VIRA (Viki Dan Nara)

VIRA (Viki Dan Nara)
ViRA 144


__ADS_3

Buummmm,,,,,,


Tuan Diego tak punya pilihan lain, selain menundukkan kepala saat pihak berwajib membawanya ke kantor polisi untuk di adili. Sorotan dan jepretan kamera menghujami beliau.


Bahkan, tidak ada bantahan atau apapun dari dirinya. Sebab, tidak ada yang mau membantunya. Bahkan, pengacara pribadinya tiba-tiba mengundurkan diri secara tiba-tiba.


Dan semua itu karena campur tangan seorang Viki. Lagi pula, siapa yang akan berani menyinggung Viki. Mereka pastinya tidak ingin terlibat atau mempunyai masalah dengan Viki.


"Pastikan, dia tidak akan keluar dari dalam hotel mewah tersebut." perintah Viki.


"Baik Tuan."


"Dan jangan lupa, berikan dia teman yang akan menemaninya tidur selama menempati hotel tersebut." seringai licik Viki tercetak jelas di bibirnya.


Viki mempunyai rencana tersendiri. Setelah Tuan Diego mendekam di balik jeruji besi. Mana mungkin Viki membiarkannya masuk ke dalam penjara, lalu membiarkannya. Mustahil.


"Baik Tuan." ucap bawahan Viki.


Semua aset kekayaan Tuan Diego di kembalikan atas nama Nyonya Ernanda. Sementara Melva, masih dalam keadaan tak sadarkan diri.


Bahkan dokter mengatakan jika kemungkinan kecil bagi Melva untuk kembali membuka matanya.


Dan untuk Nyonya Vanya, beliau segera meninggalkan negara ini begitu sang suami mendapat masalah.


Nyonya Vanya tidak ingin terlibat, beliau memilih untuk menyusul kedua orang tuanya dan tinggal kembali bersama mereka.


Di kediaman Tuan Hendra.


"Maaf, jika kedatangan saya menggangu kenyamanan kalian." ucap Tuan Smith, beliau bersama dengan sang istri bertamu ke rumah Tuan Hendra.


Nara datang ke ruang tamu dengan membawa nampan, di mana terdapat beberapa gelas di atasnya.


"Terimakasih sayang." ujar Nyonya Rahma.


"Iya ma." sahut Nara sembari menurunkan gelas-gelas tersebut di atas meja.


Nyonya Rahma menepuk tempat kosong di sebelahnya, dan Nara duduk di tempat tersebut begitu selesai dengan apa yang dia lakukan.


"Silahkan diminum." ucap Tuan Hendra, sembari mengangkat segelas air minum yang sudah di taruh Nara di atas meja, dan menyeruputnya sedikit.


"Pukul berapa Viki pulang?" tanya Tuan Hendra, menatap ke arah Nara.


"Sebentar lagi pa. Abang bilang akan pulang cepat. Katanya pekerjaannya tidak terlalu banyak." jelas Nara, dan Tuan Hendra hanya mengangguk pelan.


"Nara, papa mau tanya sesuatu." ucap Tuan Smith, namun Nara hanya diam dan memandang beliau.

__ADS_1


"Apa tidak sebaiknya kalian bertunangan terlebih dahulu. Apalagi, kamu masih cukup muda untuk berumah tangga." papar Tuan Smith.


Segera Nara menggeleng. "Nara ingin menikah. Bukan bertunangan." ucap Nara dengan ekspresi datar.


"Bukankah abang pernah mengatakan, jika anda tidak mau menjadi wali nikah saya, tidak masalah. Pernikahan saya dan abang akan tetap berjalan sesuai rencana kami." lanjut Nara dengan yakin.


Nyonya Binta mengelus pelan tangan sang suami. Mencoba menenangkan Tuan Smith agar tidak emosi akan perkataan yang dilontarkan oleh Nara.


"Baiklah. Kapan kalian akan menikah?" tanya Tuan Smith.


"Untuk itu, Nara dan Abang akan berbicara dulu." jelas Nara.


Tuan Smith memandang Tuan Hendra dan Nyonya Rahma bergantian. Membuat Tuan Hendra tersenyum, sepertinya Tuan Hendra mengerti arti pandangan tersebut.


"Saya sebagai orang tua, akan mendukung apapun keputusan anak saya. Asal itu memang baik. Apalagi sebuah pernikahan. Hal yang sakral. Dan tentu saja itu harus di laksanakan. Dari pada mereka berbuat maksiat." tutur Tuan Hendra.


"Mereka sudah memutuskannya. Dan saya yakin, mereka sudah cukup dewasa untuk mengerti hal tersebut. Arti sebuah ikatan suci." ujar Tuan Hendra terhenti.


"Memang, umur Nara masih terlalu muda untuk berumah tangga. Tapi saya yakin, itu bukan hal yang bisa menjadikan kita menunda pernikahan tersebut." papar Tuan Hendra.


Nara menatap Tuan Hendra dengan senyum puas. "Meski masih kecil, Nara sudah banyak melewati kehidupan yang bisa di bilang sulit untuk anak seusia dia. Dan saya yakin, berbekal itu semua. Nara bisa menjadi istri yang baik untuk putra saya." ucap Tuan Hendra dengan yakin.


Nara menatap Tuan Hendra dengan penuh kasih sayang. Nara berdiri dan menghampiri Tuan Hendra. "Terimakasih pa." ucap Nara, memeluk Tuan Hendra.


Tuan Hendra menepuk pelan bahu Nara. Pemandangan tersebut tentu saja membuat Tuan Smith merasa tercubit. Dan pastinya beliau merasa iri akan hal itu.


Segera Nara berdiri. Tanpa berkata apapun, Nara melangkahkan kakinya ke depan. Melihat siapa yang datang.


Nara tersenyum lebar, melihat calon suami keluar dari mobil. "Kenapa di luar?" tanya Viki, memberi kecupan di kening Nara.


Belum sempat Nara menjawab pertanyaan Viki, lelaki tersebut kembali melontarkan pertanyaan. "Beliau sudah dari tadi?" tanya Viki melihat ke arah mobil Tuan Smith.


"Belum." Nara menggeleng pelan. Dengan tangan terulur mengambil tas kerja di tangan Viki. Keduanya masuk ke dalam rumah, sembari berjalan beriringan.


"Tuan, Nyonya." Viki bergantian berjabat tangan dengan kedua tamu tersebut.


"Abang mau minum?" tanya Nara, saat Viki mendaratkan pantatnya di kursi. Viki menggeleng pelan dan tersenyum, dengan tangan menepuk bagian kursi di sebelahnya yang kosong.


Nara segera duduk di tempat tersebut, dengan meletakkan tas kerja Viki di atas pangkuannya.


"Maaf, saya sempat termakan berita murahan tentang kamu." ujar Tuan Smith membuka suara.


"Tidak masalah." ujar Viki singkat.


"Saya tidak menyangka, jika Diego ternyata senekat itu. Padahal, setahu saya, dia sosok yang humble dan ramah." tukas Tuan Smith.

__ADS_1


Viki mengangguk pelan. "Siapa yang bisa membaca hati manusia." ujar Viki tanpa ekspresi.


"Apa ada sesuatu yang penting, sehingga Tuan dan Nyonya datang ke rumah kami?" tanya Viki tanpa bertele-tele. Membuat Tuan Hendra hanya bisa menghela nafas, melihat sikap sang putra.


Tuan Smith tersenyum. Beliau sama sekali tidak merasa sakit hati dengan pertanyaan Viki yang terkesan menekannya.


Beliau sangat hapal bagaimana sifat dari seorang Viki. Bahkan Tuan Smith, sangat senang melihat sifat arogan dari calon menantunya tersebut.


Lantaran, memang sebagai seorang pengusaha yang menguasai jalannya bisnis, sikap seperti itu terkadang sangat di perlukan.


Namun, Tuan Smith bisa melihat, sikap cuek Viki hanya ditujukan pada orang yang menurutnya asing atau orang luar.


"Tentang pernikahan kalian. Kapan kalian akan mengadakan acara sakral tersebut?" tanya Tuan Smith.


Viki terdiam. Mengalihkan pandangan pada Nara. "Dua minggu lagi." jawab Viki dengan pasti.


Sontak, jawaban dari Viki membuat semuanya terkejut. Juga Nara. "Vikkk,,, jangan main-main." ujar Nyonya Rahma.


"Serius?" tanya Nara seakan menganggap perkataan Viki hanya sebuah candaan.


"Kenapa? Terlalu mepet. Abang bisa mengundur tanggalnya lagi." ujar Viki, menatap Nara dengan senyumnya.


"Astaga, aku ibunya. Tapi dia sama sekali tidak peduli dengan perkataanku." dengus Nyonya Rahma, membuat Nyonya Binta dan Tuan Smith tersenyum samar.


"Mama, berapa tahun mama mengenal sifat putra tersayangmu itu." cicit Tuan Hendra.


"Tetap saja, kita orang tuanya. Masa mau menikah tidak bilang dulu." omel Nyonya Rahma.


"Justru ini saatnya Viki memberitahu semuanya. Sekalian, mumpung semua berkumpul." ujar Viki santai, menyenderkan badannya di kursi.


"Abang serius?" tanya Nara lagi.


Viki mengangguk. "Itupun jika kamu mau." ujar Viki.


"Nara mau. Dua minggu lagi." ucap Nara dengan antusias.


"Astaga, kenapa si perempuannya juga ngeyel." dumal Nyonya Rahma dengan senyum di bibir.


Sontak perkataan Nyonya Rahma membuat semuanya tertawa lepas. "Ma, kan dari dulu Nara sudah pengen menjadi Nyonya Viki." ucap Nara tersenyum malu.


"Cie,,, Nyonya Viki." ledek Nyonya Rahma. Membuat suasana menjadi lebih santai.


Tuan Smith merasa jika hubungannya dengan Nara akan jauh lebih baik, jika dirinya tidak keras kepala dan tidak memaksakan kehendaknya.


"Sedikit demi sedikit, papa akan membuat kamu mau menerima kehadiran papa, dan memanggil papa, sayang." ucap Tuan Smith dalam hati.

__ADS_1


Tuan Smith dan Nyonya Binta juga mulai merasa nyaman berada di tengah-tengah keluarga Viki. Sebab, memang keluarga Viki juga sangat terbuka menerima mereka dan memperlakukan mereka dengan baik.


__ADS_2