VIRA (Viki Dan Nara)

VIRA (Viki Dan Nara)
ViRA 88


__ADS_3

"Keluarlah, aku ada urusan penting." Viki berkata tanpa melihat ke arah Melva yang duduk di sampingnya.


Melva hanya mengerjap bingung. "Ma-ma-maksudnya?" tanya Melva. Terlebih, sekarang mereka berada di jalan yang sepi.


"Tuan Viki ada pertemuan penting. Tolong Nona Melva tidak menghambat dan memperlambat waktu yang berharga untuk kita." bukan Viki yang menjawab, melainkan Rey. Itupun dengan ekspresi datar tanpa senyum di bibir.


Melva menatap ke arah Viki dengan tatapan tidak percaya. "Hehh,,, bukankah kita baru saja, kita..." ucapan Melva menggantung. Dia bingung untuk melanjutkan perkataannya.


Tanpa di perintah oleh Viki. Rey segera keluar dari dalam mobil. Membukakan pintu belakang untuk Melva. "Silahkan, Nona Melva." ucap Rey dengan ramah. Padahal Rey sedang mengusir Melva secara halus.


Masih dengan raut wajah bingung, Melva turun dari dalam mobil. Kedua matanya hanya bisa melihat mobil yang di naiki Viki meninggalkan dirinya.


"Aaa.....!!!" teriak Melva, mengeluarkan kemarahannya. "Apa yang terjadi." ucapnya dengan nada keras.


Menurut Melva, apa yang dilakukan Viki seperti sebuah teka-teki. Padahal, baru saja di depan awak media Viki bersikap seakan menerima dirinya.


Dan sekarang, Melva seperti sedang di campakan. "Tidak bisa. Gue Melva."ucapnya angkuh.


"Viki, elo akan gue buat bertekuk lutut di bawah kaki gue. Pasti. Lihat saja. Akan gue buat, elo merangkak di hadapan gue." geramnya, merasa terhina dengan apa yang dilakukan Viki padanya.


Melva terdiam. "Paper bag." ucap Melva dalam hati. "Kenapa gue tadi nggak tanya, atau sekedar berbasa-basi." imbuhnya dalam hati.


Melva merasa bingung dengan sikap Viki. Sebentar baik, sebentar cuek. "Kenapa, kenapa tadi Viki bisa berada di pusat perbelanjaan. Dan dia, membawa sendiri paper bag tersebut." ucap Melva lirih, padahal dia tahu jika ada Rey, asisten Viki yang sangat di bencinya ada di samping Viki.


"Apa mungkin..." Melva menggantung ucapannya, dengan pikiran seperti sedang mengolah setiap hal yang terlintas di benaknya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Di tempat lain, Giska sedang meluapkan amarahnya. Dia melihat apa yang sedang di siarkan di layar televisi. Melva dan Viki sedang berbelanja di pusat perbelanjaan. Dengan Viki menenteng paper bag.

__ADS_1


Terlihat begitu romantis. Terlebih Melva yang bergelayut manja di lengan Viki. Dengan senyum terukir di bibir Melva yang seakan tak pernah luntur.


Giska mengira jika keduanya sedang berbelanja. Dan Viki, seorang pasangan atau lelaki yang menyayangi kekasihnya. Membawakan paper bag berisi barang belanjaan milik Melva.


Giska,,,, dia berspekulasi sendiri. Mengamuk di dalam kamar. Memecahkan apa yang di raih oleh tangannya.


Tak pelak, televisi di depannya. Padahal benda tersebut tidak salah apa-apa. Layarnya hancur tak berbentuk, di pukul dengan benda tumpul.


Hanya karena televisi tersebut menyiarkan berita tentang Viki dan Melva. "Melvaaaaa......!!!" teriaknya.


"Hiks,,, hiks,,," tubuh Giska merosot ke bawah dengan air mata jatuh tak terbendung seperti hujan. "Kenapa,,, kenapa Viki malah lebih memilih dia. Padahal aku begitu mencintainya." Giska menangis sesegukan.


Sedari tadi, Nyonya Gina sudah berada di depan kamar Giska. Membiarkan terlebih dahulu putrinya untuk meluapkan amarahnya.


Perlahan, dirinya masuk ke dalam. Memeluk tubuh sang putri yang duduk di lantai dengan pundak bergerak naik turun.


"Ma.. ma...." ucap Giska dengan terbata, karena sedang menangis.


Nyonya Gina turut menangis. "Iya sayang." beliau semakin mengeratkan pelukannya.


Menangis bukan karena Giska di tolak Viki. Melainkan, setelah sekian lama. Giska akhirnya memanggilnya dengan sebutan mama. Panggilan yang duku sering Giska ucapkan saat masih anak-anak.


"Ma,,,,," ucap Giska lirih, perasaan hangat menjalar si tubuh Giska. Begitu sang mama memeluknya dengan penuh kasih sayang.


"Husssttt,, mama ada di sini. Kamu tidak perlu khawatir. Ada mama, ada papa yang sangat menyayangi kamu. Kamu adalah nyawa kami." berkali-kali Nyonya Gina mengecup lembut pucuk kepala Giska.


Entah karena apa, air mata Giska semakin mengalir deras. Perasaan yang lama tak dia dapatkan, kini kembali dia merasakannya.


Dan itu semua karena salah dirinya. Yang seakan membentengi diri dari sang mama.

__ADS_1


Momen ini tak di sia-siakan oleh Nyonya Gina..Beliau berharap, ini adalah awal dari hubungan dia dan sang anak kembali berjalan normal, seperti dulu.


"Sayangnya mama. Putri mama tercinta. Mama sangat menyayangi kamu."


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Kita langsung pulang." ucap Viki.


"Baik Tuan." jawab Rey, melihat majikannya dari spion mobil yang tergantung di depannya.


Terlihat Viki tampak tersenyum melihat ke arah beberapa paper bag yang ada di sampingnya. Dan Rey tahu, apa isi dari paper bag tersebut.


"Khemmm... Sebaiknya Mbak Siti segera menyelesaikan pekerjaan mbak Siti. Dari pada melihat sesuatu yang ti-dak pen-ting." tukas Nara melirik ke arah Puspa dengan ekspresi tidak bersahabat.


Mbak Siti sepertinya mengerti dengan isyarat yang di berikan oleh Nara. Mbak Siti tersenyum samar. "Oke Nara, aku akan bantu kamu." ucap Mbak Siti dalam hati.


Mbak Siti melangkahkan kakinya mendekati Nara. "Maaf Nara, saya salah. Karena berbincang hak yang tidak perlu saat bekerja. Tolong jangan laporkan saya pada Nyonya dan Den Viki." ucap Mbak Siti.


"Mbak Siti, sudah seperti artis saja. Kenapa nggak jadi pemain sinetron saja." ucap Nara dalam hati tertawa melihat ekspresi mbak Siti yang sangat menghayati.


Seolah Nara adalah majikannya juga. "Baik, jangan ulangi lagi." Nara membalikkan badan, berjalan kembali tempat Bima berada.


"Huffftt..." mbak Siti menghela nafas. "Untung, Nara itu perempuan baik. Sebaiknya aku segera menyelesaikan pekerjaanku. Aku tidak ingin di pecat. Hanya karena lalai. Apalagi sekarang mencari pekerjaan sangat sulit."


Tanpa berpamitan pada Puspa, Mbak Siti pergi dari sana. Dengan wajah tersenyum tanpa Puspa ketahui. Sementara Puspa, hatinya tampak dongkol.


Bukannya takut atau cemas, Puspa malah semakin membenci Nara. Padahal Nara sama sekali tidak melakukan apapun pada Puspa.


Memang, Puspa ini perempuan yang aneh.

__ADS_1


__ADS_2