
Hari-hari berikutnya, Nara dan Viki, juga Nyonya Rahma di bantu dengan Nyonya Binta di sibukkan dengan persiapan pernikahan antara Viki dan Nara.
Hati Nara sedikit melunak, setelah dengan rutin, Nyonya Binta selalu datang ke kediaman Tuan Hendra dan membantunya dalam mempersiapkan segala sesuatu.
Akan tetapi Tuan Smith tidak bisa sering bertemu dengan Nara seperti Nyonya Binta, lantaran beliau harus mengurus perusahaan.
Seperti saat ini, saat ketiganya berada di sebuah butik ternama untuk mencoba pakaian pengantin milik Nara.
"Kamu cantik sekali sayang." puji Nyonya Binta.
"Pasti putra mama akan terpesona." imbuh Nyonya Rahma.
Hubungan Nyonya Rahma dan Nyonya Bintapun juga semakin dekat. Mereka juga kerap berkomunikasi lewat ponsel hanya untuk sekedar berbincang.
"Kenapa?" tanya Nyonya Binta, saat mendapati wajah Nara malah ditekuk.
"Apa yang kurang? Kamu bilang saja, nanti pihak butik akan memperbaikinya." tutur Nyonya Rahma.
"Bukan itu ma." cicit Nara cemberut.
"Lalu?" tanya Nyonya Binta dan Nyonya Rahma bersamaan.
"Lihat. Ini terlalu terbuka." papar Nara, menunjuk ke arah pundaknya yang terekspos. Dan juga bagian dadanya. Bahkan, kedua gunung kembar Nara sebagian menyembul keluar.
"Astaga, mama kira apa." ucap Nyonya Rahma merasa lega.
"Tenang saja, itu hal yang wajar. Iya kan jeng." ucap Nyonya Binta, meminta pendapat Nyonya Rahma.
"Huffftt,,, ma, pasti abang akan marah. Mama tahu sendirikan, bagaimana posesifnya abang. Ke pesta saja Nara harus memakai pakaian tertutup." keluh Nara.
Padahal Nara juga merasa kurang nyaman memakai gaun tersebut. "Sebentar lagi Viki datang, bagaimana jika kita tunggu saja. Siapa tahu dia mengizinkan kamu memakainya." papar Nyonya Rahma.
"Nah betul kata mama Rahma. Bagaimana sayang? Lagi pula ini cuma sekali loh." tanya Nyonya Binta, membujuk Nara.
Belum sempat Nara menjawab, sudah terdengar suara bariton dari belakang mereka. "Tidak akan. Nara tidak akan memakai gaun seperi itu." ujar Viki, dengan tatapan mata memandang tajam pada calon istrinya.
"Benarkan." ucap Nara dalam hati.
Nyonya Rahma dan Nyonya Binta saling senggol menggunakan lengan mereka. "Carikan gaun yang tertutup." perintah Viki pada karyawan butik.
Bukannya segera melakukan apa yang di katakan Viki, karyawan butik tersebut malah tersenyum memandang ke arah Viki.
__ADS_1
Sontak, sikap karyawan tersebut membuat Nara meradang. "Mbak, mbak dengarkan, apa yang dikatakan calon suami saya." ucap Nara menaikkan nada suaranya.
"Ehh,,, maaf." ujarnya dengan ekspresi malu, sebab dirinya ketahuan memandang calon suami orang dengan tatapan mendamba.
"Jika begitu, mari ikut saya ke belakang. Di sana banyak pilihan gaun. Anda bisa memilih sendiri. Sesuai keinginan anda." jelasnya, dengan mencuri pandang pada Viki.
"Bang, abang tunggu Nara. Kita ke sana berdua. Nara ganti baju dulu." pinta Nara. Viki mengangguk dan mendaratkan pantatnya di kursi yang ada di dekatnya.
Nara menatap dengan sinis karyawan butik tersebut. "Sok kecantikan. Lagian nggak mungkin abang suka sama perempuan model kayak kamu." ucap Nara dalam hati.
Merasa kesal pada karyawan butik tersebut. Pasalnya Nara ada di situ. Sempat-sempatnya terpesona dengan ketampanan Viki.
Nyonya Rahma dan Nyonya Binta tersenyum samar melihat sikap dari Nara. "Ternyata mereka sama ya jeng." bisik Nyonya Binta.
"Iya, sama-sama pencemburu." bisik Nyonya Rahma.
"Khemm,,, Viki." panggil Nyonya Rahma. Viki tidak menyahuti panggilan dari sang mama. Dia hanya mengalihkan tatapannya dari layar ponsel dan memandang wajah sang mama.
"Kenapa sih nggak boleh. Kalian menikah sekali seumur hidup loh." papar Nyonya Rahma. Menurutnya gaun yang baru saja di coba oleh Nara sangat cocok untuk Nara.
"Siapa yang mau menikah dua kali." sahut Viki sama sekali tidak nyambung dengan perkataan sang mama.
"Ayo." ajak Nara, begitu keluar dari kamar ganti.
Akhirnya baik Nara ataupun Viki memilih gaun pengantin berwarna putih. Dengan lengan pendek, tanpa memperlihatkan pundak mulusnya, dan juga dadanya.
Sementara untuk bagian bawah, panjang gaun tersebut menutupi seluruh kaki Nara. Benar-benar hanya memperlihatkan tangan Nara.
Namun demikian, Nara terlihat bak putri di negeri dongeng. Sangat cantik dan manis.
"Putri mama. Astaga, kamu seperti seorang princess sayang." ucap Nyonya Rahma dengan antusias.
Segera Nyonya Binta mengangguk. "Iya, kamu cantik sekali." puji Nyonya Binta.
"Terimakasih ma, terimakasih tante." sahut Nara. Sebab, Nara memanggil Nyonya Binta dengan panggilan tante.
Dan Nyonya Binta tidak mempermasalahkan panggilan yang di berikan padanya dari Nara. Yang paling penting, Nara bisa menerima kehadirannya, itu sudah lebih dari cukup.
"Ini mbak, saya minta di kirim ke alamat ini mbak." ucap Nyonya Rahma.
"Sayang, untuk ijab kobulnya kamu memakai kebaya hadiah dari tante ya." pinta Nyonya Binta, dengan tatapan mengharap.
__ADS_1
Nara terdiam, memandang ke arah Viki dan Nyonya Rahma bergantian. Nyonya Rahma, hanya tersenyum. Menandakan jika beliau menyerahkan semua keputusan pada Nara.
"Pakai saja, asal jangan terlalu seksi. Kamu mengerti maksud abangkan?" ujar Viki, segera Nara mengangguk sembari tersenyum.
Begitu pula dengan Nyonya Binta. Perlahan, beliau semakin mengetahui karakter dan sifat dari Viki maupun Nara.
"Terimakasih Vik, tante senang sekali. Kamu tenang saja, kebayanya sama sekali tidak seksi kok." jelas Nyonya Binta.
Viki memandang ke arah pergelangan tangannya. Dan sepertinya Nara cukup peka akan hal tersebut. "Abang balik saja ke perusahaan. Ada tante Binta sama mama. Abang tenang saja." ujat Nara.
"Huhh,,,, dari tadi siapa yang jagain Nara, sebelum kamu datang." sindir Nyonya Rahma.
Namun bukan Viki namanya jika terlalu menganggap serius ucapan dari sang mama. "Abang balik ke kantor. Kamu baik-baik sama mama dan tante." pamit Viki.
"Ma, Viki kembali ke kantor dulu. Titip Nara." Viki mengecup pipi sang mama.
"Iya." sahut Nyonya Rahma.
"Viki pergi dulu tante." pamit Viki, di angguki oleh Nyonya Binta.
Viki mencium kening Nara, memberikan sesuatu pada Nara. "Loh,,, bang." protes Nara, namun Viki malah melenggang pergi.
"Ma,,," ucap Nara merasa tidak enak, pasalnya dirinya belum resmi menjadi istri dari Viki. Dan Viki sudah memberikan sebuah kredit card tanpa limit.
"Sudah kamu terima saja. Karena memang itu hak kamu. Memang kamu nggak mau menjadi Nyonya Viki?" tanya Nyonya Rahma.
"Maulah ma." ujar Nara cemberut.
"Makanya kamu terima. Jadi, nanti jika kita mau beli apapun, pakai itu saja." goda Nyonya Rahma.
"Jangan ma, kasihan abang." tolak Nara dengan wajah polosnya.
Nyonya Rahma dan Nyonya Binta tertawa lepas melihat ekspresi Nara yang sangat lucu.
"Sudah jeng, perut saya sakit nih,, lebih baik kita cari makan saja. Lapar." ajak Nyonya Binta.
"Benar, ayo sayang." ujar Nyonya Rahma.
Dalam hati Nara, masih merasa was-was. Takutnya jika keduanya mengajak makan di restoran mahal. Dan mereka akan menyuruh Nara membayar menggunakan kartu yang baru saja di berikan oleh Viki.
"Mudah-mudahan tidak terjadi." ucap Nara dalam hati. Melangkah dengan malas di belakang Nyonya Rahma dan Nyonya Binta.
__ADS_1