
"Viki." gumam Giska, terdengar Renggo dan kedua orang tuanya dan juga kedua orang tua Renggo. Pasalnya, suara Giska juga tidak begitu lirih.
Sehingga semuanya dapat mendengar. Apalagi suasana memang sepi. Karena memang pesta pernikahan sangat sederhana.
Semuanya menoleh ke arah di mana Giska memandang. Nampak Viki datang bersama dengan Nara. Keduanya begitu serasi malam ini.
"Nara." ucap Tuan Smith dalam hati.
"Selamat siang semuanya. Selamat atas pernikahan kalian." ucap Viki dengan senyum di bibir.
Kedua keluarga menerima uluran tangan dari sepasang kekasih tersebut dengan bibir tersenyum paksa.
"Maaf, papa dan mama tidak bisa hadir. Mereka menitipkan dalam untuk semuanya." ujar Viki dengan sopan.
Giska sedikit mengangkat sebelah alisnya, melihat interaksi Viki dan Nara. Karena setahunya, Nara adalah saudara Viki. Bukan kekasih Viki.
Tapi Nara terlihat begitu intens dan juga begitu manja terhadap Viki. Sementara Viki sendiri hanya diam. Bahkan terlihat sangat menikmati Nara yang bergelayut mesra kepadanya.
"Selamat kak Giska, atas pernikahannya. Upss,,, SAYANG, bukankah seharusnya aku memanggilnya dengan KAKAK IPAR." ucap Nara dengan bergelayut manja di lengan Viki.
Giska, Renggo, dan kedua orang tua Giska merasa terkejut dengan apa yang baru daja mereka dengar. "Terserah. Tapi memang sudah menjadi takdir. Kamu dan Giska, akan menjadi saudara ipar." Viki dengan lembut dam mesra mengecup punggung telapak tangan Nara.
"Kakak ipar." ucap Giska dan Renggo bersama.
"Huhhffff,,,, maaf membuat kalian semua terkejut. Papa, apa papa tidak ingin mengenalkan aku pada mereka." ujar Nara dengan wajah imutnya.
Deg,,,,, jantung Tuan Smith seketika berdetak tak beraturan. Nara, Nara, Nara memanggil dirinya dengan sebutan papa.
Tuan Smith dan Nyonya Binta memandang Nara dengan tatapan sendu. Sementara Viki tersenyum samar.
Sejak kapan, calon istrinya begitu pandai memainkan peran. Nara, gadis polos kini lambat laun berubah menjadi sosok gadis berbahaya.
Viki yakin, dengan sedikit polesan dan dorongan. Calon istrinya akan berubah menjadi seekor angsa. Viki berjanji, akan menjadikan Nara perempuan yang hebat. Dimana semua orang akan takjub, hanya dengan melihatnya saja.
__ADS_1
"Tuan, apa perlu, saya sendiri yang mengenalkan calon istri saya pada mereka?" tanya Viki, membuyarkan lamunan dari Tuan Smith.
Giska membulatkan mata dan mulutnya, mendengar Viki menyebut Nara sebagai calon istrinya. "Ada apa ini?!" tanya Giska dalam hati.
Nara tersenyum sinis menatap ke arah Giska yang terlihat begitu syok. Belum usai keterkejutannya mengenai jika Nara adalah saudara tiri Renggo.
Kini Giska malah semakin bertambah syok, dengan pernyataan Viki yang mengatakan jika Nara adalah calon istrinya.
"Maaf, baiklah." Tuan Smith memandang sejenak ke arah sang istri, Nyonya Binta tersenyum tulus dan menganggukkan kepala. Seolah setuju akan apa yang ingin dikatakan oleh sang suami.
Dengan yakin, Tuan Smith memperkenalkan Nara pada keluarga besannya, dan juga pada anak tirinya. Dan beberapa tamu pastinya akan mendengar perkataannya.
"Nara. Dia adalah putri kandung saya, sebelum menikah dengan mama Renggo. Dia putri hasil pernikahan pertama saya dengan mantan istri saya terdahulu." jelas Tuan Smith, tetap memandang ke arah Nara.
"Tunggu, jika begitu. Dia adik tiri Renggo." sahut Giska, menunjuk ke arah Nara.
Nara tersenyum simpul. "Tepat, dan anda menjadi kakak ipar saya." tukas Nara.
"Lalu, kalian. Bukankah kalian saudara. Bagaimana bisa. Tad--tadi,,,, cal-calon istri." Giska menatap Nara dan Viki bergantian. Giska benar-benar bingung.
"Apapun yang kamu inginkan sayang." Viki mengecup singkat dahi Nara.
Panas... Itulah sekarang yang dirasakan Giska. Melihat Viki bersikap lembut pada seorang gadis tepat di depan wajahnya. "Kalian mempermainkan aku. Kalian membohongi aku. Kamu, kamu bilang Viki itu saudara kamu. Lalu apa ini?!" teriak Giska.
"Kakak ipar, kenapa kamu marah?" tanya Nara dengan wajah polos.
"Ada apa denganmu. Lihat, di sampingmu sudah ada kakak tiriku, lelaki yang sudah menanamkan benih di dalam rahim kakak. Lalu kenapa kakak mesti marah, saat mengetahui jika aku dan bang Viki akan menikah. Salah kami di mana?" cecar Nara dengan raut sedih.
"Kena kau." ucap Nara dalam hati.
Meski di acara pernikahan hanya mengundang sedikit orang. Namun seluruh tamu undangan adalah orang penting semua.
Dan karena perkataan Nara, semua orang mengetahui jika saat ini, Giska tengah berbadan dua. Semua tamu undangan tampak terkejut, namun mereka seolah tidak mendengar apa yang dikatakan oleh Nara.
__ADS_1
"Kamu..!!" gerak Giska.
"Giska! Jaga sikap kamu. Jangan membuat ulah. Jangan sampai kamu membuat malu kami." tegur Tuan Smith.
Giska mengepalkan kedua telapak tangannya. "Pasti dia sengaja. Brengsek. Bocah bau kencur." ucap Giska dalam hati.
"Tapi maaf, sepertinya kami tidak akan bisa ikut serta dalam pernikahan kalian." tutur Renggo.
Meski Renggo merasa terkejut dengan kenyataan jika Nara adalah adik tirinya, namun bagi Renggo itu bukanlah suatu masalah baginya.
"Kenapa kak?" tanya Nara.
"Setelah menikah, saya dan Giska akan pergi ke luar negeri." tukas Renggo, menaruh tangannya di pundak Giska.
"Apa maksud kamu?!" tanya Giska meninggikan nada suaranya dan melepas tangan Renggo yang berada di pundaknya.
"Giska." tegur Nyonya Gina dengan mata menyorot tajam ke arah sang putri.
Tampak semuanya terlihat biasa, saat Renggo mengatakan jika dirinya dan Giska akan pergi ke luar negeri. Yang menandakan jika mereka sudah mengetahuinya.
Berbeda dengan Giska yang tampak terkejut. Yang menandakan jika dia dama sekali tidak mengetahui apapun.
"Banyak sekali kejutan di hari pernikahan kamu." ucap Nara dalam hati, memandang ke arah Giska.
"Saya akan mengurus mengelola perusahaan mama yang berada di sana. Dan mungkin, aku dan Giska akan tinggal di sana." jelas Renggo.
Giska menggelengkan kepala dengan raut wajah kecewa. Dirinya sama sekali tidak menyangka, akan ada keputusan seperti ini. Dan dia sama sekali tidak mengetahuinya.
Tapi Viki dapat menebak. Kenapa mereka mengambil keputusan seperti ini. Pasti karena ingin menjauhkan Giska dari dirinya.
Sebab, selama Giska masih berada dalam satu negara dengan Viki. Pasti Giska akan terus melancarkan rencana liciknya. Meski dia sudah bersuami.
Dan Viki yakin Giska akan menuruti perkataan mereka. Entah apa yang membuat Giska menjadi tunduk atas apa yang mereka inginkan. Viki sama sekali tidak peduli.
__ADS_1
Yang terpenting, Giska tidak lagi merecoki kehidupannya.
"Puspa hilang dengan sendirinya. Dan sekarang, Giska akan menghilang dari sini. Tinggal Melva. Tapi aku yakin, abang pasti bisa membuat Melva pergi jauh dari kehidupan kami." ucap Nara dalam hati.