VIRA (Viki Dan Nara)

VIRA (Viki Dan Nara)
ViRA 31


__ADS_3

Bu Anis memeluk Nara. "Maafkan ibu. Ibu tidak bisa melakukan apapun untuk membantu kamu." ucap Bu Anis. Sementara Nara masih terdiam dengan air mata mengalir di pipinya.


"Kak." ucap Rini lirih, memandang ke arah kakaknya yang masih terdiam. Tangan Rini mengusap kasar air mata di pipinya.


Berbeda dengan Bima. Bocah berusia dua tahun tersebut nampak senang bermain dengan mainannya. Karena anak seusia Bima memang belum mengerti masalah yang sedang mereka hadapi.


"Nara tidak pernah melakukan itu Bu." ucap Nara dengan sesegukan.


"Ibu percaya." Bu Anis memeluk tubuh Nara dengan erat.


"Kak." Rini mendekat ke arah kakaknya. Memeluk tubuh Nara dengan erat.


"Maafkan kakak." cicit Nara.


"Kakak tidak salah. Mereka yang bersalah."


ujar Rini melepas pelukannya pada Nara. Tangan Nara terulur mengelus rambut Rini, dan tersenyum pahit.


Terdengar suara teriakan dari luar yang pastinya ditujukan kepada Nara dan kedua adiknya.


"Cepat pergi. Bikin udara tercemar."


"Dobrak, dobrak, dobrak....!!!"


Nara mengurai pelukan bu Anis. "Nara harus bersiap bu." ucap Nara tersenyum paksa.


"Sayang." Bu Anis kembali memeluk Nara. Kini, air mata bu Anis tak bisa terbendung lagi.


Nara mengusap air matanya. Mengelus punggung bu Anis. Seolah disini Bu Anis yang malah menjadi korban, dan Nara menenangkannya.


"Rin, jika boneka milikmu tidak terbawa semua tidak apa-apa kan?" tanya Nara dengan lembut.


"Iya kak. Bawa saja mainannya Bima." ujar Rini, anak usia tujuh tahun. Sudah bisa berpikir dengan bijak.


"Terimakasih sayang." ucap Nara. "Bantu kakak berkemas." pinta Nara.


"Tidak perlu." kata bu Anis menghentikan tangan kecil Rini yang hendak membantu kakaknya.

__ADS_1


"Rini menjaga Bima saja. Biar ibu yang membantu kak Nara." imbuh bu Anis.


"Terimakasih bu." ucap Rini dengan tulus. Bu Anis hanya tersenyum, dengan tangan bergerak memasukkan baju Nara dan kedua adiknya ke dalam tas.


"Nara, kamu hanya membawa ini?" tanya Bu Anis. Padahal masih banyak barang mereka yang masih tersisa. Karena kedua orang tua angkat Nara sudah menghuni kontrakan tersebut sangat lama.


"Iya bu, Nara membawa barang yang diperlukan saja. Nanti jika Nara membawa semua, Nara akan repot." jelas Nara. Karena jujur, setelah ini Nara masih bingung. Kemana dia akan membawa kedua adiknya pergi.


Bu Anis menghela nafas panjang. Merogoh sesuatu dari kantong bajunya. "Ini buat pegangan. Tapi maaf, hanya sedikit." ucap Bu Anis menggenggam telapak tangan Nara dan memberikan beberapa lembar uang pada Nara.


"Jangan bu, nanti ketahuan pak Gombloh. Lagi pula Nara masih punya uang." tolak Nara dengan halus. Nara takut jika suami bu Anis mengetahuinya. Pasti bu Anis akan di pukul.


"Tenang saja. Ini uang ibu sendiri. Suami ibu tidak tahu." ucap Bu Anis.


"Maafkan ibu. Ibu tidak berani meminta kembali uang kontrakanmu yang sudah kamu bayar pada kami." ucap Bu Anis menyesal.


"Bu, tidak apa-apa. Nara ikhlas. Lagi pula, ini." Nara menatap ke telapak tangannya yang menggenggam uang pemberian bu Anis.


"Ini sudah lebih dari cukup." imbuh Nara, karena dia tahu bagaimana gila dan sadisnya Pak Gombloh jika sudah marah.


"Kalian anak yang baik." ucap Bu Anis tulus. Sesungguhnya bu Anis merasa kasihan pada Nara dan kedua adiknya. Tapi sayang, dirinya tidak mempunyai kekuatan atau kemampuan untuk menolong mereka.


"Kalian hati-hati ya." ucap Bu Anis.


"Rini, jangan pernah membantah perkataan kak Nara. Jaga Bima dengan baik." imbuh Bu Anis.


Nara membuka pintu. Mulai melangkahkan kaki meninggalkan rumah yang sudah dia tempati selama bertahun-tahun.


Beberapa orang yang melihat, hanya diam dan memandang sinis pada Nara. "Akhirnya, kita bisa hidup dengan tenang." seru seorang ibu-ibu. Melihat Nara dan kedua adiknya pergi dari kontrakan mereka.


Tapi ada beberapa juga yang merasa iba dengan mereka. Tapi karena mereka juga sama seperti bu Anis. Yang tidak punya kekuatan dan kemampuan, mereka hanya bisa mendoakan saja.


"Kak, Rini lapar." cicit Rini dengan tangan kanan membawa kantong plastik, tempat mainan Bima. Dan di punggungnya juga ada tas. Nara sampai lupa jika mereka belum memasukkan sesuap makanan pada mulut mereka.


"Kita cari tempat duduk dulu ya." ajak Nara, yang saat ini tengah menggendong Bima. Dengan tangan kanan menenteng tas besar.


Mereka melihat ada pohon besar dan rindang di tepi jalan. Segera Nara mengajak kedua adiknya untuk duduk di bawahnya.

__ADS_1


"Capek kak." keluh Rini.


"Sabar." Nara menurunkan Bima dari gendongannya. Dan Rini, segera menurunkan tas yang berada di punggungnya.


Ternyata tas tersebut berisi makanan yang sudah Nara masak subuh tadi, beserta air minumnya. Dan juga ada beberapa jajan Rini dan Bima. Nara berpikir, dari pada membeli makanan di jalan, lebih baik Nara bawa saja.


"Setelah ini kita kemana kak?" tanya Rini disela-sela mereka makan.


"Kakak juga belum tahu. Kita akan mencari tempat kontrakan sambil berjalan." ucap Nara dengan tangan menyuapi Bima.


"Kak, kenapa kita tidak ke rumah Bang Viki saja." celetuk Rini.


Sejenak Nara terdiam. Tapi bagaimana dirinya begitu tidak punya malu. Apalagi mereka juga bukan saudara. Lagi pula, Nara juga tidak ingin membebani hidup orang lain. Dan merepotkan Viki lagi.


"Kakak lupa alamatnya." ucap Nara mencari alasan. Padahal Nara masih hapal betul di mana letak apartemen Viki.


"Ya,,, sayang sekali." desah Rini pelan.


Selesai mengisi perut, mereka kembali berjalan menyusuri jalan. Mata Nara menoleh ke kanan dan kiri. Siapa tahu ada tempat yang di kontrakkan. Tapi dengan harga murah.


"Kak itu." tunjuk Rini melihat ada papan bertuliskan. DIKONTRAKKAN.


Meski Rini tidak bersekolah, tapi dia bisa membaca. Karena Nara biasanya mengajari Rini membaca. Meskipun tidak setiap hari.


Dan untuk Nara, dia tidak ingat apapun sewaktu kecil. Tapi dia bisa membaca dan menulis dengan baik. Bahkan, Nara tergolong anak yang pandai.


"Itu mahal Rin." ucap Nara. Karena sudah terlihat, bagaimana besarnya rumah tersebut. Dan pastinya akan di kontrakan dengan harga mahal. Dan pastinya, Nara tidak akan mampu membayarnya.


Keduanya kembali berjalan, dengan Nara sesekali membenarkan gendongan Bima. "Kak, biar Rini yang menggantikan menggendong Bima." tawar Rini. Karena Rini melihat kakaknya sudah kelelahan. Dan pasti pundak Nara sudah panas.


"Nggak, kata siapa kakak capek. Kan kita baru saja beristirahat." ujar Nara. Mana mungkin dirinya tega membiarkan Rini menggendong Bima.


"Kak, kita kemana lagi?" tanya Rini yang sudah terlihat lelah. Sudah berjam-jam mereka berjalan. Tapi belum menemukan kontrakan yang murah.


"Kita cari tempat untuk istirahat ya." ajak Nara.


"Rin, bagaimana jika kamu dan Bima menunggu kakak di sini. Kakak akan mencari kontrakan sendiri. Setelah dapat, kakak akan segera ke sini. Menjemput kalian." ucap Nara.

__ADS_1


Jujur, Nara merasa kasihan pada Rini, kerena dari tadi mereka terus berjalan. Hanya untuk mendapatkan kontrakan yang murah. Karena uang Nara yang tinggal sedikit.


"Nara..." panggi seseorang di samping Nara.


__ADS_2