
"Untuk kamu, Bima dan Rini." jelas Viki.
Dengan segera, Nara mengambil paper bag tersebut. "Makasih." ucap Nara, setelah melihat isi dari beberapa paper bag tersebut.
"Hayo,,, makasih apa?" tanya Nyonya Rahma, yang tiba-tiba berada di sekitar Viki dan Nara.
"Tante." Nara memperlihatkan paper bag yang dia pegang. "Dari abang." imbuh Nara tersenyum senang.
"Oke." Nyonya Rahma bersedekap dada. "Sekarang mama sudah tidak penting lagi. Lupa, siapa yang melahirkan kamu." lanjut Nyonya Rahma dengan wajah di tekuk. Berpura-pura sedih. Sebab dirinya tidak di belikan apapun oleh Viki.
Nyonya Rahma begitu senang, karena Viki sudah mendapatkan calon istri yang sesuai dengan keinginannya. Menyayangi Viki sekaligus menyayangi dirinya beserta sang suami.
Padahal, selama ini. Viki memang tidak pernah membelikan apapun untuk sang mama. Selain di hari ulang tahunnya. Meskipun begitu, Viki sangat menyayangi kedua orang tuanya.
Nara melihat ke arah Viki, dengan tatapan rumit. Sementara Nyonya Rahma tersenyum samar melihat sikap Nara. Karena terlihat jika Nara berpikir jika dirinya benar-benar sedih. Karena tidak dibelikan apapun oleh Viki.
Viki yang mengetahui jika sang mama hanya berpura-pura merajuk, malah merangkul pundak Nara. "Iya dong, Nara kan sebentar lagi jadi Nyonya Viki. Teman tidur Viki." celetuk Viki, mengerlingkan sebelah matanya kepada Nara dengan genit. Nara cemberut sekaligus malu dibuatnya. Karena di depan mereka masih ada Nyonya Rahma.
Nyonya Rahma, mendekat ke arah Nara. "Mama bercanda sayang." ucap Nyonya Rahma mengelus lembut pipi Nara.
Seketika Nara memeluk Nyonya Rahma dengan penuh kehangatan. "Aaawwww." teriak Viki.
Dengan tiba-tiba, Nyonya Rahma mencubit lengan Viki. "Ingat. Tunggu kalian benar-benar sah di mata hukum dan negara. Baru boleh melakukannya." ingat Nyonya Rahma.
"Mama,,,, ini sudah tahun berapa. Bukan seperti jaman dulu." ucap Viki, spontan langsung mendapat pelototan dari kedua perempuan berbeda usia di samping dan di depannya.
"Iya bercanda " ucap Viki memamerkan deretan giginya yang putih.
Nyonya Rahma hanya menggeleng pelan. "Mama mau keluar sebentar, titip papa." ucap Nyonya Rahma.
__ADS_1
"Pakai sopir." ingat Viki.
Iya." Nyonya Rahma mencium pipi Nara dan Viki bergantian sebelum meninggalkan rumah. Begitu
Dari lantai atas, Puspa melihatnya dengan tatapan tidak suka. "Apa hebatnya gadis kecil itu. Kenapa mereka begitu menyayanginya." gumamnya.
Dan kebetulan, di belakang Puspa berdiri Mbak Mira yang tidak sengaja lewat di situ. "Karena Nara mempunyai hati seperti ibu peri. Bukan iblis berwujud manusia. Yang penuh kemunafikan." sindir Mbak Mira yang mendengar gumaman Puspa.
Spontan Puspa menoleh ke arah Mbak Mira yang meneruskan langkahnya. "Iiiihhh,,,, Kapan antek-antek Nara ada di sini. Persis jelangkung." geram Puspa, kembali ke dalam ruang rawat Tuan Hendra dengan perasaan jengkel.
Begitu sang mama tidak terlihat, Viki segera mengeluarkan ponsel dan mengetikkan sesuatu di layarnya. Lalu mengirimkannya pada seseorang.
Dan sudah dapat Nara tebak. Apa isi dari pesan tertulis yang Viki kirimkan ke seseorang tadi. Pastinya untuk keselamatan Nyonya Rahma.
"Abang, apa dia masih berkeliaran?" tanya Nara, yang memang sudah Viki beritahu.
Nara mengangguk patuh, dan berjalan beriringan dengan Viki. Menuju kamar pribadi Viki. Sampai di dalam kamar, Nara meletakkan paper bag tersebut di atas meja.
Sementara dirinya duduk di kursi empuk, di samping Viki. "Dia seperti jarum yang berada di tumpukan jerami." ucap Viki menatap lurus ke depan.
"Abang sudah tahu, siapa pelakunya. Namun, sekarang yang menjadi masalahnya. Abang sulit menemukan keberadaannya." jelas Viki.
Viki menatap ke arah Nara. "Sepertinya memang ada seseorang yang dengan sengaja mendukung dan menyembunyikannya. Tapi abang juga belum tahu, siapa dia. Dan tujuannya." lanjut Viki.
"Siapa dia bang?" tanya Nara penuh penasaran.
"Vanesa. Kekasih dari Jo. Seseorang dari masa lalu abang yang dulu pernah abang ceritakan." ucap Viki.
Nara segera mengalihkan pembicaraan. Dia bukan gadis bodoh yang tidak peka dan tidak mengerti cara penjaga perasaan pasangan. "Apa abang yakin, mau menjadikan Melva sebagai umpan?" tanya Nara, yang memang sebenarnya tidak tega.
__ADS_1
Sebab Melva tidak mengetahui apapun. "Kenapa? Kamu ada calon lain?" goda Viki.
"Abang,,, bukan begitu." rajuk Nara.
Viki mambawa Nara ke atas pangkuannya. "Kamu tenang saja. Mana mungkin abang menjadikan seseorang yang baik sebagai umpan. Kamu tahu?" Viki memainkan ujung rambut Nara.
"Dia seperti belut. Licin. Jadi, abang yakin. Dia dapat lolos dengan baik." jelas Viki.
Nara sebenarnya tidak ingin bertanya. Tapi dirinya tidak ingin merasa penasaran. "Bang, kenapa abang bisa kenal dengan Vanesa?" tanya Nara dengan pelan dan hati-hati.
Viki meletakkan kepalanya di pundak Nara. "Dia sama seperti Jo. Artis di bawah manajemen perusahaan abang di luar negeri." ucap Viki.
"Abang punya perusahaan di luar negeri?" tanya Nara dengan mata berbinar.
Viki mengangguk. "Iya, sekarang dikelola oleh orang kepercayaan abang." Viki mencium gemas pipi Nara.
"Tenang saja, begitu Abang dapat menemukan Vanesa. Kamu akan abang ajak jalan-jalan. Abang akan mengeluarkan kamu dari sangkar ini." ucap Viki.
Dirinya merasa bersalah, menyembunyikan Nara. Dan tidak memperkenalkan Nara pada masyarakat umum. Bukan Viki tidak bisa melindungi Nara, namun Viki harus tahu dulu. Siapa musuh yang sedang dia hadapi.
Nara menangkup kedua pipi Viki. "Nara senang bang. Dan ini bukan sangkar. Tapi rumah Nara. Dan Nara merasa nyaman." ujar Nara bijaksana.
Nara tahu, semua yang dilakukan Viki adalah untuk kebaikannya dan keselamatannya. Nara malah merasa bahagia dengan perlakuan Viki. Yang artinya bahwa Viki menyayangi dirinya.
Viki menatap wajah Nara dengan lamat-lamat. Saat Nara melepaskan telapak tangannya, Viki segera menggenggamnya. Dan...
Cup... Tidak menunggu waktu lama. Viki mendaratkan bibirnya di bibir tipis milik Nara. Terjadilah hal yang diinginkan Viki.
Namun Viki hanya melakukannya dengan batasan. Dirinya tahu, jika Nara masih belum menjadi istrinya. Dan Nara harus di jaga dengan baik. Bukan malah merusaknya.
__ADS_1