VIRA (Viki Dan Nara)

VIRA (Viki Dan Nara)
ViRA 159


__ADS_3

Di rumah, Nara tidak bisa berkonsentrasi. Dalam benaknya tetap berputar-putar mengenai sang suami. Viki.


Saat belajar pun, Nara juga tidak bisa fokus. Membuat otak Nara sama sekali tidak bisa menerima semua pelajaran dari sang guru.


Alhasil, Nara mengikuti pelajaran. Namun tidak memperoleh apapun kali ini, saat dirinya belajar.


Saat menunggu Bima bermain. Nara juga tidak fokus. Sampai-sampai Bima hampir ke tercebur ke dalam kolam. Beruntung ada mbak Mira yang datang tepat waktu.


Nara memegang kepalanya sembari menunduk. Entah kenapa, air matanya tiba-tiba keluar dari kelopak matanya. Nara terisak seorang diri di dalam kamar.


"Hiks,,, hiks,,, Kenapa ini? Ada apa? Kenapa rasanya sangat sesak." dengan air mata masih menetes di pipi, Nara memukul-mukul dadanya.


"Abang..." panggil Nara lirih.


Perasaan yang tak bisa dijabarkan. Nara sendiri juga tidak mengerti, ada apa dengan dirinya. "Kenapa? Kenapa setelah menikah, hubungan Nara dan abang jadi begini." ucap Nara sesegukan.


Semua tidak seperti yang dibayangkan oleh Nara. Pernikahan penuh dengan kehangatan. Dan penuh kasih sayang yang melimpah.


"Abang..." panggil Nara lirih. Nara membaringkan badannya di atas ranjang dengan posisi miring.


Terdiam. Dengan tangan menghapus air mata di pipinya. Entah apa yang sekarang Nara pikirkan. Dan ingin dia lakukan. Hanya Nara sendiri yang tahu.


Secara tiba-tiba, Nara bangun. Berjalan menuju kamar mandi. Membasuh wajahnya. Dan mengambil sesuatu dari dalam almari.


Beberapa paper bag pemberian Nyonya Binta dan Nyonya Rahma, saat mereka mengajak Nara berbelanja sekaligus pergi ke salon beberapa hati yang lalu.


Nara membawa semuanya ke atas ranjang tempat tidur. Duduk bersila di atasnya.


-Ini adalah senjata untuk kita, para perempuan. Untuk menaklukkan lelaki-


Itulah kalimat yang Nara ingat dari Nyonya Binta. Perlahan, Nara mengeluarkan satu persatu isi paper bag tersebut.


Lingerie. Nara melihatnya tanpa berkedip. "Astaga, jadi memang seperti ini bentuknya. Apa mereka tidak masuk angin." gumam Nara menjembreng pakaian unik tersebut.


"Oooo,,,, ini." mulut Nara membulat, setengah tersenyum. Melihat kain berbentuk segitiga. Yang hanya akan menutupi bagian kewanitaannya. Itupun hanya sedikit.


"Apa nyaman saat dipakai." gumam Nara.


Penasaran. Segera Nara membuka semua isi paper bag tersebut. Ada banyak lingerie dengan berbagai warna dan juga model.

__ADS_1


"Ini panjang, tapi tetap saja kelihatan semua. Kenapa semua rata-rata seperti ini." gumam Nara, melihatnya satu persatu.


Nara tersenyum merasa penasaran bagaimana rasanya memakai pakaian seperti ini. "Seperti jala ikan." ucap Nara, mengambil semuanya dan memasukkannya pada satu paper bag saja.


Nara masuk ke dalam ruang ganti. Mulai melepas baju. Dan mencobanya satu persatu. Memperhatikan dirinya sendiri di pantulan cermin.


"Aissshhh,,, sungguh memalukan." ucap Nara dengan ekspresi jijik.


"Bagaimana bisa memakai pakaian seperti ini. Di depan orang lain. Meskipun itu suami sendiri." ucap Nara bergidik ngeri.


Tanpa Nara sadari, di ambang pintu ruang ganti. Seorang lelaki tengah memandangnya dari samping dengan tatapan lapar, bagai singa yang disuguhkan mangsa di depannya.


Viki melepas dasi secara asal. Dan juga jas yang melekat di tubuhnya. Dilemparkannya secara sembarang.


Mata Viki memandang apa yang tersaji di depannya.


Sebuah lingerie terpasang indah di tubuh cantik Nara. Saking menerawangnya lingerie tersebut, membuat celana dengan warna senada tersebut terlihat sangat jelas.


Warna lingerie hitam sangat terlihat kontras dengan warna kulit Nara yang putih mulus. Selain itu, bentuk tubuh Nara yang sedikit kecil, terlihat begitu indah.


Dengan dua tonjolan dada yang sedikit berisi serta pinggang yang ramping. Membuat Nara terlihat begitu seksi.


"Aa...!!" seru Nara terperanjat, sebuah lengan kekar melingkar di pinggangnya.


Nara dapat melihat dengan jelas dari pantulan cermin, siapa gerangan yang memeluknya dari belakang.


"Abang..." cicit Nara, menutupi dadanya dengan menyilangkan tangannya di depan.


Nara seolah kebingungan sendiri. Menengok ke kanan dan kiri. Mencari sesuatu untuk menutupi tubuhnya.


"Husssttt,,,, diam sayang..." ucap Viki dengan suara serak, menahan hasratnya. Menyibak rambut Nara di bagian belakang.


Kedua pipi Nara memanas. Menghasilan warna semu merah alami, membuat wajahnya semakin cantik. "Bang..." Nara merasa geli bercampur dengan perasaan yang lain, saat mulut dan hidung Viki bermain di tengkuk lehernya.


"Bang..." seru Nara dengan suara tertahan. Saat Viki membalikkan badannya. Dan menaruhnya di atas meja rias di depan cermin.


"Jangan ditutup." pinta Viki, memegang tangan Nara yang berada di depan dadanya.


"Indah." ucap Viki memandang dua tonjolan di depannya.

__ADS_1


Nara menahan dada Viki. "Boleh Nara ganti baju?" tanya Nara, lebih kepada meminta.


Viki meraup wajahnya kasar. "Jika kamu belum siap, kenapa memakai pakaian seperti ini?!" tanya Viki dengan kalimat tegas.


Tentu saja, Viki langsung merasakan aliran darahnya memanas, melihat apa yang disuguhkan oleh sang istri. "Jangan memakai pakaian seperti ini lagi. Bisa-bisa abang lepas kendali." Viki berdiri tegak, tanpa melihat ke arah Nara.


Viki tersenyum getir. "Jangan sampai seorang suami memerkosa istrinya sendiri." gumam Viki terdengar jelas di telinga Nara.


Viki melihat di samping Nara banyak lingerie dengan banyak warna dan model. Viki tersenyum kecut melihatnya. "Gantilah pakaianmu." ucap Viki keluar dari ruang ganti.


Viki menendang jas yang teronggok di depan pintu. Viki langsung membuka lebar pintu penghubung balkon kamarnya. Menghirup udara sebanyak-banyaknya, untuk menghilangkan emosi di hatinya.


Viki berdiri di atas balkon, dengan tangan memegang erat besi pembatas. "Ckkk,, Sial." decak Viki, memukul keras besi tersebut. Melampiaskan rasa kesalnya yang sudah mencapai ubun-ubun.


Nara masih di dalam ruang ganti. Posisinya masih sama seperti saat Viki meninggalkannya. Tidak ada pergerakan dari Nara.


Nara dapat melihat dengan jelas, rasa kecewa dari sang suami, saat Viki meninggalkannya. Tangan Nara perlahan mengelus tengkuknya. Dimana Viki mendaratkan ciuman di sana.


Nara memejamkan kedua matanya. Menghela nafas. "Oke Nara. Lakukan. Lakukan tugasmu. Jangan sampai suamimu mencari pelampiasan di luar sana." ucap Nara pada diri sendiri dengan yakin.


Nara berdiri. Merapikan dirinya dan sedikit menyemprotkan minyak wangi di tubuhnya.


"Kamu pasti bisa." ucap Nara pada diri sendiri.


Pandangan mata Nara mencari keberadaan sang suami. Nara melihat ke satu titik, dimana pintu penghubung balkon terbuka.


"Abang." Nara memeluk Viki dari belakang. Namun Viki hanya diam. Tidak bereaksi sedikitpun.


"Bang, Nara dingin." Nara menggoyangkkan dadanya di bahu lebar sang suami.


"Bang..." ucap Nara, mengelus dada Viki dari belakang.


Viki memegang tangan Nara. Dan membalikkan badan. "Kamu yakin, abang tidak akan mundur. Jadi, pikirkan baik-baik." pinta Viki, dengan menatap tubuh Nara.


Nara mengangguk pelan dengan memainkan bibirnya. "Sentuh Nara bang." bisik Nara, membuat hasrat Viki kembali naik.


Tanpa banyak berkata, Viki mencium bibir Nara dengan rakus. Menggendong tubuh sang istri seperti anak koala. Tanpa melepaskan ciumannya.


Terjadilah malam yang ditunggu-tunggu oleh Viki. Malam yang membuat Viki bisa merasakan bagaimana rasanya bermain dengan gowa basah milik perempuan. Untuk pertama kalinya. Bersama sang istri kecilnya.

__ADS_1


__ADS_2