
Renggo duduk santai, dengan laptop berada di depannya. Matanya memandang layar laptop dengan sungguh-sungguh.
Tenyata, Renggo sudah memasang kamera CCTV di apartemen Sara tanpa sepengetahuan pemiliknya. Renggo melakukannya bukan bermaksud memata-matai Sara.
Atau tidak percaya terhadap calon istrinya tersebut. Namun lebih kepada rasa khawatir. Siapa lagi jika bukan terhadap Giska.
Setelah kejadian Giska yang mendatangi rumah Renggo. Malamnya Renggo langsung menyuruh orang untuk memasang CCTV di beberapa tempat di dalam apartemen Sara. Dengan tempat yang tentunya tersembunyi. Sehingga Sara tidak akan pernah menyadarinya.
Namun siapa yang menyangka. Hal pertama yang Renggo lihat adalah kedatangan Erlangga ke apartemen Sara.
Awalnya Renggo ketar ketir dan terbakar cemburu. Hendak membatalkan pertemuannya di luar kota yang akan berlangsung beberapa jam lagi.
Namun otak Renggo kembali bekerja. Dirinya juga ingin melihat kesungguhan hati Sara pada dirinya. Sehingga Renggo bisa tahu, akan terus melanjutkan hubungannya dengan Sara, atau berhenti di tengah jalan. Dan kembali menelan rasa kecewa dan sakit hati.
Ternyata dugaan Renggo salah. Renggo dapat menebak kemana arah setiap ucapan yang Erlangga keluarkan dari dalam mulutnya.
Jika didengar, perkataan Erlangga seakan menyuruh Sara untuk meninggalkan Renggo. Tapi Renggo mencoba mendengar dengan cermat dan teliti.
Dan Renggo bukan lelaki bodoh. Dia tahu, jika Erlangga sedang memancing Sara untuk mengatakan tentang baby Al.
"Aku akan diam. Menunggu kamu bergerak." gumam Renggo.
Sekiranya pergerakan Erlangga dapat mengancam ketenangan keluarganya, Renggo tak akan segan-segan bertindak tegas.
Tapi di sini Renggo memilih memantau. Karena setelah Erlangga tahu jika baby Al adalah putra kandungnya, Erlangga malah terlihat membiarkan semuanya berjalan seperti sebelumnya.
Dua hari telah berlalu semenjak pertemuan Erlangga dan Sara. Semua berjalan tampak semestinya. Dama sekali tidak ada yang berubah.
Bahkan hubungan Renggo dan Sara semakin lengket seperti perangko. Juga dengan baby Al. Setiap waktu, Sara selalu melakukan panggilan video call pada bayi lucu tersebut. Jika tidak bisa datang ke rumah Nyonya Binta.
"Lakukan dengan baik. Gue nggak ingin ada bekas atau petunjuk apapun." perintah Erlangga pada seseorang di seberang telepon.
Erlangga menyeringai penuh makna. "Sayang, papa melakukan semua untuk kamu. Baby Al berhak mendapatkan yang terbaik."
Erlangga menatap foto baby Al di layar ponselnya. Entah dari mana dia mendapatkannya. "Dan yang terbaik untuk kamu. Tetap bersama mereka. Keluarga yang menyayangi kamu sepenuh hati mereka." ucap Erlangga.
"Papa Renggo dan mama Sara. Papa yakin, mereka akan memperlakukan kamu dengan baik." gumam Erlangga.
Erlangga memutuskan untuk membiarkan baby Al tetap bersama keluarga Renggo. Jika Erlangga ingin membawanya pergi, Erlangga sedikit takut. Kedua orang tuanya tidak akan menerima baby Al.
Dan hal tersebut malah akan menjadi rumit. Dan yang paling penting, Erlangga kasihan akan perkembangan baby Al ke depannya.
__ADS_1
Menikahi Giska. Tidak akan pernah Erlangga lakukan. Erlangga masih cukup waras untuk memilih perempuan yang akan menjadi istrinya. Tentunya bukan perempuan gila seperti Giska.
Di tempat lain, perlahan Giska membuka kedua matanya. Terasa asing. "Eeeuuggh..." Giska memegang kepalanya yang terasa berat.
Mencoba mengingat kembali apa yang sebelumnya terjadi pada dirinya. "Siapa mereka." gumam Giska.
Terekam jelas, dirinya didatangi seorang perempuan saat berada di salah satu toilet di restoran. Dan Giska masih mengingat, jika tiba-tiba ada yang membiusnya dari belakang, saat perempuan tersebut mengajaknya berbicara.
"Ini dimana?" Giska mengedarkan pandangannya. Tampak sebuah kamar yang sangat megah. Bukan senang, Giska merasa ngeri. Merasakan firasat buruk sedang terjadi padanya.
Segera Giska turun dari ranjang. Mendekat ke arah jendela dan berdiri di balkon kamar. Giska menelan ludahnya dengan sulit.
"Tempat apa ini." gumam Giska. Sepanjang mata memandang, hanya ada air berwarna biru di pandangannya.
Giska segera keluar dari kamar. Tubuh Giska merinding. Sepi. Itulah yang Giska rasakan. "Halo... apa ada orang....!!" teriak Giska berjalan menuruni tangga.
Sama sekali tidak terdengar suara apapun. "Apa gue sendirian. Tapi dimana ini. Kenapa gue bisa berada di sini." Buku kuduk Giska berdiri merinding.
Ketakutan menyergap dirinya. Di rumah yang masih sangat asing untuknya. Dengan ukuran sebesar ini. Sendirian. Siapa yang tidak merasakan ketakutan.
Giska berlari mencari pintu keluar. Dapat. Dengan segera Giska membuka pintu dari dalam dengan kasar.
Lagi-lagi, didepannya hanya ada lautan luas. Giska menggeleng tidak percaya. Takut tentu saja. Dirinya tidak tahu dimana dia sekarang berada.
Giska berlari ke samping. Hanya ada sebuah lapangan luas. Seperti lapangan untuk mendaratkan sebuah helikopter atau pesawat pribadi berukuran kecil.
Giska berlari terus ke depan. Dan lagi, Giska hanya melihat air dengan jumlah sangat banyak di depannya. Giska menggeleng tidak percaya.
Giska melangkah mundur, tatapannya nanar dalam ketakutan besar. "Nyonya." panggil seseorang dari belakang.
Giska meloncat terkejut, membalikkan badan berteriak. "Siapa kalian?!"
Ada seorang lelaki dan seorang perempuan paruh baya. Jika dilihat, mereka seumuran kedua orang tua Giska. "Kami yang akan menemani Nyonya selama Nyonya berada di sini." jelas lelaki tersebut.
"Panggil saja saya bapak. Dan dia istri saya. Panggil saya ibuk." ucapnya. Tentu saja dia disuruh oleh majikannya untuk berkata demikian.
"Saya, mau keluar!!" teriak Giska.
"Maaf Nyonya. Anda tidak bisa keluar dari sini. Termasuk kami. Bangunan ini berada di tengah lautan. Tidak ada jalan penghubung untuk mencapai bangunan ini." ucap ibuk.
"Oke. Siapa nama kalian?!"
__ADS_1
"Panggil seperti yang saya katakan. Bapak dan ibuk." jelasnya.
Giska meremas jari jemarinya dengan kesal. "Siapa yang menyuruh kalian?!" teriak Giska.
"Kami tidak tahu Nyonya. Kami hanya memanggilnya dengan sebutan Boss." paparnya.
Giska tidak percaya begitu saja. "Baiklah, jika kalian tidak mau mengatakan yang sebenarnya. Saya akan lompat ke dalam laut. Biar saya mati sekalian." ancamnya.
Tapi jawaban mereka membuat Giska melongo. "Silahkan Nyonya. Nyawa anda bukan berada di tangan kami. Kami hanya bertugas menemani anda. Hidup atau mati, itu adalah hak anda."
"Kaliann...!!" geram Giska.
Giska tidak bisa berbuat apa-apa. Sesekali Giska mengumpat kasar. Sumpah serapah dia tunjukkan pada orang yang sudah mengurungnya di dalam kastil mewah ini.
"Brengsek. Apa gue selamanya akan berada di sini?!" geram Giska.
Mencari jalan keluar. Tidak ada sama sekali. Bahkan, beberapa hari Giska berada di kastil mewah ini, sama sekali tidak ada perahu yang mendekat.
Alat komunikasi. Telepon rumah saja tidak ada. Apalagi ponsel. Hanya ada televisi. Mana bisa Giska menggunakannya untuk berkomunikasi dengan orang luar, mencari pertolongan.
"Kenapa kamu selalu memasak seperti ini?!" teriak Giska. Merasa bosan dengan makanan yang dia makan setiap hari.
"Maaf Nyonya. Di dalam kulkas hanya ada ini. Dan kita harus berhemat untuk sebulan ke depan." jelasnya dengan lugas.
"Sebulan ke depan. Berarti akan ada orang yang akan datang ke sini." tanya Giska, merasa jika dirinya bisa memanfaatkan momen tersebut untuk keluar dari tempat terkutuk ini.
Dan benar saja. Sebulan berlalu. Sebuah helikopter terbang memutar dengan pelan di atas kastil. Giska menanti momen tersebut. Dia akan ikut helikopter tersebut untuk bisa keluar dari penjara mewah ini.
Tebakan Giska meleset jauh. Helikopter tersebut tidak mendarat. Dia hanya terbang sedikit lebih dekat dengan kastil.
Menjatuhkan banyak bahan makanan dan juga bahan kebutuhan lainnya dari atas. "What the hell. Apa-apaan mereka!!" seru Giska.
Giska hanya bisa berteriak, memaki helikopter yang terbang semakin tinggi dan menjauh dari pandangan matanya.
Kedua pasangan suami istri tersebut membawa semuanya ke dalam. "Bagaimana mereka tahu jika semua yang kita perlukan sudah habis?!" tanya Giska.
"Mereka tidak tahu Nyonya. Dan semua yang kita pakai sehari-hari masih cukup untuk seminggu ke depan." jelasnya.
Giska berjalan kesal ke dalam kamar. Meluapkan emosinya seperti biasa. Membanting dan membuang apa saja yang bisa di raih tangannya. "Gue bisa gila jika berada di dalam sini. Elo,,, siapapun elo. Gue bersumpah, semoga hidup elo hancur...!!!" teriak Giska frustasi.
"Ckk,,,, menambah kerjaan saja." keluhnya, tahu apa yang dilakukan Giska di dalam kamarnya.
__ADS_1