
"Bagaimana bisa?!" tanya Tuan Diego pada dirinya sendiri. Melihat sesuatu dari layar ponselnya, dimana seseorang perempuan sedang duduk di balik meja dengan pakaian rapi dan terlihat baik-baik saja.
"Ernanda." gumam Tuan Diego gemetar, bahkan ponsel di tangannya hampir jatuh ke bawah.
Beberapa waktu lalu......
Ya, kesehatan Nyonya Ernanda seketika membaik saat Viki memperlihatkan foto Tuan Diego bersama dengan Melva. Dan satu foto lagi, yakni ibu kandung dari Melva.
Dan di saat itulah beliau menangis dalam diam. Tak ada suara yang keluar dari mulutnya. Seolah air mata yang keluar dari kedua bola matanya adalah bentuk rasa kecewa dan sakit hati yang luar biasa di dalam hatinya.
"Mereka. Mereka mengkhianatiku. Kebaikanku, dibalas dengan pengkhianatan." ucapnya lirih, dengan pandangan mata ke depan.
Tersirat rasa sakit yang luar biasa dari sorot matanya. Rasa kecewa bercampur dengan amarah yang hanya bisa di tahan di dalam hati.
Perlahan, Viki duduk di samping ranjang Nyonya Ernanda. "Maafkan aku Tuhan, terpaksa aku memanfaatkan beliau untuk menjatuhkan manusia seperti Diego." ucap Viki dalam hati.
Rasa tidak tega, sempat menyeruak di hati Viki. Saat rencananya melibatkan Nyonya Ernanda dalam perselisihan antara dirinya dan Tuan Diego.
Viki merasa ini semua tidak adil untuk Nyonya Ernanda. Di saat beliau butuh dukungan dan juga perawatan, Viki malah memanfaatkannya. Namun, Viki tidak punya pilihan lain.
Viki menghela nafas panjang. "Tapi aku harus melakukannya. Manusia seperti dia harus segera di hentikan." ujar Viki.
"Nyonya..." panggil Viki, namun Nyonya Ernanda masih terdiam dengan air mata masih menetes ke pipi, dan tatapan jauh ke depan.
"Sebenarnya, saya ingin meminta tolong pada anda. Itulah alasan saya mengeluarkan anda dari dalam RSJ." tutur Viki pelan.
"Tuan Diego berulah. Dan kali ini, saya yang sedang berhadapan dengannya. Tapi sayangnya, suami anda bukan hanya menargetkan saya. Tapi juga keluarga saya." papar Viki, berharap apa gang dikatakannya bisa menyentuh hati Nyonya Ernanda.
"Hufftt,,, tapi, jika anda keberatan untuk menolong saya, saya tidak akan marah dan memaksa. Mungkin saya akan mencari jalan lain lagi." imbuh Viki.
Sebenarnya, beberapa kasus mengenai Tuan Diego dengan bukti-bukti yang saat ini berada di tangan Viki sudah terlalu cukup untuk menjatuhkannya.
__ADS_1
Namun Viki menginginkan hal yang lebih. Viki menginginkan, Tuan Diego tidak akan pernah bisa berdiri dan bangkit lagi.
Itulah rencana Viki. Dia benar-benar ingin membuat musuh jatuh tersungkur tanpa ada yang mengulurkan tangan untuk menolongnya.
Viki tidak ingin melenyapkan Tuan Diego secara langsung. Namun, Viki menginginkan beliau tidak lagi di terima di masyarakat. Bukankah hidup seperti itu jauh lebih mengerikan.
Viki merasa, percuma dirinya berbicara dengan Nyonya Ernanda. Lagi pula, Viki tidak akan memaksakan kehendaknya. Terlebih kesehatan mental Nyonya Ernanda belum pulih dengan sempurna.
Viki berdiri, dan hendak meninggalkan ruangan. Namun, Viki merasa jika pergelangan tangannya ada yang memegang.
"Nyonya." gumam Viki, saat manik matanya bersitatap dengan pandangan mata Nyonya Ernanda.
"Bantu aku, bantu aku mendapatkan keadilan. Bantu aku, bantu aku mengambil kembali semua milik keluargaku." pinta Nyonya Ernanda lirih.
Viki tersenyum lebar, sembari mengangguk. "Terimakasih Nyonya. Saya akan membantu Nyonya. Dan Nyonya akan membantu saya." ujar Viki tersenyum.
"Sekarang, lebih baik Nyonya istirahat. Besok pagi, saya akan ke sini lagi." papar Viki, mendapat anggukan dari Nyonya Ernanda di sertai senyum tulus dari bibir beliau.
Saat ini........
Dan saat ini, Nyonya Ernanda duduk di kursi single, berbalut pakaian rapi dan elegan melekat di tubuhnya. Di depan beliau. Terdapat beberapa mikrofon dan wartawan yang akan menyiarkan secara langsung apa yang akan dikatakan oleh beliau.
Kemunculan Nyonya Ernanda membuat semua orang terkejut bukan main. Bagaimana tidak. Beberapa tahun lalu, beliau di nyatakan telah meninggal dalam sebuah kecelakaan tunggal.
Dan kini, beliau tengah duduk dengan tenang. Meskipun tubuh seksi yang sempat beliau miliki, kini berganti dengan tubuh kurus.
Namun semua itu tak lantas membuat kecantikan seorang Nyonya Ernanda menghilang. Nyonya Ernanda tetap terlihat cantik dan anggun meski dengan tubuh kurusnya.
Sementara Viki berdiri tak jauh dari tempat beliau duduk. Namun wajah Viki tidak tersorot kamera. Viki juga memperketat keamanan di sekitar gedung tempat berlangsungnya Nyonya Ernanda akan mengungkap semuanya.
Tentu saja Viki melakukannya, karena dirinya tidak ingin jika sampai Tuan Diego menggagalkan semua rencananya.
__ADS_1
"Tuan." Rey mendekat ke tempat Viki, membisikkan sesuatu padanya.
Entah apa yang Rey katakan. Namun, tampak jelas kedua sudut bibir Viki terangkat ke atas. "Keluarkan semuanya. Bersama dengan apa yang akan di katakan Nyonya Ernanda." ucap Viki dengan yakin.
"Sebentar lagi, aku pastikan. Bom akan meledak pada saatnya." ujar Viki tersenyum miring.
"Baik Tuan." segera Rey pergi dan melakukan perintah atasannya tersebut.
"Saya Ernanda Guntoro. Istri dari Tuan Diego." itulah perkataan pertama yang keluar dari mulut Nyonya Ernanda.
Semua orang yang hadir di sana, termasuk awak media terdiam. Tidak ada satupun dari mereka yang membuka suara, sekedar bertanya pada beliau.
Seolah mereka semua mengerti, jika selama ini Nyonya Ernanda dalam keadaan tidak baik-baik saja. Mereka memberikan ruang pada beliau untuk mengungkapkan apa saja yang terjadi padanya.
"Beberapa tahun lalu. Saya, Ernanda Guntoro dinyatakan dan diberitakan jika saya mengalami kecelakaan tunggal. Hingga saya dinyatakan meninggal. Dan semua itu adalah bohong." ucap Nyonya Ernanda.
Sejenak Nyonya Ernanda terdiam. Sebuah layar di belakang beliau menyala. Menampilkan sosok seorang perempuan. Yakni wanita yang di cintai Tuan Diego.
"Dialah yang saat itu meninggal. Dialah yang mengalami kecelakaan. Dia adalah perempuan yang di cintai oleh suami saya." senyum miris terukir di bibir Nyonya Ernanda.
"Dan saat ini, saya berada di sini. Hanya untuk mengambil hak saya. Saya berada di sini, untuk menuntut keadilan." lanjut Nyonya Ernanda.
Layar di belakang Nyonya Ernanda berubah, di mana di layar tersebut, nampak saat Nyonya Ernanda berada di RSJ.
Semua orang di sana tampak menggelengkan kepala. Tanpa Nyonya Ernanda bercerita lebih lanjut, semuanya sudah bisa menebak apa yang dialami oleh perempuan di depan mereka.
Tapi, Nyonya Ernanda sama sekali tidak ingin mengungkap jika Melva bukan putri kandungnya. Apalagi Viki sudah menceritakan bagaimana kondisi Melva saat ini.
Membuat Nyonya Ernanda memutuskan untuk tidak mengusik Melva. Sebab, biar bagaimanapun, Melva sama sekali tidak mengetahui hal ini.
Viki segera menghubungi Rey. Memberi perintah untuk menyebarkan suap yang dilakukan Tuan Diego pada beberapa proyek miliknya.
__ADS_1
Dan juga, Viki meminta Rey untuk mengurus semua aset kekayaan Nyonya Ernanda. Untuk dipulihkan, dan di kembalikan pada pemilik sesungguhnya, Nyonya Ernanda.
Untuk sementara, Nyonya Ernanda tetap tinggal dan berada di rumah sakit di mana sebelumnya beliau di rawat. Sebab, beliau masih belum pulih dengan sempurna. Apalagi tubuh beliau juga butuh perawatan.