
"Loh, mbak Siti. Kenapa di sini?" tanya Nara dengan tatapan heran, melihat Mbak Siti duduk di kursi ruang tamu. Bahkan dengan tubuh menyender di kursi dan mata hampir terpejam.
Menandakan jika sang empunya sudah mengantuk. Tapi masih menginginkan jika dirinya akan terjaga. Dan dalam keadaan sadar.
Viki hanya menatap datar ke arah Mbak Siti tanpa membuka suara. Lontaran pertanyaan yang Nara ajukan sudah cukup mewakili rasa penasarannya.
"Maaf Den..." segera Mbak Siti berdiri dengan sopan di dekat Nara dan Viki.
"Saya memang sengaja menunggu Den Viki dan Non Nara pulang. Ada yang ingin saya sampaikan." tutur mbak Siti.
Sesuai kesepakatan dengan Nara, pembantu di rumah Tuan Haris akan memanggil Nara dengan tambahan kata Nona, jika ada orang lain di sekitar mereka.
Namun sebaliknya. Jika Nara sedang sendiri, mereka akan memanggil nama saja. Tanpa ada embel-embel. Dan itu semua permintaan dari Nara pribadi.
Nara merasa tidak pantas mendapat panggilan Nona. Sebab, dia merasa jika posisinya dengan para pembantu di rumah ini sama.
Sama-sama berasal dari keluarga biasa. Bahkan Nara merasa jika keluarga Nara lebih miskin dari pada keluarga para pembantu di rumah ini.
"Ada apa mbak?" tanya Nara merasa jika ada sesuatu yang penting.
Lantaran Mbak Siti sampai menunggu kedatangan mereka. Padahal saat ini sudah jam sepuluh lebih. Bukankah mbak Siti bisa menyampaikannya besok. Pasalnya, pasti mbak Siti juga pasti capek dan mengantuk. Karena seharian sudah bekerja.
"Anu Den, itu.... Tadi saya sempat melihat, jika Nona Giska masuk ke dalam kamar Den Viki secara diam-diam." jelas Mbak Siti.
Membuat Nara melongo dengan mengedipkan kedua bola matanya dengan lucu. Nara merasa tidak percaya dengan apa yang di ucapkan mbak Siti. "Katakan lagi." pinta Nara dengan ekspresi lucu.
Mbak Siti tersenyum. "Nona Giska, sekarang ada di dalam kamar Den Viki." tutur mbak Siti mengulang perkataannya kembali.
Nara menoleh untuk memandang calon suaminya. Namun ekspresi Viki malah terkesan acuh dan cuek. "Bang..." Nara menarik pelan kemeja Viki.
Nara seakan tidak terima jika kamar calon suaminya di masuki oleh perempuan yang dia tahu betul, jika perempuan tersebut menginginkan calon suaminya. "Hemm..." Viki hanya berdehem.
"Abang...." rajuk Nara merasa kesal. Saat Viki terkesan acuh. Padahal saat ini Giska berada di dalam kamarnya.
"Kunci pintu kamar saya dari luar." perintah Viki.
__ADS_1
Nara dan Mbak Siti langsung terdiam dan saling memandang. Lantas keduanya bersamaan memutus pandangan dan beralih menatap ke arah Viki.
Viki menatap tajam ke arah Mbak Siti. "Ba-baik Den." segera Mbak Siti berlari menaiki anak tangga dan melakukan apa yang di katakan oleh Viki.
Sampai di depan kamar Viki, Mbak Siti membuka perlahan pintu kamar Viki. Sehingga tidak menimbulkan gaduh. Sehingga Giska tidak akan menyadarinya.
Tangan Mbak Siti terulur mengambil kunci yang tergantung di pintu dengan pelan. Tentu saja Giska tidak mengetahui jika mbak Siti menyelinap masuk ke dalam kamar Viki. Lantaran keadaan kamar Viki yang temaram.
Ceklek,,, ceklek,,,, perlahan, mbak Siti memutar kunci yang tertancap di pintu. "Selesai." ujar Mbak Siti, menepukkan kedua telapak tangannya dengan senyum sempurna.
"Kapok." Mbak Siti segera meninggalkan tempatnya dan berjalan menuju kamarnya.
Selepas mbak Siti meninggalkan mereka. Segera Viki berjalan meninggalkan Nara. Dengan wajah kesal di tambah rasa penasaran, Nara juga berjalan mengikuti Viki.
"Loh,,,," gumam Nara, melihat Viki masuk ke kamarnya.
Di kamar Nara, Viki dengan santai melepas sepatu dan bajunya. Melemparkannya di atas kursi . "Abang....!!" Nara memegang tangan Viki yang hendak membuka celananya.
"Iiihh,,,, ngapain abang malah masuk ke kamar Nara." seru Nara tertahan. "Mana pake buka-buka baju segala." imbuh Nara di dalam hati, merasa jengkel.
"Masa abang tidur pakai pakaian seperti ini." sahut Viki berucap tanpa beban.
Nara merasa khawatir. Sebab, saat ini kedua adiknya sedang tidak tidur di kamar mereka. Rini tidur bersama Tuan Hendra dan Nyonya Rahma. Sementara Bima tidur bersama Mbok Nah.
"Abang,,,!!" seru Nara. Namun Viki malah melenggang dengan santai masuk ke dalam kamar mandi.
"Ambilkan baju abang di ruang kerja. Tolong ya sayang!!" teriak Viki dari dalam kamar mandi. Seenak jidatnya menyuruh sang kekasih.
"Hehh,,,," Nara menghela nafas panjang. "Untung cinta." dengus Nara, berjalan menuju ruang kerja Viki.
Dalam perjalanan menuju ruang kerja Viki, Nara tersenyum mengingat jika saat ini Giska tengah sendirian berada di dalam kamar Viki.
"Tapi kenapa Abang malah meminta Mbak Siti mengunci pintunya dari luar. Membiarkan Giska berada di dalam." gumam Nara.
Nara tidak bisa menebak apa yang ada dalam pikiran Viki, dan rencana apa yang sedang Viki jalankan.
__ADS_1
Tapi kedua sudut bibir Nara kembali terangkat, membayangkan saat Giska menyadari jika si pemilik kamar tidak berada di dalam.
Dan juga, Nara membayangkan. Apa yang akan dilakukan Giska, saat dirinya tersadar jika pintu sudah terkunci dari luar. Dan pastinya membuat Giska tidak bisa keluar dari kamar.
"Pasti akan sangat seru." ucap Nara tersenyum sempurna.
Tapi terdengar jelas helaan nafas kasar dari mulut Nara. "Ckk,,, tapi bagaimana aku akan tidur." Nara membuka pintu ruang kerja Viki dengan malas. Mengingat jika saat ini Viki sedang berada di dalam kamarnya.
Viki sudah memakai baju handuk dan duduk di sofa saat Nara kembali ke dalam kamarnya. "Terimakasih sayang." ucap Viki mengambil kaos beserta celana pendek di tangan Nara.
Cup,,, Viki mencium pucuk kepala Nara. "Ehhh,,,, ganti di dalam!!" teriak Nara, saat Viki hendak melepas baju handuknya di depan Nara.
Viki hanya ingin menggoda sang pujaan hati. Mana mungkin dia akan telanjang di depan Nara. Viki tersenyum, memamerkan deretan giginya yang putih dan rapi.
Setelah itu, segera dia masuk ke dalam kamar mandi. Dengan membawa pakaian yang sudah di ambilkan oleh Nara.
Sementara Viki masih di dalam kamar mandi berganti pakaian, Nara melepas asesoris yang menempel di beberapa bagian tubuhnya.
"Bagaimana jika tante dan om berpikiran macam-macam." keluh Nara berbicara sendiri.
"Astaga...!!!" desah Nara mengusap kasar wajahnya.
"Ehhh,,," Nara terperanjat, merasakan sebuah tangan kekar melingkar di lehernya.
"Apa yang sedang kamu pikirkan. Hemmm..." Viki mengecup lembut rambut Nara. Hingga Nara tidak sadar jika saat ini Viki sudah berada di belakangnya.
Nara mendongakkan kepala, melihat dengan senyum manis ke wajah tampan sang kekasih. Viki memajukan wajahnya mempertemukan kedua hidung mereka dan menggesek-gesekkan dengan gemas.
"Bagaimana kalau tante dan om tahu. Mereka bisa salah paham. Bagaimana jika mereka berpikir Nara perempuan yang tidak baik? Bagaimana jika mereka menganggap Nara perempuan... Aahhh...!!" teriak Nara frustasi, setelah mengungkapkan perasaan di hatinya.
Viki membelai pipi Nara. "Sudah larut malam. Cepat kamu bersihkan badan. Lalu istirahat. Besok kita akan bertemu dengan seseorang." ucap Viki, tidak membuat hati Nara tenang.
Dengan santai, Viki malah melangkah ke ranjang. Membaringkan badannya dnegan nyaman di atas ranjang Nara.
Nara hanya bisa pasrah dengan apa yang dilakukan sang kekasih. "Lebih baik memang abang di sini. Dari pada tidur di kamar dia sendiri. Mana ada Giska." gerutu Nara.
__ADS_1
Aissshhh,,, padahal itu hanya kemauan Viki. Karena kamar kosong di rumah ini masih banyak. Dan pastinya bersih. Karena setiap jari bersihkan oleh pembantu. Meskipun tidak di gunakan.
Kenapa Viki tidak tidur di salah satu kamar itu. Viki,,, memang seenaknya sendiri.