VIRA (Viki Dan Nara)

VIRA (Viki Dan Nara)
ViRA 156


__ADS_3

Nara terbangun menjelang subuh, menggeliatkan badannya dengan bebas. Perlahan, dibuka kedua matanya dengan malas.


Kosong. Nara tak melihat sang suami di sampingnya. Segera Nara mengubah posisinya menjadi duduk, dan mencari sang suami.


"Abang." cicit Nara lirih, melihat sang suami malah tertidur di sofa. "Kenapa abang tidur di sofa?" tanya Nara pada dirinya sendiri.


Nara meninggalkan tempat tidurnya yang nyaman. Menghampiri sang suami dengan membawa selimut yang sempat dia pakai.


Menutupi tubuh Viki dengan selimut tersebut. Nara memandangi wajah Viki dengan tatapan yang rumit. Lalu menghela nafas dengan perlahan. Entah apa sekarang yang bergejolak di dalam pikirannya.


Nara kembali ke tempat tidurnya. Mencoba kembali menutup kedua matanya. Namun sayang, sepertinya apa yang di inginkan oleh Nara tidak kesampaian. Kedua matanya seolah sulit untuk diajak beristirahat dan terpejam kembali.


Nara memiringkan posisi badannya menghadap ke arah Viki. Memandang sang suami dari ranjang besar tersebut. Cukup lama. Namun, lamat-lamat kedua mata yang tadi seolah tak mau terpejam, kini malah sudah terpejam kembali.


Dengkuran halus terdengar di telinga Viki. Siapa lagi kalau bukan milik sang istri. Perlahan, Viki membuka mata dan menoleh ke arah dimana Nara tertidur.


Viki terbangun saat Nara memakaikan selimut untuk menutupi tubuhnya. Tentu saja Viki merasakan ada pergerakan kecil menyapu tubuhnya. Namun, Viki berpura-pura jika dirinya masih berada dalam mimpi. "Ingin sekali aku memelukmu, sayang." ucap Viki dalam hati.


Viki mengubah posisi, menyamping. Seperti Nara sebelumnya, Viki juga memandangi wajah ayu dari sang istri dari tempatnya berbaring.


Viki kembali memejamkan kedua matanya dengan posisi miring, seolah sedang berhadapan dengan Nara. Bibir Viki tersenyum dengan mata mulai terpejam.


Sabar. Viki harus bersabar menghadapi sikap Nara. Viki tidak bisa langsung menyalahkan sang istri lantaran belum siap memberikan haknya.


Meski awalnya Nara juga dengan sangat ngebet dan antusias menikah dengan dirinya, namun Viki sadar, jika diusia yang masih sepantaran dengan Nara memang masih sangat labil.


Dan Viki sadar akan resiko tersebut.


Kini, Viki lah yang bangun lebih awal. Senyum di bibir Viki masih mengembang, memandang wajah ayu sang istri. "Capek banget kelihatannya." gumam Viki.


Segera Viki pergi ke kamar mandi. Sebab, Viki kini berada di dalam kamar mandi lebih lama dari biasanya. Apalagi jika bukan dirinya harus membersihkan dan mengobati luka di tubuhnya bagian depan.


Bahkan sampai Viki keluar dari kamar mandi, Nara masih tetap berbaring di atas ranjang. Dengan mata masih terpejam, dan posisi masih sama.


Viki hanya tersenyum dan menggeleng. Tidak ada niat Viki untuk membangunkan sang istri kecilnya. Bahkan, Viki dengan perlahan mengambil sesuatu yang dia butuhkan. Tentu saja, dia tidak ingin mengganggu tidur nyenyak dari Nara.


"Den Viki,,, Nona Nara mana?" tanya mbok Nah.

__ADS_1


"Masih tidur." jawab Viki singkat, mendaratkan pantatnya di kursi.


Langsung mbok Nah dan Nyonya Rahma saling memandang dan tersenyum. Pastinya mereka memikirkan sesuatu yang mendebarkan.


"Ooo,,,," sahut mbok Nah, beliau tentu saja menebak hal yang lain. Mengapa sampai Nara jam segini masih tertidur pulas.


"Biarkan saja mbok. Mungkin Nara capek." timpal Nyonya Rahma yang pikirannya sefrekuensi dengan mbok Nah.


"Iya Nya..." sahut mbok Nah, melirik ke arah Viki sambil tersenyum sendiri.


Sementara Viki melanjutkan sarapannya dengan tenang. Viki sama sekali tidak sadar jika dirinya menjadi pusat perhatian antara sang mama dan mbok Nah.


Di dalam kamar, Nara mulai terusik dengan silaunya cahaya matahari yang menembus tirai korden yang belum terbuka.


"Eeeuugghhhh...." lenguh Nara, meregangkan ototnya sembari duduk.


Kedua mata Nara mengerjap dengan lucu. Sepertinya Nara tengah berpikir. Dilihatnya sofa yang sudah tidak berpenghuni. Menandakan jika Viki sudah bangun.


Selimut yang dipakaikan pada sang suami semalam, kini terlipat rapi di ujung ranjang tempat tidur. Nara menoleh ke pintu kamar mandi.


Sepi. Tak ada suara gemericik air.


Segera Nara menatap jam dinding, di sebelahnya. Kedua mata Nara membuat sempurna. Waktu sudah menunjukkan pukul setengah sembilan pagi.


Tanpa berkata apapun dan melakukan apapun, Nara berlari keluar dari kamar dan menuruni anak tangga. Dengan penampilan acak-acakan baru bangun tidur. "Mbokkk....!!!" teriak Nara memanggil mbok Nah, tidak seperti biasanya.


"Ya ampun, ada apa Nona?" tanya mbok Nah, datang tergopoh-gopoh.


Nyonya Rahma yang berada tak jauh dari mereka juga meletakkan majalah yang sedang dia pegang dan baca. Mengalihkan perhatiannya pada sang menantu yang tiba-tiba datang dengan keadaan kacau sambil berteriak. Tak seperti biasanya.


"Abang mana?" tanya Nara dengan nafas masih tersengal karena berlari.


"Den Viki ya kerjalah Nona. Jam berapa sekarang." ucap mbok Nah.


Langsung Nara merasa seluruh badannya lemas. "Padahal Nara mau berbicara sesuatu pada abang." ucap Nara lirih.


Mbok Nah memandangi Nara dengan intens. "Tidak seperti habis berperang." ucap mbok Nah dalam hati.

__ADS_1


"Memang, kenapa Non bangun kesiangan?" tanya mbok Nah.


"Nara bangun sebelum subuh. Lalu tidur lagi." jawab Nara apa adanya.


"Berarti, semalam, kamu dan den Viki... Anu... kalian tidur?" tanya mbok Nah dengan belibet, sambil menyatukan kedua jari telunjuknya.


"Iya. Kan malam, ya tidurlah mbok." jawab Nara dengan polos.


"Nyonya,,,!!!" teriak Mbak Siti. Turun dari anak tangga.


Membuat semua orang yang berada di lantai bawah memandang ke arah mbak Siti. Terlebih di tangan mbak Siti memegang kemeja putih, dan dapat dipastikan pemiliknya. Viki.


"Astaga, kalian pagi ini kenapa sih. Suka banget berteriak." tegur Nyonya Rahma.


"Kamu juga Nara. Lihat penampilan kamu." lanjut Nyonya Rahma menegur menantunya, yang keluar dengan masih memakai piyama tidur dengan rambut acak-acakan seperti bulu singa.


"Maaf ma." cicit Nara dengan jari jemari merapikan rambutnya.


"Ini Nya." ucap Mbak Siti menyodorkan kemeja putih milik Viki.


"Kenapa kamu berikan pada saya?" tanya Nyonya Rahma bingung.


Mbak Siti menepuk pelan mulutnya sendiri. "Maaf Nya, ini saya mau memberitahu." mbak Siti membuka kemeja yang berada di tangannya.


"Ada bercak darah di kemeja den Viki." ucap mbak Siti sambil memperlihatkan apa yang dimaksudnya.


Nyonya Rahma segera mengambil kemeja milik Viki. Memandangnya dengan cermat. "Benar. Tapi hanya sedikit bercak. Pasti karena luka." gumam Nyonya Rahma melihatnya.


"Kemeja tadi saya temukan di tempat sampah Nya. Bukan di keranjang pakaian kotor." timpal mbak Siti.


Nyonya Rahma dan Nara memandang mbak Siti dengan tatapan yang membutuhkan kepastian. "Benar Nya. Sepertinya den Viki ingin membuang kemeja miliknya." jelas mbak Siti.


Nyonya Rahma mengalihkan pandangannya pada Nara. "Maaf ma, Nara sama sekali tidak mengetahuinya." ucap Nara lirih.


Tak membutuhkan waktu lama. Ekspresi wajah Nara berubah. Ada rasa yang tak bisa di jelaskan. Rasanya seperti sangat tidak berguna. Sebagai seorang istri, Nara merasa jika sama sekali tidak bisa melakukan tugasnya.


"Maaf ma." ucap Nara lagi. Bahkan, air matanya sudah terkumpul di pelupuk mata.

__ADS_1


Nyonya Rahma mengangguk pelan. Taka ada suara yang keluar dari mulutnya. Dan Nara tahu, pasti sang mertua kecewa pada dirinya. "Nanti kita tanya pada Viki langsung." ujar Nyonya Rahma.


__ADS_2