
Seperti yang di rencanakan Viki. Vanesa benar-benar kabur dari mansion mewah tersebut. Pastinya dengan sedikit trik dari anak buah Rey.
Dan seperti rencana awal, Vanesa kembali tertangkap. Dan itupun kembali di lakukan oleh anak buah Rey. Terlihat sempurna. Dan berjalan dengan baik.
Tapi entah kenapa, Viki menyuruh Rey untuk segera menarik anak buahnya yang berada di mansion tersebut. "Tapi Tuan." ucap Rey membantah serta ingin menanyakan keputusan yang di ambil oleh Tuannya.
Padahal semuanya berjalan sesuai dengan rencana. Dan tinggal selangkah lagi, mereka akan mengetahui dengan pasti. Siapa pemain yang sesungguhnya. "Segera lakukan apa yang aku katakan. Jika tidak ingin kehilangan anak buahmu." geram Viki, sebab Rey malah mengulur waktu.
Rey terkejut mendengar perkataan Viki. Dirinya tahu apa arti perkataan tersebut. Dengan segera Rey mengeluarkan ponselnya dan menyuruh anak buahnya untuk keluar dari mansion mewah tersebut.
"Bagaimana mungkin." pikir Rey, merasa heran.
"Karena anak buahmu terlalu bersemangat dalam menjalankan perannya. Sehingga dia tidak sadar, jika malaikat pencabut nyawa sudah mengintainya." sahut Viki, menanggapi perkataan Rey.
Tentang mereka yang tahu jika ada penyusup di dalam mansion. Tapi tetap membiarkannya. Seolah semua rencana Viki berjalan dengan lancar.
"Bagaimana dengan Vanesa, Tuan." tanya Rey memastikan.
"Sebenarnya aku ingin sekali mengambilnya. Dan memperlihatkan sesuatu padanya. Memberinya sedikit kenang-kenangan, sebelum dia tidak pernah lagi melihat dunia ini untuk selamanya." tangan Viki memainkan pena yang saat ini ada di tangannya.
Krekkk.... pena tersebut patah menjadi dua bagian. "Tapi biarkanlah. Bukankah jika dia meregang nyawa di mansion mewah tersebut akan lebih menyenangkan." seringai Viki.
Viki dapat memastikan jika Vanesa akan segera di eksekusi oleh orang tersebut. Karena sudah tidak berguna untuk dirinya.
"Orang seperti mereka, hanya akan melakukan hal baik. Jika itu menguntungkan. Tapi mereka akan melenyapkannya, jika di anggap sampah." ucap Viki lirih.
Rey tahu, maksud perkataan yang di lontarkan oleh Viki. "Maaf Tuan, Tuan Smith ingin mengajak anda bertemu." ucap Rey, segera menyampaikan pada Tuannya.
"Aku sendiri nanti yang akan menghubungi dia." ujar Viki, tangannya kembali membolak-balikkan kertas di atas meja. Melanjutkan pekerjaannya.
"Baik."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
"Apa maksud mama?!" tanya Melva dengan nada tinggi, terkesan seperti sebuah bentakan yang terlontar dari mulutnya.
"Melva, turunkan nada suaramu." peringat Tuan Diego, papa dari Melva. Sekaligus suami Nyonya Vanya. Beliau tentu tidak suka. Melihat sang putri bersikap kurang ajar pada mamanya. Dan berkata tidak sopan.
"Ini semua demi kebaikan kamu." bujuk Nyonya Vanya. Saat ini, Nyonya Vanya menyuruh Melva untuk menjauhi Viki.
"Kebaikan apa sih ma. Padahal mama baru bertemu Viki satu kali. Satu kali mama...!! Kenapa mama langsung menyimpulkan bagaimana sifat seorang Viki." kesal Melva terhadap mama tirinya tersebut.
"Benar kata Melva. Lagi pula, Viki lelaki yang cocok untuk bersanding dengan putri kita." bela sang papa dengan pernyataan Melva.
Tuan Diego merasa jika Viki cocok menjadi suami Melva. Tentu saja karena alasan uang dan kekuasaan. Terlebih saat ini nama Viki sedang membumbung tinggi.
Pusat perbelanjaan yang di lengkapi restoran dan juga wahana mainan anak terbesar di Asia, yang baru saja di bangun adalah milik Viki.
Orang tua mana yang akan menolak. Jika putri mereka akan mendapatkan suami seperti Viki. Belum lagi perusahaan yang bergerak di bidang infotaiment sedang dalam kondisi sangat baik.
Dan tentunya Tuan Diego tahu, jika lelaki seperti Viki pasti akan terus mengepakkan sayap bisnisnya. Hingga dia akan menjadi raja bisnis.
Siapapun akan bangga, jika menjadi mertua dari lelaki seperti Viki. "Ma, mama dengarkan." sungut Melva merasa menang sebab sang papa membelanya.
Nyonya Vanya bungkam. Tidak mungkin dia menceritakan semua ketakutannya. Jika Viki mengetahui masa lalunya.
"Ma..." panggil Tuan Diego, melihat sang istri seperti sedang gugup, dengan mulut seperti ingin bicara tapi tidak jadi.
"Mama hanya tidak ingin Melva sakit hati. Papa tahu siapa Viki. Pasti banyak perempuan yang mendekatinya." ujar Nyonya Vanya beralasan.
"Mama..." Melva segera memeluk tubuh sang mama tirinya tersebut. Yang selama ini sudah di anggap seperti mama kandungnya.
Melva merasa terharu mendengar alasan dari sang mama. Melva mencium pipi Nyonya Vanya. "Mama tenang saja. Mama tidak perlu memikirkan hal tersebut. Apa mama tidak percaya dengan pesona seorang Melva." ucap Melva dengan wajah cemberut.
Tuan Diego tersenyum melihat interaksi keduanya. "Saya tidak salah, menjadikan kamu sebagai istri dan mama dari putri saya." ucap Tuan Diego dalam hati.
"Baiklah, tapi kamu harus selalu berhati-hati." papar Nyonya Vanya.
__ADS_1
"Pasti." Melva mengeratkan pelukannya pada sang mama.
Tapi pikiran Nyonya Vanya tetap tidak bisa tenang. Sebelum dia mengetahui semua kebenaran akan semua yang ada dalam benaknya.
"Aku harus segera memastikan. Aku tidak ingin, semuanya berimbas pada kehidupanku yang damai saat ini." ucap Nyonya Vanya dalam hati.
Beranggapan jika kehadiran Nara akan membuat hidupnya akan menjadi berantakan. Dan memang apa yang di takutkan Nyonya Vanya adalah suatu kebenaran.
Mana mungkin Nara dan Viki akan diam saja. Melihat Nyonya Vanya hidup dengan bahagia. Tidak akan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Abang yakin?!" tanya Nara, dengan kedua mata terlihat tidak percaya.
"Kenapa? Kamu takut?" tanya Viki, menyisihkan anak rambut yang berada di wajah Nara, untuk di bawa ke belakang telinganya.
Nara segera menggeleng. "Kan ada abang." ucap Nara dengan nada manja.
Viki berniat mengurangi jumlah bawahannya yang berjaga di kediamannya. Terlebih Viki sudah tahu, siapa lawannya.
Apa yang dilakukan Viki, membuat lawan menebak jika Viki dalam rasa ketakutan. Memperketat keamanan. Mengurung Nara di dalam rumah.
Viki tidak akan membiarkan musuh merasa di atas angin. Akan Viki tunjukkan, siapa seorang Viki Radika Mahendra.
Viki berjalan ke arah lain. Memandang jauh ke depan. "Abang tenang saja." Nara memeluk tubuh Viki dari belakang.
"Nara akan selalu bersama dengan abang." imbuh Nara menyenderkan kepalanya di bahu milik Viki.
"Apa kamu benar-benar siap?" tanya Viki, membalikkan badan. Menatap ke arah Nara untuk memastikan.
Nara mengangguk. "Siapapun dia. Nara akan menghadapinya. Asal ada abang di dekat Nara." ucap Nara sedikit mendongak. Sebab perbedaan tinggi badan antara dirinya dan Viki.
"Good girl. Abang menyukainya." Viki mengecup kening Nara dengan lembut dan penuh kasih sayang.
__ADS_1
Nara memeluk erat tubuh Viki. "Puspa, Melva, Giska. Dan siapapun perempuan di luar sana. Nara jamin, mereka tidak akan pernah bisa menyentuh abang. Meski hanya sehelai rambut pun. Bahkan masuk ke dalam hubungan kita. Jangan pernah bermimpi." ucap Nara dalam hati.
"Dan mereka. Yang sudah membuang Nara. Tunggu saja. Akan aku perlihatkan. Rasa sesal dan takut yang akan mereka hadapi. Kayla yang baik dan lembut sudah mati tujuh tahun yang lalu. Hanya ada Kinara. Gadis kuat yang akan kalian temui." ucap Nara dalam hati.