
Brakkk.... dengan keras, Nyonya Gina menutup pintu ruang kerja sang suami dari luar. Tuan Marko duduk dan bersandar di kursi. Memejamkan matanya.
Baru kali ini sang istri berani membentak dirinya dan berkata dengan menggunakan nada yang sangat tinggi.
"Aku harus meminta maaf pada keluarga Viki. Biar bagaimanapun, mereka tidak bersalah." ucap Nyonya Gina, mendaratkan pantatnya di tepi ranjang empuk miliknya.
"Astaga. Kenapa semua jadi seperti ini." Nyonya Gina memijat kedua pelipisnya, untuk mengurangi rasa pusing di kepala.
Segera Nyonya Gina mengambil ponselnya. Dan menghubungi seseorang. Yang dia suruh untuk memantau setiap kegiatan dan juga tindakan dari sang anak.
"Dimana Giska berada?" tanya Nyonya Gina pada orang suruhannya.
………………
"Baiklah. Kamu lanjutkan lagi." ucap Nyonya Gina. Mengakhiri pembicaraan mereka.
"Hahhhh..... Giska. Mau jadi apa kamu." gumam Nyonya Gina lirih.
Setiap malam, sang anak hanya akan keluar dan bersenang-senang bersama kelompoknya. Di mana semua anggotanya berasal dari keluarga kaya.
Setiap kali memikirkan Giska, kepala Nyonya Gina berdenyut pusing. "Lebih baik aku istirahat saja." ucapnya dengan nada putus asa.
Padahal waktu masih sore untuk seseorang naik ke atas ranjang untuk tidur. Tapi tidak dengan Nyonya Gina. Dia lebih baik segera menutup kedua matanya dan beristirahat.
Hingga beliau melewatkan makan malam. Bukan lupa, tapi memang Nyonya Gina tidak ingin makan. Selera makan dan rasa laparnya seketika menghilang. Saat dirinya bertengkar dengan sang suami.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Saat keluarga Viki masih berada di teras belakang, mereka kedatangan tamu yang sangat spesial.
"Tuan, Nyonya, Den Viki. Ada Non Ella beserta suaminya." ucap mbok memberitahu.
"Malam." sapa Ella dengan tersenyum. Menyembul dari belakang mbok.
"Ella, sayang." ucap Nyonya Rahma, beranjak dari duduk lesehannya dan segera memeluk sahabat dari anaknya tersebut.
"Makin lama makin cantik saja." puji Nyonya Rahma menatap kagum ke wajah Ella.
"Tante, Jadi senang deh Ella." canda Ella tertawa.
"Jangan di puji ma. Kebiasaan." Viki ikut berdiri.
Tangan Viki sudah terulur ingin memeluk Ella, tapi dengan cepat Vano, suami Ella menghalanginya. "Ckk,, gue sahabatnya." seru Viki kesal dengan sikap posesif Vano.
"Dan saya suaminya." ucap Vano tenang dan berwibawa.
"Om.." Ella meninggalkan Vano dan Viki yang tengah berdebat. Segera menghampiri papa Viki dan bersalaman.
"Baik-baik saja." tanya Tuan Hendra, mengelus pelan pundak Ella.
"Baik Om." jawab Ella.
"Kak Ella." sapa Nara dan segera berjabat tangan dengan Ella.
"Mereka berdua adik Nara kak. Kenalkan." ucap Nara mengenalkan kedua adiknya. Lantaran, Ella melihat ke arah dua anak kecil yang duduk di samping Nara.
"Ini Rini." ucap Nara, segera Rini bersalaman dengan Ella. "Dan ini Bima." ucap Nara membawa Bima untuk berjabat tangan dengan Ella.
Sebenarnya, sebelum menyapa semuanya, Ella sudah melihat Nara beserta kedua adiknya. Namun dirinya tidak langsung bertanya. Meskipun, rasa ingin tahunya cukup besar.
Karena Ella tahu, bagaimana tata cara seorang tamu menjaga sopan santunnya saat bertamu. Meskipun Ella dan keluarga Viki sudah terbilang akrab.
Nyonya Rahma tidak bertanya bagaimana Ella bisa mengenal Nara dan kedua adiknya. Kerena Nyonya Rahma berpikir, pasti Viki yang mengenalkan mereka.
Karena selama ini, hanya Ella dan Denis. Sahabat dari putranya tersebut. Dan Nyonya Rahma sempat berpikir, jika mereka berdua lebih mengenal Viki dari pada dirinya.
Setelah berjabat tangan dengan kedua orang tua Viki, Vano segera duduk lesehan di dekat Ella. "Elo yang bawa mereka?" tanya Ella menatap ke arah Viki.
"Mama. Ternyata mama juga kenal dengan Nara." jelas Viki. Ella hanya mengangguk kecil, tidak ingin bertanya lebih lanjut lagi.
Mereka berbincang ringan di teras yang berada di belakang rumah. Sementara Vano, hanya sesekali menimpali perkataan Tuan Hendra.
"Ell, kapan kalian akan memberi kami cucu?" tanya Nyonya Rahma. Karena memang beliau sudah menganggap Ella seperti putrinya sendiri.
"Sekitar tujuh bulan lagi tante." ucap Ella ambigu.
__ADS_1
Sontak semua orang langsung terdiam. Mencoba mencerna perkataan dari senang model. "Tujuh bulan lagi kak." cicit Nara mencoba mengulang perkataan Ella, terkesan seperti memastikannya lagi.
"Iya." Ella menganggu pelan dan tersenyum manis.
"Itu berarti kakak sudah hamil sekitar dua bulan?" tanya Nara memastikan.
"Iya." jawab Ella singkat.
"Wooeee Ell, serius elo." teriak Viki, membuat kaget semua orang.
"Viki." tegur Nyonya Rahma, karena beliau juga terkejut. Lantaran Viki berteriak tepat di sebelahnya.
"Di situ saja. Bisakan." ucap Vano, terkesan seperti memerintah Viki, saat Viki hendak mendekat ke arah Ella.
"Elo kenapa sih Ell, nikah sama orang kayak dia." kesel Viki, menunjuk ke arah Vano. Membuat Vano dan Viki saling menatap tajam. Dan Ella, tertawa senang melihat mereka berdua.
"Santai saja tan, mereka berdua kalau bertemu memang seperti itu." ucap Ella, melihat ke arah Nyonya Rahma. Karena raut wajah Nyonya Rahma terlihat sedikit takut dengan tingkah Vano dan Viki.
Mendengar penuturan Ella, Nyonya Rahma bernafas lega, menggelengkan kepala dan tersenyum.
"Tapi, gue ucapin selamat Ell. Gue sebentar lagi akan di panggil uncle." ucap Viki dengan senang.
"Eh,, Denis belum tahukan?" tanya Viki, berharap mengetahuinya sebelum Denis.
Melihat ekspresi Ella, Viki menyimpulkan jika Denis sudah tahu. "Elo pilih kasih Ell." rajuk Viki seperti anak kecil.
"Hana." ucap Ella singkat. Dan sepertinya Viki tahu maksud perkataan Ella. Jika Hana yang memberitahu Denis.
"Tapi belum ada di gosip-gosip." celetuk Nyonya Rahma. Mengingat siapa sosok Ella. Model terkenal. Dan putri dari Tuan Haris. Pengusaha hebat.
Apalagi sekarang Ella menikah dengan Vano. Membuat nama Ella semakin melejit.
Nyonya Rahma teringat saat Ella dan Vano menikah, semua media sosial menayangkan acara pernikahan keduanya hingga berhari-hati.
"Belum tante. Usia kandungan Ella masih dua bulan. Masih sangat rawan." ucap Ella.
"Ya benar. Om juga sependapat. Sebaiknya di rahasiakan dulu." ucap Tuan Hendra.
Mengingat siapa sosok suami dari Ella. Pengusaha muda. Selain tampan, dia juga sangat sukses di bidangnya. Sehingga disegani para pelakon bisnis.
Tidak menutup kemungkinan, jika banyak musuh yang ingin membuat keluarga Vano tersakiti.
Karena Tuan Hendra bekerja untuk pemerintah. Dan beliau tahu betul, bagaimana setiap orang memakai topeng sebaik mungkin. Dan akan membukanya sesekali saja. Itupun di saat yang tepat.
"Tidak masalah jika mereka memakai topeng. Karena dari dulu, saya tidak pernah percaya dengan siapapun. Kecuali keluarga inti." ucap Vano dengan tenang.
Tuan Hendra tersenyum dan mengangguk pelan. Berbicara dengan Vano sejak tadi. Meski Vano hanya menyahut perkataan darinya hanya sesekali, Tuan Hendra dapat menyimpulkan. Kenapa Vano bisa berdiri dan sesukses sekarang.
Viki melihat ke arah papanya. Terlihat sang papa sangat mengagumi pembawaan dari suami Ella. Viki tersenyum samar. Dan melihat ke arah Vano.
"Doakan Viki. Supaya bisa melebihi dia pa." batin Viki meminta restu sang papa.
Nara sedari tadi hanya berbicara sedikit. Dirinya terus memperhatikan setiap tingkah dan ucapan Ella, dan juga Viki "Ada perempuan seperti kak Ella. Cantik dan baik." batin Nara.
Sempat Nara mengira jika Ella dan Viki menjalin hubungan. Layaknya, sepasang kekasih. Tapi sekarang, apa yang ada dalam pikiran Nara terhapus semua.
Karena Ella datang membawa suaminya. Dan yang lebih membahagiakan, saat ini Ella tengah berbadan dua.
Begitupun dengan Ella. Mata elang Ella tidka dapat di bohongi. Ada rasa kagum bercampur suka dari sorot mata Nara. Saat Nara memandang ke arah Viki.
Ella juga merasa, jika keluarga Viki menerima kehadiran Nara dan kedua adik Nara dengan tangan terbuka.
Tampak Ella tersenyum samar melihat pemandangan di depannya. Entahlah, mungkin Ella ada ide sedikit gila. Yang terbesit di kepalanya.
"Vik, bisa bicara sebentar." ucap Ella di sela obrolan mereka.
"Aku ikut." timpal Vano.
"Astaga, gue nggak akan bawa lari Ella." ucap Viki kesal.
"Ikut atau tidak." Vano memegang lengan Ella dan menatap ke arah sang istri. Tatapan matanya terlihat seperti memohon. Tuan Hendra dan Nyonya Rahma hanya tersenyum melihat ke arah ketiganya.
"Iya. Ayok." ajak Ella, mencubit gemas kedua pipi sang suami. Tapi Ella segera menghindar saat Vano hendak menciumnya.
"Ada anak kecil." ucap Ella lirih, tak ingin suaminya salah paham. Karen Ella sangat tahu, sampai di mana kadar kecemburuan seorang Vano.
__ADS_1
Nara tersenyum gemas melihat tingkah Vano sedari tadi. "Suami kak Ella kelihatannya cinta banget sama kak Ella." celetuk Nara. Setelah mereka bertiga pergi.
"Pasti lah Nara. Kalau nggak cinta ya nggak dinikahi dong." balas Nyonya Rahma.
"Nara." panggil Tuan Hendra dengan pelan.
"Iya om." sahut Nara.
"Kami kenal sam kak Ella?" tanya Tuan Hendra. Bukan Hanya Tuan Hendra yang menunggu jawaban dari Nara. Begitu juga dengan Nyonya Rahma.
"Kenal. Kak Ella itu orang baik Om. Dia pernah ngasih uang Nara. Banyak." jelas Nara dengan mata berbinar senang.
"Saat itu....." Nara menceritakan kejadian dia bertemu dengan Viki. Dan akhirnya dia juga dipertemukan dengan Ella.
Nyonya Rahma Dan Tuan Hendra tertawa mendengar cerita Nara tentang putranya. "Anak tante memang seperti itu. Viki itu memiliki sifat cuek, galak, dan sedikit dingin. Tapi sebenarnya dia lelaki baik." jelas Nyonya Rahma.
"Iya, tante. Kalau tidak baik, mana mungkin bang Viki mau menolong kita bertiga saat itu. Malah mengizinkan kami tinggal di apartemennya beberapa hari." sahut Nara.
Viki mengajak Ella dan Vano menuju ke taman. Karena di sana ada beberapa kursi yang tertata dengan rapi.
Tempatnya tidak jauh dari tempat mereka duduk lesehan bersama yang lain. Bahkan, mereka masih bisa melihat apa yang di lakukan Nyonya Rahma, Tuan Hendra, Nara, dan kedua adiknya.
Meskipun begitu, suara mereka tidak akan terdengar oleh mereka. Kecuali mereka mempunyai kekuatan super yang bisa mendengar suara dari jarak jauh.
"Om Haris sudah mengatakan ke elo?" tebak Viki, saat ketiganya sudah mendaratkan pantat di masing-masing kursi.
"Elo harus melawan. Gue nggak suka punya temen seperti pecundang." tegas Ella.
Viki menghela nafas panjang. "Gue bukan takut Ell. Tapi ini melibatkan banyak pihak. Padahal semua berawal dari masalah pribadi." ucap Viki.
"Sekarang elo coba berpikir logis. Kalau perusahaan elo tutup, karyawan elo gimana? Pikir." ucap Ella, mulai meracuni pikiran Viki.
"Ya, tadi gue juga sempat berpikir ke situ. Gue sudah menyuruh Rey untuk mengumpulkan semua bukti." jelas Viki.
Sementara Vano, dia hanya diam dan menyimak obrolan dari sang istri dan sahabatnya tersebut. "Sekarang, apa yang elo mau?" tanya Ella.
"Para investor kembali?" tanya Ella, dijawab anggukan kecil oleh Viki.
Ella tersenyum sinis. "Dan perusahaan yang memutuskan kerjasama, kembali menjalin kerjasama sama perusahaan elo." tanya Ella lagi.
Dan lagi-lagi Viki mengangguk. "Cuma itu?" tanya Ella memastikan. Dan lagi Viki hanya mengangguk kecil.
"Aku rasa itu lebih dari cukup Ell." ucap Viki.
"Astaga. Bodo sekali kamu Vik." geram Ella.
Ella memandang ke arah Vano, melihat Vano tersenyum samar menatap ke arah Viki. "Jika kamu sudah masuk dunia bisnis. Jangan berpijak hanya dengan satu kaki. Berdirilah dengan dua kakimu. Sehingga kamu lebih kuat." ucap Vano membuka suara.
Viki menatap ke arah Vano. "Jika kamu melakukan hal seperti ini terus setiap ada masalah, namamu tidak akan pernah di takuti oleh orang." imbuh Vano.
"Dan kamu, bahkan keluarga kamu akan menjadi bahan lelucon." timpal Ella.
Ella menarik nafasnya dalam-dalam. "Gue tahu, apa yang sedang elo pikirkan." ucap Ella memandang ke arah Viki.
"Lakukan. Sebelum elo menyesal. Di belakang elo ada empat perusahaan besar. Vano Reyandli, Danto Reyandli, Haris Subagyo, Denis Subara." ucap Ella semakin menekan Viki, untuk memutuskan keputusan besar di perusahaannya.
"Bahkan ada gue juga. Pergunakan nama mereka dengan baik." imbuh Ella.
"Apa elo pikir Marko akan dengan mudah melepaskan elo. Jangan harap. Elo pasti sudah mencari tahu siapa diakan." ucap Ella. Dan Viki masih terdiam.
"Lakukan apa yang ada di dalam kepala elo. Kalau tidak, siap-siap menjadi suami dari perempuan bernama Giska." ucap Ella.
"Suami dari Giska. Dan semua terbongkar." keluh Viki. Mengingat dirinya masih berada dalam lingkaran hitam.
"Lagi pula gue nggak suka sama perempuan seperti Giska." ucap Viki datar.
"Elo bisa berubah jadi seperti suami gue. Jika elo mau." goda Ella.
"Ckk... gue mau..Tapi elo tahu sendirikan." decak Viki sebal.
Obrolan mereka dari perusahaan terhenti, berubah menjadi perbincangan kelainan yang di derita oleh Viki.
"Gue sebenarnya punya ide." ucap Ella penuh keyakinan, jika idenya pasti akan berjalan sesuai rencana.
"Tapi jangan aneh-aneh." ucap Viki. Lantaran, biasanya Denis dan Ella selalu menggunakan ide yang aneh menurut Viki.
__ADS_1
Keduanya dengan santai berbicara penyakit yang di derita Viki di depan Vano. Lantaran Vano juga sudah mengetahuinya.
"Begini........" Ella mengutarakan semua yang ada di kepalanya. Sehingga Viki bisa sembuh.