VIRA (Viki Dan Nara)

VIRA (Viki Dan Nara)
ViRA 84


__ADS_3

Puspa melewati jalan depan kamar Viki. Dengan nampan berisi air bersih di atasnya. Entah kenapa Puspa repot-repot membawa air dari lantai bawah.


Padahal, jika dia membutuhkan air. Di dalam ruang rawat Tuan Hendra sudah melimpah air. Tinggal memutar kran, air mengucur.


Jika menginginkan air minum, pembantu di rumah Tuan Hendra juga sudah menyediakannya setiap hari.


"Maaf." ucap Puspa, saat dirinya menabrak tubuh Viki yang baru saja keluar dari kamar. Membuat pakaian kerja yang digunakan oleh Viki basah karena air yang di bawa Puspa


Viki mengangkat tangannya, saat Puspa hendak membersihkan pakaiannya yang basah. "Ckkkk,, berjalan lah menggunakan mata." kesal Viki kembali masuk ke dalam kamar.


Viki sedang terburu-buru. Lantaran akan ada pertemuan penting hari ini dengan ketiga pengusaha untuk membahas proyek mereka yang sudah rampung.


Dikarenakan tergesa-gesa, Viki masuk ke dalam kamar tanpa menutup pintu kamar. Melemparkan tas kerjanya ke kasur empuk dan besar miliknya.


Segera Viki melepas semua pakaian yang menempel di badan atas Viki. Hingga dasi yang terlilit di lehernya.


Puspa menggigit bibirnya, melihat pemandangan yang menggoda imannya. Tubuh putih bersih dengan perut kotak-kotak. Dan lengan kekar.


Membuat tangan Puspa ingin sekali menyentuhnya. Bahkan, pikiran liarnya sudah mulai berfantasi. "Bagaimana jika tubuh itu mengunkungku. Pasti sangat nikmat." ucapnya dalam hati.


Sementara di dalam kamar, Viki tampak berjalan mengambil perlengkapan pakaiannya. Dan mulai memakai kemeja berwarna navy.


"Apa yang kamu lakukan!!" bentak Viki, mencekal pergelangan tangan Puspa yang hendak menyentuk kemeja Viki.


Saking terburu-buru, Viki sampai tidak sadar jika Puspa melangkahkan kakinya ke dalam kamar miliknya.


Puspa sedikit meringis, saat tangannya terasa sakit. Karena cengkeraman yang kuat dan erat dari Viki. "Saya hanya ingin membantu Tuan Viki." ucap Puspa dengan lembut.


Viki melepaskan cekalan tangannya di lengan Puspa. "Keluar." usir Viki.


Tapi Puspa tetap kekeh. "Semua terjadi karena saya. Dan saya hanya berniat membantu Tuan." bujuk Puspa.


"Saya bilang... Keluar!!" hardik Viki dengan tatapan menyalang.


Puspa sedikit terlonjak kaget. Tapi Puspa sebisa mungkin menahan perasaan takutnya. "Tapi...." ucap Puspa terhenti, karena terdengar suara Nara.


"Sus Puspa... Ada apa sayang." ucap Nara mendekat ke arah keduanya. Sebenarnya Nara melihat dan mendengar saat Viki membentak Puspa.


"Akan aku perlihatkan. Siapa yang lebih pantas untuk Abang." ucap Nara dalam hati.

__ADS_1


Nara segera berdiri di depan Viki. Membantu Viki mengancingkan kancing kemejanya. "Jangan membentak sus Puspa. Mungkin beliau hanya ingin membantu kamu." tangan Nara dengan cekatan mengancingkan semuanya.


Nara beralih mengambil dasi, dan melingkarkannya di leher Viki. "Aku tidak suka ada orang asing masuk ke dalam kamarku." ujar Viki dingin.


"Iya sayang, aku paham." Nara merapikan dasi di leher Viki. "Lagi pula, sus Puspa bukan orang asing." Nara tersenyum memandang ke arah Puspa.


Nara mengambil jas milik Viki, membantu Viki memakainya. "Sus Puspa itu perempuan yang merawat papa kamu. Dia yang menjaga dan kamu bayar untuk selalu memantau kesehatan papa kamu." ucap Nara dengan manis.


"Sus, maaf. Apa anda bisa keluar dahulu." usir Nara dengan halus. "Calon suami saya tidak nyaman jika ada orang lain di sini." ucap Nara tersenyum ramah.


Padahal senyum yang Nara tunjukkan adalah senyum kemenangan. Senyum kepemilikan. Dan senyum untuk menunjukkan, dimana seharusnya Puspa berada.


"Maaf, baik." ucap Puspa keluar dari dalam kamar Viki.


"Selesai." ucap Nara, melihat penampilan Viki sudah rapi dan pastinya sangat menawan.


Viki menangkup kedua pipi Nara. Mencium bibir Nara dengan lembut dan singkat. "Aku berangkat dulu." pamit Viki.


"Tidak sarapan?" tanya Nara.


"Nanti. Bersama beberapa rekan kerja." jelas Viki.


Ceklek.... Nara membuka pintu dari luar. Membuat Puspa dan Mbak Mira menoleh ke arah pintu. Karena memang pagi ini, Mbak Mira sedang membersihkan kamar rawat Tuan Hendra.


Nara tersenyum menatap mbak Mira. "Mau melihat Tuan?" tanya Mbak Mira, dijawab anggukan oleh Nara.


"Pagi om." sapa Nara. Mengambil kursi single berukuran sedang dan duduk di samping ranjang Tuan Hendra.


Nara mengambil telapak tangan Tuan Hendra. Dan mencium punggung telapak tangannya. "Om kapan bangun. Nara sudah kangen." ucap Nara dengan tatapan sedih yang di sembunyikan.


Nara mendekat ke telinga Tuan Hendra. "Om, abang sudah menemukan kedua orang tua Nara. Apa om tidak ingin bertemu mereka." bisik Nara.


Karena tidak mungkin Nara berbicara dengan nada keras. Lantaran bukan hanya dirinya dan Tuan Handra saja yang berada di dalam ruangan.


"Om, Nara ke bawah dulu. Mau sekolah." pamit Nara. Sementara Bima sedang bersama tukang kebun. Akhir-akhir ini, Bima memang sering bersama tukang kebun yang bekerja di keluarga Viki.


Lantaran anak seusia Bima sangat senang bermain tanah dan juga tanaman. Dan juga air.


Sebelum keluar dari kamar rawat Tuan Hendra, Nara mengucapkan sebuah kalimat pada Suster Puspa. "Sus, saya minta. Jangan sekali-kali masuk ke dalam kamar bang Viki." ingat Nara dengan tatan tidak suka.

__ADS_1


Mbak Mira terkejut mendengar perkataan Nara. Yang artinya jika Puspa pernah masuk ke dalam kamar Viki. "Ngapain. Kapan?" tanya Mbak Mira dalam hati.


"Bekerjalah dengan baik. Karena saya yakin, anda perempuan baik-baik. Tidak akan mungkin datang kepada lelaki dan menyodorkan diri." sindir Nara.


"Maaf, tadipun saya tidak sengaja membuat pakaian Tuan Viki kotor." kilah Puspa.


"Apapun alasannya. Tolong. Jaga sikap Anda." tekan Nara.


Mbak Mira melirik sinis ke arah Puspa. Di tangga Nara berpapasan dengan dokter Andrew yang baru datang. "Dokter." sapa Nara, berjabat tangan dengan Andrew.


"Mau memeriksa om?" tanya Nara. "Iya. Saya masuk dulu." pamit Andrew.


"Silahkan." kata Nara tersenyum ramah.


Segera Nara menuruni anak tangga. Karena sang guru sudah datang. "Maaf, Nara telat." ucap Nara tidak enak.


"Tidak masalah." ucap Alif. Segera Nara duduk dan membuka bukunya untuk memulai belajarnya.


Alif merasa takjub dengan perkembangan Nara. Meskipun sebelumnya Alif pernah mendengar jika Nara belum pernah selesai SD. Namun Nara dangat cepat menyerap pelajaran yang di berikan darinya.


"Nara." panggil Alif lirih.


"Iya kak." Nara menghentikan gerakan tangannya yang sedang menulis.


"Boleh saya meminta nomor ponsel kamu?" tanya Alif dengan hati-hati.


"Baik." ucap Nara tersenyum. Membuat Alif merasa senang. Tapi sedetik kemudian, Alif seperti di hempaskan pada dasar jurang.


"Nanti Nara tanya calon suami Nara dulu. Soalnya dia orangnya cemburuan." imbuh Nara.


Senyum Alif langsung menghilang. "Calon.... cal--lon suami. Calon suami." gumam Alif terdengar Nara.


"Iya. Calon suami Nara. Anak dari Nyonya Rahma. Pemilik rumah ini." jelas Nara berentet.


Di dalam kamar Tuan Hendra, Dokter Andrew di dampingi suster Puspa sedang memeriksa Tuan Hendra. "Permisi, saya panggilkan Nyonya dulu." pamit Mbak Mira.


Karena saat ini, Nyonya Rahma sedang berada di kamarnya. Beliau sedang mandi.


"Bekerjalah dengan baik. Tugas kamu hanya memastikan kondisi Tuan Hendra. Jika sampai kamu melakukan kesalahan, saya akan segera mencari pengganti kamu." ucap Andrew pada Puspa.

__ADS_1


"Baik dok."


__ADS_2