VIRA (Viki Dan Nara)

VIRA (Viki Dan Nara)
ViRA 95


__ADS_3

"Apa yang kamu dapatkan?" tanya Vanesa pada bawahannya.


"Memang benar Nyonya, jika Tuan Viki memiliki hubungan dengan artis tersebut. Melva." lapornya pada Vanesa.


"Keluar!!" usir Vanesa, tidak puas dengan laporan bawahannya. Dirinya tidak percaya dengan apa yang di laporkan bawahannya.


Vanesa berjalan mondar mandir seperti setrika dengan menggigit jari telunjuknya. Tampak dengan jelas raut wajah rumit yang tersirat di wajah Vanesa.


"Tidak mungkin." ucapnya mendaratkan pantatnya di kursi empuk dan lebar dengan kasar.


Benar saja jika Vanesa tidak percaya. Karena selama mengenal Viki, dirinya mengetahui jika Viki memiliki kelainan dalam ****.


"Bagiamana mungkin. Tidak mungkin, apa bisa sembuh. Mustahil jika Viki sembuh." Vanesa mencubit pelan pangkal hidungnya. "Astaga." gumam Vanesa, menyandarkan bahunya di sandaran kursi.


Ingin sekali menyuruh bawahannya untuk menyelidiki Viki melewati orang yang bekerja di dalam kediaman Tuan Hendra, tapi Vanesa sudah tidak bisa.


Viki memberi pengaman cukup ketat pada rumah tersebut. Hingga sekedar mencuri dengar sepatah kalimat di dalam rumah saja, dia tidak bisa.


Bahkan Viki tidak mengizinkan para pekerja di rumahnya untuk keluar dari rumah. Untuk keperluan sehari-hari, mereka menuliskan pada selembar kertas.


Dan bawahan Viki yang akan membelikan atau membelanjakan segala macam kebutuhan mereka. Sebenarnya mereka selalu bertanya dalam hati.


Namun mereka bisa menebak, karena Viki melakukan semua itu setelah Tuan Hendra kecelakaan. Bahkan sekarang rumah di jaga ketat oleh beberapa bawahan Viki.


Vanesa merasa kepalanya seperti mau meledak. "Kemana perginya dia." geram Vanesa.


Lelaki yang selama ini menjadi tameng dan alat bagi Vanesa untuk membalas dendam pada Viki, tidak terlihat batang hidungnya beberapa minggu terakhir.


Bahkan, nomornya pun tidak aktif. Saat Vanesa bertanya pada bawahannya, dia hanya mendapatkan jawaban jika Boss mereka sedang sibuk dan tidak bisa di ganggu. Sungguh membuat Vanesa semakin jengkel.


"Brengsek. Pasti sekarang dia bersenang-senang dengan wanitanya. Jangan sampai dia melupakan aku. Jika terjadi, semua pengorbananku akan sia-sia." ucap Vanesa gusar.


Karena dirinya sudah rela terkurung dalam istana mewah dan megah hanya untuk satu kata. Dendam.


Keluar dari rumah. Tidak akan Vanesa lakukan. Vanesa yakin jika sekarang Viki sudah menyebar anak buahnya.


Bahkan Vanesa menduga, jika Viki sudah bisa menebak jika dirinya adalah dalang di balik kecelakaan sang papa, Tuan Hendra. "Apa yang harus aku lakukan." Vanesa memandang lurus ke depan seraya merencanakan sesuatu.


Satu sudut bibir Vanesa terangkat. Membentuk senyum miring di bibirnya. "Baiklah, kita akan coba." ujar Vanesa memutuskan.

__ADS_1


"Sampai di mana rasa yang kamu miliki untuk Melva." sinis Vanesa berniat untuk mencelakai Melva. Melihat bagaimana reaksi dan sikap Viki, jika seandainya terjadi sesuatu pada Melva.


"Tapi aku harus berhati-hati. Bisa jadi ini hanya sebuah jebakan Viki untuk aku." gumam Vanesa.


Vanesa perempuan yang memiliki pemikiran luas. Dia juga selalu mempunyai rencana yang matang untuk semua tak tiknya.


Memang Vanesa tidak bisa melindungi diri seperti Ella. Tapi otaknya sangat licik. Dan satu lagi, dia tipikal perempuan penghalal segala cara. Agar tujuannya tercapai.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Silahkan duduk." ucap Tuan Smith dengan ramah. Tidak menyangka jika Viki datang ke perusahaannya.


Saat ini, semua pebisnis sedang membicarakan seorang Viki. Karena sekarang, selain memiliki sebuah perusahaan yang menaungi banyak artis. Viki juga memiliki sebuah pusat perbelanjaan terbesar di negara ini.


Ya, akhirnya ketiga pebisnis yang sebelumnya bekerja sama dengan Viki untuk membangun, atau dengan kata lain meneruskan proyek mereka yang terbengkalai mau dan setuju untuk menjual bagian mereka pada Viki.


Membuat nama Viki semakin di kenal. Dan saat ini, nama Viki di sandingkan dengan nama beberapa pebisnis muda sukses.


Terlebih, Viki malah menambah beberapa lahan di belakangnya. Untuk menjadi pusat bermain untuk anak-anak.


Untuk menggapai semuanya, Viki sudah banyak menghabiskan waktunya. Juga Viki harus memperluas koneksi di bawah tanah.


Viki dan Tuan Smith saling berjabat tangan sebelum Viki mendaratkan pantatnya di kursi. "Saya datang sendiri." ucap Viki. Lantaran Tuan Smith seperti sedang mencari seseorang.


Sejujurnya Tuan Smith terkejut, saat sekertarisnya memberitahu pada dirinya, jika Viki ingin bertemu. Tanpa banyak bertanya, beliau mempersilahkan Viki untuk masuk ke dalam ruangannya.


"Maaf sebelumnya, apakah ada sesuatu hal yang sangat penting. Hingga seorang yang sibuk seperti anda mendatangi perusahaan saya." ujar Tuan Smith membuka perkataannya.


Penasaran. Itulah sekarang yang ada dalam benak Tuan Smith. Karena dirinya dan Viki tidak memiliki perjanjian ataupun kerja sama bisnis sebelumnya.


Meskipun memang, Viki dan sang anak. Renggo memiliki hubungan atau kerja sama bisnis. Namun untuk perusahaan yang di pegang oleh Renggo sendiri. Bukan perusahaan yang Tuan Smith kendalikan.


Viki tersenyum ramah. "Saya datang bukan untuk masalah atau urusan bisnis." ucap Viki.


"Jika saya mempunyai seorang anak perempuan. Pasti saya akan mengira jika anda mendatangi saya karena hal tersebut." ucap Tuan Renggo tertawa renyah.


Viki tersenyum samar. "Memang itu yang sedang saya lakukan sekarang." ucap Viki tenang, membuat tawa Tuan Smith berhenti.


Tuan Smith menaikkan sebelah alisnya mendengar perkataan yang keluar dari mulut Viki. Begitupun dengan Viki. Dengan gaya seorang penguasa, Viki menyandarkan punggungnya di sandaran kursi.

__ADS_1


Dengan pandangan mata menatap sebuah pigura foto besar yang terpasang di dinding. Dimana di dalam pigura tersebut terdapat foto Tuan Smith beserta sang istri, Nyonya Binta. Dan juga putra mereka. Renggo.


Tampak sebuah keluarga kecil yang harmonis.


Jari Viki terangkat, menunjuk tepat ke arah foto tersebut. Dengan sebelah mata sedikit memicing. "Bukankah seharusnya ada seorang gadis cantik, di sana. Empat orang." ucap Viki tetap memandang foto tersebut.


Tuan Smith menegakkan punggungnya mendengar perkataan dari Viki. Tuan Smith sudah bisa menduga, jika Viki mengetahui masa lalunya yang sudah dia tutup rapat-rapat.


"Apa mau kamu?" tanya Tuan Smith, menatap Viki dengan tatapan tajam.


Tidak dapat menebak. Tuan Smit tentu tidak dapat menebak isi hati dari seorang Viki. Terlebih, sebelumnya mereka berdua tidak terlibat masalah dalam hal apapun.


Viki terkekeh pelan. "Tenang saja, saya juga tidak berniat menambahkan satu gambar di foto keluarga anda. Karena itu sungguh tidak pantas." cibir Viki.


Viki berdiri. Merapikan jasnya yang masih tampak rapi. Di susul Tuan Smith yang juga berdiri dengan ekspresi wajah tegang.


"Dalam waktu dekat, saya akan menikahinya. Kami hanya butuh anda sebagai wali. Tidak lebih." ucap Viki.


Deg.... "Menikahinya. Dia." ucap Tuan Smith dalam hati. Dengan susah payah, Tuan Smith menelan salivanya. Ada rasa sesak di dada mengingat putri yang dia lupakan selama bertahun-tahun.


"Tunggu." seru Tuan Smith, saat Viki hendak meninggalkan ruangannya tanpa permisi.


Belum sempat Tuan Smith membuka mulutnya, Viki sudah mengeluarkan suara. "Tetaplah di jalur yang anda ambil selama ini. Maka semuanya akan dalam keadaan baik. Selamanya, dia bukan putri anda. Tapi Nyonya Viki." ucap Viki tegas.


Viki menatap pada Tuan Smith dengan tatapan remeh. "Persiapkan anda pada saatnya tiba. Karena hanya itu yang anda bisa lakukan untuk menebus semua kesalahan anda. Dia sama sekali tidak membutuhkan kehadiran anda dalam hidupnya. Kecuali sebagai wali, Tuan Smith." ucap Viki.


"Selama ini, dia hidup dengan sangat baik. Tanpa anda. Tenang saja." sindir Viki sebelum meninggalkan ruangan Tuan Smith.


Tuan Smith meneguk segelas air putih hingga tandas sepeninggal Viki. Telapak tangannya mengusap keringat di dahinya yang sebesar jagung.


"Kayla. Putriku." ucap Tuan Smith nanar. Hanya menyebut namanya, membuat dada beliau serasa sesak. Ada rasa bersalah yang teramat besar dalam dirinya.


"Tunggu. Jika Kayla mau menikah, kenapa keluarga Vanya terlihat seperti santai dan tenang." gumam Tuan Smith.


"Kenapa malah Viki yang datang. Bukan Vanya." lanjut Tuan Smith.


Tuan Smith mengusap wajahnya dengan kasar. "Kayla." senyum samar tersirat di wajah Tuan Smith. Segera Tuan Smith menghubungi orang kepercayaannya.


"Cari tahu semua tentang Viki. Dan perempuan yang sekarang dekat dengannya." perintah Tuan Smith.

__ADS_1


__ADS_2