VIRA (Viki Dan Nara)

VIRA (Viki Dan Nara)
ViRA 79


__ADS_3

"Apa semuanya aman?" tanya Viki pada Andrew.


"Aku tidak bisa datang setiap hari. Mungkin seminggu dua kali. Tapi kamu tidak perlu khawatir. Akan ada perawat yang datang mengecek keadaan om Hendra setiap hari." jelas Andrew.


"Apa tidak bisa, jika perawat itu tinggal di sini saja?" tanya Viki.


Bukan tanpa alasan Viki menginginkan hal tersebut. Semakin sering perawat keluar masuk rumah. Semakin akan berbahaya untuk keluarganya saat ini. Karena Viki tidak bisa menjamin apa yang terjadi di luar.


"Baiklah. Aku akan carikan." ucap Andrew.


"Jangan sampai salah." ucap Viki mengingatkan.


"Tenang. Aku akan mencari yang terbaik. Dan pastinya, setia." ucap Andrew sungguh-sungguh.


Viki segera mengumpulkan semua pekerja di rumah. Bahkan, Nyonya Rahma dan Nara juga duduk di kursi empuk. Untuk mendengarkan apa yang ingin Viki sampaikan.


"Saya ingin kalian berjaga dengan lebih waspada. Jangan biarkan orang asing masuk. Sebentar lagi, akan ada beberapa personil tambahan, yang akan berjaga di rumah ini." jelas Viki.


Viki memang menyuruh anak buahnya yang biasanya berkumpul di markas, untuk berjaga di sekitar rumah. Dia ingin keadaan benar-benar aman untuk semuanya. Terlebih saat dirinya tidak ada di rumah.


Semua pekerja membubarkan diri setelah Viki selesai berbicara. "Apa yang sebenarnya terjadi. Apa yang kamu sembunyikan dari mama?" tanya Nyonya Rahma dengan raut wajah khawatir.


Viki merangkul sang mama dari samping. Viki akan memberitahu apa yang terjadi pada sang mama dan juga Nara. Tapi dia tidak akan memberitahu secara detailnya. "Ma, kita harus kuat." Viki beralih memegang kedua telapak tangan sang mama.


"Ada seseorang di luar sana. Yang sekarang masih berkeliaran. Dia ingin melenyapkan kita." ucap Viki pelan.


Nyonya Rahma dan Nara menggeleng pelan. Pastinya mereka tampak kaget dan syok. Karena selama bertahun-tahun, kehidupan Nyonya Rahma aman dari kata kejahatan.


"Siapa mereka. Kenapa. Apa sebenarnya yang terjadi?" tanya Nyonya Rahma berentet.


"Hussstttt,,,, mama tidak perlu khawatir. Viki akan melakukan semuanya untuk melindungi kalian." janji Viki.


"Viki masih menyelidiki. Siapa orang tersebut." imbuh Viki.


"Kenapa abang tidak melaporkan pada polisi saja." saran Nara, karena yang Nara tahu. Jika benar apa yang di ceritakan Viki. Lapor pada aparat keamanan adalah hal penting.


"Ini tidak sesederhana yang kamu pikirkan Nara." ucap Viki. Meski Nara tidak mengerti apa maksud dari perkataan Viki, tapi Nara mencoba mengerti.


"Apa mereka musuh papa di politik?" tanya Nyonya Rahma ketakutan.

__ADS_1


"Viki belum bisa memastikan. Bisa jadi dia musuh Viki. Mama tahu sendirikan, bagaimana kejamnya persaingan bisnis." ucap Viki. Dan Nyonya Rahma mengangguk.


"Kamu juga harus berhati-hati." ucap Nyonya Rahma.


"Nanti akan ada perawat yang akan membantu mama dan Nara merawat papa. Dia juga akan setiap hari mengecek setiap perkembangan papa." jelas Viki.


Nyonya Rahma maupun Nara tidak bertanya. Mereka hanya mengangguk dan tersenyum tanda setuju. Kerena keduanya sadar, jika memang Tuan Hendra membutuhkan seseorang yang ahli dalam kesehatan yang selalu bersiap di sampingnya.


"Apa dia akan menginap di rumah ini?" tanya Nara.


"Iya, dia akan tidur di kamar kamu sebelumnya." ucap Viki.


Karena Viki sudah menyuruh Nara untuk pindah ke kamar depan. Di mana kamar tersebut lebih luas dan juga pastinya kamar yang biasanya digunakan oleh para tamu jika ada yang menginap di rumah ini.


Rini pulang dari sekolah dengan senyum di bibir. Orang pertama yang di peluknya ketika sampai di rumah adalah Nara. "Manja sekali adik kakak." ucap Nara, mengusap kepala Rini.


"Kamu nggak kangen sama tante." tegur Nyonya Rahma. Rini segera berlari dan memeluk dengan erat tubuh Nyonya Rahma.


"Om Hendra sudah pulang? Asyikkk,,, berarti Rini sekarang bisa belajar lagi sama om Hendra." ujar Rini antusias, masih memeluk tubuh Nyonya Rahma sambil mendongakkan wajahnya.


Nyonya Rahma dan Nara saling pandang. "Ya sudah, sekarang kamu mandi dulu. Biar kakak antar." ajak Nara. Nyonya Rahma tersenyum. Meski ada luka di senyum beliau.


"Loh kak, kamar kita pindah?" tanya Rini, karena memang baru saja mereka memindahkan barang Nara dan juga kedua adiknya.


Rini memandang ke arah Nara dengan tatapan bingung. "Rini, Om Hendra belum sembuh. Beliau di bawa pulang, supaya kita lebih mudah merawatnya." tutur Nara.


"Nanti, setelah istirahat siang. Kakak bawa kamu menemui om Hendra. Oke." ajak Nara. Dengan semangat Rini menganggukkan kepalanya.


Selesai membantu Rini, Nara segera keluar untuk menemani Bima. Karena selama Nara di rumah sakit, Bima selalu bersama dengan Mbak Siti.


"Makasih ya mbak." ucap Nara, merasa tidak enak.


"Iya. Santai saja. Kita kan harus saling membantu." ucap Mbak Siti.


Sore hari, Andrew datang membawa seorang perempuan. Dia akan merawat Tuan Hendra selama di rumah.


"Mbok, tolong panggilan Viki." pinta Nyonya Rahma. Karena sejak tadi siang, Viki terus berada di dalam kamarnya. Entah apa yang dilakukannya.


Kedua mata Viki menatap layar laptop di depannya dengan serius. "Nara. Aku tidak akan membiarkan mereka menyentuh kamu. Meski seujung rambut." Viki mengeratkan rahangnya.

__ADS_1


Pemesan bros yang di miliki Nara adalah seorang lelaki yang menjadi tangan kanan dari pasangan suami istri yang bukan hanya karena kekayaan yang mereka miliki.


Melainkan karena kemurahan hati mereka di mata masyarakat. "Kemurahan hati. Cih... mereka hanyalah manusia bermuka dua." cibir Viki.


Sedikit demi sedikit, Viki mulai menguak kehidupan Nara yang ternyata tidak sesederhana perkiraannya. Karena ternyata kehidupan Nara sangatlah rumit.


"Nara." gumam Viki. Ada rasa ragu di hati Viki untuk menceritakan semuanya pada Nara. Padahal masih di awal pencariannya, Viki sudah mendapatkan banyak kejutan untuk kehidupan keluarga Nara.


"Apapun yang akan terjadi ke depannya. Aku tidak akan membiarkan mereka menyakiti kamu." janji Viki.


Pemikiran Viki tentang Nara terhenti saat terdengar ketukan pintu kamarnya. Membuat Viki beranjak dari duduknya dan membuka pintu kamarnya.


"Den, di suruh Nyonya ke bawah. Ada dokter Andrew, beliau membawa seorang perempuan." ucap Mbok Nah, setelah bertatapan dengan Viki.


"Iya mbok, sebentar. Nanti Viki turun." ujar Viki.


Sementara di bawah, sambil menunggu Viki. Mereka berbicara di ruang tengah. "Rini, ajak Bima ke belakang." ucap Nara.


Rini dengan patuh menuruti perkataan sang kakak. Membuat Andrew dan perempuan di sebelahnya tersenyum melihat kedua anak yang menurutnya patuh dan terlihat baik tersebut.


"Silahkan di minum." ucap Nyonya Rahma, saat Mbak Mira meletakkan beberapa gelas berisi teh hangat di atas meja.


"Terimakasih Nyonya."


"Terimakasih tante."


"Maaf. Jika boleh tahu, siapa nama anda suster?" tanya Nyonya Rahma.


"Astaga, maaf Nyonya. Maaf, karena saya belum memperkenalkan diri." ujarnya dengan sopan.


Sang perempuan berdiri dan memperkenalkan diri. "Nama saya Puspa Nyonya." ucapnya sedikit membungkukkan badan.


"Puspa. Suster Puspa." ucap Nyonya Rahma.


Terdengar suara langkah kaki dari anak tangga. Seorang lelaki dengan menggunakan kaos pendek serta celana pendek turun dari atas. Rambutnya dibiarkan berantakan. Membuatnya tampak bertambah mempesona bagi lawan jenis.


Puspa memandang ke arah Viki. "Sumpah, ganteng banget." batin Puspa. Sementara Nara juga melihat ke arah Viki. Dia pasti juga terpesona dengan ketampanan yang dimiliki calon suaminya tersebut.


Viki tersenyum dan langsung mencium kening Nara. Membuat Nara langsung tersipu. "Bang." kesal Nara dengan suara tertahan karena malu.

__ADS_1


Andrew hanya menggeleng pelan melihat tingkah Viki. Yang selama ini dikenalnya sangat dingin terhadap kaum hawa. Kecuali terhadap sang mama dan juga Ella.


"Ckk,,, Vik." tegur Nyonya Rahma. Tapi sayangnya, teguran dari sang mama tidak dihiraukan oleh sang putra. Viki malah duduk dengan santai dan tenang di samping Nara.


__ADS_2