VIRA (Viki Dan Nara)

VIRA (Viki Dan Nara)
ViRA 190


__ADS_3

Malam hari, di kediaman Nara dan Viki sangat ramai. Dalam acara tujuh bulanan kehamilan Nara, mereka mengundang anak yatim piatu dari beberapa panti asuhan yang berada di kota mereka.


Acara berjalan dengan lancar. Apa yang diharapkan Nara dan Viki, hanyalah do'a. Tentu saja do'a untuk keluarga kecil mereka. Yang akan menyambut kedatangan calon anak mereka yang tinggal beberapa bulan lagi.


Setelah acara selesai, semua tamu undangan sudah meninggalkan kediaman Viki. Hanya keluarga inti saja yang masih tinggal. Berbincang ringan di dalam rumah.


"Mbak, bawa Rini sama Bima masuk ke kamar saja. Biarkan mereka malam ini menginap di sini." pinta Nara pada mbak Siti.


"Mari saya antar." ajak si Mbok.


"Mbok, ini sekalian sama Al." ujar Nara, melihat keponakannya juga terlihat sudah memejamkan mata di pangkuan pengasuhnya.


Dengan menggandeng tangan Rini yang sudah terlihat mengantuk. Bima yang sudah tertidur lelap dalam gendongan mbak Siti. Dan juga Al yang juga berada di gendongan perawatnya, mbok membawa mereka ke kamar tamu.


"Kalian semua nanti akan tidur di sinikan?" tanya Nara memastikan.


"Bagaimana pa?" tanya Nyonya Rahma menatap sang suami.


"Terserah mama." ucap Tuan Hendra.


"Ya sudah jeng, nanti kita tidur di sini. Kapan lagi kita menginap rame-rame seperti ini. Mau kan pa?" Nyonya Binta juga meminta pendapat sang suami.


Tuan Smith mengangguk pelan. "Terimakasih pa." Nyonya Binta mencium singkat pipi sang suami.


"Kak Renggo sama kak Sara juga menginap di sinikan?" tanya Nara. Namun baik Renggo ataupun Sara tidak segera menjawab pertanyaan dari Nara.


"Nanti kak Sara bisa tidur sama aku. Biar kak Renggo tidur sama suami aku." tutur Nara.


"Tidak bisa. Kamar di sinikan banyak. Kenapa kita harus pisah kamar. Aku tidak mau." ketus Viki tidak ingin berpisah tidur dengan sang istri.


"Iiisshhh.... sakit." keluh Viki mengusap pahanya yang terasa sakit karena dicubit Nara.


"Semalam. Cuma semalam." geram Nara.


"Apalagi semalam. Satu jam saja aku tidak akan mengizinkan. Lagian kamu aneh sayang. Masa iya, aku tidur sama Renggo." Viki menatap horor ke arah Renggo.


Renggo melempar bantal kursi tepat ke badan Viki. "Ckk,, gue normal." dengan sigap, Viki menangkap bantal tersebut.


Viki bergidik ngeri. "Nggak,, nggak,, nggak,, Aku nggak mau sekamar sama Renggo. Sumpah, membayangkan saja aku geli." tukas Viki.


Semua yang ada di ruangan tertawa melihat ekspresi jijik dari Viki. "Lagian aku nanti nggak bisa tidur. Jika nggak meluk kamu." Viki berkata dengan nada manja, memeluk tubuh Nara dari samping.


"Abang,,,, banyak orang ih..." gumam Nara, melepaskan tangan sang suami yang melingkar di tubuhnya.


Bukannya melepaskan tangannya, Viki malah menaruh kepalanya di pundak sang istri. "Biarkan Nara, selagi anak kalian belum lounching. Nanti, setelah baby keluar, Viki nggak bisa manja lagi sama kamu." sindir Nyonya Rahma pada putranya.


"Iri,,,, bilang." ejek Viki pada sang mama, tetap menempel pada tubuh sang istri, seperti cicak menempel pada dinding.


"Tapi maaf, saya tidak bisa tidur di sini. Maaf ya, Ra." ucap Sara tidak enak hati, menolak permintaan Nara.


Nara paham, kenapa Sara enggan untuk menginap di rumahnya. Yang Nara lihat, masih ada kecanggungan antara Nyonya Binta dan juga Sara.


Masih ada jarak antara mereka berdua. Dan Nara tidak tahu apa itu. "Emm,,, nggak apa-apa. Kak Sara nanti pulangnya di antar kak Renggo kan?" tanya Nara memastikan.


"Iya biar nanti kakak yang antar Sara." sahut Renggo.


"Loh,, mobil aku bagaimana?" tanya Sara. Lantaran memang tadi Sara datang dengan mengendarai mobil sendiri.


Sara tidak berangkat bareng dengan Renggo. Sebab, Sara tadi masih ada pekerjaan. Dan selepas itu, dia langsung datang ke rumah Nara. Untuk menghadiri undangan tujuh bulanan kandungan Nara.


"Biar di sini saja. Besok aku suruh sopir nganter ke apartemen kamu." jelas Renggo.


Tidak lama kemudian, akhirnya Renggo mengantar Sara pulang. "Ma, pa. Kelihatannya kak Renggo sungguh-sungguh menyukai kak Sara." celetuk Nara.


"Iya jeng, saya lihat Sara itu perempuan baik-baik. Dia juga kelihatan sayang sama Al." timpal Nyonya Rahma.


"Entahlah." Nyonya Binta terkesan tidak semangat membicarakan Sara.


"Saya hanya kurang sreg dengan pekerjaan Sara. Tahu sendirikan. Bagaimana pergaulan para artis." papar Nyonya Binta, mengatakan kegelisahan hatinya.


Sebagai seorang ibu, tentu saja dirinya tidak ingin jika Renggo sampai salah pilih untuk kedua kalinya.


Merasa suasana cukup canggung, Nyonya Rahma segera mengalihkan pembicaraan. Biar bagaimanapun, beliau cukup tahu diri untuk tidak terlalu jauh ikut campur masalah besannya.


"Oh,,iya. Nara, bagiamana kalau kapan-kapan kita belanja perlengkapan bayi. Bertiga." ajak Nyonya Rahma, memandang Nara dan Nyonya Binta bergantian.

__ADS_1


"Ide yang baik." sahut Nyonya Binta dengan semangat.


"Tapi jangan besok ma, Nara harus beristirahat dulu. Kasihan, dia pasti capek karena acara tadi." ujar Tuan Smith.


"Iya pa, jeng Rahma kan bilang kapan-kapan. Berarti tidak harus besok juga lah." timpal Nyonya Binta.


"Sayang, jika kamu mengantuk, kamu istirahat saja dulu. Aku masih ingin berbincang dengan papa dan papa Smith." tutur Viki, membelai lembut rambut Nara.


Nara menatap intens ke arah sang suami. "Tidak lama." Viki seolah mengerti arti tatapan dari sang istri.


Nara mengangguk. "Ma, pa. Nara ke kamar dulu. Ngantuk." pamit Nara.


"Mama juga, pasti mereka akan membicarakan masalah bisnis. Mama malas dengarnya. Membosankan." ujar Nyonya Rahma, dibalas kekehan oleh sang suami.


"Pa, mama ke kamar Rini dan Bima. Papa nanti nyusul saja." pinta Nyonya Rahma, yang mendapat anggukan dari Tuan Hendra.


"Mama juga pa, mama mau tidur sama Al." papar Nyonya Binta.


"Ma, mama dikamar yang satunya saja, nanti biar Al di bawa ke kamar mama oleh pengasuhnya." ujar Nara.


Sebab, saat ini. Rini, Bima, dan Al berada dalam satu kamar. "Nggak perlu, biar mama ambil sendiri. Mama masih kuat menggendongnya." Nyonya Binta memamerkan otot di lengannya.


"Itu lemak apa daging ma?" canda Tuan Smith.


"Papa...!!" seru Nyonya Binta, membuat semua tertawa lepas.


"Yok jeng." ajak Nyonya Binta.


Dan Nara sendiri masuk ke dalam kamarnya. Sejak dokter mengatakan jika Nara tengah mengandung, Viki dan Nara berpindah kamar, mereka menempati kamar bawah.


Viki tidak ingin jika Nara sampai kelelahan karena naik turun tangga. Lagi pula, hal itu juga sangat beresiko untuk keselamatan bayi.


Pernah Viki mempunyai niat untuk memasang lift di dalam rumah. Namun Nara menolaknya. Dia beralasan jika nantinya lift juga tidak akan terpakai. Dan malah akan menjadi mubazdir.


"Bagaimana perusahaan kamu. Aman?" tanya Tuan Smith.


Seperti tebakan Nyonya Rahma, ketiga lelaki tersebut membicarakan masalah bisnis dan pekerjaan. "Semua lancar pa." jawab Viki dengan santai.


Memang, siapa yang berani bermain dengan Viki. Sama halnya dengan Denis dan juga Ella. Sifat Viki tak jauh berbeda dengan mereka untuk masalah bisnis. Kejam dan berhati dingin.


"Kejadian itu sudah lama pa. Kenapa dibahas sekarang." sahut Viki, benar adanya.


"Apa kamu tidak ingin tahu, bagaimana keadaan mereka di sana?" tanya Tuan Smith lagi.


Viki menyenderkan badannya di kursi. "Bukan urusan Viki lagi. Lagi pula, Viki hanya membantu. Kami bekerja sama. Ya, seperti itulah." jelas Viki.


"Apa maksud kamu?" kini Tuan Hendra yang bertanya pada sang putra.


"Aku merekomendasikan dokter yang bagus untuk mengobati penyakit Nyonya Gina. Dan sebagai gantinya, mereka harus membawa jauh Giska dari negara ini." papar Viki.


"Sakit. Pantas, terkahir bertemu, wajah Nyonya Gina tampak pucat." gumam Tuan Hendra.


"Dan sekarang, tak ada yang tahu kabar mereka. Baik Tuan Marko, Nyonya Gina, maupun Giska." tutur Tuan Smith, menatap Viki.


Seolah tatapan Tuan Smith mengatakan jika Viki mengetahui hilangnya kabar tentang mereka. "Viki tidak tahu apa-apa. Jangan menatap Viki seperti itu pa." Viki tersenyum samar, membalas tatapan Tuan Smith.


"Saya dengar, perusahaan milik beliau di beberapa negara juga sudah dijual. Termasuk di negara ini." cicit Tuan Hendra.


Tuan Smith mengangguk, membenarkan apa yang dikatakan oleh besannya. "Dan sejak saat itu, keberadaan mereka sama sekali tidak diketahui." lanjut Tuan Smith.


"Tunggu." Tuan Hendra menatap Tuan Smith dan Viki secara bergantian.


"Giska, saat melakukan peninjauan proyek di luar kota. Sepertinya saya melihat Giska. Iya, benar." ungkap Tuan Hendra.


Viki terlihat tidak peduli dan acuh. "Jika dia kembali, mungkin bukan karena Viki. Tapi karena hal lain." Viki berdiri dari duduknya.


"Pa, Viki ke kamar dulu. Kasihan, istriku pasti sudah menunggu." Viki tersenyum jahil pada kedua lelaki paruh baya didepannya.


Senyum Viki lenyap saat dirinya tidak lagi berhadapan dengan kedua papanya tersebut. "Kembali untuk hal lain." gumam Viki tersenyum smirk.


Seperti yang sudah di rencanakan, Nara bersama kedua mamanya berbelanja keperluan bayi. Ketiganya mengitari mall, seolah tak ada kata lelah.


Nyonya Rahma meminta pada beberapa toko, untuk langsung mengirim barang belanjaan mereka ke rumah Viki. "Ma, apa nggak terlalu banyak?"


Nara merasa jika kedua mamanya sudah berbelanja melebihi batas. "Tidak sayang, ayo. Oh,,, iya. Maaf, mama sampai lupa. Kamu pasti capek ya." tutur Nyonya Rahma.

__ADS_1


Nara hanya mengusap perut besarnya dengan senyum di bibir. "Astaga jeng, kita terlalu bersemangat. Hingga lupa, ada Nara yang pastinya kecapekan karena berkeliling dari tadi." sahut Nyonya Binta.


"Nggak apa-apa kok ma." sebenarnya Nara juga merasa sedikit lelah. Tapi entah kenapa, rasa lelahnya menguap, melihat kedua mamanya yang terlihat sangat antusias berbelanja keperluan bayinya nanti.


"Kita istirahat dulu yuk, sambil makan." ajak Nyonya Binta.


Kini, ketiganya duduk di salah satu restoran yang masih berada di dalam mall. Memesan beberapa makanan dan juga minuman.


"Ma, maaf. Jika Nara makannya banyak." cicit Nara merasa malu.


"Harus. Kamukan sedang hamil. Butuh banyak makan."


"Benar kata mama kamu. Kamu dan bayi kamu akan sehat, jika kamu makan banyak, dan tentunya bergizi." ucap Nyonya Rahma.


Kini, usia kehamilan Nara sudah menginjak delapan bulan lebih. Hanya tinggal menghitung hari dan menunggu si jabang bayi untuk lounching ke dunia ini.


Akhir-akhir ini, Nara lebih sering menghabiskan waktu di rumah. Berjalan-jalan di taman belakang rumah. Nara menginginkan persalinan normal. Dan Viki, tentu saja ikut bagaimana keinginan sang istri.


"Sayang..." panggil Viki, dengan tas kerja masih berada di tangan.


Nara menoleh ke sumber suara. "Loh,,, papi, kok sudah pulang?" tanya Nara.


Sekarang, Nara dan Viki sudah merubah nama panggilan untuk mereka. Papi dan mami. Itulah nantinya panggilan untuk mereka dari anak-anak mereka kelak.


"Memang nggak boleh." Viki meletakkan tas di meja, segera menghampiri sang istri dan memeluknya.


Semenjak usia kandungan Nara mendekati masa kelahiran, Viki memang mengurangi jadwal kerjanya. Bahkan, untuk pekerjaan di luar kota, atau luar negeri. Viki menunjuk Rey sebagai penggantinya untuk sementara waktu


"Anak papi. Sudah nggak sabar, papi pengen ketemu kamu." Viki sedikit menundukkan tubuhnya, mencium perut buncit milik Nara.


Untuk jenis kelaminnya, baik Viki maupun Nara memang sengaja tidak ingin mengetahuinya. Meski mereka bisa mengetahui lewat USG.


Tapi keduanya sepakat untuk tidak melakukan semua itu. Mereka ingin sebuah kejutan untuk jenis kelamin anak mereka. Makanya, Nara membeli perlengkapan bayi dengan warna netral.


"Iissshhh,,,,," desis Nara. Menghela nafas dan menghembuskan dengan perlahan.


"Kenapa sayang?!" tanya Viki khawatir.


Nara tersenyum. "Kelihatannya baby mau keluar nih. Pengen ketemu papinya." jelas Nara dengan santai.


Benar dugaan Nara, Viki langsung panik mendengar perkataan Nara. "Oke, tenang. Papi akan menyiapkan semuanya." ucap Viki tidak konsentrasi.


Bahkan Viki terlihat kebingungan ingin melakukan apa lagi. "Papi,,, tenang. Oke, santai. Ingat kata dokter. Jangan khawatir, jangan cemas berlebihan. Dan tetap tenang." tutur Nara.


Viki mengangguk. "Aku sudah siapkan semuanya di dalam kamar. Di tas, semuanya sudah aku persiapkan. Tinggal kita berangkat." tutur Nara.


Nara yang akan melahirkan, namun Viki yang cemas. Mereka ke rumah sakit dengan diantar sopir. "Hubungi mama dan papa." pinta Nara pada si mbok.


Si mbok hanya mengangguk. "Duh Gusti, semoga kelahiran Nyonya lancar, dan semuanya selamat." ucap si mbok dalam hati.


Sampainya di rumah sakit, Nara masuk ke dalam. Tentunya di temani oleh Viki di sampingnya. Dan pak sopir, menunggu di depan. Jika saja kedua orang tua Nara dan Viki datang, mereka tidak akan kebingungan.


"Tuan muda dan Nyonya kecil ada di dalam Nyonya, Tuan." lapor pak sopir pada keempat orang yang datangnya bersamaan.


Tak ada percakapan di luar ruangan. Semua tampak terbenam pada pikiran masing-masing.


Sementara di dalam, Viki meneteskan air mata, melihat bagaimana perjuangan sang istri untuk melahirkan buah hati mereka.


Hingga beberapa jam kemudian, terdengar suara tangis bayi.... Membuat Viki maupun Nara bernafas lega. Demikian juga yang berada di luar ruangan. Mereka semuanya saling berpelukan dan menangis bahagia.


Selesai bayi mungil itu bersihkan, Nara dan juga si bayi langsung dipindahkan ke ruangan khusus. Viki ingin, bayinya dan Nara tidak dipisahkan.


Dan dokter menyetujuinya, lantaran memang keadaan keduanya yang cukup baik.


Viki duduk di samping ranjang Nara. Menggenggam telapak tangan Nara. Sementara para orang tua, berdiri di samping box bayi. Melihat betapa tampannya cucu mereka.


"Kamu sudah menyiapkan namanya?" tanya Tuan Hendra, dengan mata masih fokus pada cucunya.


"MAYEZZA RADIKA MAHENDRA." jawab Viki.


"Bagaimana?" Viki menatap sang istri.


"Nama yang bagus, Nara suka." Nara dan Viki saling berpelukan.


...SELESAI...

__ADS_1


__ADS_2