VIRA (Viki Dan Nara)

VIRA (Viki Dan Nara)
ViRA 92


__ADS_3

Vanya." panggil sang mama. Membuat langkah kaki Vanya berhenti. "Papa ingin berbicara dengan kamu di ruangannya. Sekarang." Vanya dan sang mama menuju ke ruangan sang papa.


Tanpa mereka sadari Kayla membuntuti mereka dari belakang. Kayla berjalan dengan hati-hati. Dirinya tidak ingin jika mereka mengetahuinya. Sungguh, anak berusia sepuluh tahun tersebut nampak sangat penasaran.


"Ada apa pa?" tanya Vanya dengan masih berdiri.


Sang papa menggerakkan tangannya, menyuruh Vanya untuk duduk bersamanya juga sang mama. Dengan patuh, Vanya duduk di kursi tersebut.


"Ada seseorang yang menanyakan kamu. Dia berniat menikahi kamu. Seorang duda yang mempunyai saru putri. Usianya sudah di atas Kayla." ucap sang papa berterus terang, tanpa basa basi.


Papa Vanya meneruskan lagi perkataannya yang terjeda. "Papa sudah memberitahu semua tentang kamu, Smith, dan juga Kayla." lanjut papa Vanya.


Terlihat Vanya hanya diam dengan ekspresi datar. Tidak ada raut terkejut, penolakan, atau marah sekalipun. Membuat kedua orang tuanya tidak bisa menebak, apa yang ada dalam benak sang anak.


"Dia tidak keberatan. Jika statusmu sebagai janda. Asal bukan istri dari seorang lelaki." ucap sang papa penuh makna.


Vanya mengerti ke mana arah pembicaraan sang papa. Beliau menyuruh Vanya untuk menceraikan Smith. "Jika mama jadi kamu. Mama akan melepaskan lelaki seperti Smith. Lelaki tidak berguna seperti dia. Hanya akan menyusahkan kamu saja." ucap sang mama meracuni pikiran Vanya.


Alih-alih marah, Vanya masih terdiam tanpa ekspresi. "Jika kamu menyetujuinya, kamu bisa melakukan apa yang mama kamu sarankan." ujar sang papa.


"Bagaimana dengan Kayla?" tanya Vanya lirih. Setelah sekian lama, hingga bertahun-tahun menunggu kedatangan Smith yang tidak juga kembali menjenguknya bersama sang putri.

__ADS_1


Membuat hati dan perasaan Vanya pada Smith mulai memudar. Rasa percaya padanya kini perlahan menghilang.


Tanpa Vanya sadari, semua adalah ulah dari kedua orang tuanya. Pastinya dengan pengaruh kekuasaan dan harta yang mereka miliki.


"Kenapa kamu memikirkan anak pembawa sial itu!!" hardik sang mama tidak suka, putrinya memikirkan anak kandungnya sendiri. "Lihat, gara-gara kehadirannya. Semuanya jadi kacau." imbuhnya dengan wajah memerah karena menahan amarah.


Di luar ruangan, Kayla meneteskan air matanya. Menangis dalam diam. Tangannya mencengkeram erat ujung lengannya.


Tapi Kayla tidak juga beranjak dari tempatnya berdiri. Dia masih ingin mendengar, kiranya apa yang akan di ucapkan oleh sang mama.


Karena selama ini, Kayla berada dan bertahan di rumah ini karena sang mama. Bahkan saat nenek dan kakeknya sama sekali tidak menganggapnya, dia hanya diam.


Sungguh tidak dapat di bayangkan, bagaimana anak berusia sepuluh tahun dapat menanggung semuanya seorang diri.


Karena memang, dengan semua kekuasaan yang dimiliki papanya Vanya. Sampai Kayla berusia sepuluh tahun, tidak ada yang mengetahui semua kejadian tersebut. Jika Vanya sudah menikah dan mempunyai seorang putri.


Bahkan semua pembantu di rumah juga tutup mulut. Mereka juga memilih untuk bungkam. Mereka tahu, jika nyawa mereka beserta keluarga adalah taruhannya.


Saat Vanya ingin mengeluarkan suara, sang mama terlebih dahulu berkata. "Jika kamu setuju menikah dengannya, kamu bawa Kayla keluar dari rumah ini. Mama tidak sudi melihat, apalagi mengurusinya." ucap mama Vanya dengan sinis.


"Semua ada di tangan kamu. Jika kamu memang bersedia, itu artinya kamu harus segera bercerai dengan Smith. Kamu tenang, saja. Semua papa yang akan mengurusnya." jelas sang papa.

__ADS_1


"Dan yang lebih penting, Kayla. Jika saran papa. Kamu letakkan saja dia di panti asuhan. Dengan begitu, dia tidak akan menjadi batu sandungan untuk kita kedepannya." lanjut sang papa.


Deggg.... Terasa nyeri di dalam dada, yang saat ini Kayla rasakan. "Mereka ingin membuangku. Nenek, kakek. Di dalam darahku, juga mengalir darah kalian." ucap Kayla dalam hati.


Segera Kayla pergi dari tempatnya berdiri. Seakan dirinya bisa menebak apa yang mamanya putuskan. Dan kini, Kayla duduk di tepi ranjang tempat tidur. Menghapus air matanya.


Tangannya memainkan benda kecil bertabur emas dan permata yang menjadi satu. Satu-satunya barang berharga yang dia terima dari sang mama.


Dan Kayla akan membawa dan menjaganya. Sebagai kenang-kenangan. Jika dirinya pernah mempunyai mama kandung.


Tangan mungil bocah berusia sepuluh tahun tersebut dengan gemetar memasangkan bros ke bajunya. "Indah." gumam Kayla.


Karena memang selama ini, dirinya tidak pernah memakainya. Kayla takut jika barang tersebut rusak. Segera Kayla mengganti baju.


Bercermin di depan cermin. Menggunakan bedak tipis dan menyisir rambut indahnya yang berwarna hitam panjang terurai dengan rapi.


"Huffftttt... Kayla, ayo semangat." ucapnya tersenyum getir. Karena dia yakin, jika sebentar lagi sang mama akan datang.


Menjemput dirinya dan membawanya pergi dari sini. Selamanya. Dan dirinya juga tidak tahu, akan di taruh di mana oleh sang mama.


"Jika mama mengurungkan seumur hidup di dalam kamar, Kayla ikhlas. Asal bisa melihat wajah mama. Tapi,,,,," gumam Kayla sendu.

__ADS_1


"Baiklah." Kayla menghembuskan nafas panjang. "Apapun yang mama inginkan. Kayla akan turuti. Asal bisa membuat mama bahagia." Kayla tersenyum manis, meski di dalam senyum tersebut banyak mengandung rasa sedih yang luar biasa.


KAYLA : KINARA


__ADS_2