
"Bagaimana kalau kita makan di luar dulu?" tawar Viki pada sang istri. Disaat keduanya tengah berada di dalam mobil dalam perjalanan pulang dari perusahaan.
Menyadari ada yang tidak beres, Viki yang sedang mengemudikan mobil menoleh ke samping. Dimana sang istri sedang menampilkan wajah masamnya. "Kamu kenapa sayang, lapar?" tanya Viki.
"Lihat penampilanku." pinta Nara dengan nada jutek, dan bibir mengerucut.
"Ada apa dengan penampilanmu. Seperti biasa, kamu sangat cantik." puji Viki. Bahkan, jika Nara tidak memakai bajupun, Viki akan lebih senang. Dan pasti akan memuji sang istri.
"Haahh,,,, cckkk." Nara menghembuskan nafas kasar dan berdecak sebal
Sepulang tamu yang tak diundang yang datang ke perusahaan, Viki menenangkan Nara yang merasa cemas di dalam ruang pribadinya.
Tidak hanya sampai di situ, bahkan Viki meminta kembali olah raga panas di atas ranjang yang semalam sudah mereka lakukan, saat Nara sudah kembali tenang.
Benar-benar mencari kesempatan dalam setiap keadaan.
Yang membuat Nara kesal, setelah keduanya melakukan hal tersebut hingga pelepasan, Viki membiarkan Nara tertidur. Sementara dirinya membersihkan diri di dalam kamar mandi.
Membuat Viki kembali terlihat rapi dan pastinya menawan. Namun, saat Nara ingin mandi, Viki malah menghalanginya. Dia beralasan sudah waktunya pulang. Aneh bukan. Membuat Nara jadi minder berjalan di samping Viki.
Alhasil, penampilan Nara sedikit jomplang dengan Viki. Meski demikian, Nara masih terlihat cantik. "Kita mampir ke restoran dulu." ajak Viki.
"Langsung pulang." tolak Nara mentah-mentah.
"Tapi sayang..." rengek Viki.
Nara menatap tajam ke arah sang suami. "Pu-lang." tekan Nara.
"Baiklah." sahut Viki dengan santai. Tidak ada rasa bersalah di hati Viki.
Nara merasa jika jalan yang mereka lalui bukanlah jalan menuju ke rumah. "Bang, kita lewat mana?"
"Lewat jalan tikus." jawab Viki sekenanya.
"Jalan tikus. Memang ada jalan tikus sebesar ini." cicit Nara memperhatikan jalan yang mereka lalui.
Viki tersenyum mendengar perkataan Nara. "Ada. Tikusnya berambut hitam." celetuk Viki, mendapat pukulan di lengannya oleh sang istri.
__ADS_1
"Bang, kita ini mau kemana sih?!" tanya Nara menaikkan nada suaranya. Khawatir dan takut. Tentu saja. Meski dia pergi bersama sang suami.
Bukan takut karena apa-apa. Sebab Nara tahu, jika setelah mereka berhubungan badan layaknya pasangan suami istri pada umumnya, Viki sekarang jauh lebih mesum. Dikit-dikit minta.
"Abang,,, jawab Nara." rengek Nara, memegang lengan Viki.
"Ganti panggilan kamu pada abang, jika kita hanya berdua." bukannya menjawab pertanyaan Nara, Viki malah menyuruh Nara.
Nara memainkan bibirnya. Viki tersenyum samar melihat sang istri sepertinya sedang berpikir. "Mas.." ucap Nara lirih.
Viki menggeleng, dengan mulut mencebik. Pertanda jika dia tidak suka di panggil mas. "Akang." kata Nara.
"No. Panggilan macam apa itu." sarkas Viki cemberut.
Bukannya marah, Nara tersenyum melihat ekspresi Viki sekarang. Tetap tampan meski sedang cemberut. "Kakak." lanjut Nara.
"Ckk,,, apa kita saudara." ketus Viki semakin kesal pada Nara, hanya memberi panggilan khusus pada dirinya saja, Nara tidak bisa memikirkan hal tersebut.
Viki semakin cemberut, dengan mata mengarah ke depan. Fokus menyetir. Nara sebenarnya sudah mengetahui maksud perkataan Viki, atau lebih tepatnya nama panggilan yang akan Nara pakai saat memanggilnya.
Namun Nara pura-pura tidak mengetahuinya. Nara malu untuk memanggil sang suami dengan sebutan yang saat ini sudah ada dalam benaknya.
"Terserah. Kenapa kamu malah nanya. Kamu pikirkan saja sendiri." ketus Viki.
Nara kembali tersenyum. Sang suami bertambah tampan saat marah seperti ini. Itulah yang ada dalam pandangan mata Nara sekarang.
Nara mengatur degup jantungnya. Sedikit mencondongkan badannya ke arah Viki. Sebab, di badan Nara terpasang sabuk pengaman.
"Sayangku, honey, my love. Abang pilih mana?" suara lirih dam sedikit serak Nara membuat Viki merasa terangsang.
Seakan tersadar, Viki menghentikan mobilnya dnegan tiba-tiba. "Abang...!!!" jerit Nara memegang sabuk pengamanannya.
"Sayang. Katakan, kamu mau memanggil suamimu ini dengan sebutan apa?" Viki melepas sabuk pengaman yang melingkar di tubuhnya. Dan segera mendekatkan dirinya pada Nara.
"Katakan sayang, aku mau dengar." rengek Viki, persisi seperti anak kecil yang sedang memohon dibelikan sesuatu.
"Abang pikir-pikir dong. Bagaimana kalau kita celaka. Menyetir yang benar. Astaga, jantung aku mau copot." keluh Nara.
__ADS_1
"Katakan sayang. Ayo, abang mau dengar." pinta Viki kekeh.
Nara memutar kedua bola matanya dengan malas. "Sabar Nara, ada kalanya kamu harus lebih dewasa dari suami kamu." tekan Nara pada dirinya sendiri.
"Honey, bisa jalankan lagi mobilnya." Nara tersenyum dengan manis menghadap sang suami. Menahan rasa kesal yang hampir meledak.
Bukan tanpa sebab Nara meminta hal tersebut. Saat ini, mobil yang mereka naiki ada di tengah hutan. Sepanjang Nara memandang, kanan kiri jalan hanya ada pohon yang berjejer rapi. Seolah sedang berbaris.
Bukannya menjalankan mobil, Viki malah membuat kedua mata Nara membulat. Viki mencium bibir Nara, dan ciuman tersebut kini berubah jadi ******* kecil yang semakin menuntut lebih.
Masih berada dalam kesadarannya, Nara mendorong tubuh sang suami. "Kenapa sayang. Apa kurang hot ciuman abang?" tanya Viki nyleneh. Mampu membuat Nara melongo.
Nara memejamkan kedua matanya sebentar. "Jalankan mobilnya sekarang. Atau, tidak ada jatah lagi buat anda, Tuan Viki." geram Nara melotot.
Mendengar kata jatah, membuat Viki kelimpungan. "Oke, kita jalan sekarang Nyonya." Viki memakai sabuk pengamannya kembali dan melajukan mobil.
Nara menggeleng melihat sikap sang suami. Hanya dengan ancaman kata jatah, mampu membuat seorang pemilik perusahaan yang arogan seperti Viki langsung menurut padanya.
"Kenapa sih kita lewat jalan ini bang." desah Nara, takut. Siapa yang tidak merasa takut. Berada di tengah hutan. Meskipun pemandangannya cukup manjakan mata, tapi siapa tahu. Ada hewan buas di sini.
"Honey." ralat Viki, saat Nara kembali memanggilnya dengan sebutan abang.
Nara menaikkan kedua bola matanya ke atas. "Honey, kenapa kamu ajak aku ke sini? Sebenarnya kita mau kemana?" tanya Nara dengan nada lembut.
Berharap sang suami akan memberitahunya, kemana tujuan mereka. Hingga melewati jalan seperti ini.
Bukannya menjawab, Viki malah mengambil telapak tangan Nara dan menciumnya. "Kamu semakin membuat aku gila sayang." ujar Viki.
Pasrah. Nara menyenderkan badannya ke kursi mobil. Dirinya kini hanya diam. Dan menurut kemana sang suami akan membawa.
Bertanyapun percuma. Viki bahkan sama sekali tidak memberitahunya. Viki tersenyum, dirinya tahu jika saat ini sang istri sedang kesal pada dirinya.
Dan itu memang Viki sengaja lakukan. "Sepi sekali." ucap Viki memutar lagu di dalam mobil.
"Namanya juga hutan. Rame di pasar." celetuk Nara cemberut.
"Benar juga." timpal Viki tersenyum samar. "Sayangku, pintas sekali sih." Viki mengacak rambut Nara.
__ADS_1
Dengan ekspresi maraj bercampur kesal, Nara merapikan kembali rambutnya.