
"Aaaa....!!!!" Melva meluapkan emosinya. Mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi layaknya pembalap yang sedang melaju di sirkuit.
Bahkan dia tidak peduli dengan keselamatan dirinya dan pengguna jalan lainnya. Dirinya benar-benar tidak terima dengan apa yang dilakukan Nara dan Viki di depan matanya.
"Kalian berdua. Kalian,,!!! Gue akan balas kalian..!!! Brengsekkk...!!" teriak Melva dengan kondisi emosi saat menyetir mobil dan sekali-kali memukul-mukul stri mobil.
Ya,,, Melva merebut kunci mobil dari sopir yang mengantarkannya pergi ke perusahaan Viki. Sang sopir hanya bisa diam dan membiarkan Melva mengendarai sendiri mobil tersebut.
Namun, sang sopir segera menghubungi Tuan Diego dan mengatakan jika Melva mengendari mobil sendiri. Dalam keadaan emosi tinggi.
Ciiittttzzz.....
Brakkkk.....
Melva menyalip sebuah mobil di depannya dengan kecepatan tinggi. Tanpa menghiraukan keselamatannya.
Dan benar saja, sebuah truk besar berjalan dari arah berlawanan. Membuat Melva yang berkendara dengan kecepatan tinggi tak bisa menghindari truk tersebut.
Dan inilah yang terjadi. Mobil Melva bertabrakan dengan truk besar bermuatan berat dari arah lain di depannya. Membuat mobil Melva ringsek, hingga mobil Melva masuk ke dalam kolong truk tersebut.
Miris.
Berita kecelakaan yang menimpa sang artis langsung mencuat menjadi berita utama yang menggemparkan. Menutupi berita tentang Viki dan Nara.
Tapi tak lantas, berita tersebut disiarkan tanpa membawa nama Nara dan Viki.
Berita tentang kecelakaan Melva, malah di kait-kaitkan dan dihubungkan dengan rasa sakit sang artis, karena Viki ternyata menjalin hubungan dengan gadis bernama Nara.
Dan saat ini, Melva tengah dalam kondisi kritis, di bawah penanganan dan perawatan seorang dokter di rumah sakit ternama di kota ini.
"Suruh mereka menjaga Nara dengan baik. Jangan sampai membiarkan Nara keluar dari ruangan saya." perintah Viki pada Rey.
"Baik Tuan."
Begitu mendengar berita mengenai kecelakaan yang menimpa Melva, hati Viki langsung merasa gusar. Segera Viki undur diri, padahal pembahasan bisnis pada pertemuannya dengan seorang klien belum selesai.
Namun Viki lebih memilih untuk meninggalkan tempat tersebut. Bukan karena apa yang menimpa Melva. Tapi Viki lebih khawatir pada Nara.
__ADS_1
Sebab, semuanya menghubungkan kecelakaan Melva, setelah dirinya dan Nara melakukan adegan romantis secara langsung.
Dan mereka semua tahu, jika Melva menaruh hati pada sosok Viki. Itulah yang menjadikan Viki merasa khawatir.
Pasti fans Melva, ataupun semua orang menyalahkan keduanya. Dan itu tidak baik untuk keselamatan Nara.
Tanpa menunggu lama, segera Viki keluar dari dalam mobil, setelah mobil berhenti di depan perusahaan miliknya. "Nona Nara masih berada di ruangan anda Tuan." lapor bawahan Viki.
Viki hanya sedikit mengangguk dan segera melangkahkan kakinya ke dalam ruangan miliknya. "Ambil alih semua pekerjaanku." perintah Viki, saat dirinya berada di depan ruangannya.
"Baik Tuan." sahut Rey, sementara Viki langsung masuk ke dalam ruangan.
"Jangan biarkan siapapun masuk. Hubungi aku jika ada sesuatu." perintah Rey pada anak buahnya yang menjaga pintu ruangan Viki.
"Baik boss." ucap mereka serempak.
Viki bernafas lega, melihat sang belahan hati sedang tidur cantik di ruang pribadinya. Viki mendekat, mencium pipi Nara dengan pelan tanpa ingin membangunkan Nara dari tidur lelapnya.
"Tenang saja,
Perlahan, Viki keluar dari ruangan. Duduk di kursi kebesarannya. Mengeluarkan ponsel dari dalam saku miliknya.
"Aku ingin dia segera pulih, setidaknya dia mengingat apa yang terjadi padanya. Sebelum di masukkan ke rumah sakit jiwa." ujar Viki pada lawan bicaranya, dan langsung mematikan panggilan teleponnya.
Viki yakin, jika Tuan Diego tidak akan tinggal diam. Dia pasti akan merencanakan sesuatu lagi. Sebab, rencananya gagal dengan menggunakan foto dirinya.
Di tambah, saat ini putrinya sedang terbaring kritis. Pasti Tuan Diego menyalahkan kecelakaan yang menimpa putrinya pada dirinya dan Nara.
Seandainya Viki tidak melibatkan Nara, mungkin Viki akan jauh lebih rileks dan tenang. Akan tetapi, saat ini pasti semua orang tengah menyoroti hubungan keduanya.
"Inilah alasanku, kenapa tidak ingin mempublish hubungan kita." gumam Viki sembari mendesah.
Viki terlalu menyayangi dan mencintai Nara. Tentu saja, dirinya tidak ingin terjadi sesuatu yang bisa menyakiti sang kekasih. Dalam bentuk apapun.
"Aku harus bergerak cepat menyingkirkan Tuan Diego. Iya, secepatnya. Dia terlalu berbahaya untuk Nara." ucap Viki dalam hati.
"Ke ruanganku, sekarang." perintah Viki pada Rey, lewat interphone yang terletak di atas mejanya.
__ADS_1
"Tuan." kata Rey, setelah dirinya berdiri di depan meja kerja Viki.
"Cari semua, apapun yang bisa menjatuhkan Diego. Cari tahu tentang suap yang di lakukan pada bisnis tambang di luar pulau." perintah Viki.
"Baik Tuan. Maaf, bagaimana dengan istri pertama Tuan Diego?" tanya Rey.
"Saya juga belum sepenuhnya yakin dengan rencana kita menggunakan istri pertamanya tersebut. Apalagi, sampai sekarang dia hanya sedikit menunjukkan kemajuan. Kita tidak boleh terpaku pada satu titik." ujar Viki.
"Saya mengerti Tuan." ucap Rey, dan segera meninggalkan ruangan Viki.
"Apa yang terjadi?" tanya Nara, yang ternyata sudah terjaga sedari tadi. Namun dirinya urung menunjukkan batang hidungnya. Lantaran Viki masih berbincang dengan Rey.
"Kamu sudah melihat beritanya?" tanya Viki, dengan tangan menepuk ke arah pahanya sendiri.
Nara tersenyum, mengerti kemauan dari sang kekasih. "Katakan." pinta Nara, setelah mendaratkan pantatnya di paha milik Viki.
"Sama seperti yang kamu baca di berita." ungkap Viki, malas menceritakan apapun tentang Melva.
Nara menghembuskan nafas panjang. "Baiklah, lantas kenapa nama kita ada di setiap kalimat mereka? Apa mereka pikir kita penyebabnya?" cicit Nara.
Bukannya Nara tidak paham dengan pemberitaan tersebut. Namun dia hanya ingin mengeluarkan unek-unek di dalam benaknya.
"Tidak perlu risau. Jangan kamu pikirkan tentang apapun yang mereka katakan. Pikirkan saja tentang aku." ucap Viki nyleneh, menaruh dagunya di pundak Nara.
"Ckk,,, Abang, kenapa selalu menyebalkan sih." gerutu Nara.
Sebab apa yang dilontarkan Viki sama sekali tidak menjawab apa yang dia tanyakan.
Viki terkekeh pelan. Sungguh, Viki tidak ingin Nara menjadi kepikiran tentang hal tersebut. Viki memejamkan matanya.
"Astaga, kenapa gue lupa. Sebaiknya gue minta tolong Denis lagi." ucap Viki dalam hati, untuk meredam pemberitaan mengenai kecelakaan yang di alami Melva.
Setidaknya, Nara tidak akan di serang fans Melva melalui dunia maya. Ya,, bukankah sedikit mengurangi kekhawatiran Viki.
"Abang kenapa?" tanya Nara, saat Viki memejamkan mata.
"Tidak, abang hanya menikmati harum rambut kamu." ujar Viki, menempelkan hidungnya ke leher Nara.
__ADS_1
"Bang,,, geli... Menjauh." Nara sedikit mendorong kepala Viki. Namun sayang, bukannya menjauh, Viki malah semakin menghirup wangi tubuh Nara.