
Tetap dengan gaya angkuhnya, Viki duduk di kursi dengan kaki menyilang. "Bagaimana semuanya sudah beres?"
Rey sedikit menunduk. Memberikan beberapa lembar kertas pada Viki. "Ini adalah tempat yang direkomendasikan. Saya sudah melihatnya, dan memang semuanya rekomended." papar Rey.
"Kapan kamu melihatnya?" Viki menatap gambar-gambar di foto tersebut.
"Kemarin Tuan." Viki mengangkat kepalanya, menatap ke arah Rey dengan tatapan penasaran.
"Kemarin." kata Viki lirih.
"Iya Tuan, saya melihatnya dari internet. Saya juga membaca komentar-komentar dari para pengunjung." papar Rey dengan percaya diri.
"Tidak perlu kamu katakan, jika cuma dari internet. Saya juga bisa." ejek Viki.
Niat hati ingin dipuji karena apa yang di perintahkan padanya selesai dengan baik, alih-alih mendapatkan pujian, malah mendapatkan ejekan. Nasib bawahan.
"Bagaimana mungkin saya langsung meninjau setiap tempat wisata di sana Tuan. Mustahil. Pekerjaan saya saja, disini menumpuk." dan itu hanya bisa Rey katakan dalam hati.
Viki memegang sebuah kertas bergambar pemandangan yang indah. Senyum terbit dari bibir Viki. "Saya ingin kamu kosongkan tempat ini. Saya ingin di sini selama dua hari." Viki memberikan kertas tersebut pada Rey.
"I--ini Tuan? Anda yakin?" tanya Rey memastikan. Viki mengangguk yakin.
"Lalu setelah itu, saya ingin ke sini. Kamu paham."
"Baik." sahut Rey, kembali memandang ke arah atasannya.
Rey heran, dari banyaknya tempat yang indah, kenapa sang atasan malah memilih kedua tempat tersebut. "Semoga Nyonya kecil suka dengan pilihan Tuan. Jika tidak, pasti mereka yang di sana akan bekerja lebih ekstra." ucap Rey dalam hati.
"Dan satu lagi, besok saya akan berangkat."
"Baik Tuan."
"Rey, jika Renggo datang. Kamu langsung suruh masuk saja." pinta Viki.
Selang beberapa menit setelah Rey meninggalkan ruangan Viki, Renggo datang.
"Bagaimana kabar kamu, adik ipar?" tanya Renggo berbasa-basi.
"Seperti yang kamu lihat. Ada apa datang ke perusahaan saya. Tidak mungkin hanya sekedar iseng bukan?" tanya Viki langsung.
Renggo tersenyum melihat cara Viki menyambut kedatangannya. "Apa seperti ini, seorang Tuan Viki menyambut tamu?" Renggo mendaratkan pantatnya di kursi. Meski Viki belum mempersilahkannya.
"Waktuku sangat berharga. Tidak ada tempat untuk banyak membicarakan hal yang tak perlu." ungkap Viki dingin tanpa ekspresi.
"Biar aku ingatkan. Aku kakak iparmu." protes Renggo.
"Dan aku tidak peduli." sanggah Viki.
"Baiklah. Aku datang untuk menawarkan kerja sama. Bagaimana?" tanya Renggo mulai mode serius.
"Kerja sama." Viki tersenyum aneh, sepertinya Viki dapat menebak apa yang akan dilakukan oleh Renggo. Bekerja sama dengan perusahaan yang bergerak di bidang hiburan.
"Bicarakan dengan Rey. Karena aku akan pergi dengan Nara. Berbulan madu." pamer Viki.
Renggo memutar kedua bola matanya dengan malas. "Kapan kalian akan berangkat?"
"Besok."
"Besok. Jika begitu, kita bicarakan kerja samanya sekarang." pinta Renggo. Entah kenapa Viki kali ini sangat menyebalkan di matanya.
"Tidak akan. Saya akan menghemat tenaga untuk hari ini." tolak Viki santai, dengan gayanya yang cuek.
"Ckk,,,, bukankah masih besok. Itu artinya hari ini kamu free." kekeh Renggo, sama sekali tidak mengerti jalan pikiran Viki.
"Bukankah sudah aku bilang. Hari ini aku akan santai." ulang Viki, sengaja mengerjai Renggo.
"Mana bisa begitu. Kamu pemilik perusahaan." kesal Renggo. Sudah datang, tapi tidak mendapatkan apapun.
"Memang. Makanya, terserah aku. Karena aku pemiliknya." ucap Viki membuat Renggo semakin kesal.
Viki malah acuh dengan keberadaan Renggo. Dirinya menyibukkan diri dengan ponsel di tangannya.
Renggo berdiri. "Baiklah, besok aku akan berbicara dengan Rey." Renggo menahan rasa kesalnya dan meninggalkan perusahaan Viki.
Renggo tahu, meski dirinya kekeh menginginkan pembicaraan kerja sama itu sekarang. Namun dia tahu, semua keputusan ada di tangan Viki.
__ADS_1
Viki tertawa melihat kepergian Renggo. "Renggo,, Renggo,, kamu kira aku tidak tahu. Kerjasama seperti apa yang kamu inginkan." kekeh Viki.
Selanjutnya, Viki memanggil Rey. "Renggo ingin mengajukan kerja sama. Jika besok dia meminta Sara sebagai model atau apapun itu. Kabulkan saja." perintah Viki.
"Baik Tuan." Rey sempat bingung. Apa hubungannya Renggo dan Sara. Kenapa sepertinya atasannya tersebut malah tahu sesuatu. Dan Rey bermaksud akan menyelidikinya.
Hari ini adalah hari bahagia untuk Viki dan Nara. Namun tidak untuk Giska. Keinginan Giska mengunjungi rumah Nyonya Rahma atau perusahaan Viki tidak berhasil.
Nyonya Gina menyuruhnya untuk datang ke rumahnya. Mau tidak mau, Giska haria menuruti kemauan sang ibu.
Alhasil niat untuk bertemu dengan Viki gagal total. Padahal belum tentu juga, Viki mau bertemu dengannya. Sungguh, perempuan bermuka badak. Sangat tidak tahu malu.
Dan keesokan hari, seperti yang sudah direncanakan, Viki dan Nara pergi untuk berbulan madu.
"Kenapa?" tanya Viki, saat Nara sepertinya tegang.
"Ini pertama kalinya Nara naik pesawat terbang."cicit Nara dengan wajah pucat.
Viki memeluk sang istri dari samping. "Tenang, ada suamimu. Lebih baik kita tidur saja. Bagaimana?" tanya Viki.
"Suamiku, setahu Nara. Di dalam pesawat akan banyak orang atau penumpang. Kenapa kita hanya berdua." papar Nara dnegan ekspresi khawatir.
Viki tersenyum. "Sayang, aku tidak suka jika banyak orang, menggangu saja. Dan memang, ini bukan pesawat milik pemerintah. Tapi pesawat pribadi. Kita bisa mengatur banyaknya orang di dalam pesawat." Viki menjelaskan dengan perlahan.
Nara mengangguk. "Sebaiknya kita ke kamar saja." ajak Viki.
Sebelum mengajak sang istri untuk masuk ke dalam kamar. Viki terlebih dulu memberitahu pada pramugari yang berada di dalam pesawat yang dia tumpangi. "Jangan mengganggu kami. Aku akan menghubungi jika membutuhkan sesuatu."
"Baik Tuan. Semoga tidur anda nyenyak."
"Jika tidak ada yang menggangu." sarkas Viki dengan nada dingin.
"Jangan jutek-jutek." tegur Nara, merasa tidak enak dengan pramugari tersebut.
Nara tersenyum pada sang pramugari. Yang dibalas senyum ramah juga olehnya.
Viki tidak mengindahkan perkataan Nara, dia malah merangkul Nara dan mengajaknya masuk ke dalam kamar.
Begitu pintu tertutup, senyum di bibir sang pramugari juga ikut lenyap. Berganti dengan pandangan iri.
"Beruntung sekali, gadis kecil pemulung seperti dia mendapatkan Tuan Viki yang kaya raya dan tampan." sinisnya.
"Kenapa?" tanya Viki. Dirinya sudah merebahkan badan, sementara Nara masih duduk dengan pandangan yang rumit.
"Suamiku, jangan terlalu galak sama perempuan." tegur Nara, merasa tidak enak dengan sang pramugari.
"Baiklah. Besok kalau ada perempuan, aku cium dan peluk saja." celetuk Viki.
"Ya jangan gitu juga dong. Setidaknya, senyumlah." jelas Nara.
"Sudahlah, lebih baik sekarang kita tidur."
"Memang tidak apa-apa, kita tidur di dalam pesawat. Apa tidak berbahaya?" cicit Nara.
Viki menepuk kasur kosong di sebelahnya. "Ayo, sini. Ayo." pinta Viki. Perlahan, Nara mendekat duduk di samping Viki. Tanpa membaringkan badannya.
"Semuanya aman. Tidak perlu khawatir. Suamimu ini sering bepergian seperti ini. Mana mungkin, aku membuat hal yang membahayakan kamu, sayang." Viki memencet gemas hidung Nara.
Nara tersenyum. Dan memutuskan untuk mempercayai setiap ucapan sang suami. Perlahan, Nara merebahkan badannya di samping Viki.
"Kami harus terbiasa. Karena setelah ini, aku akan mengajak kamu, setiap ada perjalanan bisnis di luar kota atau luar negeri. Di manapun itu."
"Kenapa?"
Viki membisikkan sesuatu di telinga Nara. Dan Nara dengan cepat menarik kepalanya, memandang dengan suami dengan cemberut.
Viki memainkan alisnya naik turun. "Abang mesum." kesal Nara.
Bisa ditebak, apa yang dibisikkan Viki di telinga Nara. Pasti tak jauh-jauh dari perkara olah raga di atas ranjang.
"Hey,,, bukan mesum. Tapi memang itu suatu kebutuhan." kilah Viki.
"Kebutuhan, kebutuhan apaan. Kebutuhan itu, makan minum..."
"Iya,,,, makan kamu. Minum ini kamu." Viki menyela perkataan Nara sembari memegang gundukan di dada Nara.
__ADS_1
"Iiihh,,,,,, tangannya di kondisikan dong." seru Nara menyingkirkan tangan Viki, dengan pipi bersemu merah.
"Dikondisikan di tempat yang mana sih sayang... Kasih tahu suamimu ini dong." Viki malah semakin menggoda Nara, yang saat ini pastinya merasa malu sekaligus senang dengan perlakuan romantis dari sang suami.
Nara mengubah posisi memunggungi sang suami. Viki memeluknya dari belakang. "Bagaimana kalau kita pemanasan di sini dulu." ucap Viki nyleneh.
Nara langsung membalikkan badan. "Pemanasan. Disini. Apa sih." Nara benar-benar bingung dengan apa yang dikatakan sang suami.
"Itu." Viki memainkan alisnya naik turun, dengan mata memandang ke arah dada Nara.
Nara langsung meletakkan tangannya di dada. "Jangan aneh-aneh suamiku. Lihat tempat dong." rengek Nara, bermaksud menolak ajakan Viki bercinta di atas pesawat.
"Aneh apaan. Kita coba ya. Please... mau ya. Dosa low, nolak keinginan suami." ancam Viki.
Dan Viki tahu, kalimat terakhir adalah senjata pamungkas, dan pasti akan membuat Nara menuruti keinginannya.
"Tapi pelan, Nara takut pesawatnya akan goyang. Malu kita nanti." ucap Nara memelas.
Viki tertawa. "Mana ada pesawat goyang. Yang ada mobil goyang." sanggah Viki.
Viki langsung membungkam mulut sang istri dengan bibirnya, saat Nara hendak berbicara lagi.
Setelah satu jam bergumul dan bertukar keringat, membuat Viki dan Nara tertidur lelah. Ternyata benar kata orang. Jika sulit tidur, sebaiknya melakukan aktifitas malam.
Tapi bagi yang sudah mempunyai suami atau istri. Dan melakukannya dengan pasangan halal kita.
Viki terbangun saat mendengar ketukan pintu dari luar. "Ckk,, bukankah sudah ku katakan. Jangan menganggu." geramnya, mengambil kolor yang berserakan di bawah dan memakainya.
"Ada apa?" tanya Viki ketus, begitu pintunya dia buka.
Bukannya langsung menjawab, pramugari tersebut malah terdiam dan fokus ke badan atletis milik Viki. "Apa kamu bisu..!!" seru Viki tertahan.
"Maaf Tuan. Lima belas menit lagi, pesawat akan mendarat." ucapnya.
"Jaga mata kamu, selama itu masih berfungsi. Jangan sampai mata indah milikmu, aku donorkan pada yang membutuhkan." seringai Viki membuat takut pramugari tersebut.
Begitu pintu tertutup, Viki menatap ke arah sang istri yang masih tertidur lelap. "Katanya takut. Malah lelap banget tidurnya." ucap Viki lirih.
Melihat betapa nyaman dan nyenyaknya Nara tidur, Viki memutuskan untuk membersihkan badan terlebih dahulu.
"Sayang, bangun. Sebentar lagi kita akan mendarat." dengan lembut, Viki membangunkan Nara. Mencium beberapa kali wajah sang istri.
"Sudah sampai ya.." ucap Nara dengan suara khas orang bangun tidur.
Nara duduk, dengan tangan memegang selimut hingga menutupi dadanya. Melihat sang suami yang memakai handuk saja. Dengan wajah fres dan rambut basah.
"Suamiku sudah mandi?" Viki mengangguk dan kembali mendaratkan ciuman di pipi Nara.
"Kamu mandi, aku akan berganti baju." Nara mengangguk dan masuk ke dalam kamar mandi. Tetap dengan selimut membelit tubuhnya.
"Padahal gue sudah lihat semuanya. Kenapa mesti malu. Dasar perempuan." Viki melempar selimutnya ke atas ranjang.
Mata Nara melihat ada baju perempuan terlipat rapi di atas ranjang. " Itu baju kamu. Cepat pakai. Sebentar lagi pesawat akan mendarat." ujar Viki.
Mendengar kata pesawat akan mendarat, Nara segera membawa pakaian gantinya ke dalam kamar mandi tanpa banyak bertanya.
Padahal dalam benaknya, Nara penasaran. Dari mana Viki bisa mendapatkan baju ganti miliknya. Sebab, kata sang suami, pakaian mereka sudah di kirim ke hotel terlebih dahulu.
Viki menggelengkan kepala melihat tingkah sang istri. "Padahal ganti di sini juga tidak apa-apa. Aneh." papar Viki.
Kini, Nara dan Viki berada di dalam mobil. Setelah keduanya turun dari pesawat.
"Suamiku, kita mau kemana?" tanya Nara. Seakan mengulang kejadian yang sama beberapa hari yang lalu.
Kanan kiri jalan uang dilewati oleh mobil adalah pohon yang berjejer rapi. Seakan sedang berbaris. Namun kali ini Nara merasa jika jalan yang mereka lalui semakin menanjak.
Yang artinya mereka sedang menuju ke atas. Nara memandang ke arah Viki yang tampak santai dan tenang.
"Katanya mau berbulan madu. Berbulan madu ke mana?" tanya Nara lirih. Dalam benaknya, berbulan madu adalah mengunjungi tempat bagus dan populer yang sering dia lihat di layar televisi.
Mobil berhenti. "Ayo, turun." ajak Viki, Nara perlahan menginjakkan kakinya di atas aspal.
"Ingat, jangan sampai ada siapapun yang naik. Dan selalu waspada. Pegang selalu alat komunikasi." perintah Viki pada beberapa lelaki di depannya.
"Baik Tuan. Semua seperti yang diperintahkan oleh Bos Rey. Semua aman terkendali." ujarnya.
__ADS_1
Nara hanya diam, dia sedikit paham apa yang sedang mereka bicarakan. Sebab, Viki dan para lelaki tersebut berbicara dengan bahasa inggris.
"Aku harus semakin rajin belajar. Jangan sampai membuat malu abang." ucap Nara dalam hati.