
"Tante, om. Bisakah Giska tinggal di sini sementara waktu?" tanya Giska dengan wajah memelas.
Sejenak, tidak ada yang menjawab. Baik Tuan Hendra maupun Nyonya Rahma. Dan Nara, mengernyitkan keningnya sembari tersenyum samar. Seolah tahu apa yang akan dilakukan oleh Giska.
Sebenarnya, semenjak menginjakkan kakinya di kediaman Tuan Hendra, pandangan Giska beberapa kali menatap dengan rasa penasaran ke arah Nara.
Meskipun Giska sudah pernah bertemu bahkan berbincang dengan Nara di rumah sakit saat Tuan Hendra sedang di rawat. Namun Giska merasa ada yang aneh.
Bukankah terlalu lama untuk Nara tinggal di rumah Viki. Itulah yang sekarang ada di benak Giska. Namun Giska mengesampingkan dulu pikirannya yang bukan menjadi tujuan utamanya.
Tak juga kunjung mendapat jawaban dari sang pemilik rumah, Giska kembali membuka suaranya. "Saya sedikit berdebat dengan kedua orang tua saya. Dan saya memutuskan untuk keluar dari rumah." ucap Giska berbohong.
Nyonya Rahma membuang muka dengan senyum sinis tersungging di bibirnya. "Pantas, anaknya seperi kamu." gumam Nyonya Rahma, dengan nada sengaja sedikit dikeraskan.
Namun Giska sebisa mungkin menahan emosinya. Apapun yang terjadi. Dia selalu ingat dengan tujuannya datang ke rumah ini.
Yakni masuk ke dalam rumah Viki. Menjalankan rencananya. Dan berhasil menjadi Nyonya Viki. Namun sayang, tidak semudah itu Giska.
"Saya mohon om, tante. Saya benar-benar tidak membawa barang apapun dari rumah. Bahkan ponsel sekalipun. Saya tadi berjalan dari rumah untuk sampai ke sini. Makanya saya sampai larut malam." cerita Giska. Dan tentunya sebuah kebohongan.
"Kenapa kamu ke sini. Bukankah masih ada teman atau kerabat kamu yang lain?" tanya Nyonya Rahma dengan nada yang sangat tidak enak di dengar.
Giska berusaha untuk tetap merendahkan diri dan tersenyum. Dia tidak akan mempunyai rasa malu, meski dirinya akan dihina. Yang pasti tujuannya harus tercapai.
Nara hanya melihat dan mendengarkan percakapan mereka. Tanpa ikut membuka suara. Dirinya sadar akan posisinya di rumah. Calon istri dari Viki.
"Viki kemana lagi? Kenapa tidak turun?" tanya Nyonya Rahma memandang ke arah Nara.
__ADS_1
"Mungkin abang sudah tidur tante. Karena tadi Nara lihat abang pulang malam." jelas Nara, sedikit berbohong.
Tidak mungkin Nara mengatakan jika Viki masuk ke dalam kamarnya. Dan mereka terlibat sedikit perselisihan, yang mana Nara saja tidak tahu sebab dari rasa kesal yang muncul di hati Viki.
Dan lagi, Nara masih tidak tahu. Apa rencana Giska untuk masuk ke dalam rumah ini. Meski Nara sudah dapat menebak akhir dari keinginan Giska. Menjadi istri dari Viki.
"Aku harus bermain cantik." ucap Nara dalam hati.
Dari arah ruang tengah, nampak ketiga pembantu yang tinggal di rumah Tuan Hendra mengintip ke arah Giska dan yang lainnya berada.
"Kenapa ular berkepala dua itu datang tengah malam. Bertamu kok nggak ada aturan." kesal Mbok Nah.
"Ckk,, semoga Tuan tidak menerima kehadiran genderuwo betina itu." ucap Mbak Mira.
"Aisshhh,,,, pekerjaan kita akan bertambah. Jika iblis itu ada di sini." keluh Mbak Siti.
Tuan Hendra menghela nafas dalam-dalam. "Baik. Untuk malam ini, kamu boleh tinggal di sini." ucap Tuan Hendra.
"Tapi besok, kamu harus segera pergi dari rumah kami. Dan mencari tempat tinggal baru." lanjut Tuan Hendra.
Sebisa mungkin, Giska tetap tersenyum. Meski perkataan Tuan Hendra selanjutnya sangat tidak dia harapkan. "Terimakasih om, setidaknya saya bisa tidur dengan aman untuk malam ini." ucap Giska bersandiwara.
Nara mencebikkan mulutnya mendengar perkataan Giska. "Kasihan, tidak sesuai skenario." ucap Nara dalam hati.
"Ckkk,,,, Mbokkk..!!!" teriak Nyonya Rahma dengan kesal.
"Iya Nyonya." ucap Mbok Nah, yang sudah berada di dekat mereka. "Antar dia ke kamar." perintah Nyonya Rahma dengan jutek.
__ADS_1
Mbok Nah sama sekali tidak merasa sakit hati, sang majikannya berteriak serta memasang wajah jutek saat menyuruhnya. Karena dia tahu, hal tersebut ditujukan untuk Giska. Bukan dirinya
Selama bekerja di keluarga Tuan Hendra, Mbok Nah dan pekerja lain tidak pernah mendapat perlakuan tidak menyenangkan dari majikan mereka.
Jika mereka berbuat salah, keluarga Viki akan berbicara dengan pelan dan mengingatkan dengan cara baik.
"Mari Non." ajak Mbok Nah, mengantar Giska untuk segera beristirahat di salah satu kamar yang berada di rumah ini.
""Terimakasih." ucap Giska setelah sampai di ambang pintu kamarnya. "Maaf, boleh saya bertanya?" tanya Giska dengan sopan.
Namun mbok Nah hanya diam, karena dia tahu. Jika kedudukannya hanyalah seorang pekerja di kediaman Tuan Hendra. "Apa Viki sudah tidur?" tanya Giska.
"Ini sudah lewat tengah malam Nona. Tentu saja, semua orang sudah waktunya untuk beristirahat dan tertidur lelap dalam mimpi mereka." ucap Mbok Nah menyindir kedatangan Giska yang sangat tidak tahu waktu.
Segera mbok Nah membalikkan badan dan meninggalkan Giska. "Pembantu sialan." geram Giska.
Giska tersenyum bahagia, melihat jika sekarang rencana awalnya berhasil. "Gue senang." ucap Giska menjatuhkan tubuhnya langsung ke kasur empuk dengan tengkurap.
"Maaf sayang, mama lupa." ucap Giska segera mengubah posisi tidurnya dengan terlentang, mengelus perut ratanya.
"Kamu maukan mendapat kasih sayang mama. Kamu maukan membuat mama bahagia. Kalau begitu, kamu bantu mama. Oke." Giska memandang langit-langit kamar dengan senyum merekah di bibirnya.
"Bantu mama untuk mendapatkan papa Viki. Kita bertiga akan hidup bahagia. Kamu, mama, dan papa. Keluarga kecil yang sempurna." ucap Giska tersenyum licik.
Entah apa yang sekarang ada dalam otak licik Giska. Sempat berubah menjadi baik, meski hanya sebentar. Kini Giska kembali berubah menjadi pribadi yang licik dan jahat.
Semua terjadi karena Giska mengandung anak dari Renggo. "Malam ini, gue akan tidur di kamar tamu. Sendirian. Tapi aku akan memastikan, jika malam selanjutnya. Aku akan tidur di kamar Viki. Sebagai seorang istri." ucapnya dengan percaya diri.
__ADS_1
"Tante, om. Boleh Nara punya permintaan?" tanya Nara dengan hati-hati.
"Katakan sayang." ucap Nyonya Rahma tersenyum tulus pada calon menantunya tersebut.