VIRA (Viki Dan Nara)

VIRA (Viki Dan Nara)
ViRA 180


__ADS_3

"Silahkan Tuan." bawahan Ella sudah berada di tempat. Dimana orang yang merusak acara bulan madu Nara dan Viki berada di dalam.


Sebelah mata Viki memicing, melihat sosok yang duduk dengan menundukkan kepalanya. Perempuan.


Viki melirik ke arah Rey, yang datang tak sengaja bersamaan dengan dirinya. Rey diam dan menunduk.


Lirikan Viki seolah sedang mengejek sang asisten. Jika Rey, dikalahkan oleh seorang perempuan. Memalukan bagi Rey.


Rey hanya bisa menuruti dirinya sendiri. Sekaligus, hal tersebut menjadi pecut untuk dirinya meningkatkan kemampuannya dalam komputer.


Viki memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana. Berjalan mendekat ke arah perempuan tersebut.


Dapat Viki lihat, jika kakinya bergetar. Takut. Pasti. Viki tersenyum sinis. "Cari dan lihat, apa isi dari semua komputer miliknya." perintah Viki, lantaran di sana ada beberapa komputer.


Perempuan tersebut berlutut di depan Viki. Memohon pada Viki. "Jangan. Saya mohon Tuan, jangan." pintanya dengan suara parau.


Di dalam komputer tersebut semua identitas klien dan korbannya tercatat dengan rapi. Bukan hanya sekedar nama. Melainkan semua rahasianya juga ada secara detai.


Viki sedikit menundukkan badan. Memegang dagunya, dan membawa untuk bersitatap dengannya. "Aku tidak pernah memandang lawan. Perempuan atau lelaki, bagiku sama saja."


Viki melepaskan cekalannya dengan kasar. "Apa yang kalian dapatkan?" tanya Viki tidak sabar.


"Tuan." panggil seseorang di sebuah kursi. Segera Viki mendekatinya.


Sang perempuan ingin berlari menghentikan langkah Viki. Namun sayangnya, bawahan Viki dengan sigap menghentikan.


Viki menatap ke arah layar. Duduk menggantikan sang bawahan. Jari jemari Viki dengan lincah melihat apa yang tersimpan di dalamnya.


Viki mencebik. "Hacker bayaran. Sayangnya, kali ini kamu salah memilih lawan."cibir Viki


"Musnahkan semuanya." perintah Viki.


"Jangan...!! Saya mohon jangan..!!" teriaknya, dengan tubuh meronta-ronta. Sebab, tangannya di pegang erat bawahan Viki.


"Berapa Giska membayar kamu!?"


Sang perempuan menatap Viki tajam, mengobarkan peperangan yang sudah tersulut dia dalam hatinya. "Beraninya keroyokan." sungutnya.


Viki tersenyum. "Punya nyali juga." ucap Viki dalam hati. Viki menggerakkan tangannya, membuat perempuan tersebut terlepas dari cekalan tangan bawahan Viki.


Di langsung menyerang Viki, begitu badannya bebas bergerak. Tak semudah itu. Dengan mudah, Viki menepis dan menghindar. Bahkan membuat sang perempuan akhirnya tersungkur ke lantai.


"Aaaa....!!!" teriaknya, saat kaki Viki menginjak telapak tangannya.


Viki memejamkan matanya heran, mendengar suara jeritannya. Sebab, Viki masih waras untuk menginjaknya menggunakan kekuatan penuh.


"Ingat, kamu akan mendapatkan rasa yang lebih dari ini, jika kamu mengusik kehidupanku." ancam Viki.


Viki meninggalkan tempat tersebut. Sementara sang perempuan menangis melihat komputernya untuk mencari uang.

__ADS_1


"Sial,,, gara-gara uang itu, gue malah apes.." keluhnya. Apalagi semua data yang dia kumpulkan dengan susah payah lenyap sudah tak tersisa.


"Kembalilah ke kantor. Hari ini, aku tidak akan pergi ke sana." ujar Viki.


"Baik Tuan." Rey hanya bisa menghela nafas panjang melihat mobil yang dikendarai sang atasan meluncur meninggalkannya.


"Semoga gaji gue nggak dipotong." ucapnya.


Rey merasa malu bercampur tidak enak hati. Masalah sepele, dirinya harus menghubungi sang atasan. Dan menyuruhnya untuk pulang.


Dengan perasaan kesal, Viki mendatangi kediaman Tuan Smith. Tak ada kata sopan saat Viki masuk ke dalam rumah.


Bahkan, Nyonya Binta yang tengah bersantai membaca majalah di ruang tengah juga terkejut atas kedatangan sang menantu.


"Loh, Vik... kamu kok ada di sini?" tanya Nyonya Binta. "Sama Nara, mana Nara?" lanjutnya bertanya. Tanpa tahu jika Viki sedang dalam tingkat emosi.


"Di mana Giska?!" tanya Viki, mengabaikan pertanyaan sang mertua.


"Giska...?!" Nyonya Binta terheran, kenapa Viki datang sendirian. Dan malah mencari Giska.


Nyonya Binta melihat ekspresi wajah Viki yang tidak baik-baik saja. "Apa Giska membuat ulah?" tanya Nyonya Binta menebak.


Apalagi Nyonya Binta tahu, jika belum saatnya Nara dan Viki pulang dari rencana bulan madu.


Dari tangga, Giska menuruni anak tangga dengan senyum di bibirnya. "Viki...!!!" serunya dengan nada girang.


Giska mempercepat jalannya untuk menghampiri Viki. Tidak menyangka, Viki datang mencarinya. "Vik...!!"


Dengan menggunakan satu tangan, Viki menjambak rambut Giska, membuat kepala Giska sampai mendongak ke atas.


"Viki,,,..." Nyonya Binta terkejut dengan apa yang dilakukan Viki terhadap Nyonya Binta. Juga para pembantu di rumah yang sedang berada di sekitar mereka.


Mereka hanya bisa meringis diam menyaksikannya. Membantu Giska, mereka pasti tidak akan peduli. Tapi, mereka hanya kasihan pada isi perut Giska. Yakni janin yang saat ini masih tertidur pulas dalam perut Giska.


"Berkali-kali aku peringatkan. Sekali kamu cari masalah, aku tidak akan segan-segan membuat kamu nggak akan bisa melihat matahari..!!" geram Viki.


Nyonya Binta menatap heran, apa yang sebenarnya terjadi, kenapa Viki berbicara seperti itu. "Apa yang kamu lakukan Giska...!!" teriak Nyonya Binta, ikut tersulut emosinya.


"Viki,,, kamu salah paham. Aku tidak melakukan apapun. Lepaskan,, sakit...!!!" seru Giska memegang kepalanya.


"Apa kamu tidak punya hati..!! Aku sedang hamil. Hamil keponakan kamu...!!" seru Giska.


Viki menyeringai. Membuat Giska dan semua orang yang melihatnya merasakan aura yang berbeda dalam ruangan tersebut. "Dan aku tidak peduli."


Viki melepaskan tangannya di rambut Giska, dan beralih ke leher Giska. Mencekiknya. "Viki,,, sadar..." seru Nyonya Binta, merasa ngeri dengan apa yang dilakukan suami dari anak tirinya tersebut.


"Vik,,, lepas.... Sesak..." Giska memukul-mukul lengan Viki, berusaha melepaskan cekikan dari Viki.


Wajah Giska mulai pucat, air mata menetes di sudut matanya. Viki tersenyum sinis, melepaskan tangannya dari leher Giska, dengan sedikit mendorong tubuh Giska ke belakang.

__ADS_1


"Jangan ada yang memberinya minum." seru Viki, saat seorang pembantu ingin memberi Giska air putih.


Nyonya Binta memang sangat membenci Giska. Tapi sesama perempuan, beliau juga tidak tega melihat keadaan Giska. Terlebih dia hamil cucunya.


"Viki,,!! sini.. sini..." Nyonya Binta mengambil air putih tersebut daei tangan sang pembantu, dan memberikannya pada Giska yang terengah-engah kehabisan nafas.


"Pelan-pelan." tuturnya, saat Giska meminum dengan rakus.


Tampak warna merah bekas telapak tangan Viki, melingkar di leher Giska. "Itu peringatan terakhir. Jika kamu masih berani mencari masalah dengan saya, atau keluarga saya. Saat itu juga, nyawa kamu menghilang." ancam Viki.


"Jika kamu tidak percaya. Kamu bisa membuktikannya. Bahkan, kedua orang tua kamu, tidak akan bisa membantu." sinis Viki.


Giska menatap sedih ke arah Viki. "Kenapa?? Kenapa sekali saja, kamu tidak pernah melihatku sebagai perempuan. Perempuan yang sangat mencintai kamu." papar Giska dengan meneteskan air mata.


Viki tersenyum smirk. "Saya tidak suka barang bekas. Nona Giska." ejek Viki dengan kasar.


"Dan saya, suka yang asli. Bukan operasi." sambung Viki menyindir.


Viki mendekat ke arah Giska. Membisikkan sesuatu padanya. "Itu tidak benar...!!!" jerit Giska tidak terima dengan apa yang dibisikkan Viki padanya.


"Oh ya,,, Jadi, jangan pernah mengusik ketenangan saya. Saya bisa menghancurkan, siapapun. Siapapun yang berani menentang saya. Dan kamu, hanya seekor nyamuk yang sedang terbang. Jangan sampai, kamu lenyap, hanya dengan satu tepukan saja." Viki memperagakan, saat telapak tangannya dengan santai menepuk nyamuk di udara.


"Viki,,, tunggu...!!" seru Nyonya Binta mengejar Viki, yang hendak meninggalkan rumahnya tanpa pamit.


"Kamu itu, datang tidak salam. Pulang tidak pamit." omel Nyonya Binta.


Viki hanya diam tak menjawab. "Ajak Nara ke sini." pinta Nyonya Binta.


"Hemmm..." Viki melanjutkan langkahnya kembali.


"Ckkk,,, dasar." omel Nyonya Binta. Beruntung, Nyonya Binta sudah tahu watak Viki. Jadi beliau tidak terlalu mengambil pusing tingkah Viki.


Giska masih terduduk di kursi dengan keadaan kacau. Memandang ke arah perutnya yang besar. "Bagaimana Viki bisa tahu. Bagaimana jika Viki memberitahu Renggo. Tidak. Aku tidak ingin diceraikan sebelum anak ini lahir. Aku juga tidak mau repot mengurusnya." Giska merasa kenyamanannya terancam dengan perkataan Viki.


"Apa yang kamu lakukan. Hingga menantu saya murka?!" Nyonya Binta menatap Giska kesal.


"Bukan urusan anda. Dan perlu anda ingat, saya juga masih menantu anda, Nyonya Binta." ucap Giska dengan berani.


"Sudah Nyonya, biarkan saja. Saya rasa Nyonya muda Giska tidak akan lagi berulah." papar pembantu di samping Nyonya Binta. Menatap Giska yang sedang menaiki anak tangga.


"Pasti Giska melakukan hal yang serius. Hingga Viki pulang. Padahal bulan madu mereka belum berakhir." Nyonya Binta menghela nafas kasar, melihat betapa marahnya Viki.


"Giska,, Giska.. Hidup macam apa yang kamu pilih. Saya tidak bisa berpikir. Padahal dia berasal dari keluarga yang kaya raya. Papa dan mamanya sangat menyayanginya. Kenapa dia bisa jadi seperti itu." ucap Nyonya Binta merasa heran.


"Dimana Nyonya?" itulah kalimat pertama yang Viki katakan saat tiba di rumah.


"Nyonya kecil masih tidur Tuan. Sesuai keinginan anda, saya belum membangunkannya jika belum sore." jelas sang pembantu.


Viki mengangguk. "Siapkan makan malam untuk kita. Jangan terlalu banyak." pinta Viki.

__ADS_1


Viki tersenyum melihat sang istri masih meringkuk dalam tidurnya. "Astaga. Apa selelah itu." gumam Viki, melihat pakaian Nara masih sama dengan pakaian yang terakhir dia lihat.


Viki membiarkan sang istri tetap berada di dalam mimpinya. Dia lebih memilih untuk membersihkan badan terlebih dahulu.


__ADS_2