VIRA (Viki Dan Nara)

VIRA (Viki Dan Nara)
ViRA 87


__ADS_3

Cahaya kamera blizt dari awak media mengena pada kedua wajah yang tampak tampan dan cantik. Bak pasangan masa kini yang sangat serasi.


Melva tersenyum manis dengan tangan melingkar di lengan Viki. Seolah memberitahu semua orang, jika dirinya dan Viki memiliki hubungan. Jika Viki adalah miliknya.


Berbeda dengan Viki, yang menampilkan ekspresi datar di wajah tampannya. Tapi sialnya, ekspresi datar tersebut malah menambah pesona bagi seorang Viki.


"Apa anda berdua mempunyai hubungan?" tanya sang pencari berita. Dengan tangan menyodorkan alat kecil di depan Viki dan Melva. Untuk digunakan merekam setiap kata atau kalimat yang keluar dari mulut keduanya.


"Apakah kalian berdua sepasang kekasih?"


"Berapa lama kalian menjalin hubungan indah ini?"


"Apa kalian memang menyembunyikan hubungan ini? Kenapa?"


"Kenapa kalian berdua berada disini?"


Secara berentet, pencari berita bertanya pada keduanya. Hingga Melva membuka suara untuk menjawab pertanyaan tersebut.


Melva tersenyum. "Maaf, kami tidak perlu menjawab pertanyaan kalian. Sepertinya kalian sudah cukup pintar untuk menilai sendiri." jelas Melva dengan sombongnya.


Melva mengira jika diamnya Viki adalah sebuah jawaban. Jika Viki menerima menerima apa yang di tanyakan wartawan. Bahwa Viki dan Melva memang ada hubungan spesial.


Apalagi terlihat Viki memegang paper bag. Para wartawan mengira jika keduanya tengah berbelanja. Terlebih, Rey menjauh dari Viki dan Melva.


Rey sengaja melakukannya. Karena mendapat perintah dari isyarat yang di berikan oleh Viki. Dan Rey paham betul, apa yang akan di lakukan oleh Viki.


"Tuan, ternyata anda begitu licik. Eh bukan. Cerdas." ucap Rey dalam hati. "Melva, sekarang kamu tersenyum. Tapi tidak tahu untuk ke depannya. Mungkin senyummu akan menjadi sebuah tangisan." gumam Rey tersenyum sinis. Berdiri tak jauh dari mereka.


"Terimakasih Melva. Lakonmu sangat membantuku untuk menemukan perempuan iblis tersebut." ungkap Rey dalam hati.


Ternyata Viki dan Rey sudah menemukan siapa sosok di balik kecelakaan yang menimpa Tuan Hendra. Sayangnya, dia bersembunyi dengan aman.


Membuat Viki kesulitan untuk menemukannya. Dan Viki yakin, jika ada seseorang yang membantunya. Karena tidak mungkin, dia yang hanya orang biasa, mampu melakukan semuanya dengan rapi dan bersih, juga tepat.

__ADS_1


Terlebih kecelakaan yang menimpa Tuan Hendra adalah kecelakaan terencana yang dilakukan oleh pihak yang sangat profesional. Dan pasti membutuhkan uang banyak untuk membayar mereka.


"Permisi." Viki berkata tetap tanpa ekspresi di wajahnya, berjalan membelah kerumunan wartawan. Seperti seorang yang tak dapat tersentuh. Segera mereka memberikan jalan untuk Viki dan Melva lewat.


"Tunggu." seru seseorang perempuan muda menghentikan langkah keduanya. Tepat di depan Viki dan Melva.


"Apa kalian berpacaran?" tanyanya dengan ekspresi wajah penasaran. Viki memicingkan sebelah matanya. Memandang tajam ke arahnya seperti anak panah yang siap menancap di tempat sasaran.


Segera salah satu wartawan menariknya untuk menjauh dari Viki dan Melva. Membuat keduanya kini berjalan dengan santai dan tenang ke arah parkiran mobil.


"Kenapa kamu melakukan itu?" bentak wartawan senior pada wartawan yang baru saja bertanya pada Viki, dengan menghentikan langkah kaki Viki.


Ternyata dia adalah orang baru di pencari berita. "Kenapa?" tanyanya dengan polos.


"Aisshhh...." dengusnya. "Lihat dulu, siapa lawan kamu. Siapa yang kamu wawancarai." kesalnya dengan nada setengah membentak.


"Memang siapa dia? Bukankah dia Melva." tanyanya. Karena tidak sulit untuk mengetahui sosok Melva. Karena memang dia artis terkenal.


Karena jika hanya Melva, mereka para pencari berita tidak perlu menjaga apa yang akan mereka tanyakan. "Memang siapa dia?" tanyanya lagi.


"Cari tahu sendiri." ucapnya dengan kesal, meninggalkan rekannya berdiri dengan wajah polos yang nampak bingung.


Karena merasa penasaran. Dia mengeluarkan ponselnya. Membuka laman berita yang pastinya di dimana dia akan mengenal sosok Viki.


"Viki Radika Mahendra." gumamnya, dengan pandangan mata membaca laman di layar ponselnya, sambil menggulirkannya terus ke bawah.


Seketika dia melongo sambil berkedip lucu beberapa kali. "Semoga, dia lupa dengan wajah jelekku ini." di pukulnya sendiri keningnya dengan pelan. Dengan menampilkan ekspresi menyesal.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Astaga, ternyata Tuan Viki kekasih dari Melva." ucap Puspa. Sengaja berbicara dengan nada sedikit keras. Tujuannya supaya Nara yang sedang bersama Bima mendengar perkataannya.


Nara menoleh ke arah Puspa yang sedang melihat ke ponsel miliknya sambil menyandarkan badannya ke tembok.

__ADS_1


Terlihat senyum mengejek dari bibir Puspa. Dan Nara dapat mastikan, jika senyum tersebut di tujukan untuk Nara. "Brengsek. Dia pasti sengaja." rahang Nara mengeras sempurna.


Nara mengatur ritme nafasnya. "Oke Nara, tenang." Nara memejamkan mata. "Tenang dan tenang. Jangan sampai kamu terpancing omongan belut listrik tersebut." Nara menenangkan dirinya sendiri menahan amarahnya.


"Lihat saja, setelah ini. Aku bisa membuatmu berada di posisi Melva. Bukan sebagai kekasih abang. Melainkan umpan lezat supaya dia muncul di permukaan." ucap Nara.


Karena sebelumnya, Viki sudah menceritakan semuanya pada Nara. Berharap Nara dapat lebih mengawasi siapa saja yang berada di dekat Tuan Hendra dan Nyonya Rahma.


Setelah Viki menceritakan semuanya, kini Nara lebih waspada. Pada siapa saja. Termasuk pada para pembantu di rumah Tuan Hendra. Tapi Nara bersikap seperti biasa.


Hanya saja, Nara meningkatkan sikap waspadanya. Lebih menajamkan telinga dan penglihatannya.


Puspa melirik ke arah Nara. "Anak kecil. Pengen banget punya suami seperti Tuan Viki. Apa dia nggak ngaca." caci Puspa dalam hati pada Nara.


Merasa jika emosi Nara terpancing, Puspa mengeluarkan suaranya kembali. "Memang keduanya terlihat sangat serasi. Tuan Viki tampan dan kaya. Dan Melva. Perempuan cantik, artis terkenal. Terlebih keduanya sama-sama dewasa." ucap Puspa mencoba memprovokasi Nara.


Tampak ekspresi Puspa sangat senang dan bahagia. Padahal Puspa juga hanya mengenal Melva sebagai artis. Tidak lebih. "Semoga keduanya berjodoh. Dan segera menikah." ucap Puspa tersenyum penuh arti.


"Suster Puspa, sedang apa di sini?" tanya Mbak Siti.


Puspa tersenyum ramah. "Ini loh mbak. Melihat acara live." Puspa memperlihatkan layar ponselnya pada Mbak Siti.


"Acara live." bingung mbak Siti, dengan pandangan mengarah ke layar ponsel milik Puspa.


Tampak ekspresi Mbak Siti hanya bisa saja sambil mencebik. "Mereka serasikan Mbak." ucap Puspa.


"Ckk,,, sama sekali tidak. Lagian kenapa Suster percaya sama berita begituan." tukas Mbak Siti.


Puspa terlihat tidak senang melihat komentar dari Mbak Siti. "Melva itu artis. Setahu saya, dia di bawah manajemen perusahaan Den Viki. Pasti Melva sedang ingin menaikkan pamornya kembali." ucap Mbak Siti.


"Khemmm... Sebaiknya Mbak Siti segera menyelesaikan pekerjaan mbak Siti. Dari pada melihat sesuatu yang ti-dak pen-ting." tukas Nara melirik ke arah Puspa dengan ekspresi tidak bersahabat.


Mbak Siti sepertinya mengerti dengan isyarat yang di berikan oleh Nara. Mbak Siti tersenyum samar. "Oke Nara, aku akan bantu kamu." ucap Mbak Siti dalam hati.

__ADS_1


__ADS_2