
Viki pulang ke rumah saat makan malam sudah tiba. "Aku makan nanti saja ma. Capek." ucap Viki, terus berjalan ke atas. Padahal semuanya sudah berada di meja makan. Menunggu kedatangannya.
"Tante tenang saja. Biar nanti Nara yang memastikan. Supaya bang Viki makan." ucap Nara, saat melihat Nyonya Rahma memandang ke arah Viki yang sedang berjalan menaiki tangga.
"Terimakasih." ucap Nyonya Rahma.
"Itu sudah tugas Nara, tante." ucap Nara dengan tulus. Perkataan Nara membuat Nyonya Rahma dan Tuan Hendra saling pandang. Tapi mereka memilih untuk tidak terlalu memikirkannya.
"Rini, kakak mau mengambilkan makan buat Viki. Kamu jaga Bima, ya." ujar Nara dengan suara lirih, setelah Bima tertidur lelap. Rini hanya tersenyum dan mengangguk.
Rini berada tak jauh dari Bima, sedang sibuk memasukkan alat tulis yang akan di bawa ke sekolahan besok.
Dengan wajah berbinar, Rini melihat seragam yang tergantung rapi di dekat almari. Juga sepatu yang berada di rak dekat almari.
"Mau buat apa Ra?" tanya Mbak Siti, melihat Nara sibuk di dapur.
"Mbak Siti." ucap Nara menoleh ke arah Mbak Siti. "Mau manasin sayur mbak, buat bang Viki. Tadi belum sempat makan malam." jelas Nara dengan tangan sibuk menyiapkan makan untuk Viki.
"Ada apa mbak?" tanya Nara.
Karena mbak Siti malah duduk di samping Nara, menggunakan tangan kirinya untuk menopang kepala sembari tersenyum melihat ke arah Nara.
"Mbak...." panggil Nara lagi, sebab mbak Siti malah diam dan tersenyum.
"Jadi ceritanya sedang melayani calon suami." ledek mbak Siti.
"Mbak Siti. Ngomong apa sih." ucap Nara dengan memonyongkan bibir ke depan, supaya tidak terlihat jika dia sebenarnya sedang tersenyum malu.
"Cie,, cie,, pake malu-malu." goda mbak Siti.
"Apaan sih." ucap Nara dengan nada cuek. Padahal hatinya sedang berbunga-bunga.
"Siti, sudah sana. Jangan ganggu Nara." tegur Mbok Nah.
"Iya mbok." Mbak Siti berdiri dari duduknya.
"Sudah Nara, sekarang kamu bisa siapkan makan dengan tenang." ujar Mbok Nah.
"Untuk calon suami kamu." imbuh Mbok Nah, ikut menggoda Nara.
Nara membulatkan kedua bola matanya ke arah Mbak Siti dan Mbok Nah yang tengah tertawa sambil berjalan meninggalkan Nara sendiri.
tok,, tok,, tok,, "Bang, Nara masuk ya!!" seru Nara setelah mengetuk pintu.
"Apa bang Viki tidur." ucap Nara pelan, karena tidak terdengar sahutan dari dalam.
Ceklek,,, dengan pelan, Nara membuka pintu Viki menggunakan sikunya. Karena kedua tangannya dipergunakan untuk memegang nampan berisi penuh makanan dan minuman untuk Viki.
"Pantas." gumam Nara, melihat Viki tengah tertidur lelap. Nara meletakkan nampan berisi makanan di atas nakas. Kemudian dia kembali untuk menutup pintunya lagi.
"Bang, bangun." ucap Nara. Dengan pelan menggoyang tubuh Viki.
"Euuuggghhhh...." terdengar lenguhan dari Viki.
"Bangun bang. Abang belum makan. Nanti sakit lo." ucap Nara, masih duduk di samping ranjang Viki. Mengelus bahu Viki. Karena Viki tidur dengan tengkurap.
Viki menoleh ke arah Nara. "Pukul berapa sekarang?" tanya Viki dengan mata masih terpejam.
"Sepuluh." jawab Nara.
Viki membuka kedua matanya. Memandang ke arah Nara, dan tersenyum. "Pasti Abang kecapekan." ucap Nara.
"Hari ini sungguh melelahkan." ucap Viki, mengubah posisi tidurnya menjadi terlentang. Dengan kedua tangan dipergunakan sebagai bantal.
"Abang bangun. Nara sudah bawakan makanan." jelas Nara memandang ke nakas.
Dengan malas, Viki bangun dari tidurnya. "Kenapa?" tanya Nara, saat Viki malah menatap ke arahnya.
"Terapinya masih berlanjutkan?" tanya Viki ambigu.
"Terapi?" tanya balik Nara, merasa bingung dengan pertanyaan Viki.
"Terapi." ucap Viki, dengan jari sudah berada di bibir tipis milik Nara, dan mengelusnya dengan lembut.
Melihat Nara hanya diam, Viki mendekat. Dan,,, cup. Viki menempelkan bibirnya ke bibir milik Nara. Dengan pelan, Nara memejamkan mata.
"Jangan menutup mata Viki, buka mata kamu. Pandang Nara." batin Viki,
Saat ini, hati dan pikiran Viki tengah berperang. "Jika kamu ingin sembuh. Lakukan." ucap Viki dalam hati. Viki mengambil kedua tangan Nara. Menaruhnya untuk dikalungkan ke lehernya.
Dengan patuh, Nara melakukan apa yang di lakukan oleh Viki. Tangan kiri Viki, memegang pinggang ramping Nara. Dengan tangan kanan memegang tengkuk Nara.
__ADS_1
Kali ini, Viki bermain sedikit berani. Bukan hanya mencicipi dan ******* bibir tipis dan manis milik Nara.
Bahkan, Viki sudah memasukkan lidahnya ke dalam rongga mulut Nara. Memainkan lidahnya di dalam. Membelitkan lidahnya dengan lidah milik Nara.
Nara memukul dada Viki, saat pasokan oksigen di paru-parunya mulai menipis. "Hah,, hah,," Viki melepaskan pangutannya.
Keduanya saling menempelkan dahi, dengan nafas terengah. "Eughhh..." Viki kembali merasakan manisnya bibir gadis berusia tujuh belas tahun tersebut.
Hingga beberapa lama, mereka melakukannya. Dirasa sudah cukup, Viki menghentikannya. "Terimakasih." ucap Viki, mengusap bibir Nara yang sedikit bengkak dan basah karena ulahnya.
Nara menunduk dan mengangguk. Viki memegang dagu Nara. Membawa matanya untuk memandang ke arah dirinya. "Kamu menyesal?" tanya Viki.
"Tidak." ucap Nara lirih, mengulum bibirnya sendiri. Ada rasa takut, senang, dan juga bersalah di hati Nara.
"Maafkan Nara bu, Nara harus melakukannya. Jika ibu masih hidup. Pasti ibu akan mengizinkan. Ibu pasti tidak akan marah." batin Nara, menenangkan gejolak di hatinya.
"Apa kamu bersedia, melakukan hal lain lagi?" tanya Viki.
"Apa?" tanya Nara.
Dan Nara sepertinya mengerti kemana arah pertanyaan Viki. Sebab Nara melihat ke mana arah pandangan Viki sekarang. "Ehh,,," Nara menyilangkan kedua tangannya di dadanya.
Viki tersenyum. Mengacak rambut Nara. "Tenang saja. Aku tidak akan melakukan denganmu." ucap Viki.
"Hah..."
"Sudah sana, ambilkan makanku." perintah Viki.
Viki makan makanan yang di bawakan oleh Nara dengan lahap. "Abang lapar?" tanya Nara.
Viki hanya mengangguk, dengan tangan memasukkan sendok berisi makanan ke dalam mulutnya.
"Bagaimana sekolahmu?" tanya Viki, selesai makan.
"Baik bang. Nara senang." ucap Nara, membereskan tempat makan Viki. Dan menaruhnya di atas nampan.
"Bang."
"Hemm..." ucap Viki, dengan mata fokus ke layar ponselnya.
"Ada apa?" tanya Viko meletakkan ponselnya, memandang ke arah Nara. Karena Nara tidak melanjutkan perkataannya.
"Abang sudah berpikir. Kamu masih terlalu kecil. Dan abang tidak boleh egois. Abang akan membayar perempuan, untuk melakukannya pada Abang. Tidak perlu khawatir." jelas Viki, mencubit gemas pipi Nara.
"Kenapa?" tanya Viki, melihat kedua mata Nara sudah mendung. Bahkan sebentar lagi pasti air matanya akan meluncur ke pipi.
"Hey, kenapa?" tanya Viki, segera memindahkan nampan di atas paha Nara ke atas meja samping tempat tidurnya.
"Kenapa?" tanya Viki lagi, saat Nara menangis.
"Nara mau membantu abang. Apa tidak boleh?" tanya Nara dengan polos.
Viki mengusap wajahnya kasar. "Bukan tidak boleh, tapi kamu terlalu kecil untuk hal seperti itu. Dan abang, tidak mau merusak kamu." jelas Viki.
"Nara ikhlas. Lagi pula, apa abang tidak takut. Jika nanti ada orang lain yang tahu." jelas Nara.
"Abang membayar perempuan tersebut. Tapi apa Abang yakin, jika dia tidak mengatakan apapun pada orang lain?" tanya Nara, yang pastinya tidak bisa di jawab oleh Viki.
"Ehh..." Viki terkejut, saat Nara membawa tangan Viki ke dadanya. Entah dari mana keberanian yang Nara dapatkan.
Seeeerrrrrr..... dada Viki berdesir, saat menyentuh dada seorang perempuan untuk pertama kalinya. "Lakukan, Nara ikhlas." ucap Nara dengan tersenyum.
"Abang takut." ucap Viki, menarik tangannya. Nara menatap Viki dengan tatapan bingung.
Viki menatap kedua telapak tangannya. "Abang, belum pernah melakukan." cicit Viki, seperti gadis remaja.
"Abang pejamkan mata saja saat melakukannya." saran Nara, teringat saat pertama Viki mencium bibirnya.
Dengan pelan, Viki mengangkat tangannya. Menaruhnya di kedua bongkahan sedang yang menempel di dada Nara dengan mata terpejam.
Nara dapat melihat, saat tangan Viki bergetar. Bahkan wajah Viki juga pucat. Rasa takut yang sempat Nara rasakan lenyap seketika melihat semuanya. Berubah menjadi rasa kasihan.
Nara segera memegang telapak tangan Viki, dan menekannya ke dadanya sendiri, saat Viki hendak menarik tangannya.
Nara memegang tangan Viki, membawanya masuk ke dalam baju miliknya. "Lakukan bang, Nara ikhlas." ucap Nara lirih. Berdiri setengah badan, dan memajukan badannya. Mendekat ke arah Viki.
Tangan Viki mulai bergerak pelan mengusap dua bongkahan sedang milik Nara. Keringat sebesar biji jagung mulai keluar dari dahi Viki. Dengan lembut, Nara mengelap dengan tangannya.
Nara mengigit bibirnya, saat tangan Viki menyentuh benda kecil di dada Nara. Bahkan, Nara dapat merasakan. Betapa dinginnya telapak tangan Viki. "Pasti, selama ini abang sangat tersiksa." batin Nara dengan kedua mata mengembun.
Viki menarik tangannya dengan cepat dari dalam baju Nara. Nafasnya tersengal. Nara segera memeluk Viki. "Kita akan melewatinya bersama. Abang tenang saja, Nara tidak akan meninggalkan abang." ucap Nara, mengelus rambut Viki.
__ADS_1
Viki melihat kedua telapak tangannya yang masih bergetar. "Aku bisa." ucap Viki lirih.
"Iya, abang bisa." ucap Nara memegang kedua pipi Viki.
"Abang harus berjanji pada Nara. Jangan pernah berniat mencari perempuan lain. Selain Nara." ucap Nara, menatap tajam ke arah Viki.
Nara merasa tidak rela, dan merasa hatinya sakit. Saat mendengar Viki akan mencari perempuan lain untuk membantunya.
Keduanya saling bertatapan. "Mana bisa aku cari perempuan lain." Viki mengecup singkat bibir Nara.
"Aku sangat menyukainya." imbuh Viki, membuat kedua pipi Nara bersemu merah, dengan cepat Nara melepaskan tangannya di pipi Viki.
"Bagaimana kamu bisa melakukan hal tadi?" tanya Viki, menaruh anak rambut Nara di belakang telinga.
"Tidak tahu, mungkin hanya insting." jawab Nara.
"Besok pagi, kamu bangunkan aku ya. Kita akan mencobanya lagi." ujar Viki.
"Sekarang kamu tidur, sudah malam." Viki mencium lembut kening Nara.
Sepeninggal Nara, Viki membersihkan badannya. Karena Viki langsung memejamkan kedua matanya begitu masuk kamar. Tanpa mandi terlebih dahulu.
"Sudah sampai tahap ini." ucap Viki saat dirinya berendam di dalam zaquci. Dengan mata memandang ke arah telapak tangannya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Apa..!!!!" seru Tuan Marko. Saat bawahannya mengatakan jika Viki memecat semua artis yang menginginkan kenaikan gaji.
"Apa yang dia rencanakan." gumam Tuan Marko.
Nyonya Gina yang mendengar teriakan sang suami dari luar ruang kerjanya hanya tersenyum samar. "Kenapa kamu melangkah sampai sejauh ini." gumam Nyonya Gina.
"Dia hanya pemuda yang tidak bersalah." imbuh Nyonya Gina, teringat akan sosok Viki.
"Giska." ucap Nyonya Gina, melihat putrinya pulang.
Nyonya Gina sudah sering melihat Giska pulang larut malam. Bukannya beliau tidak memberitahu Giska. Tapi Giska memang tidak pernah bisa untuk di beritahu.
"Tunggu Giska!!" seru Nyonya Gina, saat putrinya melewatinya begitu saja.
"Mama bilang berhenti." hardik Nyonya Gina, memegang lengan Giska dari belakang. Dengan kasar, Giska menghentakkan tangan sang mama.
"Apa ini!!" bentak Nyonya Gina, dengan pandangan mata tajam mengarah ke leher sang putri.
Setelah pertempuran panas dengan seorang lelaki siang tadi, Giska marah dan uring-uringan. Karena banyaknya tanda percintaan keduanya di badan Giska.
Termasuk di leher mulus miliknya, apalagi dengan warna yang sangat kontras dengan warna kulit lehernya. Membuatnya terlihat sangat jelas.
Sebelumnya Giska memang sudah sering melakukannya dengan sang lelaki. Tapi Giska selalu tekankan untuk tidak membuat sesuatu yang akan membuat Giska malu.
Tidak untuk siang tadi. Karena Giska dalam pengaruh zat afrodisiak, membuat nafsunya bertambah berkali-kali lipat.
"Jawab!!" bentak Nyonya Gina murka. Matanya melihat dengan jelas tanda merah di leher Giska. Bahkan bukan hanya satu atau dua. Dan Nyonya Gina, tahu betul. Tanpa apa itu.
Giska hanya diam, tidak menatap ke arah sang mama. Hingga Tuan Marko keluar dari ruang kerjanya, karena mendengar suara teriakan dari sang istri.
"Ma...!!" seru Tuan Marko, melihat sang istri menatap putri mereka dengan tatapan mata menyalang.
"Lihat. Lihat Marko. Apa yang dilakukan oleh putrimu tersayang." seru Nyonya Gina, dengan tangan menunjuk ke arah leher Giska.
Mata Tuan Marko membulat sempurna melihatnya. Sungguh, Tuan Marko tidak percaya. Apalagi selama ini, beliau selalu menyuruh bawahannya untuk memantau kemanapun sang putri pergi.
Raut wajah Giska masih terlihat datar dan tenang. Seolah rasa marah dan kecewa mamanya tidak berarti untuk dirinya.
"Pantas Viki menolak kamu." ucap Nyonya Gina dengan lantang.
Barulah Giska menoleh memandang wajah merah menahan amarah dari sang mama, saat Nyonya Gina menyebutkan nama lelaki yang sangat diinginkannya.
Sementara Tuan Marko hanya diam. Dirinya benar-benar tidak mengira akan menjadi seperti ini. Sungguh, Tuan Marko begitu syok.
"Laki-laki seperti Viki. Sempurna. Tidak akan pernah mau mempunyai seorang pendamping seperti kamu. Dan mama, sangat kecewa." geram Nyonya Gina dengan nada tertahan.
Terlihat Giska mengepalkan kedua tangannya dengan erat, mendengar perkataan sang mama.
"Marko. Inilah hasil didikan kamu. Dan nikmatilah." seru Nyonya Gina.
Plakkk..... "Memalukan." seru Nyonya Gina, menampar keras pipi sang putri, sebelum meninggalkan anak dan sang suami.
Tidak ada air mata yang terjatuh di pipi Giska. Dan Tuan Marko, memandang ke arah sang putri dengan tatapan nanar.
Giska meninggalkan Tuan Marko tanpa mengucapkan sepatah katapun. Dia menuju ke dalam kamar. Melampiaskan amarahnya di dalam kamar. Membuang dan membanting apa saja yang dia pegang.
__ADS_1