
"Ada apa,, hemmm?" Viki mengelus pipi sang istri dengan lembut.
Viki tahu, jika sang istri tidak sedang tidur di dalam ruangan. Melainkan tengah mencuri dengar pembicaraan yang terjadi antara Viki dan keluarga yang telah mencampakkanya.
Mata Nara tampak memandang sedih dan cemas. "Mereka..." cicit Nara tak dapat meneruskan kalimatnya.
Viki menggenggam kedua telapak tangan Nara. "Katakan, apa sekarang yang kamu inginkan sayang?" tanya Viki menatap lamat-lamat pada sang istri.
Nara menggeleng, dengan air mata sudah berkumpul di pelupuk mata. "Nara nggak mau, Nara nggak mau kembali pada mereka." meluncurlah air mata Nara dengan bebas di kedua pipi mulusnya.
Tangan Viki terulur menghapusnya dengan perlahan. "Husssttt... kenapa kamu bisa berkata seperti itu?" tanya Viki dengan lembut.
"Abang tadi bilang,,, jika... hikssss..." Nara sesegukan, tak dapat meneruskan kalimatnya. Seakan semua perkataan yang ingin dia keluarkan tercekat di tenggorokan.
"Heyy, tatap abang." Viki memegang dagu Nara, mengarahkannya untuk menatapnya. "Mana mungkin abang menyerahkan istri kecil abang yang imut dan cantik pada mereka." ujar Viki.
Nara berkedip lucu menatap sang suami. "Benarkah? Lalu, kenapa abang tadi bilang seperti itu?" tanya Nara merasa gelisah.
Viki tersenyum, mencubit gemas pipi Nara. "Kamu pikir mereka akan mendapatkannya dengan mudah. Tidak akan. Bahkan, mereka tidak akan bisa mendapatkan apa yang mereka inginkan. Jadi, jangan khawatir. Mengerti." Viki membawa Nara ke dalam pelukannya.
"Abang, jangan berikan Nara pada siapapun. Jangan tinggalkan Nara sendirian." cicit Nara.
"Bukankah abang sudah pernah berjanji. Dan kamu harus selalu mengingatnya. Suamimu ini, bukan lelaki yang akan mengingkari janjinya. Ingatlah itu selalu, sayang. Tanamkan dalam hatimu." jelas Viki mengelus rambut panjang hitam milik Nara.
"Dan satu lagi. Jangan pernah kamu meragukan abang." sambung Viki.
__ADS_1
Di hotel tempat menginap Vanya dan kedua orang tuanya, tampak keadaan sedikit tegang. Karena lontaran perkataan yang Viki ucapkan.
"Apa yang harus kita lakukan?" tanya Vanya pada sang papa.
"Diam..!! Jika bukan karena kebodohanmu, kita tidak akan kehilangan kekayaan!!" bentak Tuan Beno pada sang anak.
Meski Tuan Beno masih mempunyai penghasilan dari perusahaannya di luar negeri, namun menurutnya itu masih belum seberapa.
Sebab, itu hanya sebuah perusahaan kecil. Dan yang menjadikan Tuan Beno merasa khawatir adalah, perusahaan tersebut sedang dalam keadaan tidak baik-baik saja.
Kekayaan yang dengan mudah Vanya berikan pada suaminya jauh lebih besar jumlahnya dari pada perusahaan yang di pegang sendiri oleh Tuan Beno.
Dan sekarang, kekayaan tersebut jatuh dan dikuasai oleh istri pertama dari suami Vanya. Itupun dengan bantuan yang diberikan oleh Viki.
Tuan Beno melepas switer yang dia kenakan. "Aku juga bodoh. Kenapa aku begitu percaya pada kamu. Anak yang tak bisa di andalkan. Dan aku, malah mengalihkan semua hartaku padamu. Dan sekarang, kita harus berhemat." kesal Tuan Beno, mendaratkan pantatnya di kursi.
"Tidak!!" teriak Vanya. "Sampai kapanpun, Vanya tidak akan melakukannya." tolak Vanya.
"Baiklah, jika kamu tidak mau melakukannya. Pikirkan jalan keluar lainnya." suruhnya pada sang putri yang keras kepala.
Nyonya Rianti tersenyum sumir. "Kenapa, otakmu buntu. Kamu memang anak tidak berguna." ejeknya, melihat Vanya terdiam.
"Benar. Hanya Smith yang bisa menolong kita. Dan papa yakin, dia akan melakukannya." senyum licik terukir di bibir lelaki tua tersebut.
Ternyata semua sudah di antisipasi oleh Viki. Tentu saja termasuk Tuan Smith. Dimana dia adalah papa kandung dari Nara. "Lalu bagaimana dengan pernikahan kami. Semua pasti terdaftar di catatan sipil." ucap Tuan Smith, saat Rey mendatangi beliau atas perintah Viki.
__ADS_1
Rey tersenyum. "Tuan Viki tidak pernah menjalankan permainan setengah-setengah Tuan. Dan jangan pernah mengkhawatirkan soal hasilnya. Yang Tuan Viki inginkan, hanyalah bantuan dari Tuan Smith." jelas Rey.
"Tapi Rey, Nara anak kandung suami saya. Pasti tes DNA mereka akan cocok. Dan benar kata suami saya. Jika pernikahan mereka pasti masih tercatat di KUA. Meski mereka sudah bercerai." papar Nyonya Binta dengan cemas.
Rey tersenyum. "Mereka sudah membuat Nyonya Nara sengsara. Dan tanpa di cari, mereka datang menghadap ke pada Tuan saya. Apa menurut anda, Tuan Viki akan membiarkan mereka hidup dengan mudah." tutur Rey dengan yakin.
"Yang mereka inginkan adalah harta. Dan Tuan Viki, sudah berhasil membawa mereka ke sini, mendatangi Tuan Viki. Dengan cara yang Tuan Viki inginkan dan mainkan." jelas Rey.
"Maksud kamu, perusahaan Beno. Viki yang melakukan?" tanya Tuan Smith tidak percaya.
Rey mengangguk. "Benar Tuan. Dan sekarang, penghasilan perusahaan tersebut perlahan mulai menurun. Tentu saja, jalan satu-satunya adalah Nyonya Nara, yang sudah menikah dengan Tuan Viki. Saya kira pasti anda paham, kemana ceritanya akan bermuara." jelas Rey.
"Orang-orang licik. Dulu mereka membuang Nara. Sama sekali tidak mencari Nara. Membiarkan Nara hidup sengsara bertahun-tahun. Dan sekarang, setelah Nara menikah dengan Viki. Mereka kembali. Astaga,,,, kenapa ada orang seperti mereka." sungut Nyonya Binta.
"Ma, papa juga dama seperti mereka." papar Tuan Smith dengan suara parau.
"Beda pa. Papa tidak membuang Nara. Mereka yang menghalangi papa saat papa ingin bertemu Nara. Makanya, sejak saat itu mama tak memperbolehkan lagi papa ketemu Nara. Mama tidak mau, papa dipermalukan dan diperlakukan seenaknya. Jika semua berakhir seperti itu, mereka membuang Nara. Mama pasti akan menyuruh papa mengambil Nara. Merawatnya seperti mama merawat Renggo." jelas Nyonya Binta panjang lebar.
"Khemmm.." Rey berdehem, dia harus menyelesaikan tugasnya. Bukan mendengar penyesalan. "Bagaimana Tuan, anda bersedia?" tanya Rey.
"Baiklah. Saya percaya dengan Viki." ucap Tuan Smith yakin.
"Tenang saja Tuan, mana mungkin Tuan Viki menyerahkan istrinya pada mereka." ucap Rey menyakinkan Tuan Smith.
"Baik Rey. Katakan pada Viki, kami akan melakukan semua yang Viki minta. Jangan khawatir. Kami akan melakukannya dengan baik." ujar Nyonya Binta dengan yakin.
__ADS_1
"Memang sebaiknya seperti itu Nyonya. Kita harus segera menyelesaikan masalah ini. Sebelum menantu Nyonya datang." ucap Rey tersenyum penuh makna.
Nyonya Binta menggeleng kecil. "Semoga cucuku akan menjadi manusia yang lebih berguna untuk orang lain." ucap Nyonya Binta.