
Dengan langkah ragu-ragu, Nara berjalan menuju ke arah kamar Viki. Bahkan saat di tangga, Nara berhenti dan melihat kembali ke arah Nyonya Rahma.
"Cepat kamu lihat sana." seru Nyonya Rahma, saat Nara berhenti, dan memandangnya dari tangga.
"Lucu sekali anak itu." gumam Nyonya Rahma tersenyum, melihat Nara dengan ragu-ragu melangkahkan kaki.
Tok,, tok,, tok,, "Bang..." panggil Nara dari luar kamar, sambil mengetuk pintu.
Berkali-kali Nara melakukannya dari luar kamar Viki. Namun tidak ada hasil. Tidak ada suara sahutan dari dalam oleh pemilik kamar.
"Apa aku masuk saja." gumam Nara. "Tapi pasti akan terlihat sangat lancang. Masuk ke dalam kamar orang, tanpa mendapat izin dari pemiliknya." ucap Nara berpikir.
"Tapikan tante Rahma yang sudah menyuruh Nara. Berarti beliau mengizinkan." ucap Nara, menyimpulkan sendiri semuanya.
"Semoga bang Viki tidak marah. Tapi, jika bang Viki marah, bilang saja di suruh tante Rahma. Kan memang benar." Nara memutuskan untuk masuk ke dalam kamar Viki.
"Tidak dikunci." gumam Nara, karena dia dengan mudah masuk ke dalam kamar Viki.
"Harum..." batin Nara, dengan hidung menghirup wangi kamar milik Viki. Begitu Nara menginjakkan kaki ke dalam kamar Viki.
Nara mengamati seluruh ruangan kamar Viki. Hingga mata Nara melihat sosok Viki tidur tengkurap di atas ranjang. Dengan hanya memakai boxer, tanpa memakai baju.
Nara meneguk salivanya dengan sulit. Melangkahkan kakinya ke arah ranjang Viki dengan gugup yang luar biasa.
Matanya melihat punggung Viki yang nampak lebar. Dengan lengan berada di bawah kepala, menampilkan otot yang sempurna.
"Astaga." Nara memukul pelan kepalanya berkali-kali dengan menggelengkan kepalanya. Seketika kedua pipi Nara memerah. Menahan malu, karena pikirannya sendiri.
"Bang... bang Viki...." panggil Nara di samping ranjang Nara. Tapi Viki bahkan tidak bergerak sedikitpun.
"Mati atau tidur. Sulit sekali dibangunkan." omel Nara dengan mulut cemberut. Karen Viki sangat lelap dalam tidurnya.
"Mungin bang Viki capek." gumam Nara, karena memang beberapa menit yang lalu, Viki baru saja pulang bekerja.
"Bang... Bang Viki...!!" seru Nara, menaikkan nada suaranya.
__ADS_1
"Ckk...." Viki hanya berdecak, dan memalingkan wajahnya ke arah lain. Lalu tak ada pergerakan lagi. Bahkan Nara mendengar, Viki kembali mendengkur halus.
"Loh,,,," ucap Nara menggelengkan kepala melihat tingkah Viki.
"Masih mudah membangunkan Rini." sungut Nara, benar adanya.
Nara sedikit memajukan badannya. "Bang bangun. Sudah hampir petang. Bangun." Nara menggoyang-goyangkan badan Viki sedikit kencang.
"Aaaan....!!!" seru Nara. Saat tangannya malah di tarik oleh Viki. Dan secara bersamaan, Viki mengubah posisi tidurnya menjadi telentang. Membuat badan Nara jatuh di atas badan Viki.
"Bang..." ucap Nara lirih. Jantungnya berdetak dengan kuat. Bagaimana tidak, tubuh Nara menempel dengan kulit tubuh milik Viki. Bahkan Nara dapat merasakan hembusan nafas Viki di wajahnya.
"Jantungku. Kenapa ini." batin Nara, dengan mata masih fokus menatap wajah tampan nan sempurna tepat di hadapannya. Hanya berjarak beberapa centi.
"Elo ngapain. Ganggu gue tidur." ucap Viki, menarik hidung Nara.
"Hahh..." ucap Nara. "Astaga. Bang lepas." segera Nara bangun dari atas badan Viki. Seolah kesadarannya telah kembali.
"Cckkk,,,, santai saja. Gue nggak tertarik sama elo. Nggak ngefek ke gue." ucap Viki santai, bangun dari tidurnya.
"Lohh,,,, dasar bocah." ucap Viki melihat Nara keluar dari kamarnya. Segera Viki pergi ke kamar mandi dan membersihkan badan.
Tidak ada niatan Viki untuk membuat Nara sakit hati. Hanya saja apa yang di katakan Viki memang benar adanya.
Sebab, Viki belum bisa tertarik pada sosok perempuan. Siapapun itu. Bukan hanya Nara.
Dan Nara, dia tidak turun ke lantai dasar. Nara berlari ke arah balkon yang terletak di lantai dua. Duduk di sudut balkon dengan tangan memeluk kedua kakinya.
"Ibu." gumam Nara dalam tangisnya. Entah kenapa, perkataan Viki sangat terasa membuat sakit hatinya.
"Nara memang miskin. Tapi Nara tidak ingin menggoda bang Viki." gumam Nara. Membenamkan wajahnya ke sela kakinya yang ditekuk.
Sepertinya Nara salah mengartikan perkataan dari Viki. Tapi bukan salah Nara juga, saat Nara salah mengartikan perkataan Viki. Pasti semua perempuan akan sama seperti Nara.
Sekitar lima belas menit Nara berada di balkon, seorang diri. Nara mengangkat kembali kepalanya. "Kamu harus sadar Nara. Mulai sekarang, jangan pernah mendekati bang Viki lagi. Nanti Bang Viki malah salah sangka." ucap Nara lirih, pada dirinya sendiri.
__ADS_1
"Kamu hanya gadis miskin Nara. Jangan berpikir jadi cinderella. Semua itu hanya dalam cerita." ucap Nara, menenangkan dirinya sendiri.
Nara menghapus air mata di pipinya. Jangan sampai ada yang tahu, jika Nara baru saja menangis. Padahal, hanya dilihat saja orang pasti akan tahu. Jika Nara baru saja menangis.
Nara berdiri dan hendak turun ke bawah. Tapi langkah Nara terhenti, saat melihat punggung milik Viki. Yang juga sedang berjalan hendak menuruni tangga.
"Biar bang Viki dulu." ucap Nara lirih, menatap ke arah Viki yang membelakanginya.
"Itu dia." ucap Nyonya Rahma, melihat Viki turun dari atas.
"Nara mana?" tanya Nyonya Rahma.
"Nara?" ucap Viki, karena mamanya menanyakan Nara pada dirinya. "Mana Viki tahu." imbuh Viki.
"Mama kira Nara masih di kamar kamu." timpa Nyonya Rahma, Viki hanya menggeleng mendengar perkataan sang mama.
"Loh,, Nara." pandangan mata Nyonya Rahma menangkap sosok Nara yang juga hendak turun dari tangga.
"Nara, kamu dari mana?" tanya Nyonya Rahma, melihat ada yang aneh dari Nara.
"Dari atas Tante." ucap Nara, dengan ekor mata melirik ke arah kedua adiknya yang sedang asik menonton acara televisi.
"Nara permisi dulu tante. Mau bantu-bantu yang lain." ucap Nara, seolah mengabaikan keberadaan Viki di sampingnya.
"Kenapa ma?" tanya Viki, lantaran sang mama malah menatapnya dengan tatapan penuh tanya.
"Kami apakan Nara?!" bentak Nyonya Rahma, dengan suara tertahan. Takut suaranya terdengar oleh Rini dan Bima.
Viki menggedikkan kedua bahunya. "Viki nggak apa-apain." ucap Viki. Karena memang Viki tidak merasa menyakiti Nara, atau membuat Nara sedih.
"Kamu yakin?" tanya Nyonya Rahma, melihat mata Nara sedikit sembab.
"Terserah mama." ucap Viki, mengabaikan sang mama. Yang seakan tidak percaya dengan perkataannya. Dan malah menghampiri Rini serta Bima. Mengganggu dan manjahili keduanya yang asik melihat acara di layar televisi.
Nyonya Rahma menggeleng dan tersenyum melihat kelakuan Viki. "Viki,,, jangan ganggu mereka." seru Nyonya Rahma. Saat Viki malah memangku Bima dan menggelitiki perut Bima.
__ADS_1
Sementara Rini, memukul tubuh Viki. Seolah menolong Bima, supaya terlepas dari cengkeraman Viki.