat dipaksakan.


"Pada Nara." Renggo semakin menggoda Sara.


Sara mencebik. "Jangan mimpi Tuan, anda dan saya tidak memiliki hubungan lebih. Ingat, anda sudah beristri." tekan Sara.


Renggo malah tertawa terbahak melihat ekspresi kesal yang ditunjukkan oleh Sara. "Apasih, ada yang lucu?" sarkas Sara semakin kesal dibuatnya.


"Ada. Kamu." Renggo menjawil dagu Sara.


Sara menghela nafas. "Sebaiknya anda segera pulang. Sudah malam. Saya mengantuk. Pasti istri anda juga sedang menunggu." usir Sara dengan ekspresi kesal.


"Kalau saya mau bermalam di sini, boleh?" goda Renggo.


Sara langsung memandang tajam ke arah Renggo. "Apartemen saya bukan tempat penampungan. Silahkan pergi." usir Sara.


"Okelah. Simpan ini dengan baik." Renggo memberikan barang pemberian Nara pada Sara.


Sara mengembalikannya pada Renggo. "Iiihh,,,, ogah. Ngapain saya harus menyimpan barang milik orang. Nggak mau." tolak Sara dengan kasar, bahkan seakan dia jijik menatap barang tersebut.


Sara bersedekap dada dan membuang muka. "Yakin nggak mau. Memang kamu tahu, siapa Nara?"


Sara memutar kedua bola matanya jengah. "Saya tidak peduli. Siapa Nara." sarkas Sara, mengira Nara adalah nama seseorang yang menyimpan rasa suka pada Renggo.


Karena memang sampai detik ini, Sara belum pernah bertemu dengan keluarga Renggo. Dan dirinya juga tidak tahu, jika nama istri pemilik perusahaannya bernama Nara.


Renggo melihat ke arah pergelangan tangannya. "Ternyata sudah cukup malam." gumam Renggo.


Cup.... Renggo mengecup singkat pipi Sara. Dengan gerakan kasar, Sara menghapus bekas ciuman Renggo di pipinya, membuat Renggo terkekeh pelan.


"Nara. Dia adalah istri pemilik perusahaan tempat kamu bernaung." jelas Renggo, sudah cukup menggoda Sara.


Sara langsung menatap Renggo. "Dia istri Viki." lanjut Renggo, mengelus lembut pipi Sara.


"Aku pulang dulu." Renggo kembali mengecup kening Sara, tapi sedikit lebih lama.


"Jaga diri baik-baik. Aku akan menyelesaikan semuanya. Lalu segera menemui kamu."


Sara mengangguk. "Simpan ini. Satu untuk kamu, satu untuk aku. Pasti Nara akan senang, melihat kamu memakainya."


"Dia sudah tahu?"


Renggo menggeleng. "Hanya Viki yang tahu. Jangan khawatir, Nara perempuan yang baik. Keluargaku juga, mereka pasti akan menerima kamu."


Renggo tidak ingin Sara berkecil hati. Atau lebih tepatnya, Renggo tidak ingin membuat Sara ragu dan bimbang akan hubungan mereka ke depannya.


"Ingat, apapun yang kamu dengar dan kamu lihat. Kamu cukup percaya, jika hati ini hanya kamu pemiliknya. Tidak ada yang lain." Renggo membawa tangan Sara tepat di dadanya.


Teriakan seseorang menyadarkan Sara dari lamunannya. "Heyy,,,, siapa di dalamm..!!" teriak seorang perempuan yang hendak masuk ke dalam ruang ganti tersebut.


Sara tersenyum tak percaya, dirinya busa lama berada di dalam ruangan hanya karena memikirkan Renggo. "Aku sudah gila."


Ceklekk,,, "Maaf." Sara membuka pintunya dari dalam, sambil tersenyum tidak enak.


"Ternyata elo. Elo tahu, gue di sini sudah lama. Gue tunggu-tunggu nggak ada pergerakan. Dasar, minggir." ucapnya sebal.


Sara segera menyingkir dari ambang pintu. "Ckk,,, dasar Sara. Jadi lama." keluhnya sembari mengambil beberapa kotak di dalam ruang ganti.


"Lagian elo ngapain di dalam. Semedi." celetuknya masih merasa kesal dengan Sara, sambil berjalan pergi meninggalkan Sara kembali.


Di ruangan Viki, Nara melongo tak percaya dengan apa yang di dengarnya. Jika bayi yang di dalam kandungan Giska bukanlah keponakannya. "Sumpah, ada perempuan segila itu." ungkap Nara.


Viki menceritakan semuanya, bagaimana dirinya bisa tahu semuanya secara detail. Nara terdiam, dan seketika murung. "Ada apa sayang?"


"Aku jadi kepikiran mama. Pasti dia sangat syok. Apalagi, selama ini yang membuat mama bisa menerima Giska adalah karena bayi itu." papar Nara.


"Tenanglah, pasti Renggo bisa menghandle semuanya dengan baik."


Nara mengangguk pelan. Meski perasaannya tetap tak bisa tenang. Memikirkan bagaimana perasaan sang mama tiri. Saat mengetahui semua kebenaran tersebut.

__ADS_1


__ADS_2