VIRA (Viki Dan Nara)

VIRA (Viki Dan Nara)
ViRA 54


__ADS_3

"Ada apa dengan Tuan." ucap Rey dengan heran, kembali masuk ke dalam ruangannya sendiri. Membawa map berisi berkas-berkas yang seharusnya di tanda tangani oleh Viki.


Namun Viki malah mengomel. Dan berkata jika Rey harus mengecek ulang berkas tersebut. "Ckk,,, perasan semuanya aku kerjakan seperti biasa." gumam Rey, memandang map di tangannya.


Karena menurut Rey, tidak ada yang salah dalam laporan yang dia kerjakan. Rey melihat jika sejak masuk wajah atasannya tersebut sudah tidak bersahabat.


Viki menaruh tangannya di atas meja dengan memegang kepalanya. "Giliran mau nikah, ada saja halangannya." geram Viki, menyandarkan badannya di kursi. Mencoba menenangkan dirinya.


"Tapi benar juga yang dikatakan papa dan mama. Perjalanan hidup Nara masih panjang. Usianya saja masih belia. Pasti Nara juga mempunyai cita-cita." imbuh Viki, memikirkan Nara.


Sementara Rey, benar-benar bingung. ketiga asisten klien besar milik Tuan Marko menghubungi dirinya. Dan pastinya mengajak bertemu hari ini.


"Semoga perasaan Tuan sudah membaik." ucap Rey, memberanikan diri masuk ke dalam ruangan Viki.


"Maaf Tuan, ada yang ingin saya sampaikan." ucap Rey. Dan Viki hanya memandang tanpa mengeluarkan suara.


"Ketiga klien besar Tuan Marko ingin bertemu dengan anda." ucap Rey, Viki terdiam. Kemudian tersenyum samar.


"Atur waktunya. Beberapa jam ke depan kita bertemu mereka. Sekarang, saya ingin beristirahat sebentar. Jangan biarkan ada yang mengganggu." ucap perintah Viki.


"Kamu persiapkan semuanya dengan lengkap." ujar Viki.


"Baik Tuan." Rey bernafas lega, setidaknya emosi Viki sudah tidak seperti tadi.


Sepeninggal Rey, Viki masuk ke dalam ruang pribadinya. Membaringkan badan di kasur besar miliknya. Tak lupa, dia melepaskan jas dan dasinya terlebih dahulu.


"Masalah seperti ini, jangan sampai mempengaruhi pekerjaan. "Ckk,, ini alasan gue nggak suka bermasalah dengan kata cinta." gumam Viki, memijat pelipisnya yang terasa pening.


"Seandainya Ella masih di sini, gue bisa berbincang dengan dia. Sayangnya, keberadaannya saja gue nggak tahu." ucap Viki, teringat sahabatnya tersebut.


Setidaknya, sahabatnya tersebut bisa memberi saran. Dan pasti Ella juga bisa berbicara dengan kedua orang tuanya. Mengingat sang mama sangat menyayangi sahabatnya tersebut.


"Denis, gue nggak mungkin menghubungi dia." imbuh Viki, lantaran Viki juga tahu jika sekarang Denis sedang memperbaiki hubungannya dengan sang kekasih.


Apalagi, menurut Viki masalah Denis dan sang kekasih terbilang sedikit sulit. Sebab terhalang restu dari kedua irang tua Denis.


Viki tersenyum sambil menggeleng pelan. "Ternyata setiap hubungan pasti mempunyai masalah. Dan aku termasuk masih dalam tahap ringan." ucap Viki, memandang ke langit-langit kamar.


Viki memejamkan kedua matanya. Mencoba mengistirahatkan perasaannya yang kacau karena masalah pernikahan yang diinginkannya. Tak berselang berapa lama, Viki masuk ke dalam alam mimpi.


Hinga satu jam kemudian, Giska dengan lancar masuk ke dalam ruangan Viki. Tanpa di ketahui oleh Rey. Karena Rey sedang sibuk menyelesaikan pekerjaan yang diberikan oleh Viki.


"Kenapa sepi. Apa Viki keluar." gumam Giska, karena Rey, sang asisten juga tidak terlihat. Padahal biasanya, Rey selalu menghalangi dirinya untuk masuk ke dalam ruangan Viki.


"Tapi beruntung nggak ada asisten tidak berguna itu." ucap Giska, merasa lenih leluasa.


Padahal ada atau tidak ada Rey, hasilnya tetap sama. Viki juga tetap tidak mau menemuinya.


"Hufftt,,,, sia-sia gue ke sini." keluh Giska. Saat kaki Giska hendak meninggalkan ruang kerja Viki, pandangan mata Giska menemukan pintu di yang terletak di samping ruangan.


"Jangan bilang jika itu,," gumam Giska, dengan senyum terpatri di bibirnya. Sepertinya Giska bisa menebak tempat apa tersebut.


Dengan langkah pasti, Giska melangkahkan kakinya menuju pintu tersebut. "Nggak di kunci." gumam Giska senang.


Dengan pelan, Giska membuka pintu dari luar. "Woooww, ternyata ruang pribadi Viki. Bagus banget. Besar." gumam Giska, masih di depan ambang pintu.


Senyum licik Giska terukir di bibirnya, saat melihat Viki tengah berbaring di atas ranjangnya. "Pantas tidak ada, ternyata di sini." ucap Giska.


"Gue nggak sia-sia datang ke sini." ucap Giska dalam hati, tersenyum licik.


Segera Giska masuk dan menutup pintu dengan pelan. Supaya tidak menimbulkan suara gaduh yang dapat membangunkan Viki dari tidur nyenyaknya.


Mata Giska menatap Viki seperti kucing lapar. "Vikkk..." gumam Giska, mengulum bibirnya sendiri. "Kamu sangat pulas sekali." imbuh Giska dengan suara lirih.


Apalagi saat ini Viki tengah tertidur dengan posisi terlentang. Dengan tiga kancing kemeja bagian atas terbuka. Membuat dada bidang milik Viki terlihat dengan jelas.


"Ooohh,,,," Giska memandang ke seluruh badan Viki dengan tatapan mendamba. Giska meletakkan tasnya di bawah begitu saja.

__ADS_1


Dengan pelan dan hati-hati, Giska duduk di tepi ranjang. Bahkan hanya memandang Viki yang tengah tertidur, membuat nafas Giska sudah tidak karuan.


Giska memberanikan diri memainkan jari jemarinya di rahang tegas milik Viki. "Kamu sangat tampan. Perempuan mana yang akan menolak kamu." gumam Giska.


Giska menggeleng pelan, dengan pandangan mata sayu karena gairah. Menyusuri dengan lembut dada Viki. Membayangkan saat ini, duduk di atas badan Viki. Sambil menggoyangkan badannya.


"Aku sangat menginginkan itu. Aku menunggu saat itu tiba. Pasti aku sangat senang." ucap Giska dengan nafas memburu.


"Egghhhh...." terdengar lenguhan dari Viki, karena merasa tidurnya terganggu.


Cup...


Dengan cepat dan singkat Giska dengan berani mendaratkan bibirnya di bibir Viki, saat kedua mata Viki masih tertutup rapat. "Ra..." gumam Viki, tersenyum dengan mata terpejam.


Viki yang masih setengah tertidur, mengira jika dirinya tertidur di dalam kamarnya. Sehingga Viki mengira Naralah yang mengecup bibirnya. Mengingat kegiatan setengah panas yang mereka lakukan tadi pagi di kamar Viki.


Giska mengernyitkan kening. Memandang ke arah Viki yang tersenyum dengan memejamkan kedua matanya. "Ra,,, atau Va,,," batin Giska.


Karena jujur, Giska tidak begitu mendengar kata apa yang keluar dari bibir Viki. Sebab tidak terlalu fokus.


Grepp,,,, Viki memeluk tubuh Giska yang condong ke arahnya. Membuat Giska tersenyum, tak lagi mempermasalahkan dan memikirkan kata yang baru saja di gumamkan oleh Viki.


Giska malah menikmatinya, menempelkan pipinya di dada Viki. "Ini..." batin Viki masih terpejam.


Berbeda. Itulah yang ditangkap oleh indera penciuman Viki. Nara tidak pernah memakai parfum. Wangi Nara seperti wangi bayi, karena mungkin Nara memakai bedak milik Bima. Dan badan Nara lebih kecil dari badan yang sekarang sedang dia peluk.


Segera Viki membuka kedua matanya. Tampak rambut dengan warna sedikit merah yang dia pandang saat pertama kali membuka mata.


"Kamu..!!!" teriak Viki mendorong kasar tubuh Giska, dan segera bangun. Hingga Giska terjatuh ke lantai.


"Reyyy!!!!" teriak Viki dengan wajah merah. Menatap Giska dengan tatapan membunuh.


"Tuan." ucap Rey masuk ke dalam ruang pribadi Viki. Rey memandang sengit pada Giska. "Perempuan ular ini, kenapa bisa masuk." batin Rey kesal.


Apalagi Rey melihat keadaan Viki di atas ranjang dan Giska duduk di lantai menahan rasa sakit. Tanpa di beritahu, Rey bisa membayangkan dan menebak apa yang terjadi.


Karena Tuannya sudah menolaknya berkali-kali. Alih-alih menjauh dan tak menampakkan wajahnya di hadapan Viki, Giska malah lebih sering berseliweran di sekitar Viki.


"Bawa dia pergi dari hadapanku!" seru Viki.


Tanpa bicara, Rey membangunkan tubuh Giska yang masih dengan posisi duduk di atas lantai. "Kenapa kamu seperti lalat. Terbang berkeliling di sekitar Tuanku." dengus Rey dengan kesal.


"Viki,,, kamu tidak bisa memperlakukan aku seperti ini." teriak Giska tidak terima. "Baru saja kamu diam dan menikmati ciuman yang kuberikan. Jangan munafik." imbuh Giska, meronta. Ingin lepas dari cekalan tangan Rey.


"Tutup mulutmu. ******." desis Rey, mulai kesal pada perempuan tersebut. Apalagi Rey melihat raut wajah murka pada Tuannya.


"Lepaskan gue!!" teriak Giska memandang penuh amarah pada Rey. "Elo hanya seorang asisten. Jangan pernah sentuh gue." imbuh Giska, tetap mencoba berontak. Memukul-mukul lengan Rey.


Giska kembali menatap Viki. "Kamu juga menikmati setiap sentuhan yang aku berikan Vik. Kamu tersenyum, kamu menikmatinya." ucap Giska tersenyum licik.


"Lapaskan dia." ucap Viki memandang ke arah Rey.


"Kamu tidak dengar. Lepas manusia tidak berguna. Sampah." ejek Giska, memandang hina pada Rey.


"Tuan." ucap Rey, tidak mengerti dengan keputusan majikannya untuk melepaskan Giska.


Giska mengusap lengannya yang merah karena cekalan tangan dari Rey.


Plakkk...... Wajah Rey reflek menoleh ke samping, saat telapak tangan Giska mendarat di pipi kiri miliknya. "Peringatan buat sampah seperti kamu." ucap Giska dengan angkuh.


Rey hanya terdiam. Bahkan tidak mengusap pipinya. Karena bagi Rey, tamparan Giska tidak berasa sakit untuk dirinya. Hanya Rey merasa kesal pada Giska.


Rey menatap tajam ke arah Giska. Membuat Giska merasakan sedikit ketakutan. Dan Viki hanya memandang mereka.


"Viki..." ucap Giska, berlari ke arah Viki yang masih duduk di atas ranjang.


"Tuan." gumam Rey. Saat ini, Rey tidak bisa menebak apa yang ada di dalam benak atasannya tersebut.

__ADS_1


"Menunduklah." ucap Viki dengan lembut, dan kedua sudut bibir miliknya terangkat ke atas.


Dengan patuh tanpa menaruh rasa curiga, Giska menundukkan badan. Apalagi, Giska melihat senyum dari Viki.


Greppp....


"Tuan...!!" seru Rey menelan ludahnya dengan kasar. Melihat Viki dengan posisi duduk, mencekik leher dari Giska.


Dan Giska, memukul-mukul lengan Viki. Dengan pandangan mata menatap ke arah Viki, karena pasokan oksigen di dalam tubuhnya tidak bisa mengalir dengan baik.


Apalagi saat ini, badan Giska saat ini dalam posisi membungkuk. Seolah mempermudah Viki untuk memegang leher Giska.


"Lep...lepp...asss." ucap Giska lirih.


Viki tersenyum menyeringai. Tanpa ada niatan untuk melepas tangannya di leher Giska. Wajah Giska sudah nampak putih. Bukan karena bedak, melainkan pucat.


"Astaga." ucap Rey, segera menghentikan tindakan atasannya tersebut.


"Tuan, saya mohon. Jangan mengotori tangan anda." ucap Rey, mencoba melepaskan tangan Viki dari leher Giska.


Rey tidak ingin ruang pribadi Tuannya menjadi TKP pembunuhan terhadap perempuan tersebut. "Uhukk,,,, uhukk,,,, uhukk,,,," Giska terkulai lemas duduk di atas lantai.


Dengan tangan satu menyangga badannya di lantai, sementara yang satunya memegang lehernya yang terasa sakit.


Giska masih menetralkan nafasnya. Sambil memejamkan mata. Viki menurunkan kakinya dari ranjang. Membuatnya tepat berada di atas Giska. Karena Giska masih duduk di lantai dekat ranjang.


"Tuan." ucap Rey masih merasa takut dengan tindakan Viki. Bukan maksud Rey membela atau menolong Giska. Tapi Rey tidak ingin Viki mengotori tangannya dengan hal tidak berguna.


"Aaa..." seru Giska dengan suara lirih, saat tangan Viki memegang rambut Giska. Dan menariknya ke bawah. Sehingga membuat wajah Giska menengadah melihat ke arah Viki.


"Ingat satu hal. Aku tidak pernah sudi memiliki wanita bekas lelaki lain. Paham." Viki melepaskan rambut Giska. Memandang Giska dengan jijik.


Viki mendekat dan berbisik di samping telinga Giska. Membuat kedua mata Giska terbuka lebar tak percaya. "Dari mana Viki tahu." ucap Giska dalam hati, merasa terkejut bercampur takut.


Karena Giska bermain sangat rapi setiap bertemu dengan lelaki tersebut. Bahkan Giska dengan pandai dapat mengecoh bawahan sang papa yang selama ini selalu membuntutinya.


Giska masih menatap ke arah Viki dengan tatapan tidak percaya. "Vikkkk..." ucap Giska lirih, dengan bibir bergetar.


Viki menepuk kedua telapak tangannya sendiri, seolah membersihkan sesuatu di kedua telapak tangannya, karena baru saja menyentuh sesuatu yang kotor.


"Bawa dia keluar. Sekali lagi dia masuk ke dalam ruangan ku, kamu yang akan menanggung akibatnya." tegas Viki, menatap tajam ke arah Rey.


"Maaf, Tuan." segera Rey, membawa Giska keluar dari ruangan Viki.


"Bagaimana rasanya di cekik. Beruntung, ada manusia tidak berguna dan sampah ini di dalam ruangan. Sehingga Nona Giska tidak meninggal dengan mudah." sindir Rey, tanpa memandang ke arah Giska.


Giska yang badannya masih lemas, dia masih duduk di kursi yang terletak di depan ruangan Viki. Menatap sinis ke arah Rey.


"Sepertinya tamparan di pipi saya lebih parah, dari pada keadaan leher Nona." ucap Rey tersenyum puas.


"Tidak perlu berterimakasih. Karena manusia tidak berguna ini sebenarnya juga sama sekali tidak mempunyai niat membantu Nona Giska. Hanya saja, saya tidak ingin, jika tangan majikan saya akan kotor. Karena membunuh seorang sampah." ejek Rey, meninggalkan Giska seorang diri.


"Sepertinya aku harus menaruh beberapa orang di depan ruangan Tuan." gumam Rey, dirinya tidak ingin kecolongan lagi.


Apalagi akhir-akhir ini, Rey begitu sibuk mengurusi beberapa proyek. "Sebaiknya aku segera melakukannya." imbuh Rey, tidak ingin membuat atasannya kembali marah padanya. Karena perempuan.


Viki melepas seluruh pakaiannya. Seolah dirinya jijik memakai pakaian yang terkena tubuh dari Giska. Masuk ke dalam kamar mandi dan membersihkan badan. Terutama bibir.


"Ckk,, kenapa aku malah mengira Nara. Bodoh. Mana mungkin Nara bisa seberani itu." ucap Viki di bawah guyuran air shower.


"Nara...." panggil Viki dengan lirih. Membayangkan wajah polos dari Nara.


"Kenapa usiamu masih kecil. Apa aku mencoba mengirim pesan pada Ella. Setidaknya dia akan membaca sewaktu-waktu. Saat dia mengaktifkan ponselnya." ucap Viki.


Viki segera menyelesaikan ritual membersihkan badan. Masih dengan memakai handuk yang melilit di pinggul, Viki mengambil ponsel. Mengetik sesuatu yang sangat panjang. Dan dikirimkan pada sahabatnya.


Sebut saja pesan curahan hati dari seorang Viki.

__ADS_1


__ADS_2