VIRA (Viki Dan Nara)

VIRA (Viki Dan Nara)
ViRA 97


__ADS_3

"Ada apa pa?" tanya Nyonya Binta pada sang suami. Karena sejak pulang dari perusahaan, Tuan Smith bertingkah aneh. Beliau lebih banyak diam ketimbang berbincang dengan sang istri.


Seperti sedang memikirkan sesuatu. Membuat sang istri penasaran bercampur khawatir akan sikap sang suami.


Bahkan, saat makan malam. Tuan Smith tidak seperti biasanya. Beliau hanya makan beberapa sendok saja. Dan lebih memilih pergi untuk beristirahat di kamar.


Padahal biasanya, beliau akan memakan sampai habis apa yang sudah ada di atas piring miliknya.


Tuan Smith menyandarkan badannya di headboard ranjang. "Tidak ada apa-apa. Papa hanya sedikit pusing. Di kantor banyak pekerjaan." ucap Tuan Smith beralasan.


Nyonya Binta mendekat ke arah sang suami. "Apa perlu mama pijit?" tawar sang istri.


Tuan Smith tersenyum. "Tidak. Mama tidur saja, pasti mama juga capek." ujar Tuan Smith.


Nyonya Binta menyenderkan kepalanya di dada bidang milik sang suami. "Mana ada mama capek." ucap Nyonya Binta, karena memang hari-hari Nyonya Binta lebih banyak di habiskan di dalam rumah.


Sejujurnya, Tuan Smith ingin menceritakan apa yang sedang dia pikirkan. Namun beliau urung melakukannya.


Bukannya Nyonya Binta tidak tahu masa lalu sang suami. Tapi keduanya sudah sepakat untuk tidak mengungkit atau mengangkat kembali kisah masa lalu Tuan Smith.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Apa dia bersedia?" tanya Nara.


"Kenapa kamu tidak memberitahu abang, jika guru kamu masih muda." bukannya menjawab pertanyaan Nara, Viki malah mengatakan hal lain yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan pertanyaan Nara.


Padahal Viki mengetahui untuk siapa pertanyaan Nara ditujukan. "Abang,, jangan mengalihkan pembicaraan." Nara menatap tajam ke arah Viki.


Viki merangkul Nara, menaruh tangannya di pundak Nara. "Kenapa kita harus berbicara di luar. Di sini dingin." kilah Viki, lantaran keduanya berada di taman belakang.


"Abang...!!!" seru Nara dengan suara tertahan, dengan kedua mata melotot melihat Viki.


Viki mencium pucuk kepala Nara. "Abang tadi sudah bertemu dengan papa kamu." Viki menjeda perkataannya, melirik ke arah Nara yang tampak masih terdiam.


Viki melanjutkan lagi kalimatnya. "Jika kamu ingin bertemu dengan beliau. Abang akan..." ucap Viki terhenti lantaran perkataan yang terlontar dari mulut Nara.


"Tidak." kata Nara tanpa ragu. "Nara tidak lagi menganggap dia sebagai papa Nara. Cukup papa Hendra. Tidak ada yang lain." lanjut Nara menatap ke depan.


Viki tahu jika sebenarnya apa yang ada di dalam hati Nara berbeda dengan kalimat yang baru saja Nara katakan. Tapi Viki tidak ingin membuat Nara semakin bersedih.

__ADS_1


"Baiklah. Jika kamu berubah pikiran. Katakan pada Abang." ucap Viki.


"Bang..." Nara memeluk Viki dari samping tanpa melihat ke arah Viki.


"Hemmm...."


"Jangan tinggalkan Nara." pinta Nara dengan nada lirih.


Viki membalas pelukan Nara. "Tidak akan." jawab Viki. "Malah Abang yang seharusnya merasa takut." lanjutnya.


Tanpa melepas pelukannya, Nara mendongakkan kepalanya. Melihat ke wajah Viki. "Kamu tahu dengan pasti. Penyakit Abang. Dan sampai detik ini, abang belum pernah mencobanya." ucap Viki ambigu.


Nara mengernyitkan keningnya. "Mencobanya." gumam Nara terdengar oleh Viki. Dengan polosnya Viki langsung mengangguk.


Nara bukan gadis bodoh yang tidak tahu maksud perkataan dari Viki. "Memang abang mau mencoba dengan siapa?" tanya Nara dengan memicingkan sebelah matanya, terlihat begitu sadis.


Tanpa melepas pelukannya, Viki mengangkat kedua bahunya. "Jangan macam-macam." ancam Nara mengepalkan sebelah tangannya di depan wajah Viki.


"Tapi, seandainya. Seandainya, setelah kita menikah. Dan ternyata abang belum bisa melakukannya bagaimana?" tanya Viki dengan wajah serius.


"Apaan sih bang. Pasti abang bisalah. Kan ada Nara." jawab Nara dengan yakin.


"Aw,,, aw,,, sakit." rintih Viki, saat Nara mencubit lengan atas Viki. "Makanya, jangan punya pikiran macam-macam." ucap Nara dengan bibir cemberut.


"Macam-macam bagaimana. Abangkan belum selesai ngomongnya." ungkap Viki.


Viki mendekatkan bibirnya ke telinga Nara. "Abang mau mencobanya. Tapi dengan kamu." bisik Viki.


Segera Nara melepaskan pelukan Viki dan mendorong tubuh Viki untuk menjauh darinya. "Apaan, ih abang. Ogah. Nikah dulu. Baru kawin. Masa kawin dulu. Nanti malah nggak jadi nikah kalau kawin dulu." cerocos Nara.


Cup.... Viki mencium singkat bibir tipis Nara. "Abang...!!!" seru Nara. Dan Viki malah tertawa lepas.


"Den Viki,, Non Nara....!!!" panggil Mbak Mira berlari ke arah keduanya. Membuat tawa Viki langsung berhenti.


Begitu juga dengan Nara, dia langsung berdiri. "Ada apa mbak?" tanya Nara melihat mbak Mira berlari ke arah mereka.


"Tu-Tu-Tuan Hendra. Beliau...." belum selesai Mbak Mira berkata, Viki dan Nara sudah berlari masuk ke dalam rumah dan menuju ruang rawat Tuan Hendra.


"Malah di tinggal." ucap Mbak Mira segera menyusul keduanya.

__ADS_1


"Papa....!!!" seru Viki masuk ke dalam kamar. Karena pintu kamar memang terbuka lebar.


"Hubungi Andrew dan suruh datang ke sini." perintah Viki pada Puspa.


"Baik."


"Om...." Nara duduk di tepi ranjang. Begitu juga dengan Viki. Tuan Hendra tampak tersenyum dengan wajah pucat ke arah Nara dan Viki.


"Tante." Nara memegang telapak tangan Nyonya Rahma yang tampak menangis bahagia, lantaran sang suami pada akhirnya membuka kedua matanya.


"Sudah pa, jangan di paksakan. Tunggu sampai Andrew datang." ucap Viki saat Tuan Hendra hendak membuka mulutnya untuk berbicara.


Tuan Hendra hanya mengedipkan kedua matanya dan tersenyum samar.


"Bagaimana?" tanya Viki, setelah Dokter Andrew memeriksa keadaan dan kondisi Tuan Hendra.


Sang dokter tersenyum. "Kabar baik. Papa kamu sudah kembali sadar. Tapi harus di ingat. Karena Tuan Hendra mengalami tidur lumayan panjang, maka beberapa syaraf mengalami penurunan kinerja. Tapi kalian tidak perlu khawatir. Dengan setiap hari Tuan Hendra menggerakkan anggota tubuhnya. Maka pasti, keadaan beliau akan kembali seperti semula." jelas Dokter Andrew pada semuanya.


"Terimakasih." ucap Viki.


Dokter Andrew tersenyum. "Sus, sekarang pekerjaan kamu akan bertambah. Sebagai seorang perawat, pasti kamu sudah tahu apa yang harus kamu lakukan." ujar Dokter Andrew pada Suster Puspa.


"Baik Dok." ucap Puspa.


"Tenang saja. Gaji kamu akan menyesuaikan dengan apa yang kamu lakukan. Tapi ingat, jangan pernah berbuat salah." ujar Viki.


"Baik Tuan." ucap Puspa.


"Maaf sebelumnya. Apakah saya boleh keluar dari rumah ini. Mungkin sehari saja." pinta Puspa. Dia berharap, dengan adanya dokter Andrew, Viki akan memberikan libur. Meski hanya satu hari.


"Silahkan." ucap Viki. Kedua sudut bibir Puspa terangkat sempurna. Saat Puspa ingin mengucapkan kata terimakasih, Viki kembali melanjutkan perkataannya.


"Tapi jangan pernah kembali lagi." lanjut Viki, seketika senyum di bibir Puspa luntur.


"Jika kamu sudah tidak sanggup. Saya akan mencari perawat lain. Bukankah dari awal sudah saya katakan peraturannya." imbuh Dokter Andrew.


"Maaf. Saya akan bekerja dengan baik." ucap Puspa dengan segera.


Viki menggaji Puspa dengan bayaran tinggi. Dengan syarat dirinya tetap berada di dalam rumah Tuan Hendra. Bahkan, ponsel Puspa juga di sita oleh Viki dan di berikan pada Mbok Nah.

__ADS_1


Sehingga, jika Puspa ingin menghubungi seseorang. Puspa harus menemui Mbok Nah terlebih dahulu. Itupun Mbok Nah, tetap berada di samping Puspa saat dia sedang berbincang dengan seseorang melalui ponselnya.


__ADS_2