
Di rumah Viki, Giska terbangun dari tidur lelapnya. "Jam berapa sekarang." gumamnya, melihat ke arah di mana terdapat jam yang menempel di dinding, mulutnya menguap dengan telapak tangan mengucek-icek kedua matanya.
Waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. "Astaga, aku melewatkan makan malam." ujar Giska dengan tergesa-gesa bangun dan segera masuk ke dalam kamar mandi untuk membasuh wajahnya.
Ya, Giska sampai detik ini masih tinggal di kediaman Tuan Hendra. Dia selalu menghindar saat bertemu dengan Nyonya Rahma.
Bahkan Giska hanya sekali bertemu dengan Viki. Yakni saat mereka sarapan.
Terlebih, di usia kehamilannya yang masih muda, Giska memang lebih banyak menghabiskan waktu di dalam kamar.
Mungkin karena bawaan dari bayi. Giska merasa mudah mengantuk. Menjadikan Giska sering terlelap di setiap waktu. Bahkan saat semua orang sibuk dengan pekerjaannya, Giska malah tertidur dengan nyenyak.
Semua orang di kediaman Tuan Hendra hanya membiarkannya. Bahkan mereka menganggap jika Giska tidak ada di rumah tersebut.
Mereka juga merasa aneh. Namun Giska mengatakan pada mereka jika dirinya sedang tidak enak badan. Dan mereka percaya saja. Sebab, mereka malas meladeni Giska.
Yang terpenting bagi mereka adalah Giska tidak membuat ulah. Hanya itu saja.
Bagai di rumahnya sendiri, Giska dengan santai mencari makanan di dapur. Ingin sekali Giska berteriak memanggil pembantu di rumah Viki untuk melayaninya.
Namun Giska masih punya otak untuk tidak melakukan semua itu. Karena jika dia melakukannya, pasti saat itu juga dia akan di usir dari rumah tersebut.
"Hahh,,,," desah Giska menghela nafas, sambil menghangatkan sayur.
Berandai-andai jika dia sekarang berada di rumahnya sendiri. Pasti dia akan di layani, dia akan merasakan bagai seorang putri.
Giska menggelengkan kepala. Mengenyahkan sekelebat bayangan yang ada di dalam benaknya. "Ingat Giska, tujuanmu ke sini untuk mencarikan dia papa." ucapnya dalam hati, menatap perutnya yang masih rata.
__ADS_1
Segera Giska membawa makanannya ke meja makan. Lagi-lagi Giska menghela nafas panjang. Dengan tatapan malas, dia menatap makanan di depannya.
Dengan malas dan seperti memaksa, Giska memasukkan makanan di piring, sesuap demi sesuap ke dalam mulutnya. Padahal saat ini, Giska sedang menginginkan nasi goreng seafood yang masih hangat.
Ngidam. Pasti saat ini Giska sedang mengalaminya. Tapi sayangnya, demi keinginannya. Dia harus menekan rasa ngidamnya.
"Oke, Giska,,, hilangkan bayangan nasi goreng seafood di otak kamu." gumam Giska memejamkan mata, menenangkan pikirannya dari keinginan makan nasi goreng seafood.
Giska kembali membuka mata dan segera menyantap makanan di depannya. "Akhirnya, habis juga." ucap Giska menyantap habis makanan di atas piring hingga sebutir nasipun tidak tersisa.
Susu ibu hamil. Ya, seharusnya Giska sudah meminumnya. Tapi, lagi-lagi kerena egonya yang ingin memiliki Viki. Giska harus mengesampingkan hal tersebut. Bahkan Giska tidak meminum vitamin ibu hamil, meski sebutir.
Tanpa mencuci piring, Giska kembali ke dalam kamarnya. Tapi langkahnya terhenti, saat dia melewati tangga. Sebab, kamarnya berada di lantai bawah.
Giska menatap ke lantai atas. "Mungkin sekarang sudah jam sepuluh lebih." gumam Giska.
Tiba-tiba Giska tersenyum licik. Menengok ke sekeliling, memastikan tidak ada orang yang sedang melihatnya. "Mungkin ini saatnya, aku harus melakukan rencanaku. Aku tidak bisa menunda-nunda lagi." ucap Giska dalam hati, menatap perutnya yang masih datar.
Giska merasa harus secepatnya melakukan apa yang ada di benak liciknya tersebut. Karena pasti semakin lama menunda, semakin membesar pula perut Giska.
Tanpa Giska ketahui, jika saat ini Viki tidak berada di dalam kamarnya. Karena saat ini, Viki dan Nara masih berada di pesta pernikahan sahabat Viki.
Giska memang tidak mengetahui keberadaan Viki, lantaran dirinya sudah terlelap sejak pukul enam sore.
Di rasa aman, Giska menaiki anak tangga dengan perlahan. Dengan pandangan mata tetap memperhatikan sekitarnya.
"Mau kemana ular betina itu? Bukankah kamarnya di bawah?" gumam Mbak Siti.
__ADS_1
Mbak Siti memang belum tidur. Beliau mendengar ada bunyi dari dapur. Takut jika sang majikan yang berada di dapur, segera Mbak Siti pergi untuk melihat.
Guna untuk melakukan atau membantu apa yang di lakukan majikannya di dapur. Bukan pemilik rumah yang mbak Siti lihat, melainkan Giska yang sedang duduk di meja makan. Dan makan dengan lahap.
Saat ingin kembali ke kamar, entah kenapa Mbak Siti mengurungkan niatnya. Dan benar, sesuai apa yang ada di otak mbak Siti, jika Giska malah berkeliaran. Bukannya langsung masuk ke dalam kamarnya.
Di rasa Giska sudah sampai tangga paling atas, mbak Siti segera keluar dari persembunyiannya. Dan segera menyusul Giska ke lantai atas.
"Apa yang akan di lakukan lampir itu?" tanya mbak Siti penasaran.
"Lohhh...." gumam mbak Siti, melihat Giska dengan perlahan malah masuk ke dalam kamar Viki.
Mbak Siti membiarkan Giska masuk ke dalam kamar Viki. Toh penghuninya sedang tidak ada di dalam. "Dasar ular. Sekali ular, tetap ular." sinis Mbak Siti.
Segera mbak Siti turun ke lantai bawah. Menunggu kedatangan Nara dan Viki di ruang tamu. "Lebih baik aku menunggu Den Viki dan Nara pulang. Bahaya jika sampai Den Viki masuk ke dalam kamarnya." Mbak Siti duduk di kursi ruang tamu.
Sementara di lantai atas, tepatnya di dalam kamar Viki. Giska tersenyum lebar, menatap ranjang Viki. Gelap. Keadaan kamar Viki saat ini sangat gelap. Lantaran Viki tidak menyalakan lampu kamarnya.
Dengan perlahan, Giska mulai melangkahkan kakinya. Meski lampu di kamar Viki tidak di nyalakan, namun kamar tersebut mendapat sorot cahaya dari luar lewat jendela. Membuat kamar Viki sedikit remang-remang.
Giska tersenyum senang, saat tangannya menyentuh pinggiran ranjang milik Viki. "Huhhhffft..." Giska menarik perlahan nafasnya.
"Sebentar lagi. Sebentar lagi kamu akan mempunyai papa yang tampan dan hebat." ucap Giska mendaratkan pantatnya di tepi ranjang dengan perlahan.
Guling. Dalam keadaan remang, ada sebuah guling di tengah ranjang. Mungkin Giska mengira itu adalah tubuh Viki. Lantaran Giska memang hanya melihat dalam keadaan minim cahaya.
"Semoga usahaku tidak sia-sia. Dengan begini, Viki pasti akan menjadi milikku. Masa bodo, meski Viki terpaksa. Yang terpenting, gue akan menikah dengannya." ucap Giska dalam hati.
__ADS_1
Dengan perlahan, Giska membaringkan badannya di ranjang milik Viki. "Ehh,,," ucap Giska, saat tangannya menyentuh sesuatu di sampingnya.
Giska mengerutkan keningnya. Merasa ada yang aneh dengan benda di sampingnya, yang dia kira adalah tubuh Viki.